Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Pemgakuan Hamida


__ADS_3

..."Karena cinta duri menjadi mawar karena cinta cuka menjelma anggur segar."...


..._Jalaludin Rumi_...


Malam semakin terjaga. Sama seperti gadis dengan gamis biru muda itu, netranya tak mau terpejam. Beberapa jam yang lalu, bunda dan ayahnya memutuskan untuk pulang karena suatu hal yang tidak bisa diwakilkan. Dengan berat hati ia harus meninggalkan putri semata wayangnya yang tengah terbaring sakit itu. Tak apa, masih ada hari esok. Aida yakin, orang tuanya akan kembali.


"Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur Aida." Aida memasang wajah memelas. Ia tidak mengantuk. Sudah sedari dari ia mencoba untuk memejamkan mata. Namun, setiap terpejam netranya seolah-olah memberontak. Atensinya kembali terbuka lebar. Ah, mungkin ini semua karena siang tadi ia terlalu lama tidur.


"Aida tidak bisa tidur, Mas." Pria itu tersenyum. Berbanding terbalik dengan Aida. Pria itu tidak bisa menahan kantuk. Maniknya terasa begitu berat dan tidak bisa ditahan. Namun, jika bukan dia siapa lagi yang akan menjaga Aida. Umi Salamah sudah tidur lebih dulu setelah Bunda Aisyah dan Ayah Zulkifli pulang.


"Kamu tidur duluan saja." Gus Bima tersentak. Seperti terperosok ke dalam jurang, ia tersentak tatakala tangan Aida tak sengaja menyenggol lengan suaminya.


Saat ini netra Gus Bima seperti diberi percikan bubuk cabe, pedih. Sesekali ia menguap, sebenarnya ia menahan agar tidak menguap di depan Aida. Namun, ia benar-benar tidak tahan. Ia ingin sekali memejamkan mata, lima menit saja.


"Mas sudah mengantuk Aida. Jika saya tidur, kamu bagaimana?" Wajahnya begitu menyedihkan. Bawah mata Gus Bima seperti panda, sedikit berwarna cokelat tua.


"Tidurlah. Aida baik-baik saja. Jika Aida merasa sakit, saya akan membangunkan Mas Bima." Gadis itu mengacak-acak rambut suaminya. Aida geli melihat suaminya yang berulang kali akan terjatuh karena menahan kantuk. Ya, pria itu menyangga dagunya dengan tangan kanannya.


"Benar? Janji, ya." Aida mengangguk walau gadis itu tahu bahwa suaminya sudah memejamkan mata. Lantas, mengapa pria itu tetap berbicara? Ah, suaminya ada-ada saja. Jadi, ini ceritanya Gus Bima setengah sadar?


Tak tega harus melihat suaminya tidur dengan posisi seperti itu, Aida sontak membawa kepala Gus Bima untuk berbaring di atas perutnya. Sesekali ia mengelus-elus pelan puncak kepala suaminya. Baru kali ini ia perhatian terhadap Gus Bima, terakhir kali ketika ia menyakiti hatinya. Mengingat hal itu membuat Aida semakin bersalah. Hari itu, sampai saat ini menjadi beban bagi dirinya.


"Kenapa kamu tetap baik walau saya berulang kali menyakiti kamu?" Gadis itu berbicara sendiri. Aida masih belum bisa tertidur. Gadis itu menelisik ke sekitar penjuru ruangan. Hening, tidak ada suara kebisingan seperti di rumah. Biasanya jam segini banyak para santri yang menyibukkan diri dengan mengaji, murojaah, hapalan lalaran, dan lain sebagainya. Ah, Aida rindu suasana rumah. Kapan ia pulang? Sehari di rumah sakit tidak melakukan kegiatan apapun membuat Aida jenuh.


Gadis itu menghela napas berat. Setiap detik Aida mendengar suara ranjang khas rumah sakit ataupun kursi roda keluar masuk ruangan. Entah itu pasien baru, pasien yang diperbolehkan pulang, serta pasien yang pulang hanya membawa nama dan juga raga. Setiap hari ia mendengar tangis pecah dari sanak saudara yang ditinggalkan. Apakah ia juga akan seperti itu? Aida tidak suka sakit, ia ingin segera sembuh. Namun, apakah bisa?


"Untuk saat ini saya belum bisa memberikan diagnosis pada pasien, tapi dari beberapa pemeriksaan yang telah dilakukan ... pasien mengalami hepatitis akut."


