
..."Cinta adalah suatu penyakit, orang yang dihinggapinya tidak pernah ingin disembuhkan."...
..._Jalaluddin Rumi...
Malam ini, gadis dengan abaya hitam rambut terurai basah tengah duduk di depan meja rias dengan memegang sisir di tangan kanannya. Tatapannya nanar, sesekali ia tersenyum sendiri. Benar, semu itu masih terlihat kentara. Ah, jika diingat kembali, Aida merasa malu. Namun, mengapa harus malu?
Aida menghembuskan napas panjang. Ia kembali menyisir rambutnya, mengeringkannya dan kemudian mengikatnya. Dari kilauan kaca besar di hadapannya itu, netra Aida menelanjangi ke seluruh penjuru. Hanya untuk berjaga-jaga, siapa tahu pria tampan itu tiba-tiba berdiri tepat di ambang pintu memperhatikannya. Sungguh, untuk kali ini ia belum siap beradu pandang dengan suaminya. Apakah karena kejadian beberapa jam yang lalu?
Debar aneh entah dari jantung atau hatinya masih tetap sama. Perihal hati, ia tidak tahu sampai saat ini. Statusnya telah berganti menjadi seorang istri. Namun, terkadang jauh dari lubuk hatinya masih tertancap nama Kenzo. Rasa itu mungkin tak akan pernah hilang walau ia mendapatkan pria pengganti yang lebih baik daripada Kenzo. Jika ditanya, apakah Aida mencintai Gus Bima? Iya, bahkan perasaan itu semakin tumbuh dan berkembang.
"Aida." Aida terperanjat sehingga sisir yang semula dipegang terjatuh. Suara itu? Mengapa suara bariton itu selalu membuat jantungnya seperti dihantam oleh dahan kayu yang besar?
Gadis itu merapalkan istighfar, dari pantulan cermin ia dapat melihat pria yang memakai sarung kotak-kotak berdiri tepat di ambang pintu. Ia langsung mengalihkan atensinya menatap sang suami, sejak kapan pria itu berdiri terpaku di sana?
"Mas Bima, sejak ka--kapan di sini?" Gadis itu melupakan sesuatu. Adakah kalian yang tahu?
Aida membulatkan mata sempurna tatkala ia mendapati suaminya yang mulai berjalan mendekat, bahkan hanya berjarak beberapa langkah darinya. Yang membuat gadis lugu itu membeku bukan perihal itu. Namun, ia baru menyadari jika dirinya sedang tidak dalam posisi mengenakan jilbab. Ya, bagaimana ia bisa lupa. Dua puluh menit yang lalu ia baru saja selesai keramas. Wajar jika rambutnya tergerai bukan?
Aida membalikkan badan. Ia kelimpungan mencari pashmina atau kerudung instan di sekitarnya, tetapi nihil. Ah, mengapa harus dalam situasi seperti ini? Seharusnya sebelum mengeringkan rambut, Aida mengambil terlebih dahulu jilbab agar jika terjadi situasi seperti ini ia tak kebingungan mencari.
__ADS_1
Jantungnya ketar-ketir. Aih, bagaimana bisa ia sampai tidak menyadari akan kehadiran suaminya? Ah, karena ia masuk tanpa mengetuk pintu dan tanpa bersuara. Namun bukankah ia bisa melihat Gus Bima dari pantulan cermin di hadapannya? Tak apa, ini pertama kalinya Gus Bima melihat Aida tanpa kerudung. Semakin mengingatnya membuat Aida semakin malu
Pria itu berjalan mendekat ke arahnya. Semakin Gus Bima mendekat, debar itu semakin berdetak melebihi ambang batas normalnya. "Tidak, Aida. Kamu tidak perlu menutupinya."
Membeku. Matanya tak kunjung mengerjap. Ketika tangan itu mulai menyingkap kerudung dari kepala Aida, ia hanya bisa menatap wajah tampan suaminya dari pantulan cermin. Jangan tanyakan keadaannya sekarang, yang pasti mulut sedikit ternganga dengan semu merah merona di pipinya seperti kepiting rebus.
"Apakah kamu lupa?" tanyanya seraya memeluk erat pinggang kecil istrinya. Seperti tersengat listrik di siang bolong. Aida memejamkan mata, gelenyar aneh menjalar melalui setiap inci urat nadinya. Dadanya terasa sesak tak dapat bernapas. Dengus dari hidung Gus Bima dapat ia rasakan, menyapu kulit pipi yang kini tengah merona itu. Allah, sampai kapan? Rasanya Aida mau pingsan.
