Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Saya Mencintaimu Aida


__ADS_3

..."Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang salehah."...


...(HR. Muslim) ...


Di sudut ruangan yang hampa. Ruangan terlihat begitu gelap walau ada cahaya baskara yang menyelinap melalui jendela yang ada di kamar suaminya. Namun, cuaca hari ini tidaklah sebagus suasana hatinya. Setelah kejadian beberapa menit yang lalu, gadis itu memilih untuk masuk dan mengunci diri di dalam kamarnya. Sayup-sayup terdengar suara isak pilu dari seorang gadis yang tengah duduk seraya memeluk erat tubuhnya. Wajahnya dipenuhi air mata, begitu pula dengan kerudungnya. Tangis itu begitu dalam dan terdengar begitu sedih. Ilahi, mengapa terasa begitu sesak?


"Aida, jangan menangis." Suara itu memecah keheningan, gadis itu menatap ke sumber suara. Gus Bima tak kuasa melihat istri kecilnya yang sedari tadi mengeluarkan air mata. Pria itu mengambil sapu tangan putih dari sakunya dan menyodorkannya kepada Aida.


Ya, sapu tangan yang sama ketika cairan yang sama pula itu menetes di malam ketika Kenzo membuat hati dan harapannya hancur. Aida hanya menatap sapu tangan itu tanpa menyentuhnya.


"Tolong maafkan Hamidah ya, dia orangnya memang seperti itu, tapi sebenarnya dia baik." Gus Bima mengusap jejak bening istrinya dengan sapu tangan yang ia pegang. Pria itu mencoba untuk menenangkan istrinya. Ya Rabb, mengapa setiap Aida berada di samping suaminya, debar itu kembali hadir? Bahkan, terkadang lebih kencang dari biasanya.


"Apakah Mas Bima menyesal menikah dengan Aida?" Gus Bima menyelesaikan aktivitasnya dan menatap lekat manik indah istri kecilnya itu. Senyum hangat yang terbit dari bibir manis suaminya selalu membuat Aida sedikit lebih tenang.


"Sama sekali tidak Aida, saya malah bersyukur bisa menikah dengan kamu." Aida menunduk. Mengapa kamu begitu baik kepada Aida? Matanya dipenuhi dengan cairan bening sehingga membuat penglihatannya buram seketika. Ya Ilahi, Aida bingung. Di satu sisi ia sangat mencintai Kenzo. Namun, di sisi lain dirinya telah berstatus sebagai istri Gus Bima. Lama tak berjumpa dengan Kenzo, seiring berjalannya waktu cinta itu memudar.


"Apakah kamu mau saya buatkan teh hangat agar suasana hatimu bisa kembali ceria seperti semula?" Aida kembali menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memerah seperti kepiting rebus. Heran. Mengapa pipinya mendadak berubah menjadi merah? Di menit yang bersamaan, Aida menggeleng dan memalingkan wajah.


"Apakah benar Mbak Hamida akan tinggal di sini bersama dengan kita, Mas?" Gus Bima mengangguk dan menghampiri istrinya yang berdiri seraya meremas jemarinya.


"Hanya untuk beberapa hari saja, Aida." Hanya beberapa hari saja? Apakah Aida bisa menjalani hidupnya dengan segala caci dan maki dari Mbak Hamida? Mengapa gadis itu tiba-tiba memutuskan untuk tinggal di rumah mertuanya? Dan mengapa Mbak Hamida selalu menceritakan tentang Gus Bima kepadanya? Setiap ia mendengar cerita tentang suaminya yang diceritakan oleh Mbak Hamida, jatuhnya Aida terlihat seperti istri yang tidak layak untuk Gus Bima. Ah, memikirkan semua ini membuat kepala Aida seperti mau pecah.


"Masih punya wudhu? Kita salat dhuha berjamaah mau?" Salat dhuha berjamaah dengannya? Berdua saja? Desir halus beserta detak jantung yang berpacu seperti pacuan kuda itu membuat napas Aida tak beraturan. Atmosfer terasa begitu sempit. Ya Rabb, pria itu selalu membuatnya salah tingkah. Ah, apakah pria itu bisa melihat rona merah di pipinya? Sepertinya dia sudah berubah menjadi badut. Malu.

__ADS_1


***


Cahaya pagi menembus jendela. Kicauan burung berkicau saling menyahut satu sama lain. Dari jarak yang tak seberapa jauh, dia mendengar suara santri mengaji yang mengalun di telinganya. Di antara setiap orang yang berlomba-lomba dalam mengais rezeki, terlihat pasang suami istri tengah menunaikan salat dhuha secara berjamaah. Aida memakai mukena putih polos berbordir pemberian suaminya. Rona merah masih kentara melekat di wajahnya. Ah, mengapa begitu sulit untuk menghilangkan rona ini?


Sekali lagi, Aida memegang dadanya yang berdebar beberapa menit lalu, debaran itu tidak kunjung sirna. Bahkan semakin bertalu-talu. Apalagi ketika ia menatap sesosok pria yang duduk di depannya menjadi seorang imam. Jutaan syukur Gus Bima panjatkan kepada sang pemilik hati, dzat yang dapat membolak-balikkan hati kini telah memberikan kesempatan untuk dirinya menunaikan dua rakaat bersama. Gus Bima percaya bahwa seiring berjalannya waktu, istri kecilnya akan menerima dia dengan sepenuh hati. Dengan tangan yang menengadah, air mata Gus Bima menetes satu persatu membasahi sarungnya. Isak itu begitu kentara, terlebih lagi suaranya yang tercekat di tenggorokan.


Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ribuan syukur hamba panjatkan kepadamu ya Allah. Hamba percaya bahwa suatu saat Aida akan menerima hamba dengan sepenuh hati.


Setelah selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, Gus Bima membalikkan badan dan menyodorkan punggung telapak tangan kepada Aida. Masih ada keraguan dalam dirinya, apakah ia harus mengais telapak tangan itu?


Dengan tangan yang gemetar, cairan itu menetes tanpa diundang. Perlahan, ia meraih telapak tangan Gus Bima dan mencium punggung telapak tangannya. Setelah menyalami, pria itu berbalik mencium kening Aida. Desir halus itu luruh bersamaan dengan cairan bening yang mengalir membasahi mukenanya. Sungguh. Ini adalah kali pertama pria itu mencium keningnya. Ah, apa yang terjadi pada dirinya? Sejak kapan ia mau disentuh oleh Gus Bima?


"Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha a'laihi wa'audzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha a'laihi."


Netra itu kembali bertemu. Mereka saling melihat jejak cairan bening yang sama-sama menganak pinak di pipinya. Namun, bedanya kali ini tak ada yang saling memutuskan secara sepihak. Entah mengapa, senyum simpul itu kembali terbit dari bibir manis Aida. Begitu pula disusul oleh Gus Bima yang membalas dengan sunggingan tulus dari lubuk hatinya.


"Mas Bima, mengapa kamu begitu sabar kepada saya?" Suara itu mengejutkan Gus Bima. Perlahan, telapak tangan suaminya mengusap-usap halus wajahnya.


"Karena saya mencintaimu Aida." Telak. Jantung itu rasanya berhenti berdetak. Kalimat itu begitu menohok menusuk relung hatinya. Apakah yang barusan ia dengar itu benar? Gus Bima, suaminya itu mencintainya?


"Sejak kapan, Mas? Tapi... tapi--"


"Saya paham, Aida. Saya paham." Seperti tak ingin memberikan kesempatan untuk istrinya berbicara, pria itu memangkas dengan secepat kilat.

__ADS_1


"Saya akan setia menunggu ... sampai kamu benar-benar mencintai saya sepenuhnya." Kembali, Aida terisak. Mungkin, pria itu menanti jawaban dari Aida. Namun, bukan jawaban yang ia jawab, hanya tangis yang mampu gadis itu keluarkan. Terlebih lagi, Gus Bima membawa tubuh kecil istrinya ke dalam pelukan hangatnya.


"Terima kasih telah sabar menunggu, Mas ... terima kasih." Gus Bima mengangguk seraya mengelus-elus lengan istrinya. Aida tidak bisa membohongi dirinya jika rasa cinta pada Kenzo belumlah seratus persen memudar. Namun, tidakkah mungkin cinta dan perhatian yang Gus Bima berikan kepada Aida mampu meluluhkan hatinya?


Aida melepaskan pelukan itu, mengusap jejaknya dan melepaskan mukena yang melekat di tubuhnya. Saat ia tengah melipat mukena, atensi itu menangkap bayangan yang diam di hadapannya itu tengah mengamatinya dengan senyuman manis. Merasa ada yang aneh, Aida kembali menatap suaminya dengan mengernyitkan dahi.


"Kenapa?" Gus Bima menggeleng dengan guratan senyum yang terbit di wajahnya.


"Aida, wajahmu ...." Kalimatnya mengambang, tak menemukan titik akhir. Ah, wajahnya kenapa? Apakah ada yang salah?


"Hah, kenapa, Mas?" Aida meraba seluruh wajahnya seraya merapikan kerudung yang dikenakannya.


"Istri kecil saya sangat menggemaskan ketika wajahnya merona." Aida menatap langsung wajah suaminya. Gadis itu tersentak dengan kalimat yang dikatakan oleh Gus Bima. Apa yang dia katakan sekaligus perhatian itu berhasil membuat Aida berkali lipat malu. Sontak, ia menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Mas Bima." Ia merengek. Rasanya tak sanggup berdiam diri terlalu lama bersama suaminya. Sejak kapan Gus Bima bersikap manis seperti ini kepada Aida? Berguru kepada siapa suami besarnya ini sehingga dapat bertutur kata dengan manis?


Gus Bima terkekeh melihat tingkah laku Aida. Ya, suasana mulai mencair tidak seperti malam pertama ketika mereka sah menjadi suami istri. Terlebih lagi, kini Aida telah istiqamah untuk memakai hijab yang membuat paras itu dua kali lipat cantiknya.


Di ruangan sepetak yang tak cukup besar maupun kecil itu suara canda dan tawa terdengar kentara. Namun, jauh di balik jendela kamarnya terlihat sesosok gadis yang mematung dengan telapak tangan mengepal. Tetesan demi tetes mengalir membasahi kerudung hitamnya. Entah sejak kapan tangis itu hadir. Namun, hatinya terasa panas melihat kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan suami istri tersebut. Ah, mungkin saja suasana kali ini memang panas. Jika tidak, ataukah ada hati yang tersulut oleh api cemburu?


Tanpa mereka sadari, dibalik kebahagiaan yang mulai tumbuh seiring berjalannya waktu, ada seseorang yang membenci kehadiran kebahagiaan itu.


Bersambung....

__ADS_1


Pasuruan, 04 Januari 2023


__ADS_2