
..."Setiap hukuman dari Allah adalah murni keadilan dan setiap kenikmatan dari-Nya adalah murni kasih sayang."...
..._Ibnu Taimiyah_...
Gemerlap bintang dan juga terangnya rembulan mampu menghalau gelapnya langit malam. Suasana kali ini tidak terlalu ramai maupun sepi, bahkan semilir angin malam tak sedingin biasanya. Gadis bermata bening dengan sedikit polesan bedak tipis membuat parasnya semakin cantik. Ah, tidak perlu diragukan lagi, tidak memakai bedak saja Aida nampak begitu cantik natural. Di depan cermin meja riasnya, Aida tak kunjung mengalihkan pandangan dari cermin besar di hadapannya. Terlebih lagi, sesekali Aida bersenandung seraya menyisir rambutnya yang tak terlalu panjang. Sepertinya, hati gadis itu tengah berbunga-bunga. Berulang kali, Aida tersenyum pada cermin besar di hadapannya. Ah tidak, pipinya mulai merona.
"Apakah aku harus menambahkan sedikit lipstik untuk menutupi kepucatan ini?" Ia berbicara sendiri seraya menepuk-nepuk pelan pipinya. Oh tidak, mengapa ia jadi tersipu malu seperti ini?
"Tidak perlu memakai bedak, kamu sudah sangat cantik Aida." Gadis itu terperanjat sehingga kelopak matanya yang semula terpejam kini membelalak, membulat sempurna. Dari cermin di hadapannya, ia dapat menatap bayangan seorang pria yang selama ini mengisi kekosongan angan Aida. Gadis itu menbatu, menyatu dengan keheningan malam.
Kedua telapak tangan yang memegang bahu Aida membuat jantungnya bertalu-talu. Membisu, semua kamus di otaknya seperti hirap terbawa angin lalu. Apakah karena sentuhan itu?
"Mas Bima. Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu? Aida tidak memakai kerudung." Keningnya sedikit mengernyit sesaat setelah mnegerjap beberapa kali. Aida segera mengambil kerudung yang tak jauh darinya, tetapi tangan itu menghentikan aktivitas istrinya. Sesaat, manik mereka saling beradu pandang, begitu dekat sampai-sampai Aida mampu melihat dengan jelas kornea mata suaminya. Tatapan teduh yang selalu membuatnya tenang.
"Tidak perlu Aida, kamu istri saya, tidak dosa jika memperlihatkan aurat di depan suami sendiri." Hatinya tersentuh dengan kalimat yang dilontarkan Gus Bima. Perlahan, cairan bening itu mulai menggenang, mengisi kekosongan pada netra indah Aida. Penglihatannya berubah buram karena sebagian atensinya tertutup cairan transparan.
Satu demi satu air matanya tak mampu dibendung, melesat jauh menetes melewati pipi Aida. Namun, telapak tangan itu dengan cepat menampung air mata Aida yang nenetes. Seperti tanah yang menjadi matras rintik hujan jatuh. Pria itu mengangkat telapak tangannya yang terdapat setetes air mata istrinya. Mengambang di udara tepat di hadapan Aida.
"Berkali-kali saya katakan. Jangan biarkan air mata itu luruh dari kelopak mata sayup teduh ini. Apakah kamu tahu Aida?" Kalimatnya terjeda dan sedikit mengambang di udara. Napasnya seperti tertahan, dadanya terasa sesak. Tak banyak yang dikatakan oleh Aida, gadis ayu itu tidak kunjung bergeming.
__ADS_1
"Ketika kamu sedih dan meneteskan air mata, di situlah hati saya terasa seperti disayat oleh ribuan silet. Perih. Saya tidak mau ... surga yang telah kita bangun bersama dengan mudahnya hancur dan runtuh hanya karena setetes air mata." Gus Bima mengelas pelan jejak transparan yang mulai mengering di pipi Aida. Hatinya terenyuh. Pun dengan desir perih yang menjalar melalui setiap inci urat nadinya.
"Sudah, apakah kamu masih tetap mau menangis atau pergi makan malam?" Sekian lama sama-sama membisu, kini pria itu mencairkan suasana. Aida mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya.
Pria itu melangkah untuk keluar dengan meninggalkan istrinya yang masih merona di tempat semula. Ia tidak banyak merubah posisinya. Saat Gus Bima benar-benar menghilang dari hadapannya, Aida segera membawa wajahnya yang mulai panas pada kedua telapak tangannya. Ia malu, sungguh malu.
***
Suara deru laju mobil saling berkejaran satu sama lain. Di balik kaca mobil, terlihat sesosok gadis dengan mata teduh menatap sendu pemandangan di luar jendela. Gemerlap lampu serta ramainya pedagang kaki lima membuat malam nampak begitu istimewa. Tak jarang terlihat dengan kentara sepasang suami istri yang tengah makan berdua di trotoar tanpa rasa malu. Kini, harapannya hanya sebatas angan belaka. Aida mendengus napas kesal serta tangannya yang menyilang di dada. Sepanjang perjalanan, gadis itu tidak banyak bicara. Memilih membisu menyatu dengan suara ban kendaraan yang saling beradu di atas aspal.
