
..."Mungkin, teh asin akan menjadi minuman kesukaan saya. Karena dengan menatap wajahmu rasa asin itu akan berubah manis."...
..._Abdillah Izzul Haq....
Waktu bergulir begitu cepat, jam yang bertengger di dinding menunjukkan bahwa hari telah memasuki waktu senja, hanya tinggal beberapa menit saja azan maghrib akan segera berkumandang. Selama ia menjadi istri Gus Bima, tak banyak yang dikerjakan oleh Aida. Hanya membantu pekerjaan rumah, ikut memasak untuk para santri dan mengaji bersama. Terkadang, mau tidak mau Aida harus ikut ke mana suaminya akan pergi untuk acara halaqoh. Tidak masalah bukan, mengingat bahwa mereka telah terikat benang merah?
Setelah mengerjakan pekerjaan rumah, Aida duduk di sofa empuk yang terletak di kamarnya seraya berzikir menyebut asma Allah. Walau terkadang Aida tidak memperdulikan suaminya. Namun, dibalik itu semua ada satu dua perintah yang dituruti olehnya. Salah satunya adalah berdzikir dengan beberapa kalimat tasbih, tahmid, dan tahlil. Zikir adalah obat dikala hati kita merasa sedih dan gelisah. Dengan berzikir dapat mengajarkan kepada kita semua apa itu arti syukur dan dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketukan pintu dari luar mengalihkan netra Aida. Gadis itu terdiam, tak menjawab bahkan membuka pintu hingga suara bariton itu membuat langkah Aida berjalan menuju daun pintu dan membukakannya.
"Mas Bima." Terlihat raut wajah yang lelah dari suaminya. Namun, senyuman itu tak kunjung sirna. Harusnya, Aida yang menyambut Gus Bima dari pesantren dengan senyuman hangat. Namun, kali ini konsepnya terbalik. Beberapa detik netranya saling beradu pandang, gadis itu meraih tangan Gus Bima dan mencium punggung telapak tangan suaminya.
"Sudah makan?" Aida menggelengkan kepala.
"Kenapa?" Berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan. Namun, Aida hanya tersenyum seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mas Bima mau Aida siapkan air untuk mandi?"
Sebelum menjawab, Gus Bima tersenyum lebar dan mengangguk dengan cepat. "Boleh, Aida. Dengan senang hati."
Kedua pasangan suami istri itu berjalan sejajar menuju dapur. Di ujung ruangan, beberapa meter dari dapur Mbak Hamida menatap Aida dengan tatapan benci. Tak ada lagi senyum hangat yang gadis itu sunggingkan untuk istri teman masa kecilnya itu. Bahkan sikapnya yang ramah kepada Aida kini mendadak dingin dan acuh. Buktinya, Mbak Hamida tidak menyapa Aida ketika meraka saling berpapasan atau saling bertatap muka.
"Assalamualaikum, Hamida." Netranya masih belum lepas menatap Aida. Gadis lugu itu merasa takut dan akhirnya bersembunyi di belakang tubuh kekar suaminya dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Telapaknya saling menaut. Ya Rabb, apa yang telah Aida perbuat sehingga membuat Mbak Hamida terlihat begitu marah?
"Sudah makan Hamida?" Mbak Hamida mengerjapkan matanya. Di detik yang sama, gadis itu tiba-tiba tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai tanggapan atas pertanyaan Gus Bima.
"Baiklah, saya permisi dulu." Dengan badan sedikit membungkuk, Gus Bima berjalan melewati Mbak Hamida dan langsung menuju ke dapur. Aida meremas baju koko milik suaminya hingga tangan itu meraih lengan Gus Bima.
__ADS_1
Seperti paham akan tingkah laku Aida yang mendadak berubah, Gus Bima mengelus-elus punggung tangan Aida. Gadis itu menatap sekejap netra suaminya, Aida melihat suaminya yang mengedipkan mata tanda isyarat bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja.
Aida melepaskan tangannya. Ia melanjutkan hajatnya untuk menyiapkan air panas agar Gus Bima bisa segera membersihkan badannya. Benar, pasti suami besarnya sudah tak tahan akan keringat yang melekat di tubuhnya ini bukan?
"Mau Aida buatkan teh?"
"Boleh." Pria yang tengah memainkan gawainya itu menjawab sekenanya saja. "Mengapa kamu selalu bertanya ketika hendak melayani saya? Lakukanlah, saya tak akan menolak," lanjutnya bersamaan dengan diletakkannya gawai hitamnya itu.
Aida berjalan menghampiri suaminya dengan membawakan secangkir teh hangat. Ia duduk tidak jauh dari Gus Bima yang menyeruput teh tersebut. Namun, Aida sempat heran dengan ekspresi wajah Gus Bima yang berubah ketika teh tersebut berhasil masuk ke tenggorokannya. Ah, apakah minuman itu terlalu panas?
"Kenapa, Mas?" Tidak ada jawaban. Gus Bima mengusap mulutnya dengan sedikit tersenyum. Namun, senyuman itu sungguh beda dari biasanya.
"Tidak enak, ya?" Gus Bima mendongak dan menggeleng cepat. Ah tidak, Aida. Maksud gelengan itu mungkin tehnya enak.
