
..."Tidak ada yang lebih indah daripada melihat kegigihan laut yang menolak berhenti mencumbui bibir pantai, meski berkali-kali harus menjauh terbawa arus."...
Sang surya tersenyum mengawali pagi hari. Berbeda dengan perasaan gadis yang duduk di atas ranjang rumah sakit, terbalut malam kelam dengan rintik hujan. Tidak ada lagi cahaya, semua hanyalah kegelapan dan kekosongan. Mengapa hatinya merasa patah seperti ini? Seperti awal ketika ia tahu pria yang dicintainya memilih gadis lain. Apakah hanya ia yang menderita karena cinta yang tidak terbalaskan? Memang, sepertinya hanya dia.
Senyum yang biasa mengawali pagi hari kini juga ikut padam bersama dengan perasaannya. Pria paruh baya itu memilih untuk mendiamkan putrinya. Sedari subuh, Kyai Musthofa sibuk dengan mushaf Al-Quran. Apakah pria paruh baya itu masih marah padanya? Kejadian semalam membuat hubungannya dengan Kyai Musthofa sedikit renggang.
"Sudah, Umma?" Pria dengan kaos santai berwarna hitam itu masuk setelah mengurus administrasi kepulangan Mbak Hamida. Mas Nabil mengambil alih beberapa tas besar yang terletak di atas sofa.
Hari ini Mbak Hamida diperbolehkan pulang. Gadis itu pulang ke rumah Ustaz Nur? Tidak. Kyai Musthofa membawanya pulang, tapi hanya sementara waktu sampai keadaan baik-baik saja. Mengingat jika semua orang tengah sibuk merawat Aida yang sakit. Tidak mungkin jika Mbak Hamida harus pulang ke rumah itu, pasti mereka akan sering berkunjung ke rumah sakit. Kyai Musthofa juga sadar, putrinya hanyalah tamu di sana yang diterima dengan tangan terbuka oleh Ustaz Nur. Keputusan untuk kembali ke rumah Ustaz Nur setelah Aida membaik itu adalah permintaan Mbak Hamida. Awalnya ia tidak setuju, tapi keadaan memaksanya untuk menuruti permintaan putrinya. Malu, sungguh malu. Entah bagaimana ia ketika bertemu Ustaz Nur.
"Tidak ada barang yang tertinggal Umma?" Wanita paruh baya itu menggeleng seraya melihat ke sekitar. Seingatnya semua sudah ia masukkan ke dalam tas.
"Jika tidak ada yang tertinggal. Mari, kita pulang. Mobilnya sudah siap di bawah." Kyai Musthofa menutup mushafnya dan beranjak. Pria itu masih diam, tidak berkata sepatah kata pun kepada Mbak Hamida hari ini. Bahkan, atensinya tidak melirik ke arahnya. Gadis itu dianggap seperti tidak ada.
"Kalian duluan saja." Langkah Mas Nabil terhenti. Nyai Zamzamah mengernyitkan dahi. Kata-kata itu terdengar ambigu. Lantas, ia akan pulang bersama siapa? Memangnya mereka akan pergi ke mana?
"Loh, Buya mau kemana?" Kyai Musthofa melepas kacamata yang dikenakannya. Pria paruh baya itu tersenyum pada putranya. Di menit yang sama, ia berjalan dan berhenti tepat di hadapan Mas Nabil. Tangannya terangkat dan membelai puncak kepala putra semata wayangnya.
“Buya mau menjenguk Nak Aida dulu. Kemarin buya belum sempat menjenguknya. Lagipula dia juga dirawat di sini.” Mbak Hamida yang awalnya menunduk kini mendongak. Ia terbelalak sekaligus terkejut. Gadis itu lagi. Ia sangat benci mendengar namanya, apalagi harus terucap dari bibir buyanya. Mengapa semua orang seperti sayang pada Aida?
Dadanya terasa sesak, napasnya pun mendadak tak beraturan. Tangannya mengepal hebat. Maniknya terlihat berkaca-kaca, beningnya menggenang menutupi sebagian penglihatannya. Tidak. Mbak Hamida menyeka bening itu sebelum ada yang melihatnya.
