Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Jangan Tinggalkan Aida, Mas


__ADS_3

..."Rabbi annii massaniyadh-dhurru wa anta arhamur raahimiin. Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."...


"Cepatlah pulang, Mas. Aida tidak bisa hidup tanpa Mas Bima." Gadis itu tergugu. Pria dengan kemeja putih itu mengenakan helm dan mulai menyalakan sepeda kesayangannya.


"Sudah berhenti menangis, saya tidak menyukainya." Gus Bima mengelas jejak bening istrinya secara lembut. Kali ini, Gus Bima harus meninggalkan Aida yang sedang terbaring di rumah sakit lagi untuk menghadiri suatu kegiatan yang memang tidak dapat diwakilkan. Berat rasanya harus meninggalkan Aida, terlebih lagi kondisi gadis itu semakin hari semakin memburuk. Penglihatan Aida juga terganggu, tidak jarang Aida muntah darah.


"Bukankah saya pernah mengatakan, jangan rusak surga yang sudah susah payah kita bangun dengan air matamu." Aida menggenggan erat tangan Gus Bima. Aida merasa sedih karena saat ini Aida tidak bsa melihat wajah suaminya dengan jelas, pandangannya buram. Ia hanya bisa merabanya.


"Saya tidak akan lama, hanya sebentar." Aida menggeleng.


"Istirahatlah, ketika saya kembali saya janji akan mengajakmu jalan-jalan di taman."


"Saya hanya ingin Mas Bima berada di dekat Aida." 0Gadis itu menjawab secepat kilat.


"Aida mohon, jangan tinggalkan Aida."


"Saya mohon, jangan tinggalkan Aida."


Gus Bima mengerjapkan mata. Pria itu mengusap kelopak matanya. Suara lembut itu membuatnya terjaga. Setelah kesadaran Gus Bima sepenuhnya kembali, pria itu melihat Aida yang masih terpejam. Peluh di dahi serta tubuhnya yang tiba-tiba menggigil membuat Gus Bima khawatir.


"Aida." Gus Bima sedikit mengguncang-guncangkan tubuh Aida. Namun, gadis itu masih belum sadar. Ia terus meracau, pasti gadis itu mengigau.


"Panas sekali. Dia demam." Setelah menyentuh dahi Aida, ternyata benar. Istrinya deman. Mungkin karena deman, ia jadi mengigau.


Gus Bima tidak bisa membangunkan abi dan uminya. Pria itu memilih diam dan bergegas memanggil perawat. Ia sempat melirik benda bulat yang bertengger di dinding. Ternyata pukul sudah masuk dini hari. Tidak ingin membuang-buang waktu, Gus Bima berlari menuju ruang perawat.


Aida masih meracau, dan keringat di dahi perlahan bercucuran. Ia berulang kali mengernyit dan tangannya menggenggam erat. Bibirnya bergetar, pun dengan tubuhnya.


"Tolong periksa istri saya, Sus." Tidak ada lima menit, pria itu kembali dengan beberapa perawat. Gus Bima berdiri satu meter dari ranjang Aida. Ia sangat khawatir. Pria itu tidak henti membumikan doa. Ilahi, lindungi Aida, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada istrinya.

__ADS_1


"Bima. Ada apa, Nak?" Gus Bima terperanjat ketika telapak tangan menepuk bahunya. Ia menoleh dan sesaat setelah itu Gus Bima berhambur pada uminya.


Umi Salamah merasa bingung dengan sikap Gus Bima, mengapa ia menangis? Apa yang terjadi pada menantunya? Kenapa banyak perawat yang mengerumuni Aida?


"Ada apa? Apa yang terjadi pada menantu umi?" Umi Salamah melerai pelukan putranya. Ia berjalan mendekati beberapa perawat yang mengerumuni ranjang Aida. Wanita paruh baya itu melihat selang oksigen kembali dipasang. Selanjutnya, salah satu dari perawat itu berlari menuju keluar ruangan.