Aida teringat perkataan dokter yang menanganinya. Apakah benar ia menderita hepatitis akut? Kapan hasil laboratorium keluar? Ilahi, Aida merasa sangat takut. Setiap ia memejamkan mata, bayang-bayang kematian selalu menghantuanya. Setiap ia menatap Gus Bima, Aida ingin menumpahkan semua kesedihan yang ia rasakan pada suaminya.

__ADS_1


Aida takut kamu akan mencampakkanku ketika mengetahui hasil laboratorium besok.


***


"Hamida sedih setiap melihat Mas Bima dan Aida bersama. Seharusnya saya yang berada di posisi Aida, bukan wanita lain."


"Demi Allah, Buya. Hamida masih sangat mencintai Bima. Perasaan itu masih belum berubah."


"Mas Bima mengapa memilih wanita lain sedangkan saya adalah sahabatnya dari kecil?"


"Hamida mencintai Mas Bima sudah sejak lama. Kenapa dia menolak cinta saya? Kenapa berat untuk membagi hati dengan Hamida?"


"Hamida hanya meminta satu pada Ustaz Nur. Hamida siap menjadi istri kedua Mas Bima, yang penting Hamida bisa selalu bersama dengan Mas Bima."


"Astagfirullahalazim. Kenapa kamu berbicara seperti itu Hamida? Tidak mungkin abi menyuruh Bima menikahi kamu, dia sudah mempunyai istri." Ustaz Nur menyugar rambutnya frustasi. Pengakuan Mbak Hamida membuat tubuhnya gemetar. Ia tidak menyangka jika gadis itu masih memiliki rasa kepada putranya. Bahkan, tujuan Mbak Hamida tinggal di rumahnya adalah untuk bisa selalu dekat dengan Gus Bima. Ia juga ingin membuat rumah tangan mereka hancur berantakan dengan berbagai cara.


Kyai Musthofa mensejajarkan tubuhnya dengan Ustaz Nur. Benar. Ia saat ini sudah tidak duduk di kursi roda. Keadaannya berangsur-angsur membaik. Bahkan, dadanya sudah tidak terasa nyeri lagi. Suasana mendadak hening. Canggung. Malam-malam di rumah sakit berbeda dengan suasana pondok pesantren.


"Atas nama Hamida, saya memohon maaf Ustaz." Atensinya tertuju pada wajah sendu itu. Tangannya memegang cangkir kopi yang masih mengeluarkan asap. Tatapannya nanar ke lantai. Ia merasa kecewa sekaligus malu dengan sikap putrinya.


Ustaz Nur menyulum senyum simpul. Tangannya terangkat dan memegang lengan Kyai Musthofa. "Tidak apa-apa, Kyai. Sudah, lupakan." Manik mereka saling beradu pandang. Beberapa menit kemudian, bibir mereka saling menyetak senyum simpul yang begitu sempurna.


"Jangan terlalu diambil hati Kyai. Saya paham perasaan Hamida. Seharusnya saya yang memohon maaf kepada Kyai Musthofa dan Nyai Zamzamah." Kyai Musthofa menggeleng cepat. Jangan. Ia tidak ingin hubungan di antara mereka menjadi renggang dan canggung hanya karena sebuah perjodohan tanpa didasari rasa cinta itu.


Sepatutnya mereka melupakan semua yang sudah lalu. Perihal jodoh, sebuah rahasia Ilahi yang tidak bisa dipaksakan bukan? Seseorang pernah berkata, ibadah yang paling lama adalah menikah. Bagaimana mereka bisa memaksa jika ibadah itu akan mereka jalani hingga maut memisahkan.


"Rencananya, setelah Hamida sembuh, saya akan membawanya kembali, Ustaz." Ustaz Nur terkejut. Kenapa harus dibawa pulang? Gadis itu sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Ia sudah terlanjur menyayangi Mbak Hamida.


"Kenapa Kyai?" tanyanya. Kyai Musthofa kembali terdiam. Ia memilih untuk membisu, tidak menjawab pertanyaan dari Ustaz Nur.

