Sword Art Online

Sword Art Online
Chapter 12


__ADS_3

Bagaimanapun, Ronye masih merasa belum terbiasa berjalan berdua dengan Asuna.


Walaupun ia adalah Wakil-Prime Swordsman Dewan Serikat Dunia Manusia, itu bukanlah alasan baginya untuk datang ke dunia diluar Underworld.Itu adalah ketika di tengah-tengah Perang Dunia Asing setahun 3 bulan yang lalu saat Asuna datang ke Underworld.Sebagai umpan dari pasukan Dunia Manusia, Ronye dan Tieze focus untuk mengacaukan rencana dari pemimpin Dark Territory saat itu, Pemimpin Vector yang telah menghancurkan


segalanya sebelum benar-benar menjadi umpan.


Ronye sendiri telah diserang oleh pasukan kegelapan yang menerobos markas pasukan Dunia Manusia, sayangnya pedangnya terlempar dan dia telah berada di ambang kematiannya, dan Asuna muncul disana.


Menaiki jet hitam di langit yang gelap, Asuna muncul dengan cahayanya yang bersinar, yangbtak lain dan tak bukan terlihat seperti Dewi Stacia, yang terdapat pada lukisan di keluarga Arabel dan lukisan di Akademi Master Pedang.


Asuna mengangkat pedang yang berkilauan dengan cahaya pelangi dan membuat lubang raksasa di tanah dan mengusir pasukan kegelapan yang hampir membunuh Ronye. Ronye yang melihat keajaiban itu percaya bahwa Asuna adalah Dewi Stacia.


Setelah itu, Asuna dan juga Kirito—dan juga Pemimpin Vector dari pasukan kegelapan yang Ronye lawan—adalah “manusia asli”. Walau begitu, rasa bersyukur dan hormat Ronye tidak pernah lenyap walau sudah sekian tahun usai perang.


Namun ada perasaan lain yang menusuk hati Ronye begitu cepat.Itu karena Asuna adalah “seseorang yang spesial bagi Kirito”, semuanya sudah tahu. Asuna memasuki Underworld adalah karena ia ingin menyelamatkan Kirito yang saat itu kehilangan jiwanya.


Walaupun ia berbicara dengannya di jendela di hari yang cerah itu, atau lupa memberi garam saat makan siang, ketika Ronye melihat sang Prime Swordsman itu tanpa alasan, perasaan kuat Ronye merasakan, bahwa Kirito dan Asuna saling terikat kuat dengan cinta.


"Aku tidak pernah berpikir mengganggu mereka berdua, apapun yang terjadi di masa depan…itu tidak begitu jauh, mungkin, ritual dari pernikahan mereka akan terjadi, dan disaat itu, aku hanya ingin memberikan doa pada mereka.Tetapi..........tetapi..tidak peduli berapa banyak waktu yang akan terlewati, hari ketika rasa sakit dihatiku lenyap, aku merasa itu tidak akan pernah datang…"


Melihat Asuna berjalan didepannya, Ronye merasa terlalu banyak berpikir saat menaiki tangga, jarak tubuhnya dibelakang Asuna hampir berdekatan saat asuna berhenti melangkah.Ia berhasil menghindari tubrukan dengan punggung Asuna dan melihat sekeliling, mereka berdiri didepan sebuah tempat penyimpanan armor di lantai 3 Cathedral.


Sebuah relief di gerbang besar , menggambarkan Dewi Solus dan Terraria. Hanya ketua pengurus gereja, komandan knight, dan pendeta tertinggi saja yang dapat membuka gerbang itu. Sekarang semuanya bisa mengunjungi tempat itu jika mereka menuliskan namanya di meja dibalik pintu, tetapi tentu saja tidak diijinkan untuk membawa benda didalamnya keluar.


Asuna menuliskan namanya dengan tinta yang terbuat dari tembaga di selembar “kertas rami” yang baru-baru ini dihasilkan dari ibukota, terbuat dari kulit rami putih sebagai pengganti kertas, lalu tanpa ragu ia masuk kedalamnya. Karena sudah menjelang sore, tidak ada tamu disana, dan kegelapan menyambut mereka.


Asuna menyentuh gelas kaca disamping pintu masuk dan merapalkan sacred art.


"System Call, Generate Luminous Element"


Dengan satu jarinya, dia mengeluarkan 10 cahaya di tabung itu dan satu elemen angin.


Ke-10 cahaya itu saling berpindah ke tabung di sepanjang dinding hingga menyinari seluruhbtempat penyimpanan armor disana.