Umi Salamah semakin khawatir. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Tetesan demi tetes melesat kencang melewati pipi Umi Salamah. Cairan itu membasahi sebagian kerudung instannya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Langkah pertama yang ia lakukan adalah dengan membangunkan suaminya, Ustaz Nur.


"Abi, bangun. Aida Abi ... Aida." Ustaz Nur membuka kelopak matanya ketika ia mendengar asma Aida terucap dari bibir merah Umi Salamah. Pria itu bangkit setelah kesadarannya setengah terkumpul. Kepalanya sedikit pusing karena ia langsung bangun tanpa mendudukkan diri terlebih dahulu.


Atensinya langsung tertuju pada ranjang putih dan juga beberapa perempuan dengan seragam putih senada dengan kerudungnya. Hal serupa dialami Ustaz Nur.


"Suster, apa yang terjadi pada menantu saya?" Ustaz Nur memberanikan diri untuk bertanya. Disusul dengan Gus Bima. Pria itu kini tidak mendengar istrinya meracau. Hatinya teriris setiap kali melihat kondisi Aida yang tersiksa seperti ini.


"Demam pasien cukup tinggi, kami sudah memberinya obat. Pasien juga sempat susah bernapas, jadi kami kembali memasang oksigen." Mereka menjelaskan setelah menyuntikkan obat yang dibawa oleh suster yang beberapa menit lalu keluar.


"Bapak bisa mengompres pasien dengan air hangat dan sedikit garam untuk menurunkan demamnya."


Gadis itu kembali tenang, tapi suhu tubuhnya masih sama. Bahkan dalam termometer, suhu Aida berada pada 39° celcius. Badannya seperti tengah direbus di atas kuali. Ustaz Nur meraba saku kemejanya. Sebuah benda pipih berwarna hitam saat ini berada di tangannya. Terpampang jelas nama sosok dari ayah menantunya, pria paruh baya itu hampir saja menekan tombol hijau. Namun, Umi Salamah melarang niat baik itu. Bukan tidak ingin memberitahu orang tua Aida, tapi ini sudah dini hari. Ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat mereka.


Ustaz Nur kembali menaruh gawainya ke dalam saku setelah dijelaskan oleh istrinya. Apa yang dikatakan Umi Salamah benar. Sebaiknya ia mengabari Ayah Zulkifli besok pagi. Atau jika perlu tidak usah.


Umi Salamah berulang kali menatap benda bulat yang bertengger di dinding itu, putranya tak kunjung kembali. Sudah hampir setengah jam ia keluar, kenapa tak kunjung kembali? Ah, iya. Mana ada toko yang buka jam segini. Ia ingin sekali mengompres Aida hanya dengan air hangat, tapi mungkin sebaiknya ia menunggu Gus Bima lima menit lagi. Siapa tahu pria itu akan segera sampai.


"Kompres saja, Umi. Bima lama sekali, abi sangat takut. Soalnya demam Aida tidak kunjung turun." Umi Salamah kini bimbang. Ustaz Nur pasti tahu yang terbaik untuk menantunya. Ia pasti sangat cemas, sejak tadi pria itu tidak mengalihkan tatapannya dari Aida.


"Tapi Abi--" Kalimatnya terpotong.


"Nanti ketika Bima kembali, kamu bisa menambahkan garam ke dalam air hangat. Saat ini gunakan yang ada saja." Pria itu tidak sabaran. Ia memang seperti itu, disaat Gus Bima sakit pun hal serupa dilakukan. Baginya, yang terpenting saat ini demam Aida segera turun.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa Umi Salamah lakukan kecuali menuruti perkataan suaminya. Bismillah, semoga demam Aida segera turun. Ustaz Nur juga tidak mau kalah dari istrinya. Pria itu memijat pelan lengan menantunya. Netranya tertuju pada minyak kayu putih yang berada di atas meja. Pria itu mengambil dan mendekatkan tepat di bawah lubang hidung Aida. Berharap dengan cara ini gadis itu bisa segera siuman.


Umi Salamah berulang kali mencelupkan kain tipis itu ke dalam baskom dan memerasnya hingga air yang diserap oleh kain benar-benar tandas.


