
..."Doaku satu, biarkan aku kehilangan sesuatu karena Allah, tapi jangan sampai aku kehilangan Allah karena sesuatu."...
..._Aida....
Semua mata tertuju pada gadis bermata bulat itu. Tatapan mereka sendu pun dengan Gus Bima, manik itu nampak layu, terlihat kentara bahwa ia menaruh harap penuh atas jawaban yang akan Aida berikan. Namun, Gus Bima tak berlarut-larut dalam kesedihan. Akhirnya senyum simpul terbit dengan lesung pipi di sebelah kiri yang menjadi ciri khas dari Gus Bima. Ia percaya, jika memang Aida ditakdirkan untuknya, seberapa pun rintangan yang Allah berikan. In syaa Allah, jodoh tidak akan tertukar.
"Aida, kamu yakin, Nak?" Suara itu terdengar kecewa dengan jawaban putri semata wayangnya. Kebahagiaan semua orang sirna, tak apa. Umi Salamah dan Abah Nur tetap tersenyum. Semuanya ia pasrahkan pada Sang Pencipta.
Gus Bima tertunduk lesu dengan senyum kecut yang menjadi penghias raut wajahnya. Ah, entahlah. Suasana hati Aida tak dapat ditebak. Begitu pula dengan bundanya yang gagal menebak suasana hati putrinya.
"Mas Bima tak ingin mendengarkan kelanjutan dari kalimat Aida?" Gus Bima mendongak. Namun, tak kuasa memandang Aida. Ya, karena ia paham bahwa gadis yang duduk tak jauh darinya bukanlah mahram untuk Bima.
Gelenyar aneh menyeruap lewat urat nadinya. Detak jantung itu tak kunjung netral seperti biasanya. Ah, adakah dari kalian yang bisa menghentikan degup aneh ini? Aida merasa tidak nyaman dengan semua ini. Oh Allah, mengapa seluruh tubuhnya berkeringat dingin?
"Aida tidak bisa ...." Ah, kalimat itu kembali menggantung. Gadis ini suka sekali membuat semua orang penasaran. Sudahlah!
"Aida tidak bisa menolak lamaran ini, Abah ... Umi. Jika memang Mas Bima adalah jodoh terbaik untuk Aida, in syaa Allah saya akan berusaha untuk mencintainya. Berusaha ikhlas dalam menerima takdir yang telah Allah tetapkan." Tanpa mengerjapkan mata, gadis itu meneteskan cairan bening yang terlihat telah bersarang di pelupuk matanya. Seperti tak ingin dibendung oleh sang empu.
Raut wajah yang tegang kini berubah menjadi netral, kembali seperti semula. Berbeda dengan Aida. Apakah tak ada orang yang memahami isi hatinya saat ini? Hatinya telah berlabuh pada Kenzo. Namun, takdir berkata lain. Sesosok pria yang bahkan tak pernah ia kenal. Bertegur sapa pun tidak pernah. Memang, usia mereka terpaut begitu jauh. Sakit. Semakin ia pikir, hatinya seperti teriris-iris dengan ribuan silet.
Apakah jawabannya tepat? Sekuat itukah doa Gus Bima sehingga menyatukan mereka berdua?
"Aida mau mahar apa?" Setelah sekian lama merangkai kata-kata, akhirnya pria itu memberanikan diri untuk bertanya pada sang calon Khadijahnya.
__ADS_1
"Terserah Mas Bima. Aida tak mau meminta, yang terpenting mahar itu tidak memberatkan Mas Bima dan tidak pula merendahkan Aida." Gus Bima mengangguk. Keputusannya tepat untuk menikahi gadis polos ini. Ternyata, gambaran tentang Aida salah besar. Ia mengira Aida adalah wanita matre yang akan menuntut mahar darinya. Namun, ia terkejut sekaligus kagum setelah mendengar jawaban Aida.
"Tapi Mas ...." Hening. Gus Bima kembali mendongak. Apa lagi ini?
"Ada apa Aida?" Suara maskulin itu menyurutkan niat Aida. Akh, haruskah ia mengatakan keinginan yang selama ini Aida impi-impikan?
Melihat Aida menatap nanar dengan pandangan kosong, Gus Bima tersenyum, mengangguk pelan, lalu kembali berkata. "Katakanlah, jangan pernah ditahan! Sebentar lagi kamu akan menjadi istri saya, semua hal yang kamu lakukan akan menjadi tanggung jawab saya. Apakah bisa tiada kebohongan yang ditutup-tutupi di antara kita berdua? Bisakah kita berdua tak saling menyembunyikan rahasia?"
