Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Bubur Hambar


__ADS_3

..."Hatimu seperti lautan, misterius dan gelap"...


Pria itu menatap sendu daun pintu yang berada di hadapannya. Berulang kali Gus Bima menelan ludah kasar. Sesekali netranya melirik dari sudut atensinya keadaan gadis yang kini tengah bersandar dengan Al-quran yang berada di tangan kanannya.


"Ya Allah, bagaimana ini. Baru kali ini saya merasa ragu untuk menemui Aida. Sebelumnya saya sangat menunggu momen menghabiskan waktu berdua dengan Aida." Gus Bima menghela napas panjang dan menunduk lesu.


"Kenapa tidak masuk?" Gus Bima tersentak sekaligus terkejut. Telapak tangan yang menepuk bahunya membuat jantungnya hampir saja copot. Pria itu perlahan menoleh ke belakang dengan napas yang masih tertahan. Netranya sedikit membulat sempurna.


"Kamu kenapa? Kenapa wajahmu begitu pucat? Seperti orang yang habis lihat hantu saja." Ustaz Nur memicingkan matanya sebelah saat melihat wajah putranya yang mendadak pucat pasi. Ah, yang dikatakan benat. Gus Bima seperti sedang melihat hantu saja. Beberapa detik kemudian, Gus Bima menghembuskan napas panjang. Terlalu memikirkan Aida membuat Gus Bima linglung. Ia jadi malu.


"Mari masuk." Ustaz Nur menggamit telapak tangan putranya dan membawanya masuk ke dalam. Sepertinya pria itu tahu maksud dalam hati putranya. Tidak. Jangan dulu. Ah, bagaimana ini? Pria itu tidak sempat melerai telapak tangan sang abi. Sungguh, ia benar-benar belum siap.


"Ta--tapi Abi ...." Pria itu tidak meneruskan kalimatnya. Ia membiarkan menggantung begitu saja. Gerakan abinya sangat cepat, tidak ada satu menit membuat Gus Bima sulit untuk mengelak. Baiklah, mau bagaimana lagi. Mungkin ini lebih baik. Memang sebaiknya dia masuk dan menghadapi istrinya selayaknya laki-laki jantan di luar sana. Apakah dia tidak malu terlihat begitu cupu?


Mushaf Aida terhenti, gadis itu sedikit melirik ke sumber suara. Ya, pria paruh hanya yang masih menggenggam pergelangan tangan putranya masuk sembari mengucapkan salam. Gadis itu mengambil kuda-kuda dengan membenarkan posisi duduknya. Kali ini wajah seram tak ia tampakkan, melainkan senyum ramah dan indah dari lekuk bibir manisnya menyambut kedatangan suaminya. Apakah ini hanya alibinya saja karena ia masuk bersama Ustaz Nur? Sebaiknya seperti itu. Gus Bima tidak bisa menghilangkan suudzon yang tertanam dalam pikirannya. Ah, biarkanlah. Saat ini yang terpenting adalah menyusun strategi dan kata-kata, siapa tahu gadis itu akan menanyainya kapan saja di mana saja. Adakah yang setuju dengan rencana Gus Bima?


"Sudah enakan, Nak?" Aida tersenyum seraya mengangguk. Pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah mertuanya itu merapal hamdalah.


"Astaghfirullah, abi lupa. Tadi abi mau keluar beli makan buat Umi dulu, Bima. Abi lupa tidak sempat beli." Setelah sekian lama membisu, menyatu dengan keheningan akhirnya Ustaz Nur mencairkan suasana.


"Biar Bima saja, Abi. Abi pasti lelah karena bolak-balik pondok pesantren rumah sakit." Bohong. Pria itu sebenarnya ingin lari dari tatapan intimidasi istrinya. Gus Bima ingin melarikan diri agar selamat dari Aida. Benar bukan?


Melihat Gus Bima yang selalu menghindar sejak beberapa jam yang lalu membuat Aida berdecak kesal. Gadis itu memutar bola matanya jengah seraya alisnya menyatu. Pria paruh baya itu terkekeh pelan melihat tingkah laku menantu dan putranya. Selalu saja seperti ini, seolah-olah mereka tidak bisa dewasa dalam menghadapi persoalan rumah tangga.