"Umma juga ikut Buya." Wanita paruh baya itu kini mengatakan kalimat yang beberapa menit lalu ia rangkai. Akhirnya ia bersuara setelah sekian lama membisu. Seolah-olah ia tengah mati kutu.
"Nabil menunggu di mobil saja Buya. Salam buat Aida, semoga sepat sembuh. Syafakillah." Kyai Musthofa menganggukkan kepala. Setelah itu, mereka berjalan keluar dan bergegas menuju ruangan tempat Aida di rawat. Tidak lama, hanya sebentar saja. Ia merasa tidak enak dengan Ustaz Nur dan juga Umi Salamah.
"Ayo Hamida. Kita pulang, kamu tunggu di lobi sebentar. Mas mau ambil mobil di parkiran." Tidak ada jawaban. Gadis itu berjalan dengan melewati Mas Nabil. Sikapnya masih sama kepada sosok itu. Ia merapalkan istigfar dalam hati, tidak ingin tersulut emosi. Sebaiknya ia mengalah, tapi sampai kapan? Di mata Mbak Hamida dirinya seperti tidak mempunyai harga diri.
Sebaiknya aku mengalah. Aku tidak ingin menciptakan kekacauan. Kasihan Buya.
***
Aida terduduk lemas setelah beberapa menit yang lalu kembali muntah. Sudah kali ketiga gadis itu muntah. Tubuhnya terasa lemas, bahkan untuk duduk saja rasanya ia tak mampu. Gus Bima memijat pelan bahu Aida. Hanya tersisa ia dan suaminya, Umi Salamah dan Ustaz Nur kembali pulang untuk mengurus urusan pondok pesantren. Sedangkan orang tua Aida juga tak kunjung datang.
__ADS_1
Gus Bima membaringkan Aida. Pria itu tidak pernah absen untuk menjaga istrinya. "Perutnya masih sakit?" Aida mengangguk dengan mata yang terpejam. Kali ini istrinya tidak banyak mengeluh. Apa dia tengah menahan sakit?
"Assalamualaikum." Aida membuka kelopak mata. Gus Bima menjawab salam itu dan atensinya tertuju pada pintu kamar rumah sakit. Dari balik daun pintu, terlihat kentara sesosok pasangan suami istri. Gus Bima bangkit dan menghampiri mereka. Kemudian Gus Bima meraih telapak tangan Kyai Musthofa seraya mencium punggung telapak tangannya. Hal serupa dilakukan kepada Nyai Zamzamah yang berjalan menghampiri Aida.
Gadis itu bangun, tapi Nyai Zamzamah melarangnya. Ia kembali berbaring. Sebenarnya ia tidak enak hati dan merasa canggung. Namun, perutnya saat ini juga sangat sakit. Aida tetap mengulum senyum ramah kepada mereka. Ia terlihat baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak. Ia berbohong.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Apakah merasa lebih baik?" Aida mengangguk. Tidak. Sebenarnya gadis itu berbohong. Kenapa ia tidak mengatakan yang sejujurnya jika saat ini ia tengah menahan rasa sakit? Aida memang seperti itu, tidak ingin orang lain merasa cemas melihat keadaannya.
Beberapa menit berlalu, tidak berselang lama pria paruh baya dengan jas putih dan beberapa suster di belakangnya memasuki ruangan. Nyai Zamzamah memilih untuk mundur mensejajarkan tubuh dengan suaminya. Kemudian, Umi Salamah dan Ustaz Nur juga kembali dengan membawa beberapa baju untuk Aida dan selimut tebal. Akhir-akhir ini Aida mengeluh kedinginan. Tak jarang ia menggigil karena tak mampu menahan hawa dingin.