Aida merenung. Gadis itu memilih menunduk dalam. Mencoba untuk mencerna kata demi kata dari Gus Bima.
"Apakah Aida boleh meminta surat Ar-rahman sebagai hadiah setelah ijab diucapkan, Mas?" Matanya berkaca-kaca. Tidak. Ia harus bisa menahan air mata itu.
"Apakah Aida boleh meminta surat favorit tersebut dibacakan sebagai hadiah dihari pernikahan kita?" Suara itu kembali tercekat. Sebenarnya, ia mengimpikan orang yang akan membacakan surat favoritnya ini adalah Kenzo, pria yang Aida cintai.
***
Malam yang berbalut keheningan, tampak kelam. Aida masih dengan posisinya beberapa menit yang lalu. Entah mengapa, air mata ini tak dapat dibendung. Sampai sebagian dari mukena yang digunakan basah dikarenakan cairan bening itu.
Seluruh wajahnya ditutupi dengan kedua telapak tangan yang terbalut mukena dustynya. Dadanya terasa sesak. Gadis itu benar-benar meminta walau tak ada sepatah kata yang diucapkan dari bibir merah mudanya. Cukup hatinya yang mengadu. Malam ini, Aida hanya mempertanyakan akan takdirnya. Namun, sesaat Aida hanya meminta keikhlasan karena Aida tahu, ia tak dapat merubahnya.
"Astagfirullahalazim, subhanallah walhamdulillah wa laa ilahaillallahu, wallahi akbar. Wa laa quwwata illa billahi 'aliyyil' adzim." Aida berulang kali merapalkannya dalam hati.
Aida percaya bahwa Allah selalu bersama dengannya. Ah, walaupun ia berbuat zina dengan memilih untuk pacaran. Namun, setelah mengenal Gus Bima hati Aida mulai sedikit terbuka dan sadar bahwa apa yang dilakukannya ini salah. Bukankah Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya? Dalam Al-Quran dijelaskan:
__ADS_1
"Aku tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286).
Setelah melangitkan doa kepada Allah, kini hatinya terasa lebih tenang dari sebelumnya. Meskipun rasa itu belum pulih sepenuhnya.
Aida menghapus tangisnya, tangis yang entah sejak kapan datangnya. Aida hanya berusaha untuk ikhlas. Gadis itu yakin, pilihannya untuk menerima perjodohan ini adalah yang terbaik. Ia percaya bahwa pilihan kedua orang tuanya tak pernah meleset. Dengan keikhlasannya, ia yakin bahwa akan ada segudang kebahagiaan yang telah menanti Aida, tapi juga dengan orang lain. Bismillah.
"Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar." Aida mengusap telapak tangannya yang menengadah tepat di depan wajahnya. Setelah itu, Aida melepas mukena yang masih melekat di tubuhnya dan mengikat rambutnya yang sengaja ia gerai.
Pergerakannya terhenti saat benda pipih berwarna hitam yang ia letakkan di atas kasur bergetar. Ia sedikit bingung, siapakah orang yang menelepon semalam ini? Mungkinkah Gus Bima?
Aida meletakkan mukena serta sajadah di atas nakas dan mengambil gawainya. Namun, betapa terkejutnya Aida ketika ia melihat nama yang tertera di layar gawai. Apalagi panggilan itu tak terjawab berkali-kali.
"Kenzo?" Aida mengernyitkan dahinya, menyatukan kedua alis. Gadis itu ragu, antara menjawab dan mengabaikannya. Kenapa pemuda itu menelepon Aida selarut ini? Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, apa yang harus ini katakan? Rasanya tak kuasa, sakit. Mungkinkah....
Astagfirullahalazim. Tidak Aida. Hentikan husnudzonmu ini! Jangan berpikir yang lain. Jangan membuat hatinya kembali tergores, jangan membuat Aida menjadi yang paling bersalah.
"Assalamualaikum Ken--" Salam yang diucapkan belum sempurna. Namun, pemuda di seberang sana terlebih dahulu memangkasnya.
"Aku tunggu kamu di danau biasanya." Telak. Gadis itu membulatkan mata sempurna. Jantungnya berhenti berdetak. Allah, apakah pemuda itu telah mengetahui hal yang sesungguhnya tentang perjodohannya dengan Gus Bima?
Allahu Rabbi, jika nanti Kenzo akan memarahinya. Sungguh, ia ikhlas. Benar-benar ikhlas.
Bersambung....
__ADS_1
Pasuruan, 21 Januari 2023