
2 pedang,satu besar,dan satu tas kecil,gadis yang dipanggil Ronye ini dan salah satu bawaannya yang berat—membawa itu semua dengan kedua tangannya,Kirito bergerak menuju jarak 10 kilometer dengan teknik terbang aerial element.Dia mengetahui kalau batas kemampuan sacred artnya untuk terbang secara stabil di Dark Territory adalah sekitar 10 kilolu.
Selama terbang,tentu saja Ronye sangat dekat dengan Kirito sampai-sampai ia terus merasa degdegan,tetapi karena ia membawa barang yang berat di kedua tangannya,ia merasa kalau degup jantungnya itu tidak akan terasa.Mereka berhenti di jalanan yang lebar menuju kota dan kastil Obsidia.
Bebatuan yang halus seperti marble,dan banyaknya manusia,setengah-manusia,dan kereta yang saling berlalu lalang seperti di siang hari.Mungkin saja saat ini masih jam 10 malam karena tidak terlihat bayangan.
—Dan jam 10 itu biasanya adalah waktunya Ronye tidur,saat kakinya menyentuh tanah, dia merasakan kelelahan dan rasa kantuk usai melakukan perjalanan jauh,namun ia menggeleng-geleng kepalanya. Misinya sebagai pengawal baru saja dimulai,Atau yang dia pikirkan.
“Jadi, ayo kita cari penginapan disebelah sana.”
kata Kirito sambil membetulkan posisi Night Sky Sword di pinggang kirinya.
Ronye berkedip-kedip bingung.
“Um…kita tidak akan pergi ke kastil?”
“Gerbangnya sudah ditutup, dan Issukan pasti sudah tidur. Jika penjaga melihat ada yang menyelinap di malam seperti ini, mereka akan berpikir itu adalah pembunuh.”
“…pasti begitu ya…”
Walaupun mereka sudah menyelidiki seluruh penjuru Underworld untuk mencari pembunuh misterius yang membunuh petugas kebersihan penginapan,Yazen di Centoria selatan yang membuat goblin gunung muda,Oroi sebagai tersangkanya namun pada akhirnya itu adalah kesalahan,ini adalah cerita yang tidak lucu.
“Aku mengerti. Tetapi penginapan mana yang bisa ditempati manusia dari Dunia Manusia tanpa ada masalah…?”
Sebelum menjawabnya,Kirito mengambil sesuatu dari tas kulitnya dan mengeluarkan benda kecil.Sebuah botol kecil yang tertutup rapat.
“Maaf Ronye, permisi sebentar.”
Sambil mengatakannya,Kirito membuka botol kecil itu dan mengambil isinya dengan jarinya.Dan ia mendekatkan wajahnya pada Ronye.
“Uwah!”
Tangan Kirito mengoleskan sesuatu yang lengket ke wajahnya,hingga Ronye merasa kaku.Kirito terus mengolesnya ke dahi,telinga, dan pipinya.Lalu ia pun mundur.Melihat Ronye dan mengangguk.
“Yah, kelihatannya cukup.”
“…a-apa ini…?”
Ia menyentuh wajahnya,tetapi rasa lengket itu hilang, dan tak ada yang menempel di jarinya.Kirito tidak menjawab pertanyaannya, ia juga menggunakan benda itu di wajahnya. Kulitnya yang putih sebagai manusia dari Dunia Manusia.Sedangkan Ronye dan Tieze yang lahir di Norlangarth,berwarna lebih gelap.
Hanya dalam beberapa detik saja,wajah Kirito berubah warna seperti teh kohiru.Dia seperti orang Southacroith,atau mungkin satu-satunya di Dark Territory…sambil
memikirkannya,akhirnya Ronye pun menyadarinya.
“Ah…apakah ini untuk menyamar sebagai penduduk Dark Territory?”
“Yap, kita memiliki warna rambut yang gelap, dan sekarang sedang musim dingin, kurasa gak mungkin untuk merubah warna wajah kita.”
Mendengar itu,Ronye menyadari kalau wajahnya telah berubah warna saat ia memegangnya dengan kedua tangannya. Ketika Kirito melihat sekilas kearahnya, dia mengatakan “bagus,lumayanlah” dengan senyuman, Ronye merasakan kalau telapak tangannya jadi memanas.
“Lalu senpai, ini bisa dicuci kan?”
Ronye bertanya dengan nada khawatir,Kirito buru-buru mengangguk dengan dahinya yang berkerut.
“Tentu saja, Kutokonia-san, si apoteker bilang ini akan hilang sendiri dalam 8 jam.”
__ADS_1
“Itu…terbuat dari apa?”
“Sebaiknya kau tidak perlu tahu ya, hehe”
Setelah bergumam di kalimat terakhirnya, Kirito menepuk rambut Ronye yang berantakan,dan melihat ke arah timur.