"Sudah, biar abi saja. Kamu di sini saja dengan Aida. Lihatlah ... bibirnya sudah manyun. Dosa membuat istri marah Bima." Ah, pria paruh baya itu menggoda Gus Bima lagi. Setelah menepuk-nepuk pelan bahunya, Ustaz Nur berlalu pergi menyisakan mereka berdua yang saling canggung.


Hening. Tidak ada percakapan yang menghiasi suasana hari itu. Gus Bima mendekat dan duduk di atas ranjang, di samping Aida. Pria itu berulang kali menatap wajah istrinya sejenak kemudian menundukkan pandangan. Seperti kali pertama mereka dijodohkan. Malu-malu, tapi mau.


"Ma--makanannya sudah sampai." Pria itu mencoba untuk mencairkan suasana. Bibirnya terasa kelu membuatnya gelagapan. Kini jemarinya meremas satu sama lain yang saling bertautan. Ah, mengapa pria itu melakukan hal serupa yang sering dilakukan Aida?


"Suapi!" Gus Bima mendongak.


Manik itu menangkap sesosok gadis yang tangannya melipat di depan dada seraya memalingkan wajah. Sama seperti anak kecil yang habis dimarahi ibunya. Ingin sekali ia tertawa dan mencubit pipi istrinya. Tingkah lakunya pasti ada-ada saja.


"Ih, Mas Bima tertawa." Tidak. Aida menangkap basah aksi Gus Bima yang diam-diam tersenyum. Gadis itu merengek dengan memukul pelan selimut tebal yang menyelimuti sebagian tubuhnya.

__ADS_1


"Ti--tidak, Humaira. Sa--saya tidak bermaksud tertawa mengejekmu. Saya hanya senang karena istri kecilnya saya sudah berangsur-angsur membaik." Diam. Gadis itu tidak mengindahkan sanggahan suaminya.


Gus Bima merenggangkan telapak tangannya dan menarik napas dalam-dalam, setelah itu menghembuskannya secara perlahan. "Aida kenapa marah? Saya sudah membuat kesalahan ‘kah?" Pria itu membawa Aida ke dalam pelukannya. Ya, ia memutuskan untuk menghampiri istrinya.


Gadis itu masih tidak bergeming. Namun, sedetik kemudian ia tergugu dalam pelukan Gus Bima. Kedua tangannya memeluk erat suaminya. Bau khas itu? Aida kembali mengendus-endus parfum yang menempel di baju Gus Bima. Ia sangat rindu, benar-benar rindu. Sudah lama ia tidak melakukan kebiasaan anehnya itu.


"Aida menangis? Kenapa Sayang?" Gus Bima melerai pelukannya sejenak. Ia membawa tubuh istrinya untuk menatap lekat netranya. Sebagian pipinya telah dipenuhi dengan cairan bening. Entah apa yang membuat Aida menangis, tapi cukup membuat Aida terisak.


"Mas Bima menghindar terus sama Aida. Sudah lama Aida menunggu kedatangan Mas Bima." Ia sedikit memukul pelan dada Gus Bima. Ilahi, ia tidak tahu jika keputusannya untuk menghindar dari Aida ada lah sebuah kesalahan. Ia tidak menyangka jika Aida akan menangis seperti ini.


"Maaf, Aida. Saya tidak bermaksud menghindar dari kamu, tapi ...." Kalimatnya kembali menggantung. Pria itu tidak meneruskannya.


"Mas janji tidak akan meninggalkan Aida lagi? Aida takut sendirian." Aida menyodorkan jari kelingkingnya pada Gus Bima. Pria itu menatap cukup lama wajah ayu Aida. Jemari Aida masih mengambang di udara. Atensi mereka saling beradu pandang cukup lama, tetapi beberapa detik kemudian Gus Bima memutuskan secara sepihak. Jemarinya juga terangkat, kemudian melakukan hal serupa.


"Mas Janji tidak akan pernah meninggalkan kamu." Aida tersenyum mendengar kalimat yang keluar langsung dari bibir suaminya.


