
..."Jangan pernah memaksakan siapapun untuk memeluk jiwamu, sebab cinta seperti halnya agama, tiada paksaan di dalamnya."...
..._Jalaluddin Rumi_...
Semburat gumpalan berwarna putih mengisi kekosongan birunya langit. Terik. Kemilau emas mampu menyilaukan siapa saja yang mendongak, menatap langit yang menjulang tinggi, menjadi atap kuasa Sang Pencipta. Dua hari berlalu setelah kepulangannya dari rumah sakit, tapi tidak sedikitpun membuat Aida tersenyum bahagia.
Gadis itu menatap nanar ke arah depan, terlihat beberapa santri yang tengah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, pun dengan sosok yang sedari pagi belum terlihat batang hidungnya. Seperti ada yang mengganjal hati Aida tatkala gadis itu belum mencium punggung telapak tangan suaminya. Entah apa yang berhasil membalikkan hatinya, kini Aida jadi tidak bisa terlalu lama jauh dari Gus Bima.
"Sepertinya indahnya langit di atas mampu membuatmu kagum sampai-sampai netramu tak mengerjap sedikitpun." Lamunan Aida pecah. Suara yang sedari pagi sangat ingin ia dengar membuatnya terperanjat sekaligus terkejut. Benarkah? Apakah pendengarannya kali ini baik-baik saja? Ah, sepertinya ini hanya halusinasi Aida saja, mungkin karena ia sangat merindukan Gus Bima.
"Astaghfirullah. Apakah seperti ini rasanya ketika sedang merindukan seseorang, sampai-sampai aku bisa mendengarkan suaranya?" Gadis itu berbicara kepada dirinya sendiri sesaat setelah ia menghela napas berat.
Raut wajah yang sebelumnya mencetak senyum bahagia, kini berubah layu dan sendu. Gus Bima memutar bola mata jengah. Ah, tidak. Apakah pria itu salah paham akan perkataan Aida? Semoga saja tidak karena seseorang yang saat ini sangat ia rindukan adalah dirinya, bukan yang lain.
Pria itu memalingkan wajah seraya berdeham kecil. Aida sedikit mengernyitkan dahi, kemudian gadis polos itu menoleh ke sumber suara. Tak jauh darinya duduk, pria dengan peci hitam dipadukan baju batik dan juga sarung hitam terlihat tengah memasang wajah kesal. Bibirnya tak mengulum senyum seperti biasanya.
"Mas Bima, sudah lama ada di sini? Bagaimana, apakah urusan pondok pesantrennya sudah selesai?" Gus Bima hanya menaikkan kedua alisnya sebagai jawaban. Bibirnya mengerucut dua senti lebih maju dari biasanya. Tangan hangat itu membelai separuh wajah Gus Bima. Rindunya kini terobati, tapi tidak dengan pria itu.
"Mas tadi dengar kamu sedang merindukan seseorang. Pasti Kenzo." Aktivitasnya terhenti. Kenapa tiba-tiba pria itu menyebut nama Kenzo? Aida terdiam sejenak. Kata-kata itu sungguh terdengar ambigu. Sekian lama terpaku mencerna kata demi kata yang diucapkan Gus Bima, akhirnya kini ia paham.
__ADS_1
Gadis itu tertawa melihat wajah Gus Bima ketika terbakar api cemburu. Terlihat sangat lucu. Aida merasa gemas hingga ia ingin sekali meremas pipi suaminya. Entahlah, hari ini Gus Bima cukup sensitif, seperti perempuan ketika datang Bukan saja.
"Kamu tertawa?" Aida tak bisa menghentikan tawa itu. Seperti ada kupu-kupu yang menggelitiki perutnya. Tidak berniat menjawab, ia hanya sedikit membungkukkan badan dan kembali terkekeh. Namun, tanpa sadar pria itu bangkit dan mulai berlalu pergi.
Aida yang melihat dari sudut netranya bahwa Gus Bima berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata langsung beranjak dari duduknya. Dari belakang, gadis itu memeluk erat tubuh suaminya. Aida sedikit mengendus-endus parfum khas yang selalu melekat di baju Gus Bima. Aida menyandarkan separuh wajahnya pada punggung Gus Bima. "Aida hanya bercanda Zauj, jangan marah ya, Sayangnya saya. Nanti gantengnya hilang."
Mendengar penuturan Aida membuat gelenyar aneh mengalir lewat urat nadinya. Wajahnya memanas bersama dengan rona merah yang perlahan menyeruap membuat wajahnya yang tampan memerah seperti kepiting rebus.
"Aida sangat merindukan Mas Bima. Ana uhibbuki fillah, Mas." Tetesan demi tetes melaju tanpa permisi pada sang empu. Pengakuan cinta untuk yang Kedua kalinya itu membuat jantung Gus Bima bertalu-talu. Lututnya terasa lemas, pun dengan tangannya yang mulai mendingin.
***
Denting sendok dan garpu saling beradu di atas piring polos putih. Semangkuk bubur dengan kuah kaldu ayam membuat Aida kembali mengerucutkan bibir. Wajahnya berubah sendu tanpa sesabit senyum simpul. Gadis itu terduduk di atas ranjang dengan kaki yang menyila, berulang kali ia menghela napas berat. Ilahi, mencium bau bubur ayam itu saja membuat Aida ingin muntah. Mual, sangat mual.
"Satu sendok saja." Aida menggeleng secepat kilat. Gus Bima menghela napas lelah. Tangannya yang mulai bergetar karena terlalu lama mengambang di udara dijatuhkan tepat pada mangkuk yang masih penuh berisikan bubur ayam.