Di Centoria,ada gerbang besar dan ruang penjaga di setiap sisi kota,tetapi itu kelihatannya tidak ada yang seperti itu di pinggiran kota Obsidia, jumlah bangunan disana memang bertambah sedikit demi sedikit di setiap sisi jalanan.Tidak ada penjaga yang terlihat.
“Sejauh ini bagus.Kurasa jika ada yang menanyakan tentang identitas kita…um,kita datang dari Faldera untuk mencari pekerjaan di daerah utara fu—ah,dan katakan saja kalau kita ini kakak beradik.”
Ronye melepaskan tangannya dari pipinya dan menanyakan kata-kata yang baru ia dengar dari Kirito.
“Ano…apa itu Faldera?”
“Itu nama kota yang berjarak sekitar 30 kilolu barat daya dari sini.”
Sebenarnya ia ingin tahu kelanjutan dari ‘fu’ yang tadi Kirito ucapkan, tetapi ia menahan rasa ingin tahunya itu dan mengangguk.
“Aku mengerti, ayo pergi, senpai.”
Ronye mengenakan tudung ke kepalanya, mengambil pedang panjang yang belum ia beri nama di tasnya dan menggantungnya di pinggang.Sebelum ia mengambil tasnya,Kirito lebih dulu mengangkatnya.
“Ah…senpai, biar aku saja yang membawa tasku…”
“Tidak tidak, sekarang aku adalah kakakmu dan kau adalah adikku. Kakakmu lah yang akan membawakan barang-barang adiknya.”
Dengan senyumnya, Kirito membawa tas Ronye di tangan kanannya,dan dengan menggantungkan tas kulitnya di bahu kirinya dia mulai berjalan.Ronye menggelengkan kepalanya cepat saat membayangkan bagaimana ia harus memanggil Kirito nanti saat memasuki kota,ia pun mengejarnya.
(otomatis Ronye akan memanggilnya dengan sebutan ‘oni-chan’XD terbayang betapa degdegannya dia.)
Setelah mereka berjalan sebentar di jalanan tengah malam,disekitar mereka pun menjadi terang,dan disaat yang sama ada beberapa manusia dan setengah-manusia terlihat, Ronye merasakan perasaan lega dan tegang bersamaan.
“Apa yang menyala didalam lentera itu?”
Dengan segera Kirito menjawabnya.
“Itu biji-bijian yang bisa ditemukan didekat gunung, satu kepalan biji itu bisa menyala selama 10 hari.”
“Wow, itu sangat membantu sekali ya?”
“Jika dibawa ke Dunia Manusia dan menjualnya,harganya bisa sangat tinggi, tetapi agak merepotkan membawanya karena batu itu akan terbakar begitu saja dengan sendirinya jika tenggelam ke air,jadi agak susah untuk membawanya ke tempat yang jauh.”
Mereka berjalan sambil mengobrol hingga sampai di tempat yang terlihat ramai. Berbentuk kotak kecil dengan tenda yang berjumlah banyak disekitarnya,banyak orang-orang yang sedang minum dan berkumpul di meja yang lurus ditengahnya.
Setengah dari mereka adalah manusia dengan kulit gelap,ada juga beberapa goblin dan orks,namun mereka di meja yang lain. Walaupun “Perjanjian Perdamaian Ke-5 Kubu” telah disetujui dan berlaku di Dark Territory, konfrontasi antara suku disana masih belum hilang…Ronye memikirkan itu dibelakang Kirito, namun Kirito berkata.
“Hey, melihat mereka semua minum ditempat yang sama seperti ini adalah perubahan yang besar.Lihat, ada petarung tangan kosong dan sekelompok orks yang sedang mengobrol satu sama lain di meja yang bersebelahan,iya kan?”
“Oh ya benar, kelihatannya mereka saling bersulang.”
Para petarung tangan kosong itu hanya menutupi sedikit bagian kepalanya,walaupun ini sudah bulan Februari.Kendi kayu itu mengeluarkan suara,ork yang duduk disampingnya bersulang dengannya.Melihat situasi itu dari pintu masuk,Ronye bergumam apa yang ia pikirkan.
“Selama Perang Dunia Asing, pasukan ork datang membantu para petarung tangan kosong…mereka menganggap ”Swordsman Hijau” yang memimpin mereka sebagai dewi.”
Ronye belum pernah bertemu dengannya, tetapi ia tahu kalau “Leafa si Swordsman Hijau” yang menghilang saat perang berakhir adalah adik Kirito di dunia nyata.
__ADS_1
Kirito sedikit menoleh padanya sesaat,lalu ia kembali berekspresi seperti biasanya dan mengangguk.
“Ya, itulah alasannya mengapa kita dapat membuat perjanjian dengan Dark Territory secepatnya,itu semua berkat Leafa.Itulah kenapa kita harus melindungi perdamaian ini apapun yang terjadi.”