Seperti kertas rami dan pulpen tembaga, ‘tabung cahaya’ dan lilin dari elemen cahaya ini dikembangkan oleh Kirito dan Asuna. Tidak seperti obor dan lentera, tidak perlu lagi adanya bahaya api dan cahayanya putihnya tetap terkurung disana, walaupun hanya dengan tabung kaca, cahayanya tetap membutuhkan suplai dengan sacred art. Meskipun sudah bisa mengganti seluruh obor di Cathedral,itu kelihatannya masih sulit untuk menyebarkannya di seluruh kota Centoria.


Setelah lebih dari 10 cahaya terang menyinari, seluruh tempat penyimpanan armor pun menjadi terang, dan Ronye yang baru pertama kali memasukinya bernapas lega.Banyak armor dengan warna yang beragam berbaris diseluruh tempat itu, area seluas lapangan latihan di Akademi Master Pedang, banyaknya jumlah pedang berukuran besar dan kecil yang tak terhitung, tombak dan kapak yang menggantung di dinding tinggi. Mungkin disana ada senjata yang memiliki kemampuan tinggi yang dimiliki Integrity Knight senior, tetapi masih mustahil bagi trainee yang seperti Ronye untuk membedakannya.


“…seperti biasa, pemandangan yang hebat."


Saat mendengar nada kagum dari Ronye, Asuna mengangguk.


“Itu benar, tetapi kebanyakan ini semua adalah keperluan milik Rina—maksudku jendral Selurute dari pasukan Dunia Manusia. Itu kelihatannya Kirito ingin membiarkan semua ini dipakai oleh semua pasukan dari Dunia Manusia dan Dark Territory, tetapi Dusolbert melarangnya.”


“Apakah itu masalah yang sulit?."


Ia hanya bisa memberikan jawaban singkat, dan ia merasakan lagi getaran dibahunya.


Perlunya dukungan yang penting untuk Dark Territory, Ronye teringat kembali ketika melihat goblin anak-anak yang kelaparan saat itu. Namun di pikirannya, kata-kata Kirito terngiang kembali [perang akan dimulai lagi.]


Apakah harus menjadi seperti ini…aku ingin keluarga dan para siswa di Centoria Utara, knight Cathedral, dan para pendeta serta Tieze tentunya, selamat. Dan untuk menjaminnya setidaknya mereka memiliki senjata yang berharga—pikirnya.

__ADS_1


Asuna berdiri dibelakang Ronye dan menepuk bahunya.Ia berkata padanya dengan raut wajah yang aneh.


“Jadi…hm…Integrity Knight magang Ronye Arabel, seberapa besarkan kemampuanmu


dalam mengontrol senjata?”


“Eh apa…? Kenapa Asuna-sama bertanya seperti itu…?”


“Tidak ada, tidak apa-apa kok."


Ronye memandang wajah dari swordswoman terkuat kedua di Dunia Manusia yang terhormat itu. Hey, aku sendiri belum memeriksanya, apa jangan-jangan…sambil memikirkannya, ia membuat sebuah tanda di udara dengan tangan kirinya dan memberinya cahaya dengan tangan kanannya.


‘Jendela Stacia’ muncul dengan cahaya yang lembut, yang menggambarkan informasi dan inti dari seseorang—Kirito menyebutnya ‘perencana pribadi’—sehingga tidak sopan jika ada orang lain yang mengintipnya, kecuali jika dalam keadaan darurat. Untuk melindungi jendelanya dari pandangan Asuna, Ronye mundur selangkah ke belakang dan mengucapkan kalimat [pengontrolan objek]


“Er…sekitar 39



“Luar biasa, hampir menyamai jumlah dari knight kebanyakan disini”


Asuna tersenyum manis lalu pergi ke arah dinding sambil bergumam ‘kalau begitu…’ dia terus berpindah ke tempat dimana banyak pedang –satu tangan- dengan beragam macam warna dan desain, ia memilih sebanyak 4 buah dengan masing-masing memegangnya 2 buah di kedua tangannya, lalu menyusunnya di dekat sebuah kursi.


“Prioritas nomor 38 dan 39. Pilihlah yang kau suka, Ronye-san.”


Kata-kata yang tidak terduga terucap dari mulut Asuna sehingga membuat lawan bicaranya terdiam sejenak.


Berbicara tentang prioritas ke 39, itu bukanlah level tinggi dari divine objek, tetapi itu adalah pedang yang masih dikategorikan unik dan satu-satunya. Memang, ke-4 pedang yang dijejerkan disana memiliki bentuk yang indah, dan semuanya mengkilat seperti pisau yang tajam dengan bentuk ujungnya yang berbeda-beda. Walaupun ‘Empat Ayunan Pisau’ yang dilaporkan oleh Fanatio menggunakan gaya berpedang asli, knight trainee jangan berharap untuk mendapatkannya sebagai hadiah.


Saat Ronye menggoyangkan kedua tangan dan kepalanya bersamaan, Asuna sedikit menyeringai dan berkata.


