
Lantai 50 Central Cathedral yang disebut ‘Koridor Cahaya Spiritual Agung’ adalah aula pertemuan dari ‘Dewan Serikat Dunia Manusia.’ Ditengah lantai marble yang bersih, ada meja bundar raksasa yang terbuat dari platinum oak kuno, dikelilingi oleh 20 kursi.
Di salah satu kursi itu ada Kirito yang sedang mengusap-usap lehernya. Seorang pria tinggi didepannya mengomel dengan suara seperti petir yang bising.
“Harusnya kau mendengarkan kata-kataku, Prime Swordsman-dono!”
“Iya…”
“Untung saja kau tidak sampai menghancurkan apapun! Tetapi aku bersumpah atas pedangku, lain kali kau pasti akan menyesal!”
”…………………iya….”
Knight yang mengenakan armor berat berwarna kuningan mengomelinya seperti gurunya(padahal) swordsman terkuat di Dunia Manusia. Wajahnya juga memperlihatkan gurat yang ulet dan keras, rambut pendeknya menyertai tatapan matanya yang tajam, dialah Dusolbert Synthesis Seven, salah satu Intergrity Knight tertua.
“Walaupun Asuna-sama telah mengeluarkan kemampuannya, Cathedral di lantai 95 jadi penuh asap hitam! Walaupun sudah tidak digunakan, symbol dan penanda ‘Menara Kapur’ malah jadi ‘Menara Bara Api’ karena perbuatanmu! Tidak bisakah kau bayangkan seberapa sedih dan menderitanya masyarakat ibu kota melihatnya! Anda, Prime Swordsman dono, seharusnya lebih memperhatikan posisimu sebagai penanggung jawab! Walau sudah ada perangkat atau sacred art, kau harus menyerahkannya pada yang lebih berpengalaman!”
Seorang knight yang bertubuh ramping menghampiri mereka dan menyela omelan Dusolbert yang kelihatannya takkan ada habisnya.
“Sudahlah Dusolbert, Prime-Swordsman-dono sudah terlihat lemas begitu seperti namekuri
di matahari”
Pemilik suara indah beserta tawa berasal dari knight wanita yang mengenakan armor mengkilat seperti kaca dengan rambut hitam yang panjang di punggungnya. Di pinggang kirinya ada sarung pedang panjang bercorak putih, dan di tangan kanannya ada seorang bocah kecil dengan rambut berwarna nila yang sangat langka di Dunia Manusia.
“Tetapi wakil knight…”
“Rasanya aneh kalau mengulanginya terus-terusan, tetapi aku lebih takut jika Prime Swordsman-dono bisa dengan mudah melarikan diri. Kita tidak ada perbincangan dengan Dark Territory hingga bulan depan.”
Nama dari wanita cantik itu bagai bunga yang mekar, merupakan wakil knight, Fanatio Synthesis Two.Dia adalah satu-satunya knight dengan kemampuan pedang tertinggi yang memegang posisi sebagai Integrity Knight generasi kedua, walaupun tidak ada tanda-tanda kehadirannya karena sedang menggendong bocah yang tidur ditangannya.
Fanatio menoleh ke arah Kirito yang menunduk, lalu ia berkata dengan senyuman.
“Jadi begitulah, tenang saja dulu sebentar, boy.”Kirito mengangkat sedikit wajahnya dan tersenyum pahit.
“Rasanya lebih ngeri dipanggil ‘boy’ dibandingkan ‘Prime’”
“Hehe, kurasa itu mengerikan karena ada bayangan hitam dibelakangmu.”
__ADS_1
Fanatio mengalihkan pandangannya pada dimana sosok Wakil-Prime Swordsman Asuna dengan berkacak pinggang. Walau dia juga tersenyum, ada sedikit yang beda dari tatapannya.Lalu Fanatio melihat Ronye yang berdiri di samping pilar jauh dari meja bundar, ia tersenyum jahil. Tetapi dengan langsung ia mengalihkan lagi pandangannya pada Kirito dan menyentuh bahunya.
“Yah, hari ini sama sekali gak ada kerusakan yang berarti kok, dan aku takkan terlalu banyak menuduh yang aneh-aneh, malah aku akan segera bekerja sampai makan malam nanti.”
“…..iya…..”
Setelah melepaskan tangannya dari bahu Kirito, ia mengangguk dan menduduki salah satu kursi di meja bundar itu, Fanatio menatap kearah Ronye lagi. Yang merasa ditatap mendatanginya,dan dia menggendong sang bocah kecil dari tangan Fanatio.
“Ronye, maafkan aku ya, bisakah kau menjaga Berchie? Kalau dibiarkan sendiri dia pasti merusak sesuatu.”
“Tentu, ya, dengan senang hati!”