"Sampai kapan kita saling menatap satu sama lain seperti ini? Aida lapar Mas," lamunan Gus Bima pecah. Ah, iya pria itu sampai melupakan istrinya yang belum makan. Gus Bima tersenyum canggung seraya mengambil tempat makan yang sudah lama terletak di atas meja. Sepertinya sudah dingin.


"Aida harus makan yang banyak biar cepat pulang. Bagaimana, setuju?" Aida menghela napas berat dan memasang wajah memelas. Tatapannya yang sendu mengarah kepada bubur putih hambar itu.


Sesuap bubur melayang dan mendarat tepat di depan mulut Aida. Namun, gadis itu tak kunjung membuka mulut. Kepalanya sedikit menggeleng dan wajahnya seketika berubah. Di detik yang sama, Aida menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.


"Kok ditutup mulutnya? Katanya tadi lapar." Gus Bima menjatuhkan tangannya. Aida masih menggeleng-geleng cepat. Tidak. Ia tidak mau memakan bubur gambar itu. Saat ini ia ingin sekali makan seblak dan bakso mercon. Pasti enak. Membayangkannya saja membuat air liur Aida menggenang di dalam mulut.


"Tidak mau." Ia menolak seraya membaringkan tubuh ke samping. Sama persis seperti anak kecil yang menolak suapan dari ibunya. Gus Bima berulang kali membujuk istrinya agar mau makan walau hanya sesendok. Namun, nihil. Gadis itu kembali menolak.


"Ya sudah, kalau Aida tidak mau makan bubur. Aida maunya makan apa?" Pria itu bertanya dengan sangat lembut. Saat ini ia harus berlaku lembut pada Aida. Ah, bukankah ia selalu seperti ini? Sabar dan lembut dalam segala pembawaan.


Aida melepaskan telapak tangan yang menutupi mulutnya. Gadis itu kembali bangkit. "Aida ingin nasi uduknya Umi, Mas Bima. Aida ingin sekali memakan seblak buatan Bunda."


"Hah?" Gus Bima membulatkan mata sempurna. Bagaimana tidak terkejut, keinginannya melebihi perempuan yang sedang ngidam saja. Tidakkah ia sadar jika dirinya saat ini tengah dirawat di rumah sakit dan dokter melarangnya makan-makanan pedas dan juga asam.


"Mas Bima .... Ia sedikit mengguncang-guncangkan lengan Gus Bima.


"Sayangnya saya. Tidak dulu ya, kamu ‘kan sekarang masih belum boleh makan yang aneh-aneh. Nanti ya kalau sudah sembuh saya janji akan belikan istrinya saya apapun kamu inginkan. Saat ini makan bubur dulu, ya."

__ADS_1


"Gak aneh, Mas. Itu seblak, makanan. Lagipula Aida ingin makan seblaknya sekarang juga. Titik." Allahu akbar. Ia tahu jika seblak adalah makanan, tapi bukan itu yang Gus Bima maksud. Pria itu menepuk jidatnya pelan, di menit yang sama pria itu memijat pelipisnya. Ah, sepertinya Aida sudah sembuh. Gadis itu sudah bisa membuat kepalanya kembali kesemutan.


"Iya, Sayang. Mas tahu, tapi ‘kan dokter menyuruh Aida puasa untuk tidak makan-makanan yang pedas dan asam dulu. Jadi, nurut ya biar kamu cepat sembuh." Gus Bima membelai puncak kepala Aida, sudah sama persis seperti apa yang biasa dilakukan bundanya.


"Ah Mas Bima tidak asik." Gadis itu mengelak dan kemudian tangannya menepis telapak tangan suaminya.


"Mas Bima tidak sayang lagi sama Aida. Mas Bima sepertinya akan mencampakkan Aida, sama seperti yang dilakukan laki-laki pada umumnya." Gadis itu menenggelamkan seluruh tubuhnya dalam selimut tebal. Gadis itu sedikit meringkuk dengan suara yang bergetar. Gus Bima merapal istighfar dalam hatinya.


"Ya sudah kalau begitu Aida mogok makan saja." Gus Bima menoleh cepat ke arah Aida. Pria itu bangkit seraya meletakkan kembali tempat makan dan duduk di kursi yang tersedia.