"Dokter, bagaimana hasil laboratoriumnya? Apakah sudah keluar?" Tidak ingin menunggu waktu lama lagi, pria itu lebih dahulu menanyakannya. Aida juga sudah menunggu. Kini detak jantungnya berdebar seperti pacuan kuda. Ia sangat takut, tapi juga penasaran. Ingin sekali Aida menutup telinganya dengan telapak tangan. Biarlah Gus Bima yang mendengarkan penjelasan dokter.
Pria itu menyodorkan selembar amplop putih yang berisikan hasil laboratorium. Tangannya mendadak gemetar, ia menatap lekat selembar amplop putih itu. Ilahi, Gus Bima belum siap. Tolong kuatkan hatinya Ya Rabb.
Perlahan setelah menghela napas berat, Gus Bima membuka amplop putih itu. Dokter juga mulai menjelaskan. Namun, sebelum menjelaskan pria berjas putih itu sedikit menghela napas. "Alhamdulillah. Dari hasil tes laboratorium yang telah dilakukan. Tidak ada peradangan pada hati pasien. Namun, hasil tes menunjukkan bahwa pasien mengalami demam tifoid atau yang lebih sering dikenal tipes. Demam tifoid merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thyphi. Bakteri ini biasanya ditemukan di air atau makanan yang terkontaminasi. Selain itu, bakteri ini juga bisa ditularkan dari orang yang terinfeksi."
"Pasien merasakan nyeri perut yang berlebihan karena kondisi ini terjadi ketika sel yang berada di bagian dalam lapisan pelindung usus turut terinfeksi oleh bakteri. Akhirnya, usus pun akan mengeluarkan respon terhadap peradangan yang ditandai dengan rasa nyeri." Gus Bima bernapas lega. Setidaknya ia saat ini dapat kembali menghirup oksigen setelah beberapa menit napasnya seperti tercekat di dada.
"Syafakillah ya, Nak. Semoga Allah segera mengangkat penyakitmu dan semoga dengan Allah memberi kamu ujian ini menjadi penggugur atas dosa-dosamu yang lalu." Gadis itu mengaminkan perkataan Nyai Zamzamah dengan suara yang lirih dan lemah. Ketika kulit tangannya yang sehalus sutera membelai kening Aida, rasanya seperti ada sengatan listrik. Jantungnya berdebar tak seperti biasanya.
Wajah ayu Aida membawa ketenangan bagi Nyai Zamzamah, tapi wanita paruh baya itu juga merasakan desir perih di dadanya. Samar-samar memorinya memutar kenangan kelam dalam hidupnya. Oh Allah, kenapa kenangan itu kembali terputar? Semua itu membuatnya teringat kepada seseorang yang sampai saat ini ia rindukan.
Mereka saling beradu pandang satu sama lain cukup lama. Suara tegas dari sosok pria yang dicintai Aida membuyarkan lamunan itu. Mereka saling memutuskan secara sepihak. Gus Bima mengucapkan ritual ijab qobul setelah dokter menjelaskan keadaan istrinya dan juga meresapkan beberapa obat tambahan. Aida melihat sekilas bahwa Nyai Zamzamah menyeka air mata yang menggenang di perlu punya sebelum ia berlalu pergi. Ada apa? Kenapa wanita paruh baya itu sampai meneteskan air mata? Beberapa menit yang lalu Nyai Zamzamah terlihat baik-baik saja. Ah, mungkin jiwa keibuan Nyai Zamzamah tengah mengendalikannya saat ini. Wajar, husnudzon saja mungkin Nyai Zamzamah teringat pada Mbak Hamida. Oh iya, bagaimana kabar gadis itu? Sudah lama ia tidak melihatnya, kenapa ia tidak ikut? Apakah ia sangat benci dengannya?
Astagfirullahalazim, sadar Aida. Tidak baik menanamkan berprasangka buruk. Sulit menghilangkan kebiasaan buruknya ini. Aida memejamkan mata dan merapalkan istighfar. Gadis itu segera menetralkan pikirannya.