Atensi mereka teralihkan pada pintu yang terbuka dengan sedikit kasar. Pria yang masih mengenakan sarung itu memberikan sekantong plastik kecil yang berisikan garam dan juga handuk kecil. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir manisnya. Pria itu langsung duduk di samping ranjang seraya memegang tangan Aida.


Tidak. Saat ini ia tidak ingin menangis. Ia malu jika harus menangis di depan abinya. Gus Bima menunduk dalam untuk menyembunyikan bening itu. Kenapa Aida yang harus diuji? Kenapa bukan dia? Bola matanya memerah, pria itu mengalihkan pandangan dengan menatap penjuru ruangan.


"Mas Bima." Pria itu menatap sumber suara. Gadis itu mulai siuman, matanya mengerjap dan perlahan netranya terbuka. Gus Bima mencium punggung telapak tangan Aida. Pria itu mengangguk tatkala Aida menatap wajahnya.


Tangannya yang masih lemas meraba keningnya. Ia mendapati kain basah yang menumpang. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Adakah yang bisa menceritakan kepada Aida?


"Mas--"


"Sudah. Kamu istirahat saja." Gus Bima memangkas kalimat Aida secepat kilat. Ada apa ini? Kenapa semua orang terjaga sampai-sampai Ustaz Nur juga duduk di sampingnya?


"Perut Aida sakit, Mas." Gadis itu kembali meremas bagian yang terasa sakit. Ia meringis kesakitan. Aida menggigit bibir bagian bawahnya. Sudah tidak tahan. Rasanya ia ingin kayang di atas kasur. Tidak, sudah cukup. Aida tidak ingin membuat semua khawatir. Karenanya, semua orang harus terbangun. Ia harus bisa menahan sakit itu. Aida merapalkan istigfar dalam hati banyak-banyak. Iya, dirinya pasti bisa. Ia tidak boleh lemah.


"Saya panggilkan perawat, ya." Aida menggeleng. Ia memegang pergelangan tangan suaminya. Diamlah di sisi Gus Bima, saat ini yang Aida butuhkan hanya kehadirannya.


"Mas Bima diam di sini saja. Aida tidak mau Mas meninggalkan saya." Ketika ingin menyangga, Aida kembali menggeleng cepat. Gus Bima tidak bisa berbuat banyak, ia tidak bisa memaksa.


"Aida tidur saja, biar sakitnya berkurang." Aida kembali membuka mata saat mendengar suara bariton itu.


"Aida takut, Mas. Ketika saya terpejam, saya tidak akan bisa melihatmu lagi." Perkataan Aida membuat hatinya tersayat. Aida meneteskan air mata. Gadis itu terisak. Gus Bima tidak boleh menangis, ia harus kuat di hadapan istrinya. Pria itu kembali menyeka air matanya. Dadanya terasa sesak, pun tenggorokannua terasa sakit.


"Saya ada di sini. Saya akan terus menemani Aida. Saya janji ... Mas tidak akan pernah meninggalkan Aida." Telak. Ia gagal untuk tidak menangis. Pria itu akhirnya menetaskan beningnya. Ia sudah mencoba untuk membendung, tapi cairan itu sudah memenuhi pelupuknya. Cairan itu jatuh tepat di pipi Aida.


"Janji?" Gus Bima mengangguk.

__ADS_1


Umi Salamah yang duduk di sofa dengan membelakangi mereka ikut meneteskan air mata. Ustaz Nur? Apakah pria paruh baya itu menangis? Iya, pria paruh baya itu juga ikut meneteskan beningnya. Walau posisinya kini tengah mengamati bintang-bintang yang sedang berkedip menyapanya. Ustaz Nur membuka gorden dan memilih untuk menatap pemandangan di luar jendela. Gelap gulita, tapi ini lebih baik daripada harus melihat kondisi menantunya. Setidaknya, ia bisa leluasa membiarkan Gus Bima menumpahkan air matanya.


Bersambung ....


__ADS_2