"Istrinya saya, jika kamu tidak mau makan ... nanti kamu sakit lagi." Perkataannya sedikit terjeda di tengah-tengah kalimat. Gus Bima mengelus-elus puncak kepala istrinya, membawa ke dalam dekapan hangat tubuhnya. Sederet wejangan ia tuturkan, men coba segala cara agar Aida mau untuk makan.
"Aida bosan makan bubur terus, Mas." Gus Bima menyimak keluhan Aida dengan saksama. Hanya anggukan kepala yang dapat pria itu berikan. Lelah dengan sikap kekanak-kanakan Aida? Mungkin itu yang saat ini dirasakan Gus Bima. Namun, pria baik itu tak pernah mengeluh sedikitpun. Aida sangat beruntung bukan?
__ADS_1
"Jika Aida tidak mau makan bubur, terus Aida mau makan apa, Sayang?" Aida yang bersandar di bahu Gus Bima lantas mendongak tatkala mendengar kata romantis yang keluar dari bibirnya. Atensi mereka saling beradu pandang. Selang beberapa menit, gadis itu kembali menunduk seraya tersenyum. Ah, ia kembali tersipu malu. Lagi dan lagi.
Tidak ada jawaban. Saat ini yang Aida inginkan hanyalah perhatian lebih dari suami besarnya. Adakah dari kalian yang sama seperti gadis itu yang selalu ingin dimanja pasca sakit? Aida tak kunjung melerai pelukannya, kedua tangannya yang saling bertemu semakin mempererat pelukan ya pada tubuh Gus Bima. Siang ini menjadi hari terfavorit bagi mereka berdua. Bayang-bayang bahwa usia pernikahan yang akan bertahan hanya seumur jagung kini berhasil ditepis oleh pasangan suami istri itu. Walau memang Gus Bima masih sering dihantui ketakutan akan kehilangan Aida. Pastinya, gadis itu akan lepas dari dekapannya, teringat akan janjinya dahulu kala. Disaat waktunya tiba, Gus Bima harus ikhlas. Entah sekarang, ataupun esok. Jangan tanyakan kapan waktunya tiba, karena ia juga tak tahu.
"Mas Bima tidak ingin mengajak Aida keluar makan malam?" Aida melerai pelukannya dan menatap lekat manik indah suaminya. Binar wajah itu mewakili segudang keinginan yang tak dapat Aida utarakan. Semakin lama Gus Bima menatap netra istrinya membuat ia terkekeh. Oh Allah, wajah lugu itu ingin sekali ia remas. Ia merasa sangat gemas. Terlebih lagi ketika Aida mengulum senyum manis sampai netranya menyipit membuat Gus Bima ingin sekali menggigit pipi bulatnya.
"Makan malam?" Aida mengangguk cepat.
Gus Bima menghela napas dalam-dalam seraya menatap keluar jendela. "Tapi sekarang masih siang, Sayang. Terlalu lama bukan jika harus menunggu malam tiba? Saya tidak suka menunggu." Kalimat terakhir diucapkan tepat di dekat daun telinga Aida, begitu lirih dan dekat hingga ia bisa merasakan dengus napas dari lubang hidung Gus Bima.
"Ih, Mas Bima. Kamu tidak seperti laki-laki di luar sana. Susah banget diajak romantis." Aida merengek. Ia kembali mengernyitkan kening, membuat alisnya yang tebal menyatu. Bukannya kembali memarahi Aida, pria itu merasa geli melihat raut wajah istrinya. Gus Bima sangat menanti ketika gadis itu tengah merona dan marah. Ah, pria itu suka sekali menggoda Aida.
"Baiklah, kas tidak bisa kalau dibanding-bandingkan. Mas juga bisa seperti suami di luar sana. Bagaimana kalau malam ini kita makan malam di luar? Setuju?" Telapak tangan Gus Bima mengambang tepat di hadapan Aida. Gadis itu hanya menatap telapak tangan itu. Di menit kedua, gadis itu menjatuhkan telapak tangannya di atas telapak tangan suaminya. Setelah itu Aida menjatuhkan binar netranya secepat kilat pada Gus Bima. Gadis itu sangat bahagia, sampai-sampai kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Ah, tidak. Lebih tepatnya ia menenggelamkan sebagian wajahnya di sela-sela jemarinya.
"Sungguh? Mas Bima tidak berbohong?" tanyanya dengan sedikit menebalkan wajahnya agar terlihat baik-baik saja, tidak sampai merona. Pria itu menganggukkan kepala. Di detik yang sama, gadis itu menggenggam erat tangan suaminya. Ia sangat girang sampai memeluk erat suaminya dengan sedikit mengguncang-guncangkannya. Pria itu tersenyum hingga deretan gigi putih nampak dengan begitu kentara. Matanya yang menyipit serta garis halus di pinggir netranya menambah kekharismaan Gus Bima.
Setelah dirasa puas, Aida melerainya secara sepihak. Netra mereka saling temu beberapa menit tanpa mengedip sedikitpun. Tanpa pria itu sadari, satu kecupan mendarat tepat di pipi Gus Bima membuat atensinya membulat sempurna. Begitu cepat hanya beberapa detik, seperti sambaran kilat. Oh Allah, apakah baru saja ia tengah bermimpi? Kejadian itu terjadi begitu cepat Ilahi.
Aida hanya diam dengan menunduk dalam. Gus Bima hanya membatu di posisinya tanpa bisa berkata-kata. "Sebaiknya Aida sekarang mengambil air wudhu. Sudah mau memasuki waktu zuhur."
__ADS_1
Setelah Aida benar-benar hengkang dari hadapannya, Gus Bima mengerjap untuk yang pertama kalinya seraya memegangi pipi kanannya. Sungguh, sepertinya setelah ini Gus Bima tidak akan mencuci wajahnya selama satu bulan. Jiwanya melayang seperti tengah menari di tengah hamparan taman bunga.
Bersambung ....