__ADS_1


"Saya malu Ustaz ... malu. Putri yang saya bangga-banggakan ternyata menghalalkan segala cara untuk menghancurkan rumah tangga sahabat masa kecilnya." Setelah diam beberapa menit, Kyai Musthofa menjawab. Sebenarnya Ustaz Nur marah waktu pertama kali mendengar penuturan Mbak Hamida. Namun, ia teringat wajah lugu Aida. Amarahnya memadam. Entah apa yang terjadi, seperti ada hembusan angin yang mendinginkan hatinya. Ustaz Nur menjadi luluh dan iba.


"Kenapa harus malu? Hamida seperti itu bukan karena kemauannya. Ia hanya terbakar api cemburu. Wajar Kyai, jika--"


"Tidak, Ustaz. Dia sudah keterlakuan. Jangan terlalu dibela. Penyesalan dalam hidup saya adalah karena terlalu memanjakannya. Bahkan, anak kandung saya sendiri tidak pernah saya manjakan." Ustaz Nur mengernyitkan dahi, ia memicingkan satu matanya. Anak kandung? Mbak Hamida juga anak kandung bukan? Mengapa kata-kata pria paruh baya itu sangat ambigu?


"Ah, ti--tidak Ustaz. Astagfirullah, perkataan saya jadi melantur." Pria itu tersenyum canggung. Seperti ada yang disembunyikan darinya. Ustaz Nur sebenarnya ingin menanyakan lebih lanjut, tapi sebaiknya tidak. Pasti Kyai Musthofa merahasiakannya dari orang lain. Tidak ingin orang lain tahu selain keluarganya.


"Hamida biar tetap tinggal di rumah saja, Kyai." Ustaz Nur mencairkan suasana. Kyai Musthofa tidak berbicara banyak setelahnya. Hanya seulas senyum tipis yang menjadi tanggapannya.


Pembicaraan mereka selesai sampai di situ. Sesosok pria dengan jaket kulit warna hitam menghampiri Kyai Musthofa dan mengajaknya kembali, menyisakan ia seorang diri. Pria itu pergi setelah mencium punggung telapak tangan Ustaz Nur. Walau ia benci dengan Gus Bima, Mas Nabil tidak boleh sampai melupakan tata krama terhadap orang yang lebih tua darinya.


Anak kandung? Berarti yang dimaksud Kyai tadi adalah Nabil anak kandung beliau. Sedangkan ....


Ustaz Nur masih memikirkan perkataan yang tidak sengaja dilontarkan Kyai Musthofa. Ah, begitu ambigu. Kepalanya pusing karena terlalu keras memikirkannya.


Astagfirullahalazim.


Ustaz Nur mengusap sebagian wajahnya. Pria paruh baya itu beranjak dan kemudian pergi menuju tempat Aida dirawat. Sudah sangat larut, pasti gadis itu telah tertidur lelap. Tak apa, karena urusan pondok pesantren baru selesai ba'da magrib, Ustaz Nur jadi baru bisa menjenguk menantu kesayangannya sekarang. Tidak ada lagi yang bisa mengambil alih urusan itu, mengingat bahawa Gus Bima pasti tengah fokus pada kesehatan istrinya.


Langkahnya menyusuri setiap koridor rumah sakit seraya berzikir. Buliran tasbih di tangannya tak henti digulirkan satu persatu. Arlojinya baru menunjukkan tepat pukul sepuluh, tapi seperti kota mati. Tidak ada yang lalu lalang keluar kamar rawat inap. Ah, pasti semuanya sudah istirahat.


Dari balik jendela, Ustaz Nur dapat melihat Aida terpejam. Pun dengan Gus Bima dan Umi Salamah. Ustaz Nur membuka pelan pintu ruangan, tidak ingin membangunkan Aida maupun yang lain. Ia berjalan mendekat. Ketika melihat wajah Aida, pria paruh baya itu sedikit terketuk hatinya. Ia baru sadar jika Aida sedikit kurus dari biasanya. Bawah matanya pun bewarna cokelat tua.


Ustaz Nur menggenggam tangan menantunya. Aida sedikit bergerak, mungkin karena tangan pria paruh baya itu terasa dingin. Bagaimana ia bisa lupa, tidak ada satu jam ia memasuki ruangan. Tangannya pasti masih dingin karena ia terlalu lama berada di luar. Malam ini hawanya memang sangat dingin, tidak seperti biasanya.


"Abi." Suara bariton dengan sedikit serak itu mengejutkan Ustaz Nur. Ia sedikit terjingkit dan jantungnya seketika seperti berhenti berdetak. Seperti tertangkap basah tengah melakukan kejahatan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2