Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Berapa Tangis Lagi?


__ADS_3

..."Jika dengan air mataku dapat membuat kamu bahagia, saya ikhlas jika nyawa menjadi taruhannya."...


Langit perlahan mulai menghitam, menampakkan kegagahannya pada cakrawala yang membentang pada garis tepinya. Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar mengalun indah di telinga Aida. Suara yang mampu menggetarkan hatinya ketika Gus Bima menyanggupi dari permintaan istri kecilnya.


Entah mengapa, malam ini Aida tidak bisa tidur, matanya seperti tidak mau dipejamkan. Mungkin ini semua karena malam pertamanya menjadi seorang istri. Ditambah pria yang kini berstatus sebagai suaminya tak kunjung memasuki kamar. Ya, Gus Bima lebih memilih mengaji di luar kamar, tepatnya di musholla kecil kediaman orang tuanya.


"Aida." Suara wanita paruh baya itu membuat Aida bangkit dari tidurnya. Menyadari akan suara tersebut, Aida bergegas membukakan pintu. Dari balik pintu, terlihat sesosok wanita dengan kerudung instan biru yang selalu tersenyum kepadanya. Gadis itu merasa malu melihat ibu mertuanya membawakan nampan yang berisikan segelas susu.


"Umi buatkan kamu susu, Nak."


"Ya Allah, Umi. Silakan masuk." Umi Salamah duduk di sebelah Aida, gadis itu tertunduk malu tak sanggup menatap netra sang ibu mertua.


"Kenapa repot-repot Umi, Aida bisa bikin sendiri."


"Tidak apa-apa. Umi khusus buatkan susu ini untuk menantu kesayangan umi." Aida tersenyum. Tidak, lebih tepatnya gadis itu terharu akan sikap Umi Salamah yang sangat baik kepadanya. Perhatian Umi Salamah jadi mengingatkan Aida pada bundanya. Ah, mengapa ia jadi lebih cengeng sekarang?


"Minumlah." Titah tersebut tentu saja tidak bisa Aida tolak bukan? Gadis bermata bulat itu tidak enak dengan wanita yang beberapa jam lalu baru menjadi mertuanya dan segera mengambil gelas yang ada di atas nampan. Seharusnya yang melakukan ini adalah ia bukan?


"Terima kasih banyak, Umi." Umi Salamah mengusap puncak kepala Aida. Wanita paruh baya itu tersenyum tatkala ia melihat Aida yang mengenakan gamis dan kerudung yang beliau berikan ketika pertama kali bertemu. Segelas susu hangat berhasil Aida teguk. Rasa hangat menyelimuti tenggorokannya. Tidak apa-apa, setidaknya rasa hangat itu dapat menetralkan rasa dingin yang menyapanya.

__ADS_1


"Apakah Bima berlaku kasar kepadamu, Aida?" Ia mengalihkan pandangan, menatap nanar netra Umi Salamah. Ah, mengapa wanita itu menanyakan hal tersebut kepadanya? Sedangkan ia belum bertegur sapa dengan Gus Bima walau hanya sepatah kata.


Aida menghentikan aktivitasnya dan berusaha untuk menyunggingkan senyum kepada Umi Salamah. "Mas Bima sangat baik kepada Aida, Umi."


"Syukurlah. Jika Bima kasar kepada kamu, bilang saja kepada umi ya. Umi tidak segan untuk memarahinya." Aida terkekeh. Ah, Umi Salamah ternyata bisa membuatnya tertawa. Setidaknya Aida melupakan sejenak tentang getirnya perjodohan ini.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu tidur ya, sudah malam. Umi sebentar lagi juga akan tidur." Aida mengangguk dan memejamkan mata ketika Umi Salamah kembali membelai puncak kepada Aida. Aida selalu nyaman ketika telapak tangan itu mengusap puncak kepalanya.


"Nanti gelasnya biar Aida saya yang cuci, Umi." Gadis itu kembali bersuara ketika Umi Salamah mengambil nampan dan beranjak dari duduknya.


"Sudah tidak usah, biar umi saja. Pasti menantu kesayangan umi capek. Istirahatlah yang cukup." Sekali lagi Umi Salamah mengusap puncak kepala Aida lalu menciumnya sebelum berlalu pergi.


