
Bayi Berchie terbangun dan menyela pembicaraan Ronye dengan tangisan rengekan kecil.Dengan cepat, ia menggoyang-goyangkan tangannya dengan gugup mencoba menenangkannya.Tetapi tak ada tanda-tanda rengekan itu akan berhenti.
“Hey, anak baik, anak baik”
Dia mencoba membuat bocah itu senyaman mungkin, tetapi wajah bocah itu malah terlihat siap untuk menangis,Sebelum itu, ia mengangkat tangannya dan mengangkat bocah itu tinggi-tinggi.
“Dia tidak akan puas hanya dengan itu,”
Yang berdiri disana adalah ibunya, Wakil Knight Fanatio. Tersenyum penuh kehangatan di wajah cantiknya dengan rambut hitam yang lembut.
“Layar yang tinggi!”
Dia mengangkat bayi Berchie dan menggoyangnya di langit, itu hanya gerakan yang langsung, tetapi tercipta dari kekuatan Integrity Knight.Ketika bocah itu berputar di udara, rambutnya berkilauan di langit, bagai sampai di langit-langit “Koridor Cahaya Spiritual Agung”.
"Nah....... Fuanah...... ah, aboo......!"
Ronye menghentikan suara anehnya. Seorang anak laki-laki berhenti tepat ditempat dimana dia hampir menyentuh dinding lukisan, dan mulai menunduk.Dan lagi, dia jatuh tepat di kedua tangan ibunya. Dia tertawa dengan suara yang indah.
“Memang ya, masa depan itu urusanku. Ronye, terima kasih sudah menjaganya, aku akan berusaha lebih keras mulai sekarang”
Fanatio tersenyum dan melambaikan tangan kirinya, pergi duluan ke pintu keluar.
Pertemuannya sudah berakhir, diikuti Dusolbert dan kepala departemen lainnya.
“…itu adalah cara lain untuk menggendong anak itu…”.Dia mendengar suara bisikan mengagumkan dari Kirito, berdiri dengan wajah yang agak khawatir.Disampingnya ada Asuna yang tersenyum lembut.
“Yah yah, mereka akan menjadi knight dan mengendarai naga, bukankah bagus untuk mengenalkan tempat yang tinggi pada anak-anak?”
“Dengan bayinya dan bayi Scheta, kelihatannya masa depan jadi tidak me…ah maksudku menyenangkan.”
Kirito menggelengkan kepalanya dan menaruh kedua tangannya di pinggang.
“Hari ini pekerjaan juga sudah selesai, aku mau melihat sebentar ke tempat versi kedua.”
“Oh…uhhhh? Apa kau sudah siap untuk yang selanjutnya?”
“Yang itu mengagumkan—ada kompresor uap diantara mesin thermal dan daya tolaknya, seperti sebuah turbo…”
“Ya, Kirito-kun, kau harus mementingkan keselamatan dulu sebelum menambah kekuatan!”.Sambil bercakap-cakap santai,Ronye mengangkat tangannya.
“Ah…itu…maaf, Kirito-senpai…”
"Hmm?"
__ADS_1
“Oh, aku…ada pertanyaan…ada yang ingin kutanyakan…”Agak kaget, Kirito mengedip -ngedip matanya sesaat, setelahnya ia tersenyum danmengangguk.
“Oh iya bagus, kalau begitu, kenapa kita tidak minum teh sebentar? Bagaimana denganmu, Asuna?”Menatapnya lurus, Wakil Prime Swordsman bergumam.
“Sebenarnya aku mau pergi denganmu, tetapi setelah ini aku akan pergi latihan sacred art di perpustakaan besar”
“Begitu ya, librarian generasi kedua sangat menakutkan, sebaiknya jangan sampai melewatkan…”
“Itu hanya untuk siswa yang tidak serius.”
Asuna tersenyum pada Kirito dan menepuk bahunya dan pergi duluan melewati Ronye.
“Oh ya, Ronye-san, saat minum teh nanti, pastikan Kirito tidak terlalu banyak makan makanan manis.”
“A-aku mengerti!”
Ronye menundukan kepalanya dan melihat sekilas ke arah Kirito yang menggumam tidak jelas saat Asuna berjalan meninggalkan refleksi berwarna pelangi. Kirito menunggu hingga dia menghilang di pintu besar utara dan barulah berbalik.
“Kalau begitu, ayo…ah sudah lama juga ya, bagaimana kalau di lantai 80? Dan Ronye, aku ingin makan kue Yukimomo”
“Baiklah, aku akan mengambilnya beberapa dari dapur.”
“Dua saja…eh tiga saja lebih baik deh, saat kau mengambil kuenya, aku kesana duluan ya!”
