
..."Sebuah payung tidak akan bisa menghentikan hujan, tapi mampu melindungi kita dari derasnya guyuran air hujan. Sama seperti doa, ia tidak bisa menghindarkan kita dari ujian hidup, tapi mampu menguatkan kita untuk menghadapi ujian tersebut."...
..._Surga di Pelupuk Mata_...
Langit malam mengintip lewat jendela rumah sakit yang sengaja gordennya tidak Gus Bima tutup. Gadis itu yang memintanya, ia ingin melihat indahnya sinar rembulan. Kondisinya masih sama, hanya terbaring di atas ranjang dengan beberapa selang yang melekat di sebagian tubuhnya. Bosan? Pasti, gadis itu merindukan suasana rumah.
Malam ini, wanita paruh baya itu datang dengan membawakan nasi goreng kesukaan Aida. Sengaja ia bawakan, karena kemungkinan Aida bosan dengan makanan rumah sakit dan merindukan masakan rumah. Wanita paruh baya dengan kerudung bergo instan itu menyodorkan sendok kepada Aida. Berulang hingga tanpa terasa nasi goreng itu hanya tinggal setengah dari kotak bekal.
Umi Salamah tersenyum bahagia, kali ini menantunya tidak menolak untuk makan karena sedari ia masuk tumah sakit, Aida selalu menolak. Perutnya sakit dan mual jika kemasukan makanan. Namun, saat ini sakit itu sudah mulai berkurang walau terkadang masih nyeri.
Tepat disuapan yang entah keberapa kalinya, Aida menggeleng dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Perutnya terasa begah, ia kekenyangan. Semenjak ia sakit, Aida tidak bisa makan terlalu banyak. Jika dipaksa, ia akan muntah. Baiklah, Umi Salamah tidak akan memaksa. Setidaknya, perut Aida terisi sedikit makanan. Dengan melihat nafsu makan menantunya kembali walau tidak sepenuhnya saja cukup membuat Umi Kultsum tersenyum simpul. Ia tidak luput merapalkan hamdalah.
"Mau minum?" Aida mengangguk. Tenggorokannya terasa begitu kering. Seperti berada di gurun pasir. Umi Salamah mengambilkan menantunya segelas air hangat. Seperti pesan Gus Bima, untuk memberi Aida air hangat jika ia merasa haus.
Sebenarnya gadis itu tidak terbiasa minum air hangat. Namun, suaminya tahu yang terbaik untuknya. Oleh karena itu, Aida menuruti apa yang dikatakan Gus Bima. Ia juga ingin membiasakan diri untuk minum air hangat. Rasanya tidak seberapa aneh. Sama-sama hambar seperti air mineral pada umumnya. Seharusnya ia suka bukan?
"Pelan-pelan." Umi Salamah memegangi gelas itu. Aida meneguk air mineral hingga tandas. Wanita paruh baya itu kembali tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Bibir merah mudanya merapal hamdalah. Di menit yang sama, Umi Salamah meletakkan kembali gelas di atas meja.
Ia duduk dan memegang tangan Aida. Tidak lama kemudian, dari balik pintu terlihat sesosok pria dengan kemeja putih dipadukan sarung hitam kotak-kotak dan juga peci hitam baru kembali dari musholla. Ya, pria itu beberapa menit yang lalu berpamitan kepada Aida untuk menunaikan salat isya’. Ia jadi teringat salat dua rakaat malam yang menjadi awal debar aneh itu mendera dadanya. Salat yang mengantarnya Aida sekaligus membuka mata hatinya untuk mengerti arti cinta yang sesungguhnya.
Pria itu menghampiri Aida. Sebelum duduk, jangan lupakan ritual yang selalu ia lakukan di rumah ketika pulang dari salat jamaah di masjid. Adakah dari kalian yang mengetahuinya? Benar. Gus Bima tidak pernah absen mencium kening istrinya. Sebenarnya Aida malu karena Umi Salamah melihat aksi suaminya. Namun, hal tersebut wajar karena mereka saat ini sudah halal dalam ikatan suci benang merah. Seharusnya ia tidak perlu malu bukan? Hal serupa juga pastinya akan dilakukan oleh suami di luar sana untuk istrinya.
"Sudah selesai makannya?" Aida mengangguk. Saat ini gadis itu tengah tidak memakai kerudung. Gus Bima membelai puncak kepala istrinya.
"Bagaimana, apakah perutnya masih sakit?" Ia mengatakannya setelah menduduki kursi yang berada di samping ranjang. Kursi yang memang tersedia untuk keluarga yang menunggu pasien rawat inap.
"Hanya nyeri sedikit, tapi rasanya tidak sesakit waktu awal masuk rumah sakit." Aida menggenggam erat tangan suaminya. Untuk sehari penuh ini, Aida merasa sangat tenang karena Gus Bima selalu ada di sampingnya.
"Mas." Setelah sekian lama membisu. Aida kembali bersuara. Netra Aida kembali berkaca-kaca.
