Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Astagfirullah Malu!


__ADS_3

..."Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."...


Di ruangan berwarna putih polos dengan dinding yang berhiaskan aneka panci dan penggorengan, seorang pria tengah khusyuk memasak nasi goreng spesial yang ia janjikan untuk istri kecilnya. Sedangkan, beberapa meter tak jauh dari tempat suaminya memasak, Aida tengah duduk bersandar di kursi meja makan seraya memegang Al-Quran kecil milik suaminya. Ya, sesampainya di rumah Aida memutuskan untuk mengambil air wudhu kembali. Ia selalu teringat pada perkataan abi mertuanya, bahwa orang yang senantiasa dalam keadaan suci dengan menjaga wudhu akan didoakan oleh para malaikat.


Suara itu terdengar merdu beradu antara kalam indah Allah dan sudip yang saling bergesekan dengan penggorengan. Aroma lezat itu semakin membuat perut Aida keroncongan. Butuh berapa lama lagi ia menunggu nasi goreng buatan suaminya?


Gadis itu menutup mushafnya dan meletakkan Al-Quran itu tidak jauh dari jangkauan Aida. Kemudian raut wajahnya seratus delapan puluh derajat berubah total, ia menyilangkan kedua tangannya di atas meja makan dan menenggelamkan wajahnya antara lengan tangan tersebut. Ia merasa tersiksa, cacing di perut kecilnya ini tengah memberontak ingin diisi sesuatu. Ah, tidak hanya karena itu. Sampai sekarang Aida masih memikirkan perkataan Mbak Hamida yang masih terngiang di telinganya. Tenang, Aida berusaha untuk tetap tenang dan melupakannya. Ah, bagaimana bisa tenang. Gadis itu terus memikirkannya sampai ketika tadi ia tengah membaca ayat-ayat Al-Quran, gadis itu tidak fokus pada mushaf Al-Quran yang dibacanya.


"Aida, nasi gorengnya sudah siap." Aida mendongak dan menatap piring yang tersedia di depannya telah terisi penuh dengan nasi goreng komplit telur mata sapi di atasnya.


"Terima kasih ya Allah. Kamu datang diwaktu yang tepat, Mas. Jika terlambat satu menit, mungkin nyawa Aida akan melayang." Aida melahap makanannya tanpa membaca doa. Gus Bima hanya bisa terpaku melihat istri kecilnya melahap makanan buatannya dengan sangat lahap. Pria itu senang melihat istrinya yang makannya sangat lahap dan sepertinya ia sangat menyukai nasi goreng tersebut. Namun, Gus Bima juga sedikit kesal kepada gadis ceroboh itu. Mengapa ia sampai lupa membaca doa sebelum makan?


Gus Bima berdeham, memberi isyarat kepada Aida. Namun, gadis itu menghiraukannya dan meneruskan menyantap nasi goreng tersebut. Sampai akhirnya, Aida tersedak dan kelimpungan dalam mencari segelas air mineral.


"A--air." Katanya terbata-bata seraya memegang tenggorokannya.


Gus Bima mengambilkan segelas air mineral dan menyodorkannya kepada Aida. "Itulah balasan untuk orang yang tidak membaca doa sebelum makan." Aida membulatkan matanya. Oh iya, bagaimana ia bisa lupa? Di detik yang sama, air yang diteguk oleh Aida masih tercekat di tenggorokan, gadis itu perlahan berusaha untuk menelannya. Ia kembali merutuki dirinya sendiri. Ya Rabb, bagaimana ia bisa meluapkan untuk berdoa sebelum makan?


Aida menggerakkan badannya dan duduk seperti semula. Gadis itu menunduk dan meletakkan gelas yang berisikan seperempat air mineral di meja makan.


"Kenapa tidak dihabiskan?" Aida tidak menjawab pertanyaan Gus Bima. Apakah pria itu marah kepadanya? Setiap Gus Bima menegur Aida, gadis itu selalu diliputi rasa cemas. Ia takut suaminya akan marah pada setiap aktivitas yang ia lakukan. Mengingat bahwa pernikahan ini bukanlah didasari dengan cinta.


"Maaf, Mas." Aida menghentikan aktivitasnya. Aida menundukkan kepala begitu dalam hingga tak terasa bening itu kembali menetes. Ah, hatinya sekarang sedang tak karuan. Aida jadi merindukan bunda dan ayahnya.