Pria dengan kemeja abu-abu dipadukan arloji silver terlihat tengah fokus ke depan mengemudikan mobil pajero kesayangan. Sama dengan Aida, pria itu tidak banyak bicara. Hanya lirikan mata yang tertuju pada Aida melalui kaca kecil di depannya. Ah, tidak. Lebih tepatnya pria itu tengah curi-curi pandang.
"Maafkan saya." Sama. Gadis itu memilih acuh. Jangankan menjawab, menatap wajah suaminya saja sepertinya Aida tak sudi. Ilahi, apa yang sebenarnya telah pria itu lakukan sampai membuat Aida naik pitam dan memilih diam?
Gus Bima menghela napas panjang, atensinya kini kembali tertuju pada jalanan lenggang di depan. Sesekali netra itu menatap setiap samping penjuru trotoar. Mungkin, dari salah satu gerobak makanan kaki lima, ada makanan yang mampu mengubah suasana hati Aida. Kini, awan kemendung tengah menyelimuti dan menutup seluruh hati Aida, tak ada cahaya maupun pelangi di dalamnya.
"Ah, itu. Apakah kamu mau martabak?" Kini Aida mengindahkan pertanyaan suaminya dengan gelengan kepala. Jangan lupakan netra indah yang ikut menoleh pada gerobak martabak yang ditunjuk oleh suaminya. Gus Bima kembali menghela napas lelah. Lantas apa yang sebenarnya gadis itu inginkan?
"Bagaimana kalau bakso? Bukankah kamu sangat menyukai bakso Aida?" Aida kembali menggeleng secepat kilat. Melihat tidak ada tanggapan dari istrinya membuat Gus Bima menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Mengapa perempuan selalu membuat pria bingung? Sesulit itukah pria untuk menebak isi hati perempuan?
__ADS_1
Sebelum kembali bicara, Gus Bima menghela napas panjang seraya memejamkan mata. Dirasa suasana hatinya sudah kembali tenang dan normal, pria itu kembali menyunggingkan senyum simpul kepada istrinya. "Aida mau apa, Sayang?" Aida mendengus kesal dengan mengernyitkan kening membuat alisnya menyatu. Tatapan intimidasi seolah-olah siap menghunus musuh di hadapannya dengan sebilah pedang.
Hanya dengan menatap wajah Aida membuat Gus Bima bergidik ngilu. Oh Allah, pilihannya untuk menawarkan beberapa pilihan makanan sepertinya salah besar. Tak seharusnya ia membangunkan macan betina yang tengah tertidur pulas. Ia sama saja menantang kematian. Dalih ingin menjauhi jurang yang curam, kini ia sendiri yang terperosok ke dalam jurang yang dalam.
"Aida marah sama Mas Bima." Aida mengalihkan pandangannya ke depan dengan bibirnya yang mengerucut dua senti lebih maju dari biasanya. Jangan lupakan tangannya yang menyilang persis seperti anak kecil yang marah pada ibunya karena tidak dibelikan lolipop.
Marah? Apa yang menyebabkan Aida marah sampai-sampai mendiamkan Gus Bima? Tentunya, tidak ada asap tanpa api bukan? Bukankah beberapa jam yang lalu ia tengah tersipu malu di depan cermin meja riasnya? Namun, kenapa kini suasana hatinya sudah berubah saja? Ah, perempuan memang sulit ditebak. Penuh dengan segudang misteri, pun perkataan yang terucap dari bibir manisnya.
"Baiklah, saya minta maaf. Saya mengaku semua ini murni kesalahan saya."
"Jika saja Mas Bima tidak terlalu malam, mungkin kita masih bisa makan di tempat itu tadi." Kini ia memasang wajah memelas seraya tatapannya yang nanar ke depan. Pria itu kembali menatap wajah sendu dan layu istrinya. Tidak. Gus Bima merasa seperti pria yang paling jahat karena sudah membuat Aida bersedih.
"Afwan jiddan, Aida. Lain kali saya tidak akan mengulanginya. Lagipula sebentar lagi mau ada tamu yang akan berkunjung ke pondok pesantren." Aida tidak bisa seperti ini terus. Ia harus bisa menurunkan egonya sejenak. Makan malam di luar maupun hanya sekedar sepiring berdua di rumah tidak ada bedanya bukan? Keharmonisan dalam rumah tanggalah yang selama ini Aida inginkan.
Sebelum menjawab, Aida memejamkan mata seraya merapalkan istigfar banyak-banyak dalam hati. Sejenak, gadis itu berusaha untuk menetralkan suasana hatinya yang sedang tak karuan. Berulang kali ia menarik napas panjang dan menghembuskannya dalam-dalam. Setelah dirasa mulai normal, Aida membuka mata dan mengulum senyum simpul kepada suaminya. Senyum yang selalu menjadi ciri khas Aida. "Tidak apa-apa, Mas. Lain kali saja. Makan malam di rumah dengan lauk masakan Aida jauh lebih nikmat."
Gus Bima terkekeh, kemudian, tangan itu terangkat mengacak-acak kerudung Aida. Gadis itu kembali mengerucutkan bibir. Namun, tak berselang lama wajah ayu itu mengukir senyum indah yang membuat Gus Bima melakukan hal yang serupa. Kali ini, bukan makanan lezat yang ia dapatkan, melainkan pelajaran berharga dalam hidup yang membuatnya tersadar akan ego yang harus ia kendalikan.
Bersambung .....
__ADS_1