
..."Bukan hanya kamu yang terluka, tapi saya juga sama."...
Waktu bergulir begitu cepat. Dewi malam semakin menampakkan gelapnya. Sesosok gadis tengah duduk dengan meremas jemari yang saling bertautan. Raut wajahnya yang gelisah kini tak dapat disembunyikan lagi. Sudah setengah jam Aida menunggu Gus Bima keluar untuk membelikannya sesuatu. Namun, sampai sekarang tak kunjung kembali.
Aida berdiri dan kembali mengecek ke luar jendela rumahnya, memastikan akan kedatangan sosok yang selama setengah jam telah ia tunggu, tapi suara sepeda motor itu tak kunjung Aida dengar. Bagaimana ini, kemana perginya Gus Bima hingga selarut ini?
"Kamu kemana, Mas? Kenapa lama sekali?" Aida berkali-kali menatap jam yang bertengger di dinding rumahnya. Jarum jam tersebut terus bergulir. Tahukah kalian Gus Bima pergi kemana?
Rasa cemas itu semakin menyelimuti hatinya. Dirinya tak tenang, terlebih lagi cairan darah terasa mengalir deras. Kemudian, samar-samar Aida melihat sentrongan cahaya berasal dari sepeda motor yang suara knalpot itu tidak asing baginya.
Aida membuka kelambu dengan cepat. Sedetik kemudian, senyum itu terbit tatkala ia melihat Gus Bima yang telah kembali. Aida membukakan pintu, menyambut suaminya dengan setengah rasa malu dan bahagia.
"Akhirnya kamu pulang juga, Mas." Aida mencium punggung telapak tangan suaminya yang terasa dingin. Gus Bima menyodorkan bungkusan besar berwarna putih berlogokan mini market.
"Kamu dari mana saja? Kenapa begitu lama?" Aida mencerca suaminya dengan ribuan pertanyaan. Ah, apakah kamu mencemaskannya Aida?
"Apakah kamu mencemaskan saya?" Pria itu kembali menggoda Aida dengan memiringkan kepalanya seraya mengulum senyum manis hingga kedua mata itu menyipit. Aida hanya memutar bola matanya malas. Di detik yang sama gadis itu membuka bungkusan besar berwarna putih.
Kemudian, Gus Bima melihat raut wajah istri kecilnya yang berubah seketika. Kenapa? Bukankah itu yang Aida minta? Gus Bima tidak salah beli bukan?
"Sebanyak ini, Mas?" Pria itu mengangguk lemah. Aida menatap kembali bungkusan itu dengan tatapan tidak percaya. Namun, ia tetap mengambil dan membuka isinya.
"Maaf Aida, saya tidak tahu harus membeli yang mana. Ini juga kali pertama sama membeli--itu." Pria itu seperti tidak nyaman dalam mengatakannya. Ah, pantas saja jika Gus Bima membeli hampir semua merk. Jadi ini kali pertama ia membelikan untuknya. Aida jadi merasa bersalah. Namun, ia juga tidak tahu jika kejadian tersebut akan dialami Aida hari ini juga.
"Ini juga, Mas?" Sekali lagi anggukan itu menjadi jawaban atas perkataan Aida. Ia menatap sesuatu yang membuatnya terkejut sekaligus menggelikan. Sebisa mungkin Aida menahan agar tawa tersebut tidak keluar. Ya, Aida sangat menghargai perjuangan suaminya.
Lantas, mengapa Aida ingin sekali tertawa? Ah, bagaimana tidak, pria itu membelikannya pampers manula atau yang biasa dikenakan oleh pasien di rumah sakit. Suami besarnya membeli itu juga? Untuk apa? Ingin sekali Aida menepuk jidatnya dan mengeluarkan tawa yang tertahan itu. Kadang kala suaminya ini sangat sulit untuk ditebak. Jika memakainya, lalu akan jadi apa dirinya? Sepertinya Gus Bima tidak bisa membedakan antara keduanya. Namun, setidaknya yang Aida butuhkan ada di antaranya.
"Ah, baiklah. Terima kasih, Mas Bima." Aida mengusap tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum. Raut wajah lesu dari Gus Bima seketika sirna tatkala ia melihat pancaran senyum dari istri tercinta. Di detik yang sama, Gus Bima melakukan hal yang serupa. Kini rona merah itu tidak singgah di wajah Aida. Namun, telah berpindah di wajah tampan Gus Bima.
Gus Bima membalikkan badannya dengan cepat. Malu. Ya Rabb, mengapa kini dirinya yang merasakan panas menjalar di wajahnya? Ah, apa ini yang biasanya sering Aida rasakan ketika dilanda rasa malu?