"Kenapa Aida?" Gus Bima menangkap basah istri kecilnya yang memejamkan mata seraya mengernyitkan dahi. Bukan tanpa sebab ia bertanya seperti itu, Gus Bima hanya khawatir akan keadaan istrinya. Mengingat bahwa saat ini kondisi Aida belum seratus persen pulih.
Aida membuka mata, gadis itu terdiam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan dari suaminya. Ia mencerna kata demi kata yang dilontarkan Gus Bima. Mengapa ia bertanya seperti itu? Aida tidak apa-apa, ia hanya merutuki diri seraya muhasabah. Mengintropeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.
"Tidak apa-apa, Mas." Aida akhirnya bergeming walau dengan senyum canggung yang ia suguhkan. Bingung mau menjawab apa dan malu rasanya, atensi semua orang di ruangan tertuju kepadanya. Sampai kapan? Satu kamar dengan Gus Bima saja Aida masih merasakan kecanggungan yang teramat besar. Sekarang? Dua sosok lawan jenis itu tengah menatapnya. Mereka seperti mengintai Aida, tatapan itu seperti siap akan mengintimidasinya.
"Bagaimana kabar Mbak Hamida, Nyai? Sudah lama Aida tidak bertemu dengannya." Senyumnya memudar. Gadis itu teringat pada Mbak Hamida sampai menanyakan kabarnya sedangkan, putri yang selama ini ia manjakan tidak peduli dengannya. Nyai Zamzamah merasa malu, Aida terlalu baik walaupun Mbak Hamida berlaku buruk kepadanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik. Baru pulang dari rumah sakit. Dia juga dirawat di rumah sakit yang sama dengan kamu Aida." Kini pria itu yang menjawab. Gus Bima membatu. Pria itu meremas pinggir jahitan celananya. Bagaimana ini, kenapa Kyai Musthofa melontarkan jawaban itu sedangkan, Gus Bima sepakat dengan orang tuanya untuk merahasiakannya kondir Mbak Hamida yang dirawat di rumah sakit.
"Pulang dari rumah sakit Kyai?" Kyai Musthofa mengangguk pelan. Benarkah? Kenapa Gus Bima dan Umi Salamah tidak memberitahu dirinya jika Mbak Hamida dirawat di rumah sakit yang sama?
Aida menjatuhkan pandangannya pada sosok pria yang berdiri di ujung ranjang. Gus Bima tidak berani menatap manik istrinya. Apakah pria itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya? Gadis itu tidak mungkin bertanya di hadapan Kyai Musthofa dan Nyai Zamzamah. Hanya tatapan tajam yang ia layangkan kepada Gus Bima. Baginya, itu semua sudah cukup membuatnya mati kutu.
"Terus keadaan Mbak Hamida sekarang bagaimana Kyai? Baik-baik saja ‘kan?" Kyai Musthofa mengangguk untuk yang kedua kalinya. Jangan lupakan senyum manis yang terpancar di wajahnya.
Aida kembali tidak bergeming. Aida jadi kepikiran Mbak Hamida. Kira-kira adakah yang bisa memberitahunya alasan Mbak Hamida sampai dilarikan ke rumah sakit dan opname? Memikirkan hal itu membuat kepalanya terasa sakit dua kali dari biasanya.
"Baiklah kalau begitu. Saya tidak bisa lama-lama di sini. Semoga Nak Aida segera sembuh dan cepat pulang. Semoga Allah segera mengangkat segala penyakit Aida." Kyai Musthofa mencairkan keheningan. Pria itu menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Hal serupa dilakukan Aida seraya tersenyum. Kemudian, Aida meraih telapak tangan Nyai Zamzamah dan menciumnya.
"Terima kasih banyak Kyai, karena sudah berkunjung menjenguk Aida. Semoga Hamida segera pulih. Maaf kami tidak menyediakan apa-apa." Gus Bima mencium punggung telapak tangan Kyai Musthofa dan disusul Nyai Zamzamah. Wanita paruh baya itu menggeleng seraya mengelus punggung Gus Bima. Netra mereka saling temu, tapi hanya sekejap.