Aida kembali diam, tidak ada seseorang yang bisa diajak berbicara. Lantas, kemana lantunan ayat suci itu pergi? Apakah suaminya telah selesai mengaji? Waktu terasa begitu cepat, Aida hanya duduk di atas tempat tidur seperti semula selayaknya bagaimana seseorang bisa beristirahat dengan tenang. Namun, kemana Gus Bima selarut ini tak kunjung pulang?


Kenzo, bagaimana kabarnya sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Sungguh, Aida sangat merindukan Kenzo. Mengapa ia bisa melupakan pria yang sangat dicintainya itu? Semoga Kenzo selalu dalam lindungan Allah. Mungkin, setelah ini Aida tidak bisa menemui Kenzo lagi.


Aida selalu berdoa untuk Kenzo, semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada aku. Hanya dengan ini Aida bisa lepas dari rasa bersalah. Namun ... sanggupkah aku melihat kamu bahagia dengan wanita lain, sedangkan aku masih mencintaimu?


"Assalamualaikum, Aida." Suara bariton itu membuat Aida membeku. Jantungnya berdetak begitu cepat ketika Aida mendengar panggilan itu. Ya Rabb, apa yang harus Aida lakukan? Ia belum siap, apalagi jika harus berbagi ranjang dengannya. Aida memejamkan mata sejenak, mencoba untuk menetralkan detak jantungnya. Gadis itu menghembuskan napas berat dan membuka mata. Perlahan, dengan badan yang sedikit kaku, Aida menatap ke arah pintu dan benar saja, suaminya telah kembali.

__ADS_1


"Kamu belum tidur, Aida?" Aida menggeleng lemah. Gus Bima meletakkan kembali beberapa kitab yang ia bawa pada tempat semula. Pria itu melepaskan peci hitamnya dan berlalu menuju kamar mandi. Selang beberapa menit, Aida mendengar gemercik suara air dari dalam kamar mandi. Ah, mungkin suaminya tengah mengambil air wudhu.


Aida merentangkan tubuhnya dan mencoba untuk memejamkan mata. Di detik yang sama, pria itu keluar dengan air yang menetes dari helaian rambutnya. Ya Rabb, Gus Bina terlihat tampan dengan air wudhu yang masih melekat di wajahnya. Ah, istighfar Aida! Gadis itu kembali merutuki dirinya sendiri.


"Mas Bima mau ngapain?" Aida bangun dengan cepat tatkala ia melihat suaminya yang hendak menidurkan tubuhnya di atas kasur. Ya, pertanyaannya membuat pria yang akan tidur tidak jauh darinya mengurungkan niat. Pria itu duduk di tepi kasur seraya tersenyum.


"Saya mau tidur, Aida. Saya sangat capek hari ini." Aida membulatkan matanya sempurna. Apa? Tidur satu ranjang dengannya? Tidak mungkin.


"Yakin, Mas?" Gus Bima tersentak. Tidak paham akan kalimat yang diucapkan oleh Aida. Terdengar begitu ambigu.


"Kan kita sudah sah menjadi suami istri, Aida."


"Tapi tidak dengan tidur satu ranjang begini, Mas. Aida belum siap." Gus Bima terdiam dan memilih untuk tidak menjawab. Pria itu menunduk dalam


Melihat suaminya yang tidak ada reaksi, Aida mengambil satu bantal dan guling. Ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa yang telah tersedia.


"Aida, kamu mau kemana?" Gus Bima bangun, sontak langkah Aida terhenti dan menghela napas kesal.


"Mau tidur di sofa." Gus Bima menggeleng cepat. Pria itu berjalan menghampiri Aida dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Tidak. Bi--biar saya saja yang tidur di sofa, Aida." Tidak ada tanggapan, di detik yang sama pria itu mengambil bantal dan guling yang Aida dekap. Dengan langkah yang begitu berat, Gus Bima berjalan menuju sofa. Ketika tidur, pria itu sedikit melipat tubuhnya di atas sofa kecil yang ada di kamarnya. Oh Aida, mengapa kamu begitu kejam?


Aida membalikkan badan dan kembali tidur. Dalam keheningan malam, Gus Bima hanya bisa menahan agar isak tangis itu tidak terdengar oleh Aida. Apakah malam-malamnya yang akan datang akan Gus Bima lalui sesulit ini? Entah apa lagi yang akan terjadi esok hari dan seterusnya. Semoga saja tidak ada hati dan harapan yang patah. Bismillah, Gus Bima yakin bahwa ini adalah takdir yang terbaik. Ia harus bisa melaluinya.


__ADS_2