"Mas Bima." Pria itu membulatkan mata. Jantungnya berdebar kencang seperti pacuan kuda. Ah, kenapa suara itu membuat hatinya tak karuan?
Perlahan Gus Bima menoleh dengan sedikit menebalkan wajahnya. Ya, rona merah itu tidak boleh sampai terlihat oleh istrinya. Gus Bima tidak mau jika istrinya melakukan hal yang sama padanya. Tahan, tenang. Yakin bahwa dirinya bisa melakukan ini.
"Iya ... Aida?"
Gadis itu mendekat. Semakin Aida mendekat debaran itu semakin kencang dan membuat Gus Bima merasa tidak nyaman.
"Suami saya sangat menggemaskan ketika wajahnya sedang merona." Telak. Jantungnya seketika berhenti berdetak. Tubuhnya membeku, begitu pula dengan aliran darahnya. Kali ini Gus Bima tidak bisa menyembunyikan rona itu. Wajahnya memerah melebihi tomat rebus. Dari mana istri kecilnya itu belajar?
Gus Bima membalikkan badan, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di menit yang sama, pria itu berlari kecil untuk masuk ke kamar. Berada terlalu lama di samping Aida membuat Gus Bima tak berdaya. Dari kejauhan, Aida terkekeh. Sepertinya gadis itu sangat puas melihat wajah suaminya yang memerah. Tunggu. Apakah dosa menertawakan suami sendiri? Namun, Aida tidak bisa menahannya lagi. Ah, terlalu lama tertawa membuat perutnya menjadi kaku.
"Perempuan kok ketawanya sampai terdengar dari luar." Aida terdiam. Suara itu? Sepertinya tak asing di telinga Aida.
Aida membalikkan badan. Benar saja, ia melihat Mbak Hamida yang entah kapan masuknya berdiri di belakangnya dengan tatapan sinis. Entah mengapa, tatapan itu selalu membuat Aida bergidik ngilu. Terlebih lagi perkataannya yang terkadang membuat hatinya teriris.
"Mbak Hamida." Telapak tangan Aida saling menggenggam satu sama lain. Gadis itu menunduk dalam. Setiap apa yang dilakukan oleh Aida pasti akan salah di matanya. Mungkin, menurut Mbak Hamida Aida serba salah dan minus dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Yang membuat Aida heran, sebelumnya gadis itu tidak pernah bersikap dingin kepada Aida, bahkan ketika ia baru sampai, Mbak Hamida menyapanya dengan hangat. Entahlah, suasana hatinya tak pernah bisa ditebak.
__ADS_1
"Perempuan kalau ketawa itu tidak boleh sampai terlihat giginya. Ini kamu malah tertawa sampai terbahak-bahak. Tidak malu jika didengar oleh santri lain?" Membisu. Aida tidak berani menyangga perkataan gadis itu. Ia juga menyadari bahwa dirinya salah. Ah, jangan dimasukkan hati Aida, anggap saja Mbak Hamida tengah menasihatimu. Mengingat bahwa dirinya juga masih haus akan ilmu agama.
"Afwan, Mbak." Hanya itu yang bisa Aida ucapkan. Bibirnya terlalu kelu untuk mengucapkan beribu-ribu kata. Berhadapan dengan Mbak Hamida ibarat manusia yang tengah menyuguhkan nyawanya pada macan betina.
"Dasar. Memangnya kamu tidak diajarkan sopan santun ya sama orang tua kamu? Kok bisa sih Umi Salamah memilih kamu menjadi menantunya?"
"Wanita yang fakir akan ilmu agama," imbuhnya dengan sedikit menekan bagian belakang ujung kalimatnya.
"Pantas sih anaknya seperti ini, latar belakang orang tuanya saja bukan berasal dari pondok pesantren. Jadi mana bisa mendidik--"
"Cukup Mbak Hamida, cukup!" Kesabaran Aida telah berada pada garis tepinya. Gadis itu mengepalkan telapak tangannya. Penglihatannya buram karena cairan bening memenuhi netranya. Hanya dengan sekali terpaan angin lalu, bening itu akan terjatuh.
"Mbak Hamida boleh menghina Aida, tapi tidak dengan orang tua saya." Mbak Hamida hanya tersenyum miring seraya menyilangkan tangan di dadanya. Gadis itu seperti menghiraukan perkataan yang diucapkan oleh Aida.