"Enak. Tehnya e--enak." Namun, jika enak mengapa ia menjawabnya dengan nada terbata-bata?
Melihat hal tersebut, Aida menaruh prasangka buruk. Jangan-jangan suaminya berbohong. Bisa saja teh tersebut hambar atau kemanisan akan tetapi Gus Bima menutupinya agar Aida tidak kecewa. Mengingat bahwa pria itu sangat baik kepada Aida. Mungkin, kata baik saja tidak cukup mendeskripsikan kebaikan dan kesabaran Gus Bima, suami besarnya. Eh, astagfirullah Aida, hilangkan prasangka buruk mengenai suamimu itu. Bukankah kita dianjurkan agar selalu berprasangka baik kepada seseorang?
"Jangan Aida, tehnya masih panas. Mulutmu akan melepuh jika kamu memaksakan diri untuk meminumnya." Tanpa meniup, Aida langsung meminum teh buatannya perlahan-lahan. Bukankah segala makanan dan minuman itu tidak boleh ditiup?
Ada hadits shahih yang menjelaskan bahwa kita dilarang meniup makanan dan minuman yang masih panas. Dari Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, beliau berkata:
“Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang bernapas di dalam gelas atau meniup isi gelas.” (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth.)
Selain merupakan adab, meniup makanan atau minuman memang tidak dianjurkan demi kesehatan tubuh.
Ilahi, pantas saja raut wajah suaminya berubah ketika meminum teh buatannya. Ternyata rasanya tidaklah manis lagi. Namun, kini telah berubah melebihi rasa asin air laut.
__ADS_1
"Ma-maaf, Aida. Bukan saya tidak ingin jujur. Namun, saya tidak ingin membuat istri kecil saya bersedih." Benar bukan, suaminya ini selalu menjaga perasaan istrinya. Ma syaa Allah.
"Maaf, Mas Bima. Mungkin saya salah ambil. Soalnya tadi saat saya ambil gula, saya sambil lihat Mas Bima." Semakin lama volume suara itu semakin menurun, sampai-sampai Gus Bima tidak mendengarnya lagi.
Pria itu terkekeh. Ah, bisa saja. Gus Bima selalu dibuat tertawa ketika berada di samping istri kecilnya. Baik karena tingkah laku, sikap kekanak-kanakannya, maupun keluguannya.
"Benarkah, Aida? Apakah saya setampan itu sampai-sampai kamu salah mengambil gula menjadi garam?" Tidak. Hentikan, sudah cukup! Argh, rona merah itu akan kembali hadir jika suami besarnya ini terus menggodanya.
"Tidak. Wadahnya saja yang sama. Aida tidak bisa membedakan mana gula, mana garam karena semua wadahnya berwarna putih." Gus Bima menyilangkan kedua tangannya di atas meja seperti anak sekolah dasar yang tengah mendengarkan gurunya berbicara. Atensi itu fokus menatap raut wajah Aida. Dan benar saja, gadis itu kembali dibuat salah tingkah.
Apa itu? Ah, benarkah itu wajahnya? Mengapa berubah menjadi merah seperti tomat rebus?
Aida menutup wajahnya dengan telapak tangan. Berada di samping suaminya membuat Aida ingin segera pergi. Iya, Aida tidak ingin terlalu lama debar itu berdetak semakin kencang. Terlebih lagi sikap suaminya yang semakin lama semakin manis.
"Kenapa kamu menutupi wajahmu dengan telapak tangan itu Aida? Apakah wajah saya kurang tampan sampai kamu tak sudi menatap saya lagi?" Aida mengintip dari celah jemarinya. Ah, semakin diintip semakin debar itu menjadi-jadi. Haruskah ia periksa ke dokter spesialis jantung terlebih dahulu? Mungkin tidak, karena yang ia butuhkan adalah dokter cinta bukan dokter spesialis jantung.
Aida memalingkan wajah sejenak, menetralkan detak jantungnya. Berusaha agar rona merah itu sedikit memudar. Setelah dirasa cukup membaik, Aida kembali duduk seperti posisi semula. Namun, gadis itu menunduk tak berani menatap netra Gus Bima.
"Terima kasih atas tehnya Aida." Terima kasih, untuk apa?
"Rasa asin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perhatian kecil yang kamu berikan kepada saya." Aida hanya mengindahkan kata-kata suaminya dengan seulas senyum miring.
"Mungkin, teh asin akan menjadi minuman favorit saya." Pria itu menyanggakan tangan sebelah kanannya dan sedikit memiringkan posisi kepalanya. Di menit yang sama, pria itu menaik turunkan kedua alisnya seraya menyunggingkan senyum manis kepada Aida.
"Hah, kenapa?" Gadis itu nampak kebingungan. Perkataan itu terdengar ambigu.
"Alasan yang pertama adalah karena tehnya dibuat langsung oleh istri kecil saja, alasan yang kedua adalah karena dengan menatap wajahmu rasa asin itu akan berubah manis, Aida." Rasanya melayang. Seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya. Sudah, hentikan! Lama-lama Aida bisa pingsan jika seperti ini terus.
__ADS_1
Bersambung....
Pasuruan, 04 Februari 2023