Melihat istrinya yang meneteskan air mata, Gus Bima langsung memegang bahu istrinya. Namun, sebisa mungkin Aida untuk menyembunyikan isak tangis tersebut. Iya, Aida tidak ingin dianggap cengeng oleh suaminya.


"Aida, kenapa kamu menangis?" Tangan Gus Bima membawa raut wajah itu saling beradu pandang satu sama lain. Binar itu terlihat begitu sendu. Apakah semua ini karena perkataannya?

__ADS_1


"Saya tadi hanya mengingatkan saja, Aida. Maaf jika perkataan saya--"


Aida menggeleng cepat dan menepis tangan suaminya yang memegang raut wajah Aida. Di detik yang sama, ia memalingkan wajah dan mengelas kasar air matanya.


"Katakan kepada saya, siapa yang berani membuat istri kecil saya bersedih." Aida masih membisu. Seolah-olah dia dibuat mati kutu. Gadis itu tidak berani mengadukan setiap perilaku Mbak Hamida kepadanya. Terlebih lagi, Aida melihat bahwa hubungan keluarga Abi Nur dan gadis itu sangatlah dekat. Apalah daya dirinya yang baru tinggal beberapa minggu di sana, dirinya tidak memiliki hak untuk menuntut ini dan itu. Biarlah semua ini Aida pendam sendiri.


"Suasana hati Aida kurang bagus, Mas." Ah tidak, dia berbohong Gus Bima. Apakah kamu tidak bisa membaca pikiran istrimu?


Gus Bima membawa Aida berhambur ke dalam dekapannya. Pria itu mengelus bahu istri kecilnya, mencoba untuk menetralkan hatinya yang tak karuan. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Gus Bima berharap dengan perhatian kecil ini mampu menjadi pengobat luka hati bagi Aida.


"Aida, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" Aida menganggukkan kepalanya dengan lemah.


"Apakah kamu merindukan Kenzo?" Aida membulatkan matanya, sesaat ia mencoba untuk menajamkan pendengarnya. Apa yang baru saja pria itu katanya, Kenzo?


Aida bangun dan menatap lekat manik suaminya, mencoba untuk mencari celah penjelasan atas apa yang baru saja ia katakan."Apa kata kamu Mas, Kenzo?"


Aida berdiri dengan penuh amarah hingga kursi yang didudukinya mengeluarkan suara keras akibat didorong oleh tubuh Aida. Gadis itu tidak mengatakan apapun.


"Aida, maaf jika perkataan saya membuat suasana hatimu menjadi lebih buruk." Gadis itu menghiraukan suaminya yang berusaha untuk memberi penjelasan. Aida berjalan dengan kasar menuju kamarnya. Namun ....


"Aida." Entah mengapa suara bariton itu kali ini menghentikan langkah Aida. Jantungnya kembali berdebar. Mengapa setiap kali pria itu memanggil namanya, debar itu selalu Aida rasakan? Haruskah ia menoleh ke belakang? Ya, sebaiknya ia menoleh sekejap untuk memastikan tidak ada lagi yang ingin suaminya katakan kecuali panggilan itu.


Aida menoleh dan menatap wajah suaminya yang datar. Hening. Pria itu tak kunjung mengatakan sesuatu. Namun, jemari telunjuk Gus Bima seperti ingin menunjukkan sesuatu kepada Aida. Keheranan dengan sikap sang suami, Aida memicingkan matanya dan mencoba untuk mencerna setiap tingkah laku Gus Bima.


"Apa?" Gadis itu melihat sekitar gamis yang dikenakannya. Mencari sesuatu yang dapat membuat suaminya ternganga.


"Di belakang kamu." Aida masih tak mengerti dengan perkataan Gus Bima. Di belakang? Memangnya kenapa?

__ADS_1


"Ada darah." Aida perlahan mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Gus Bima. Beberapa menit kemudian, gadis itu membulatkan mata sempurna. Ya, akhirnya ia mengerti maksud akan suaminya. Tanpa menunggu waktu lama lagi, gadis itu sedikit memiringkan badannya untuk melihat noda merah yang menempel di gamis yang Aida kenakan.


Aida menggigit bibir bagian bawahnya. Ya, Aida selalu melakukan itu ketika ia sedang gelisah atau malu. Gadis itu meremas erat pinggir jahitan gamisnya. Aida malu. Benar-benar malu. Pria itu melihatnya. Mungkin ini adalah alasan mengapa beberapa hari ini moodnya sangat buruk. Ah, mungkin karena beberapa masalah yang akhir-akhir ini Aida alami sehingga ia lupa untuk melihat kalendernya. Namun, kenapa harus dalam situasi seperti ini? Di depan suaminya?