"Ada apa?" Suaranya begitu lembut, menenangkan.
"Aida rindu Bunda. Kenapa Bunda tidak menjenguk Aida? Apakah Bunda marah karena Aida tidak pernah berkunjung ataupun hanya sekedar menanyakan kabarnya?" Astagfirullahalazim. Ah, iya. Bagaimana ia bisa melupakan Bunda Aisyah dan Ayah Zulkifli. Saking cemas dan bingung, ia sampai lupa tidak meberitahu jika putri mereka saat ini tengah di rawat di rumah sakit. Ia seolah-olah menjadi menantu durhaka. Namun, memang baik Aida maupun Gus Bima akhir-akhir ini jarang menguhungi mereka. Bukan tidak mau, tapi masalah di rumah tangganya membuat Aida melupakan semuanya.
__ADS_1
"Astagfirullahalazim. Saya lupa memberitahu Bunda dan--"
"Assalamualaikum, Aida." Sesosok wanita paruh baya dengan gamis dusty pink, pun khimarnya yang senada dengan gamisnya berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat sendu. Langkahnya perlahan membawa Bunda Aisyah menghampiri putri kesayangannya.
"Kamu kenapa bisa masuk rumah sakit?" Bunda Aisyah tidak bisa menyembunyikan air matanya lagi. Wanita paruh baya itu memeluk erat tubuh putrinya. Lama tidak ada kabar, sekali berkabar ia mendapati putrinya terbaring lemah di rumah sakit.
Gus Bima beranjak dan menghampiri Ayah Zulkifli yang berdiri di belakang istrinya. Ia mengamit telapak tangan ayah mertuanya itu dan mencium punggung telapak tangannya. Sedangkan Umi Salamah hanya menangkupkan telapak tangan di depan dada seraya mengangguk sekali kepada besannya.
"Bunda tahu Aida sakit dari mana?" Aida melerai pelukan itu. Ia mendongak dan menatap wajah ayu bundanya. Sudah lama ia tidak melihat wajah dengan garis halus karena dimakan usia itu. Wajahnya begitu menenangkan.
"Umi yang memberitahu mereka." Umi Salamah menimpali dengan tetap mempertahankan senyum ramah. Atensi semua orang tertuju kepada wanita paruh baya yang berdiri di samping Aida.
"Iya, Umi Salamah yang memberitahu bunda. Setelah mendapat kabar kalau kamu sakit. Bunda langsung cepat-cepat ajak Ayah kamu ke sini. Kamu sakit apa?" Bunda Aisyah mengelas jejak bening putrinya. Wanita paruh baya itu berulang kali mencium pipi Aida yang tidak lagi bulat seperti dulu. Sepertinya ia kurusan.
"Hanya kecapekan saja Bunda." Aida menjawabnya terlebih dahulu. Ia tidak ingin membuat bundanya khawatir. Ia tahu, rahim kehidupannya itu adalah orang yang selalu membawa perasan dan terlalu berlebihan jika ini menyangkut kesehatan putrinya. Walau Aida tahu semua orang tua di luar sana akan melakukan hal serupa.
Aida menjatuhkan pandangannya pada manik Gus Bima. Di menit kedua, gadis itu sedikit menggelengkan kepala, mencegah suaminya agar tidak mengatakan yang sesungguhnya kepada kedua orang tuanya. Sedetik kemudian, atensinya kembali menatap wajah sumber kebahagiaan di depannya dengan tersenyum simpul.
"Aida sangat merindukan Bunda."
"Ada apa, Umi?" tanyanya kebingungan. Sesekali ia melirik ke dalam dari luar jendela.
"Sebaiknya kamu tidak memberitahu keadaan Aida yang sebenarnya kepada orang tuanya. Umi takut mereka akan khawatir. Memang, sebaiknya kita jujur, tapi tunggu waktu yang tepat dulu." Pria itu tidak langsung menjawab, melainkan diam sejenak. Ia seperti mencoba untuk mencerna perkataan yang diucapkan uminya. Namun, hanya beberapa menit kemudian ia mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia baru paham maksud uminya. Yang dikatakan Umi Salamah ada benarnya. Sebaiknya ia menyembunyikan dulu kondisi Aida. Mengetahui Aida dirawat di rumah sakit saja itu sudah cukup.
***
"Karena lukanya yang cukup dalam, pasien jadi kehilangan banyak darah. Pasien harus menjalankan transfusi darah. Saat ini kami membutuhkan pendonor untuk pasien, sebab golongan darah yang dimiliki pasien di bank darah rumah sakit ini sedang kosong." Telak. Penjelasan dokter itu seperti sambaran petir di siang bolong. Donor darah? Bagaimana ini, ia harus mencari seseorang dengan golongan darah O kemana lagi?