“Hmm, gerakanmu itu sedikit mirip dengan Kirito-kun.”


“Uh…yah…mungkin…”


“Hehe, kau tak perlu menahannya Ronye-san, aku sudah mendapatkan izin dari komandan Fanatio dan diantara semuanya kau adalah gadis berani yang bertarung disaat perang itu hingga akhir”


“…….i-itu hanya…”


Sekali lagi, ia menggeleng.


“…aku telah dilindungi oleh Asuna-sama dan Renri-sama, serta banyaknya prajurit Dunia Manusia yang lainnya, dan para swordsman yang datang dari dunia nyata…ketika knight kegelapan itu melakukan hal buruk pada Kirito-senpai, walaupun aku ada disana, aku tak bisa melakukan apa-apa…”


“Tidak juga, sebenarnya.”


Asuna maju mendekati Ronye dan memegang kedua bahunya lembut. Tubuh Ronye yang kaku itu untuk pertama kalinya merasakan aroma bunga melati yang begitu hangat dari tubuh Asuna.


“Itu adalah Ronye-san, Tieze-san, dan Alice, yang telah melindungi Kirito ketika ia tidak bisa bergerak. Bagiku, kalian berdua adalah pahlawan. Aku masih belum cukup untuk berterima kasih…”


Matanya yang mulai terasa basah, Ronye bergumam.


“Alice-sama…kenapa dia harus pergi…”

__ADS_1


Setelahnya Asuna membalasnya dengan pasti.


“Dia baik-baik saja di dunia nyata, dialah harapan yang mengikat kedua dunia ini, aku yakin suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi dengannya…”


Setelah mengulurkan kedua tangannya dan memeluk Ronye, Asuna tersenyum padanya.


“Sekarang, pilihlah pedang itu, bukan hanya untukmu saja, itu juga adalah senjata untuk melindungi Kirito-kun.”


Setelahnya, ia tak bisa mengulanginya lagi.


Ronye melihat kembali ke-4 pedang yang dipilih Asuna. Semuanya adalah 4 pedang yang lurus untuk satu tangan, namun gagang dan ujung pedangnya terlihat ramping dan tipis, dan ia sangat memahami bahwa memilih yang cocok tidak hanya sebagai prioritas, tetapi juga untuk menunjukkan tingkatan dari Ronye sendiri.


Selama ini diketahui sebagai hasil dari analisis Kirito, senjata level tertinggi, peralatan dan benda dekoratif dengan prioritas melebihi 30, ditambah lagi jumlah life yang terpampang di jendela Stacia, itu kelihatannya mempunyai ‘kekuatan alami yang tersembunyi’. Termasuk jumlah cakupan yang besar dari penyerapan serangan, racun, tingkat kelelahan, dark art, dan atau pada kebalikannya, itu bisa membantu untuk menghasilkan elemen yang spesifik, dikasus yang jarang, kecepatan perbaikan jumlah life dapat bertambah atau salah satunya adalah dapat melihat di kegelapan, katanya, walaupun ada juga efek aneh yang timbul misalnya disukai seekor anjing.


Ditambah lagi juga,bahwa divine object milik Integrity Knight telah berubah semenjak dewi tertinggi Administrator lenyap, mempunyai kemampuan alami yang tersembunyi dapat memperkuat sacred art, yang berarti tak hanya senjata saja, tetapi juga kemampuan seorang knight yang telah diketahui Administrator lebih mendetail daripada di Jendela Stacia.


Belum lama ini, pendeta tertinggi Cathedral kelihatannya sedang melakukan usaha terbaiknya untuk melakukan ’teknik suci membuka kemampuan alami yang tersembunyi’, sayangnya membutuhkan waktu lama. Begitu kata Kirito.


Ke-4 pedang yang berada di hadapan Ronye juga seharusnya mempunyai kemampuan alami yang berbeda, tetapi kalau hanya dari luarnya saja tidak akan kelihatan. Ia harus mencobanya dengan menggunakan sacred art diseluruh bagiannya, atau berlari mengelilingi Cathedral lalu memeriksa kecepatan penyembuhan lifenya, tetapi cara itu sedikit sulit, karena tidak mungkin untuk melakukannya sekarang mengingat ia akan segera pergi besok di pagi buta.Ia merasakan ada suara lembut jauh dilubuk ingatannya saat ia berdiri tanpa tahu mana yang harus dipilih.


"…dimasa lalu, pedang ini sangat berat, sulit untuk diangkat, apalagi di ayunkan…"


Orang itu memegang pedang panjang yang cantik berwarna biru, orang yang pernah Tieze layani sebagai valet, elite swordsman Eugeo. Didepannya adalah elite swordsman Kirito yang tersenyum sambil memoles pedang hitamnya, didekatnya ada meja dengan teko teh dan pie madu yang beraroma sangat lezat. Itu sudah sangat lama sekali, 2 tahun lalu yang telah terlewati.