"Orang tua saya mengajari Aida segalanya. Baik ilmu agama, tata krama, dan--"
"Aida." Suara pria itu memangkas perkataan istri kecilnya. Netra Aida menatap sosok pria yang berdiri di ambang daun pintu kamar tidurnya.
"Masuk kamar Aida!"titah Gus Bima dengan lembut seraya berjalan menghampiri istrinya.
"Tapi Mas--"
"Saya bilang masuk!" Aida sedikit tersentak tatkala Gus Bima membentaknya. Ini adalah kali pertama suaminya berbicara dengan nada tinggi. Sebelumnya Gus Bima selalu sabar, dan berbicara menggunakan bahasa yang sangat halus.
Gadis itu membalikkan badan dan berlari menuju kamar tidur. Ia menutup pintu dengan sangat kasar sehingga menimbulkan suara keras. Mbak Hamida dan Gus Bima merapalkan istighfar. Terutama gadis itu, ia menggeleng-gelengkan kepala. Heran melihat tingkah laku Aida yang masih seperti kanak-kanak.
"Itulah sikap istrimu. Masih seperti anak TK, ajarkan sopan santun kepadanya ketika sedang berbicara dengan yang lebih tua." Anggukan itu menjadi jawaban atas titah Mbak Hamida. Kenapa Gus Bima tidak membela Aida? Apakah dia sudah tidak mencintainya lagi?
"Maksudnya?" Pria itu seperti sulit mengatakannya. Timbul pertanyaan dalam pikirannya. Apakah Mbak Hamida mencinta Gus Bima? Ah, tidak. Pria itu harus tetap berhusnudzon. Tidak baik jika menaruh prasangka buruk kepada orang lain.
"Sudahlah, saya mau istirahat."
Mbak Hamida tidak menjawab pertanyaan Gus Bima. Gadis itu berlalu pergi dengan melewati Gus Bima begitu saja. Sampai saat ini, kalimat yang diucapkan Mbak Hamida masih menjadi tanda tanya besar. Kenapa gadis itu sampai berkata seperti itu? Apakah itu hanya karena ia tersulut amarah saja? Namun, rasanya tidak mungkin.
***
Aida meremas selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Gadis itu terisak, setiap perkataan yang Mbak Hamida ucapkan masih terngiang di telinga Aida. Mengapa sikap gadis itu mendadak berubah kepada Aida? Apa salah gadis lugu itu? Sampai-sampai segala hal yang dilakukan Aida tetap salah di mata Mbak Hamida.
Gus Bima membuka pintu dengan sangat pelan. Pria itu membawakan Aida segelas susu cokelat panas dengan semangkuk mie instan favoritnya.
"Aida. Coba lihat saya bawakan apa." Gus Bima duduk tidak jauh dari Aida yang membaringkan badan. Tidak ada jawaban, gadis itu masih tergugu.
"Aida." Gus Bima menyentuh pelan lengan Aida. Ia tahu bahwa dirinya salah telah membentak Aida. Namun, percayalah bahwa ia tak bermaksud melakukan itu kepada istri kecilnya. Seperti ada yang tengah mengendalikan dirinya.
"Saya minta maaf, Aida." Gadis itu tidak juga menjawab. Bagaimana ini, apa yang harus Gus Bima lakukan agar Aida mau memaafkan dirinya?
Gus Bima tidur di samping Aida, ia memeluk erat tubuh kecil istrinya yang terbalut oleh selimut tebal. Apakah tidak pengap terlalu lama menangis di balik selimut itu?
"Maafkan saya Aida, saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Aida meronta-ronta. Mencoba untuk menepis pelukan itu. Namun, pelukan dari suaminya cukup kuat sehingga Aida tidak bisa melepaskannya.
__ADS_1
"Lepaskan! Saya benci Mas Bima." Pria itu siap mendengarkan setiap makian yang akan Aida lontarkan. Pantas saja jika Aida merasa sangat sedih, karena ia kecewa akan sikap suaminya. Berharap dibela, Aida malah dibentak di depan Mbak Hamida.
Bukannya mereda, tangis itu semakin menjadi. Wajah Aida dipenuhi dengan jejak air mata. Sudah, hentikan! Melihat istri kecilnya yang terus saja menangis membuat Gus Bima semakin bersalah. Ia menyesali perbuatannya. Seharusnya ia tidak melakukan itu kepada Aida. Hatinya terlalu lembut untuk dibentak.
"Aida, menangis juga butuh energi bukan? Bagaimana jika saya menyuapimu dengan mie instan yang sudah saya buatkan khusus untuk istri kecil saja yang menggemaskan ini?" Aida menghentikan tangisannya. Jika dipikir-pikir, apa yang dikatakan suaminya ada benarnya juga. Terlalu lama menangis membuat Aida jadi lapar. Aroma khas mie instan itu menusuk lubang hidungnya dan akhirnya berhasil menembus lambungnya.