"Kenapa Aida tidak mau makan masakan rumah sakit? ‘Kan enak." Pria itu membelai puncak kepala istrinya yang ditutupi selimut.


"Kata orang, setiap makanan yang gratis itu pasti enak." Ia kembali melanjutkan dengan menaik turunkan alisnya walau Gus Bina tahu Aida tidak dapat melihatnya.


"Aida dirawat di sini juga bayar, Mas. Otomatis makanan yang Aida makan tidak gratis, jadi tidak enak. Sayurannya hanya itu-itu saja. Wortel buncis terus. Buahnya juga seminggu penuh hanya pisang. Aida 'kan jadi bosan." Aida tetap mengatakan walau terdengar seperti orang berkumur.


"Oh jadi Aida ingin makan buah selain pisang? Pasti nanti saya belikan, tetapi saat ini Aida makan bubur dulu, ya. Enak loh buburnya, saya aja doyan." Aida sedikit mengintip dari celah selimut tebal itu. Disaat aksinya tertangkap basah Gus Bima, ia segera kembali menenggelamkan wajahnya.


"Ya kalau Mas Bima doyan, mending Mas makan aja daripada mubazir. Katanya Mas Bima, Allah tidak suka dengan orang yang membuang-buang makanan. Orang seperti itu adalah temannya setan." Benar apa yang dikatakan Gus Bima, istrinya kini sudah sembuh. Gadis itu sudah lancar membual dan mengomel.


"Loh, berarti Aida temannya setan dong?" Pria itu mendengar perkataan lirih yabg terucap dari bibir manis Aida. Ia terkekeh, terlalu lama berada di rumah sakit dapat berdampak pada kesehatan mental Aida.


"Ma syaa Allah, istri saya bijak sekali. Kalau tidak mau jadi temannya setan, buburnya dimakan dong Sayang." Ia kembali menyendok sesuap bubur untuk Aida.


"Rasanya hambar Mas, tidak enak. Supnya juga hanya terasa sedikit asin, tempe dan tahu rebusnya pure tanpa tambahan garam atau kecap asin." Gus Bima terkekeh. Ia tahu apa yang dirasakan Aida. Seminggu lebih makan masakan rumah sakit cukup membuatnya tersiksa. Apalagi ia tahu Aida sangat benci dengan makanan yang lembek, terutama bubur. Adakah dari kalian yang juga tidak suka bubur sama seperti Aida?


"Saya paham, tapi tidak baik menolak rezeki bahkan sampai berkata seperti itu. Apakah Aida tahu, di luar sana banyak orang yang kekurangan makanan. Buktinya, ketika mereka mendapat makanan sisa, mereka tidak mengeluh seperti Aida. Sebaliknya, mereka sangat bersyukur atas nikmati yang diberikan Allah. Masa iya istri saya kalah sama mereka."


Aida perlahan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Aida mencoba untuk mencerna kata demi kata yang diungkapkan Gus Bima. Tidak lama kemudian, gadis itu akhirnya luluh dengan wejangan yang disampaikan Gus Bima. Setelah sedikit tenang, Aida mengindahkan tawaran Gus Bima. Pria itu kembali mengambil nampan makan dan menyodorkan sesuap bubur kepada Aida. Awalnya gadis itu membisu, mati kutu. Namun, bibirnya menyambut sendok itu dengan sedikit terpaksa seraya memejamkan mata.


Tidak apa Aida. Bayangkan saja saat ini kamu tengah makan nasi padang.


"Istri kecil saya kalau nurut gini cantiknya ma syaa Allah. Istrinya gus yang lain aja kalah." Aida tersipu malu. Ah, pria itu memang tidak pernah gagal membuat pipinya memerah.


"Mas Bima suka sekali membual. Kenapa Mas Bima tidak bilang sama Aida jika Mbak Hamida dirawat di rumah sakit yang sama?" Telak. Pria itu tiba-tiba tersedak ludah dan membuatnya batuk. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akhirnya terlontar. Ternyata ingatan Aida sangatlah bagus.

__ADS_1


Satu pertanyaan mampu membuat hidupnya berada di ambang kematian.


__ADS_2