Saat itu.Di saat itu Ronye dan Tieze adalah murid kelas satu yang baru saja masuk ke Akademi Master Pedang Centoria. Itu terjadi setelah mereka mendapatkan hasil yang bagus pada ujian masuk dan mereka pun bisa masuk, dari 120 peserta yang mendaftar hanya sekitar 12 orang yang terpilih, mereka masih memiliki kendala dalam memegang pedang oak platinum berprioritas 15 yang mereka punya, sehingga mereka bertanya pada para senior bagaimana cara memegang pedang yang berat.


Dengan mudahnya Eugeo mengangkat ‘’Blue Rose Sword” yang terlihat lembut dan ramping,yang sebenarnya lebih berat dari besi yang dibuat dengan pedang 2 tangan, lalu melanjutkannya.[dalam teori, saat mengontrol senjata, tindakan swordsman adalah harus melampaui si senjata itu, sehingga pedangnya tidak akan berat.]


[Tetapi kurasa hubungan diantara pedang dan pemiliknya adalah hal yang tak bisa digambarkan hanya dengan angka. Walaupun senjata itu memiliki kekuatan lebih rendah dari pemiliknya sehingga takkan merespon atau tidak akan bisa dipegang seperti biasa. Aku tidak bisa mengayun pedang ini dulu karena aku tak punya kekuatan, tetapi karena hubunganku pada pedang ini tidaklah cukup…menurutku begitulah caranya]


“Hubungan… pada pedang”


Baru pertama kali mendengarnya, Ronye dan Tieze bingung. Mereka berdua adalah anak-anak generasi ke-6, kelas bangsawan terendah, dan orang tua mereka bermimpi anak-anaknya akan tumbuh dan cukup sukses untuk menjadi generasi ke-4 sehingga mereka tidak akan hidup ketakutan dalam kekuasaan bangsawan senior lagi,sehingga mereka menganggap tidak ada biaya untuk melatih anak-anaknya Teknik berpedang. Yang paling penting, jika pedang kayu itu sampai rusak karena pelatihan yang hebat, mereka akan senang untuk menggantinya.


Bagi mereka berdua, pedang adalah sebuah mimpi ............atau sebuah alat untuk merepresentasikan mimpi orang tua mereka, tidak hanya bagi mereka sendiri, dan di saat yang sama mereka sudah terbelenggu untuk mewujudkan masa depannya. Sehingga jika ada seseorang yang mengatakan kalau hubungan dengan pedang itu perlu,mereka takkan langsung mengerti.


Dan pada mereka berdua, Eugeo mengatakannya sambil tersenyum.


“Tak hanya pedang saja, pakaian, sepatu, alat makan…apapun yang memerlukan sacred art,


jika kau membuka hatimu dan membagikan cintamu pada mereka, tentunya mereka akan meresponnya. Manusia juga, mungkin.”


Lalu Kirito yang mendengar 2 kalimat terakhir tadi berhenti memoles pedang ‘Night Sky Sword’ nya—yang saat itu dia panggil dengan sebutan pedang hitam,-dan dia tersenyum.


“Ya, Eugeo dan aku telah membuka pikiran kami. Contohnya aku punya hubungan dengan pienya Eugeo,dan aku dengan senang hati memakannya setelah mendapatkan ijin darinya.”


“Maaf ya, tetapi aku juga akan memakan milikmu juga dengan koneksiku, Kirito.”


Saat mendengarnya tanpa sadar Ronye tersenyum dan tertawa, seolah-olah dia paham kata-kata Eugeo.Sejak hari itu, dengan ijin dari asrama penjaga mereka berdua memutuskan untuk membersihkan dan memoles pedang oak platinum dari ruang latihan setiap hari dan memperbaiki kerusakannya setelah latihan. Itu tidak memakan waktu lama hingga mereka dengan mudahnya mengayun pedang kayu.


Mereka diam-diam berharap ingin menikmati hari-hari di akademi ini selamanya. Tetapi satu setengah bulan kemudian, Eugeo dan Kirito menyerang elite swordsman lain dengan Blue Rose dan Night Sky Swordnya ketika mencoba untuk menolong Tieze dan Ronye yang dibawa ke gereja Axiom.

__ADS_1


Setelahnya mereka melarikan diri dari labirin, melewati rintangan di gereja Axiom itu sendiri, membunuh knight terhebat didunia dan akhirnya mengalahkan dewi tertinggi Administrator yang merupakan penguasa dunia ini. Namun dalam pertarungan itu Eugeo kehabisan lifenya dan menjadi satu-satunya yang tidak akan pernah kembali.


__ADS_2