Setelah menjawab, wakil knight itu memberikan putranya yang tengah tidur itu pada tangan Ronye. Dia terkejut denngan beratnya, sebagai Integrity Knight magang, Ronye bisa mengayun satu senjata diantara senjata Dunia Manusia sebesar 2 mel sepanjang pedang dari Dark Territory, tetapi berat anak itu kelihatannya berbeda dengan berat suatu senjata.
Bocah berumur satu tahun Berchie memeluk dadanya dengan kedua tangan kecilnya dan sedikit bergumam, tetapi dengan cepat ia tidur kembali. Ronye membungkuk pada Fanatio dan kembali ke tempatnya. Tsukigaki yang menunggu,hidungnya bergerak-gerak melihat Berchie dan terlihat tertarik.
Di meja bundar, Kirito, Asuna, Fanatio, Dusolbert, serta kepala pendeta dan ketua dari beragam departemen lainnya di Cathedral duduk melingkar dan memulai pertemuan secepatnya.
“Pertama-tama, tentang pembukaan kembali barisan gunung di gua bagian selatan yang telah dilaporkan beberapa hari sebelumnya…”
“Walau memang bisa untuk menggali gua, akan lebih baik sambil membangun jalan besar di area hutan selatan”
Saat melihat percobaan penerbangan tadi pagi, tiba-tiba muncul pemikiran kalau dia merasa perlu untuk memastikan atau menolaknya. Tetapi saat Kirito terbang melewati Cathedral secepat ketika pengawas memandanginya—pergi ke jalanan pertokoan di Centoria atau ke kota dan desa lainnya di suatu tempat di Dunia Manusia yang belum pernah dijamah, sebenarnya ia ingin menemuinya dengan cepat saat itu.
Melatih Incarnation, perlu berdiri selama beberapa jam dengan satu kaki di ujung bilah besi yang tipis, tetapi menunggu selesainya pertemuan ini hanya di balik dinding malah bikin tidak sabar. Selama ada Tsukigaki disini, yang merupakan naga paling tenang dibanding Shimosaki, naga milik Tieze, aku takkan lelah bersandar di pilar ini.
Sambil berdiri dan mendengarkan diskusi secara langsung, bayi yang berada di gendongannya tiba-tiba bersin.
Walaupun tidak bangun, mungkin dia merasa dingin sehingga Ronye melangkah sedikit mendekat ke arah cahaya Solus yang berasal dari jendela besar. Warna rambut nilanya berkilauan denga wajah baby face nya, Ronye menahan napasnya sejenak untuk merasakan wajah polos bayi itu.
"……Bayi ya……"
Dia tersenyum sambil bergumam.Tetapi setelahnya, ia teringat kenangan yang bisa dibilang tidak menyenangkan, saat ia kembali ke tanah kelahirannya di area utara ibu kota sebulan lalu.Keluarga Arabel, dari generasi ke generasi adalah keluarga yang menerima peringkat ke-6 sebagai keluarga bangsawan tertua.Kehidupan tak selalu mulus.
Tanpa mendapatkan dukungan dari bangsawan senior seperti daerah kekuasaan, pendapatan yang didapat ayahnya sebagai pemimpin pleton gerbang kekaisaran sangat sedikit. Walau tidak mencukupi, tetap harus membayar pajak tinggi setiap bulan, berbeda jauh dari kelas pertama—atau kedua.
Tidak seperti para pedagang yang memiliki toko besar di tengah kota Centoria.
__ADS_1
Dia menghabiskan hari-harinya dengan bahagia, dikelilingi oleh ibunya yang sangat penyayang, ayahnya yang tegas namun ramah, dan adik kecilnya yang nakal.
Satu-satunya saat menyedihkan ialah saat di kediaman ayahnya, rumah dari bangsawan kelas4. Kakeknya yang merupakan kelas 4, meninggal saat Ronye masih bayi, dan anak tertuanya,paman Ronye, kepala keluarga yang sangat tempramen—mengambil alih rumahnya.
Bibinya melihat itu dengan liciknya mengatai gaun tua yang dipakai ibu Ronye dan semacamnya tak pantas untuk mendapatkan hak tinggal, sehingga dia tak ingin bergabung lagi.Bagaimanapun, setelah ‘Perebutan Kekuasaan 4 Kaisar’ berakhir, system kebangsawanan juga telah diperbaiki. Semua daerah kekuasaan dilepaskan. Tak ada lagi yang namanya kelas bangsawan. Hanya upah dari para prajurit yang tertinggal, seorang itu sudah cukup dan setiap bangsawan akan mendapatkan pekerjaan sebagai “Pasukan Dunia Manusia.”
Untuk mantan keluarga kaisar, perubahan ini seperti bencana, tetapi bagi Ronye, itulah jalan yang seharusnya. Era memiliki gelar tinggi dan kelas tinggi juga semata-mata hanya karena asal usulnya yang sudah berakhir dan kemampuan berpedang serta kecerdasan, sebaik pengalaman dan pengetahuan, mengijinkan orang-orang untuk mengambil posisi itu.