“…Lebih baik untuk ambil semuanya”
Di dapur besar di lantai 10, Ronye menemukan kue berbentuk bulat dengan taburan gula bernama Yukimomo—kue paling special—dan menaruhnya didalam keranjang beserta teko teh dan kemudian berjalan ke lantai ke-80 Cathedral.
Lift otomatis membawanya. Pada mulanya lift ini dioperasikan oleh tangan manusia, tetapi sekarang, gadis yang pernah bekerja di lift otomatis ini telah dibebastugaskan dari seluruh pekerjaannya dan ada yang bilang saat ini dia dapat menjadi pemilik sacred art skill tertinggi yang dia pegang di gudang senjata.
Lantai 80 Central Cathedral disebut juga “Kebun Awan Tertinggi”, yang berisi kebun bunga dalam ruangan. Di tengah-tengahnya terdapat padang rumput luas yang berhiaskan beragam jenis bunga yang tak terhitung jumlahnya.
Dan seseorang yang melambai dari atas bukit itu,ia adalah sosok Prime Swordsman Dunia Manusia dengan pakaian hitamnya.
Kirito berdiri dengan tangan kanannya yang berada di pohon olive muda yang tumbuh di tengah bukit.Ia tersenyum saat Ronye muncul.
“Oh, maaf ya karena mengganggumu”
“Tidak apa-apa, ini juga kan tanggung jawab seorang valet.”
Kembali tersenyum, dengan cepat Ronye menggelar sebuah tikar. Dia mengambil cemilan dari keranjang yang dibawanya lalu memotong-motongnya menjadi potongan yang besar untuk Kirito yang kedua matanya berbinar-binar seperti anak kecil. Dia mengambil satu potong untuk dirinya dan Tsukigaki, lalu menuangkan teh kedalam dua cangkir dan berkata.
“Silakan ini untukmu.”
__ADS_1
“Selamat makan!”
Berseru, Kirito mulai memenuhi mulutnya bagai berlomba dengan si naga, Tsukigaki.
Melihat pemandangan itu, Ronye merasakan perasaan yang hangat dari lubuk hatinya.
Disaat seperti ini, saat aku sedang bersama Kirito-senpai seperti ini dan merasakan perasaan senyaman ini, aku hanya berharap satu hal. Aku harap aku punya sacred art membekukan waktu…dan aku akan mengabadikan saat seperti ini selamanya.
Tetapi tentu saja tak ada sacred art untuk manipulasi waktu. Tak ada yang bisa kembali ke masa lalu. Dan tak ada yang bisa mengentikannya. Hanya terus bergulir.
Karena waktu yang bergulir secara alami, dunia ini telah mengatasi banyak krisis terbesar dan juga tidak mustahil mendapatkan kedamaian sempurna.
Suatu hari nanti saat Ronye akan menjadi Integrity Knight resmi, hari itu akan datang, dimana dia akan mengendarai punggung Tsukigaki yang telah tumbuh besar dan menapak langit. Tentu saja, dia telah melihat itu semua. Tetapi di saat ini, ada harapan lain yang menutupinya. Hentikan waktu, hentikan.
"....... nye. Ronye?".Ronye yang mendengar suara Kirito langsung mengangkat wajahnya.
“Oh maaf! Apa masih mau lagi?”.Melihat piringnya yang telah kosong sambil berkata begitu, Kirito memiringkan sedikit kepalanya.
“Jadi sebenarnya, hal apa yang ingin kau tanyakan padaku?”
"Ah……!".Akhirnya ia mengingat kata-katanya, dengan terburu-buru Ronye menjawab.
“Uh…yah…itu tentang mesin naga yang senpai buat…uh…hal tentang itu.”
Kirito mengangguk sekenanya sambil menerima 2 potong kue lagi dari Ronye.
"Yup"
“Uh…terkadang…kupikir…tidak, aku khawatir…”
Tanpa sadar Ronye memalingkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, dan berkata lagi dengan suara pelan.
“Bisakah…rencana yang senpai buat itu…untuk melompati ‘Dinding Ujung Dunia’ denganmesin naga itu?”
Saat mendengar suara Ronye yang aneh itu, Kirito hampir tersedak, ia menepuk dadanya dengan tangan kirinya. Dengan cepat Ronye memberikan cangkir teh padanya, hingga senpainya itu menarik napas panjang.
Setelahnya, pemuda berambut hitam itu tersenyum seperti saat Ronye pertama bertemu dengannya.
“Tentu saja, aku bisa!”
“…sesuatu yang tidak kusangka dari seorang trainee. Sebuah kemampuan untuk tetap dirahasiakan. Jadi tolong ya?”
“Ya, akan kulakukan.”
__ADS_1
Mengangguk dan tidak mengatakan sesuatu yang special, Kirito mengusap pipinya. Ronye menatapnya sesaat, bingung...