“…benar”
Ronye membalasnya dan menyadarinya bahwa ia ingin melupakannya,kegelisahan yang mengganggunya seperti gelombang yang tiada henti. Ini tidak mengambil waktu lama sebelum Kirito melanjutkannya.
“Yah, ini memang terlambat tetapi kita harus. Aku gak pernah tahan kalau ada pasar makanan seperti ini.”
“Oh…apakah kita akan makan disini?”
“Lihat, ada bau yang enak dari semua tenda itu…pasti akan sulit kalau ada Fanatio-san dan Dusolbert-san”
Kirito menggenggam tasnya dan masuk kedalam kerumunan itu setelah merasa yakin. Mau bagaimapun Ronye harus mengikutinya, aroma harum terasa menggelitik hidungnya dan mengingatkannya kalau ia sendiri lapar.
Ada 6 tenda yang berbaris disana, tetapi dari pertama tidak jelas kalau mereka itu menjual apa.Disaat seperti ini jika Ronye sulit memilih sesuatu, ia pasti akan bertanya pada Tieze yang bisa langsung memutuskan, yah tapi kali ini sahabatnya itu tidak ada disampingnya.Ia harus mempercayai lidah dari Prime Swordsman yang sedang bergumam “itu tusuk daging panggang, itu enak…tetapi kalau disaat seperti ini kurasa mie dengan sup yang disebelah sana, ah tidak, apakah roti yang disebelah sana saja ya…” sambil melihat tendanya satu persatu.
Biasanya juga, Eugeo-senpai yang memutuskannya untuk Kirito-senpai, jadi tidak aneh jika dia kebingungan…setelah menyadarinya dan tersenyum sesaat, Ronye menarik baju Kirito.
“Oh senpai, sebelum itu, apakah kau punya uang lokal disini?”
“…………….”
Kirito menoleh kearah Ronye dan raut wajahnya langsung berubah kecewa.
Ada 4 jenis pecahan uang di Dunia Manusia: 1000 koin shear emas, 100 koin shear silver, 10 koin shear tembaga, dan 1 koin shear nikel. Ada juga yang bilang kalau ada 10 ribu koin emas putih, tetapi tidak banyak dimiliki oleh orang biasa dan bangsawan kelas bawah, karena itu hanya digunakan untuk transaksi antara pemerintah dan pedagang besar.
Bagi Ronye, ia selalu memakai koin shear, tetapi karena itu adalah simbol dari Dewi Stacia dan Gereja Axiom, tentu saja takkan berlaku di Dark Territory, dengan kata lain, uang yang lain diperlukan disini.Kirito kelihatannya menyadarinya,ia kemudian menurunkan bahunya.
“…kau tahu, di Cathedral kita tidak pakai uang, jadi aku benar-benar lupa…”
“Apakah…apakah kau sama sekali tidak bawa satu shear pun atau…?”
Seperti anak kecil yang ditegur gurunya,Kirito mengangguk.Ronye tidak tahu harus berkata apa.Ia hanya memandangi wajah dari Prime Swordsman itu beberapa saat.
(WTF datang jauh-jauh ke Dark Territory tapi gak bawa duit xD)
Di belakang sabuk pedangnya yang selalu Ronye pakai, ada 1000 shear emas, namun tentu saja takkan bisa digunakan.Dia pun menyadarinya kalau masalahnya jadi rumit, dan bertanya pada Kirito lagi.
“Jadi…itu berarti kita tidak akan bisa ke penginapan…?”
“Umm…kurasa…begitu” Ronye menghela napasnya untuk alasan yang tidak dimengerti ini.
“Dan kalau kita tak punya uang sepeserpun, bagaimana membayarnya?”
“Yah, mungkin berbagi secara otomatis dari penyimpanan…”
Kirito memandangi tenda dengan tatapan ‘aku belum menyerah’ dan melihat ke arah kastil raksasa di langit malam itu.
“Gak bisa…ayo berdoa saja semoga Issukan masih bangun dan kita bisa menyusup kedalam kastil”
–kata senpainya itu, padahal baru saja dia mengatakan kita akan dicurigai sebagai pembunuh!Ronye hanya menarik napasnya dan mencoba memikirkan seuatu,Dari atas kedua orang yang sedang berbisik itu, seseorang dengan tubuh besar muncul.
"...... !?"
__ADS_1
Ronye mengangkat wajahnya, spontan memegang pedangnya di pinggang kirinya. Itu adalah raksasa yang berdiri didepan mereka.Tingginya sekitar 1 mel 19 cen. Ototnya yang bergelombang di dada telanjangnya, mengunakan ikat kepala kulit dan bekas luka yang tak terhitung jumlahnya di kulit kemerahannya menandakan bahwa ia adalah petarung tangan kosong.Cahaya lentera yang samar tidak cukup terlihat apakah dia terlalu mabuk atau apa,atau memang wajahnya alami berwarna merah.
“Hey nak, perlu uang untuk makan?”