"Niat kita berkunjung ke sini untuk menjenguk Aida, bukan mencari jamuan. Bukan di sini tempatnya, Nak. Nanti saja ketika Aida sudah sembuh, saya akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah kalian." Kyai Musthofa terkekeh, pun dengan Gus Bima. Ia jadi melupakan tatapan tajam istrinya untuk sejenak. Ah, tak apa. Setidaknya senyum itu kembali hadir.
"Baik, Kyai. Kami tunggu kedatangan Kyai dan keluarga. Kami sangat terhormat." Gus Bima meletakkan tangannya ke samping dada kiri dan sedikit membungkuk.
"Saya tidak sabar mencicipi masakan Aida. Sebelum-sebelumnya Umi Salamah yang memasak makanan untuk kami. Kali ini, saya berharap bisa makan masakan Nak Aida." Kalimat itu diselingi sedikit gurauan. Pria paruh baya itu kembali terkekeh membuat kedua netranya menyipit. Kerutan di beberapa wajahnya terlihat kentara. Namun, tidak membuat sedikitpun ketampanannya memudar.
Nyai Zamzamah membelai puncak kepala Aida dan kemudian berpamitan. Gus Bima mengantar mereka sampai lobi rumah sakit. Ia tidak bisa mengantar Kyai Musthofa dan Nyai Zamzamah saat ini. Tidak mungkin Gus Bima meninggalkan Aida sendirian. Pria itu takut terjadi sesuatu kepada Aida. Ah, bayang-bayang negatif mengenai kondisi istrinya membuat Gus Bima tak tenang.
Gus Bima menemani Kyai Musthofa sampai mereka mendapatkan taksi. Setelah mereka mendapatkan mobil dengan tulisan taksi di atasnya, Gus Bima menganggukkan kepala dengan sedikit membungkuk sebelum pintu mobil ditutup. Gus Bima tak mengubah posisinya sedikitpun sampai mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya.
Gus Bima menghela napas berat. Akhirnya, ia akan kembali ke ruangan yang saat ini sangat ia takuti. Bagaimana jika istrinya melayangkan sejuta pertanyaan kepadanya? Ia harus menjawab apa. Gus Bima sangat bingung. Di bawah teriknya baskara dengan langit yang membentang dengan balutan gumpalan putih bercampur menjadi satu dengan birunya kanvas, Gus Bima menggaruk kepalanya frustrasi. Oh Allah, selamatkan ia hari ini. Hanya sekali. Pria itu masih belum siap untuk menghadap Aida. Sembunyikan ia di manapun, setidaknya Gus Bima bisa lari dari pertanyaan maut Aida. Namun, jika Gus Bima tidak kembali, jika Aida membutuhkan sesuatu bagaimana? Ia harus minta bantuan kepada siapa lagi jika bukan dirinya? Benar, masih ada Umi Salamah dan Abi Nur, tapi selama Aida sakit gadis itu jadi manja kepadanya. Itulah alasan Gus Bima tidak pernah lama meninggalkan Aida.
"Ya Rabb, hati hamba seperti terbelenggu. Langkah ini terasa berat untuk kembali. Aida pasti sudah menunggu saya. Bagaimana ini? Saya belum siap menjawab pertanyaan darinya. Benar kata orang. Satu kebohongan mampu membentuk daun-daun kesalahan yang lain."
Ia merasa sangat menyesal karena sudah berbohong. Untuk pertama dan terakhir, pria itu tidak ingin melakukan hal yang serupa. Bukannya dapat lari dari masalah, melainkan masalah itulah yang menghampirinya. Ibarat seseorang yang menghindar ganasnya deru ombak laut. Namun, seberapa besar upayanya menyelamatkan diri, tidak dapat dipungkiri jika ombak laut pantai yang menerjang karang membawanya terombang-ambing hingga dasar panti.
Gus Bima menghela napas berat. Walau langkahnya berat, pria itu tetap melangkah bermodalkan basmalah. Allah selalu menyertai setiap langkahnya. Gus Bima percaya itu.
Bersambung.....
__ADS_1