Tunggu. Mengapa pria paruh baya itu harus susah payah mencari pendonor? Kenapa tidak dirinya, Nyai Zamzamah ataupun Mas Nabil? Di antara mereka pasti memiliki golongan darah yang sama dengan Mbak Hamida.
“Maaf, Dokter. Darah kami tidak cocok dengan pasien.” Mas Nabil kini bersuara. Kata-katanya terdengar ambigu di telinga dokter itu. Tidak sama? Bagaimana bisa?
"Berikan saya waktu untuk mencari pendonor. Satu jam saja." Ia kembali melanjutkan kalimatnya yang belum rampung. Harus mencari pendonor kemana lagi ia? Selama ini, yang Kyai Musthofa takutkan akhirnya terjadi.
__ADS_1
"Baiklah, secepatnya. Jika tidak, nyawa pasien tidak tertolong. Kami juga akan berusaha mencari golongan darah pasien di bank darah yang lain." Mas Nabil mengindahkannya dengan menganggukkan kepala.
Ya Rabb, hamba harus mencari pendonor kemana lagi?
"Nabil, yang selama ini buya takutkan akhirnya terjadi. Mau cari pendonor kemana, Nak?" Kyai Musthofa sedikit mengguncang-guncangkan lengan Mas Nabil. Pria paruh baya itu kembali tergugu. Ia benar-benar putus asa.
Jika golongan darah mereka berbeda dengan Mbak Hamida. Berarti ... apakah gadis itu bukan anak kandung mereka?
"Biar itu Nabil yang pikirkan. Jangan jadikan ini beban untuk Buya dan Umma. Di sini ada Nabil. Nabil akan mencarikan pendonor untuk Hamida. Janji, Buya." Mas Nabil kembali menenangkan buyanya. Ia berulang kali menggosok-gosok telapak tangan pria paruh baya yang mulai dingin itu.
Pria itu takut jika jantung buyanya kambuh. Ia tidak ingin kehilangan sosok paling berharga di hidupnya untuk yang kedua kalinya ia belum siap. Astagfirullah, pikirannya jadi meracau kemana-mana. Tidak sepatutnya ia memikirkan hal itu.
"Sebuah payung tidak akan bisa menghentikan hujan, tapi mampu melindungi kita dari derasnya guyuran air hujan. Sama seperti doa, ia tidak bisa menghindarkan kita dari ujian hidup, tapi mampu menguatkan kita untuk menghadapi ujian tersebut." Wejangan Mas Nabil membuat Kyai Musthofa dan Nyai Zamzamah berhenti menangis. Astagfirullahalazim, apa yang dikatakan Mas Nabil ada benarnya. Tidak seharusnya air mata ini menetes. Setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya. Mustahil Sang Pencipta memberikan ujian, tapi tidak menberikan jalan keluar.
"Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Buya masih ingat? Buya selalu mengatakan hal yang serupa kepada Nabil dengan kata-kata itu." Syukurlah. Kyai Musthofa mulai tenang. Entah apa yang terjadi jika tidak ada Mas Nabil. Nyai Zamzamah pasti akan kelimpungan.
Apa yang dikatakan Mas Nabil benar. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Bukankah itu telah tertulis jelas dalam Al-Quran? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 286 :
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286).
Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Mas Nabil pergi setelah berpamitan. Saat ini waktu sangat berharga baginya. Kata orang, waktu adalah emas. Benar. Ia hanya memiliki waktu sedikit. Alangkah baiknya jika ia bergerak cepat.
"Kyai Musthofa." Lamunannya buyar. Kyai Musthofa terkejut bukan main ketika ia merasa ada tangan yang menepuk bahunya. Di menit yang sama, ia menoleh ke belakang.
"Ustaz Nur." Senyum kembali terbit. Pria paruh baya itu selalu tersenyum walau sebetulnya ia tengah bersedih. Ia tidak ingin membuat orang lain cemas saat melihat keadaannya.
"Kyai Musthofa sedang apa di sini? Apakah ada kerabat Kyai yang sakit?" Ustaz Nur mendudukkan diri di kursi, tidak jauh dari Kyai Musthofa yang juga duduk di atas kursi roda.
"Hamida, Ustaz." Telak. Ustaz Nur membelalak sekaligus terkejut bukan main. Hamida? Apakah pendengarannya sedang bermasalah? Seingatnya ketika ia membawa Aida ke rumah sakit, Mbak Hamida baik-baik saja. Namun, mengapa sekarang ia mendapati gadis itu dirawat di rumah sakit? Ya Rabb, tidak ada yang tahu ujian dari-Mu bisa datang kapan saja. Tidak mengenal waktu.
"Abi Nur." Suara lembut dari arah belakang menyita semua pandangan. Mereka semua menoleh pada sumber suara. Sosok gadis dengan piyama berbalut perban kasa di pergelangannya berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih lemas dan sedikit pucat.
Hening. Tidak ada yang membuka suara. Manik mereka saling beradu menatap Mbak Hamida.
__ADS_1
Bersambung ....