"Mas Bima, Aida boleh minta tolong tidak?" Gadis itu mengucapkannya dengan pelan. Sesaat Aida berusaha untuk menebalkan wajahnya di depan Gus Bima. Ia tahu bahwa ini sulit. Kini wajah Aida terasa sangat panas. Namun, gadis itu tak peduli karena ada yang lebih penting dan bahaya dari pada rasa malu. Tahukah kalian?


"Apa, Aida?" Aida semakin menggigit bagian bawah bibirnya. Ya Rabb, bagaimana cara Aida untuk mengatakannya? Rasanya tak mungkin gadis itu menyebutkan secara jelas, terlebih lagi ia mengatakannya kepada sang suami. Bibirnya tiba-tiba kelu, sebuah kalimat siap untuk Aida ucapkan. Namun, ada suatu hal yang menghambat sehingga tertahan.


"Mas Bima, bisa belikan itu tidak?" cicitnya tertahan. Tidak. Aida tidak bisa melanjutkannya. Aida malu. Gus Bima yang masih duduk di ruangan meja makan hanya bisa menajamkan pendengar. Itu? Maksudnya itu? Gus Bima tidak mengerti akan apa yang dimaksud oleh Aida.


"Aida kan baru beberapa minggu tinggal di sini, sebagai barang milik saya masih ada di rumah, Mas."Aida kembali menjeda kalimatnya. Tunggu. Semakin ia menjelaskan, rasa malu itu semakin menjalar ke sekujur tubuhnya. Kini, oksigen di ruangan sepetak itu terasa semakin menipis. Sesak. Ah, ada apa dengannya?


"Terus? Apakah saya harus mengambil semuanya?" Aida menggeleng cepat. Ah, bukan itu yang Aida maksud Gus Bima. Cobalah untuk sedikit peka! Gemas, Aida ingin sekali meremas pipi suaminya.


"Tunggu, kan Aida belum selesai bicaranya." Gus Bima terkekeh saat melihat istrinya yang kesal dengan mengepal kedua telapak tangannya dan mengenakkan salah satu kaki ke lantai. Sangat mirip anak kecil. Ah iya, maafkan suamimu Aida, Gus Bima kira kalimat tersebut tidak memiliki kelanjutan.


"Aida boleh minta tolong belikan itu tidak?" Gus Bima semakin memicingkan matanya. Oh Allah, mengapa istri kecilnya ini suka sekali membuatnya penasaran? Apa yang ingin Aida katakan sehingga gadis itu tidak mampu untuk mengucapkannya?


"Itu apa Aida?" Gus Bima gemas sekali. Kalimat itu tak juga menemukan titik akhir. Hanya berputar-putar. Di beberapa menit kemudian, Gus Bima mengacak-acak rambutnya frustasi. Sungguh, istri kecilnya ini berhasil membuatnya naik darah.


"Itu--tolong belikan--pembalut." Gus Bima yang sedang meminum segelas air mineral langsung tersentak. Pembalut? Apa itu, seumur hidup ia tak pernah mendengar benda tersebut dalam kamusnya.


Gus Bima membulatkan mata, air dalam gelas yang baru saja ia teguk separuh hampir saja keluar. Aida, kamu ini ada-ada saja. Lantas, pria itu harus mencari pembalut itu di mana? Melihat saja ia tak pernah apalagi menyentuh. Apa perlu ia menanyakan hal itu kepada uminya? Namun, Gus Bima merasa segan. Ini juga bukan hal yang serius. Ah, sebaiknya ia cari di internet saja.


Aida merasa berkali lipat malu. Sekujur tubuhnya terasa panas, bahkan, rona merah itu melebihi warna tomat yang direbus. Astagfirullah, malu. Pipi Aida seperti mati rasa. Tolong, adakah dari kalian yang ingin membantu Aida? Gadis itu ingin cepat-cepat sembunyi. Setiap detiknya Aida gunakan untuk merutuki diri dan sesekali ia menepuk jidatnya pelan. Gadis itu tidak berani untuk bergerak, walau hanya geser posisi berdiri. Kejadian hari ini tidak akan pernah Aida lupakan.


Bersambung....

__ADS_1


Pasuruan, 06 Februari 2023


__ADS_2