Aida bangkit, di detik yang sama pria itu juga ikut bangkit. Ia mengambil semangkuk mie instan. Sebelum menyuapi istrinya, Gus Bima mengelap jejak bening di pipi Aida dengan telapak tangannya. Sampai pada telapak tangan itu menyentuh belakang kepala Aida dan membawa wajah mereka begitu dekat. Gus Bima mencium kening Aida, membawa istrinya ke dalam pelukan hangat. Pria itu menepuk-nepuk pelan bahu Aida.
"Sudah lebih tenang?" Aida menganggukkan kepala.
Gadis itu bangun dan menatap lekat wajah suaminya. Perlahan, sesuap mie instan masuk ke dalam mulut Aida. Gadis itu begitu menikmati mie instan buatan suaminya. Ada dua pilihan, antara enak dan kelaparan sehingga ia tak sadar jika mie tersebut hanya tinggal sekali suapan.
"Biar Aida saja yang mencucinya, Mas." Aida mencoba untuk mengambil alih mangkuk yang dipegang Gus Bima.
"Tidak, biar saya saja. Lebih baik kamu istirahat." Gus Bima mengambil kembali mangkuk tersebut, bangkit dan berjalan menuju dapur dengan membawa nampan.
"Minumlah susu itu agar tubuhmu lebih hangat."
"Ah, baiklah."
***
Suara gemercik yang berasal dari kran air di dapur terdengar mencairkan keheningan. Mengingat bahwa saat ini jam dinding menunjukkan jam sepuluh malam. Gus Bima menyelesaikan pekerjaannya dan segera kembali ke kamar. Namun....
"Astagfirullah Lazim." Gus Bima menabrak Mbak Hamida. Namun, gadis itu tidak sampai terjatuh.
"Afwan, Hamida. Saya tidak sengaja."
"Kamu baik-baik saja, bukan? Kalau begitu saya permisi, Aida sudah menunggu saya." Mbak Hamida menggamit lengan Gus Bima secepat kilat. Seperti ada aliran listrik ketika tangan itu menyentuh kulitnya. Gus Bima menepis tangan Mbak Hamida dengan kasar. Pria itu sedikit menjauh. Ah, ia jadi takut dengan sikap Mbak Hamida yang mendadak aneh.
"Kenapa kamu menjauh, Bima? Kenapa Aida terus yang kamu perhatikan?" Gadis itu berjalan semakin mendekat. Ilahi, seluruh tubuh Gus Bima gemetar. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?
"Istighfar Hamida--"
"Mengapa dulu kamu tidak pernah menjawab surat saya? Mengapa kamu mengabaikannya? Apakah kamu tidak tahu betapa tersiksanya saya ketika terpisah jauh darimu? Terlebih lagi ketika saya mendengar bahwa kamu telah dijodohkan dengan Aida. Sakit, Bima."
"Ma--maksudnya?" Sekarang Gus Bima telah terpojok. Pria itu tidak bisa bergerak lagi.
"Mengapa kamu menerima perjodohan ini? Apakah kamu tidak tahu bahwa saya sangat mencintai kamu?"
Gus Bima tersentak. Ia mendongak dengan cepat. Pun dengan netranya, membulat sempurna.
"Ya, saya mencintaimu, tapi kenapa kamu menerima perjodohan ini, Bima? Kenapa?" Mbak Hamida berhambur ke tubuh Gus Bima. Ia menyadarkan kepalanya pada dada kekar pria yang sangat dicintainya.
Tangis itu masih terdengar kentara begitu pula dengan Gus Bima. Pria itu tidak menepis Mbak Hamida yang bersandar kepadanya. Sampai netra itu menangkap sesosok gadis yang membawa gelas bekas susu cokelat buatan Gus Bima tengah berdiri tidak jauh dari dapur. Membisu. Hanya cairan bening yang terus menetes dari pelupuknya.
"Aida," ucapnya pelan.
Seperti tersambar petir di siang bolong. Aida menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Mungkin, ini adalah alasan mengapa Mbak Hamida akhir-akhir ini bersikap aneh kepadanya. Namun, apakah harus dengan cara seperti ini? Apakah ia juga tidak menghargai perasaan Aida? Ketahuilah, bukan hanya ia yang terluka, tapi dirinya juga.
__ADS_1
Bersambung....
Pasuruan, 07 Februari 2023