Kesimpulannya, bisa dikatakan kalau sekarang semua keadaan yang diberikan oleh setiap bangsawan itu, sama rata.Tetapi ada beberapa pengecualian.Secara spesifik, dari semua mantan bangsawan di Centoria, dua orang yang dibawa menjadi Integrity Knight magang: Ronye dari rumah keluarga Arabel dan Tieze dari rumah keluarga Shtolienen.
Bulan lalu Ronye kembali ke rumah orang tuanya untuk pertama kalinya sebagai knight magang. Orangtua dan adiknya belum pernah bertemu dengannya selama beberapa tahun sangat senang, terutama adiknya yang sekarang menjadi murid Akademi Master Pedang Centoria, yang ingin mencoba mengayun pedang Ronye—dan belum boleh—daripada adu panco dengannya—dan tak bisa menang—yang membuatnya sangat terkesima.Ayahnya juga menanyakan tentang kehidupannya di Cathedral, masakan ibunya adalah yang terbaik, itu adalah malam yang menyenangkan.
Hari berikutnya, kakak dari ayahnya dan keluarganya tanpa diduga datang, dan membawakan hadiah yang cukup banyak.
Selain itu, ada juga rencana pernikahan untuk Ronye.Jika Ronye telah resmi diberi gelar sebagai Integrity Knight, knight pelindung Gereja Axiom,dia akan mendapatkan banyak kehormatan dari seluruh penduduk Dunia Manusia.Perasaan ini takkan berubah walau sudah adanya reformasi “Dewan Serikat Dunia Manusia”. Sehingga sebagai pengganti dari sejumlah Integrity Knight yang gugur saat perang dunia, perasaan itu semakin bertambah.
Jika mengambil kebanggaan ini sebagai knight, status rumah dan pendapatan pun akan meningkat sekaligus—dan itu kelihatannya paman dan bibinya memikirkan ini. Mereka dari rumah anak tertua. Rumah pewaris. Mereka saling bertemu di gunung dan bangga dengan apa yang banyak mereka bawa.
Mereka berdiri tegak dihadapan Ronye.Tak peduli walaupun aku adalah knight magang, hal terpenting sebagai seorang wanita adalah melahirkan dan merawat anak.Tentu saja, mereka bilang sekalipun ketua Integrity Knight, mereka bisa memiliki anak. Tidak ada hukum yang mengatakan “Saran dariku adalah anakku”, tetapi tidak seperti itu, tidak dengan orang ini…
Di masa lalu, Kirito pernah memberi tahu Ronye dan Tieze diam-diam.Dewi tertinggi Administrator yang membuat aturan di Gereja Axiom sebelumnya yang mempunyai kemampuan sword skill dan sacred art tertinggi dari seluruh kaisar, mengubah mereka menjadi Integrity Knight.
Faktanya, mereka justru dihilangkan ingatannya dengan teknik terlarang bernama ‘Synthesis Ritual’ dan mereka malah diberikan ingatan yang salah kalau mereka itu dipanggil dari dunia lain.
Tentu saja itu mengerikan, tetapi berdiri didepan paman dan bibinya Ronye tak menganggap itu ide yang bagus untuk meluruskan perintah Administrator.Perasaan yang menekan ini seolah ia ingin membuat asap dengan sacred art dan melarikan diri, Ronye sulit menjelaskan kalau ada kewajiban penting sebagai seorang knight, bukan untuk daerah kekuasaan, tetapi untuk anak-anak kelak.
Bagaimanapun, paman dan bibinya tidak percaya dan marah lalu mengatai Ronye pasti dilayani dengan mewah di Cathedral setiap hari. Itu membuat ayahnya marah sehingga akhirnya mereka melarikan diri, dan dia lolos dari bahaya.
Tetapi—
Di pikirannya, Ronye tak bisa berhenti mengucap “terima kasih ayah” dan membungkuk.Ayah mengatakan padaku bahwa aku harus menikahi pria yang benar-benar ingin menikahiku. Tetapi dalam pikirannya yang paling dalam, dia hanya ingin melihat cucu sesegera mungkin. Tidak, baik ayah maupun ibu juga terlibat dengan anaknya yang menjadi Integrity Knight.
Jika bukan untuk perang, maka Ronye akan lulus dari Akademi Master Pedang, menikahi bangsawan kelas 2 atau 3, mengikuti langkah kaki nenek moyangnya dari keluarga Arabel.
Jelaslah bahwa setidaknya mereka ingin Ronye menikah dan memberikan mereka seorang anak.
Sebisa mungkin ia ingin memenuhi permintaan itu jika ia bisa.Tetapi Ronye meninggalkan kampung halamannya dan kembali ke Cathedral dan memohon maaf dari lubuk hatinya yang terdalam.
__ADS_1
"Maafkan aku ayah, ibu, mungkin aku tidak akan menikah saat ini dan tak bisa memberikan kalian anak,Karena perasaanku takkan pernah teraih pada orang itu."