Aida menghela napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ya, gadis itu mencoba untuk menetralkan debar jantung yang sedari tadi tak mau diam. Perlahan, dengan merapalkan basmalah dalam hati, gadis itu memberanikan membuka mata. Di sepanjang ia memejamkan mata, prasangka buruk bertengger di dalam hatinya. Ya Rabb, apakah betul itu suaminya, yakni Gus Bima?
"Kenapa setiap saya mencoba bersikap manis kepadamu, kamu selalu memejamkan mata Aida?"
Ia mulai menjatuhkan telapak tangannya. Setetes demi tetes luruh bersamaan dengan perasaannya. Bagaimana ini? Akankah ia membohongi perasaannya sendiri?
Apakah ia mencintai Kenzo? Jika Aida diminta untuk menjawab sejujur-jujurnya, ia akan menganggukkan kepala. Namun, sopankah ia melukai perasaan suaminya? Gadis itu tak setega yang kalian kira. Memang sulit, tetapi Aida berusaha untuk berdamai dengan keadaan.
"Aida mencintai Mas Bima. Namun, jika ditanya ... apakah saya masih menaruh hati kepada Kenzo? Maka saya akan menjawab iya." Telak. Seperti ditimpa sejuta bongkahan batu besar. Sakit. Dadanya terasa sesak. Haruskah ia menangis?
"Maaf, Mas Bima, tetapi Aida tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Cinta itu masih bersemi. Tidak berubah." Gus Bima tersenyum kecut. Tidak lebih tepatnya pria itu memaksakan untuk tetap terlihat baik-baik saja di depan istrinya. Sebisa mungkin pria itu membendung air matanya, walau netranya mulai berkaca-kaca, menutupi sebagian atensinya membuat penglihatannya buram.
__ADS_1
Dengan cepat Aida meraih dan mencium telapak tangan Gus Bima. "Aida minta maaf, Mas. Saya belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu." Ia tergugu, terisak-isak dan menenggelamkan sebagian wajahnya pada sela-sela telapak tangan Gus Bima.
Pria itu mendekap erat tubuh mungil istrinya, membawa Aida dalam dekapan hangatnya. Mereka saling menangis. Namun, bedanya Gus Bima memberikan dukungan lebih kepada Aida. Saat ini hatinya sangat hancur, seperti disayat-sayat ribuan sajam. Dunianya kini hancur. Cintanya bertepuk sebelah tangan, tak terbalaskan.
Tidak ada yang salah dalam pernikahan mereka. Mengingat bahwa Gus Bima dan Aida dijodohkan orang tuanya. Begitu pula gadis berwajah putih itu, ia hanya menuruti apa perkataan orang tuanya. Aida tak ingin dianggap sebagai anak durhaka. Adakah dari kalian yang menyalahkan Aida?
Ia tak salah, Aida sudah berusaha sebaik mungkin untuk mencintai Gus Bima. Namun, mungkin belum saatnya benih cinta itu berlabuh di hatinya.
"Tak apa, Aida. Saya ikhlas melepaskan kamu jika suatu saat nanti Kenzo telah siap mempersunting kamu." Aida mempererat pelukan itu, sebagian baju pada bahu Gus Bima basah karena cairan bening Aida. Berat. Setelah sekian lama merangkai kalimat, akhirnya pria itu mengutarakannya juga. Lancar, tetapi dengan sedikit suara serak akibat tercekat di tenggorokan.
Gus Bima melonggarkan pelukannya dan membawa gadis berwajah sembab itu untuk menatap netranya kembali. Namun, Aida tak kuasa walaupun untuk sedikit mendongak. "Hentikan tangisan itu, Aida. Apakah kamu lupa dengan kata-kata saya?"
Gus Bima menghapus jejak air mata di separuh wajah Aida. Hening. Tak ada jawaban, gadis itu hanya mengangguk lemah. "Saya tidak ingin surga yang sudah susah payah kita bangun bersama berpindah pada pelupuk matamu, Aida hanya karena disebabkan setetes air mata."
"Walau saya tahu ... surga itu tak lagi kau rindukan."
Bersambung....
Pasuruan, 15 Maret 2023
__ADS_1