
Scheta Synthesis Twelve.Sama seperti Fanatio dan Dusolbert,ia adalah Integrity Knight senior,ada rumor yang mengatakan kalau kekuatan pedangnya hampir menyamai mantan pemimpin Integrity Knight,Bercoulli Synthesis One.
Mereka bilang tak ada yang bisa menghindari tebasan dari divine objectnya, “Black Lily Sword” yang diberikan Dewi Tertinggi Administrator di Perang Dunia Asing,dengan membantu pasukan utama para petarung tangan kosong, dan dengan berani bertarung dengan para pasukan crimson.
Setelah perang berakhir, dia meninggalkan Central Cathedral dan tinggal di kastil Obsidia untuk memenuhi kewajibannya sebagai wakil Dewan Serikat Dunia Manusia.Dengan kata lain, ia pasti adalah orang pertama yang akan dihubungi Kirito dan Ronye—tetapi pertanyaannya, bagaimana cara Kirito memanggil Scheta kesini, masih belum terjawab.
Kirito mengayunkan ‘Blade of Mind’ ke arah kastil, dan Scheta adalah orang pertama yang menyadarinya lalu terbang menghampirinya—itu kelihatannya adalah keberuntungan dari ide yang terlalu sembrono.Menahan keingintahuannya untuk bertanya, Ronye tetap memperhatikan percakapan mereka berdua.
“Maaf mengejutkanmu, Scheta-san, tetapi hanya dengan cara inilah aku bisa memanggilmu…”
Saat Kirito melepaskan tudungnya dan meminta maaf, Scheta tersenyum pahit di wajah dinginnya yang cantik.
“Tentu saja aku terkejut, saat aku menyadari ada yang melemparkan ‘Blade of Mind’ dari sisi sungai, kupikir komandan Bercoulli bangkit kembali.”
Dia berbicara dengan sederhana namun terus terang, tetapi kelihatannya ada banyak kata kata yang terdengar lebih lembut dari sebelumnya.
“…tetapi, kenapa bisa ada ditempat yang sama denganku"
Mendengar pertanyaan Scheta, Kirito mengangkat bahunya.
“Karena dari sini aku merasa…sangat gelisah”
Scheta masih berekspresi sama dengan wajah yang kecewa.
“…kupikir aku sudah berhenti berkeringat, tetapi latihanku masih kelihatan dari jarak sejauh itu.”
Mendengar percakapan itu, Ronye menyadari kalau Kirito tidak hanya beruntung saat melemparkan ‘Blade of Mind’ tadi. Dengan melebarkan kelima jarinya yang tadi ia lakukan, dia mencari keberadaan Scheta. Bagi Ronye, itu adalah misteri yang tak bisa terpecahkan, tetapi—
“Oh senpai, walaupun kau mempunyai kemampuan hebat, kau lebih mirip seperti anak kecil yang melemparkan batu ke jendela….”
Ronye mengatakannya begitu saja, ia tertawa ke arah Kirito yang menoleh padanya.
“Apakah Ronye pernah melihat orang itu melakukannya?”
“M-mana mungkin aku begitu!”
“Kalau begitu kenapa kau…”
“T-tidak itu bukan aku!”
Ronye buru-buru menyangkalnya, senyum kecil terlihat di wajah pucat Scheta.
“Pasti menjadi perjalanan panjang menuju kemari. Sebaiknya kita beristirahat di kastil.”
Scheta memberi sinyal dengan tangan kanannya dan Yoiyobi berbaring.Tidak ada pelana,tetapi mereka bertiga bisa naik bersama. Ronye didepan,Kirito dibelakang dan Scheta ditengah, mereka mengendarai naga dengan mudahnya setelah berlari sebentar dari sisi sungai,tanpa takut berat dari 2 divine object,yaitu pedang yang mereka bawa.
__ADS_1
Dengan kuat mengepakkan sayapnya lalu melayang diudara, sang naga terbang menuju bagian paling atas kastil Obsidia.Para penjaga melihat mereka, tetapi mereka tahu kalau itu adalah naga yang berkuasa disana, sehingga mereka tidak terlihat terganggu.
Yoiyobi terbang menuju bebatuan itu sekitar 2 menit, dan ketika dia menurunkan mereka ber-3, dia bersuara seperti mengucapkan selamat tinggal, dan terbang kembali ke balik dinding.Saat tubuh naga raksasa itu hilang, Ronye berjalan di tangga kastil Obsidia dan melihat tempat dimana Kirito menembakkan ‘Blade of Mind.Dia agak takut untuk melihat kerusakan yang besarnya lebih dari 1 sentimeter yang terukir jelas disitu.
Mereka pasti akan marah…jangan sampai…lalu Ronye mengalihkan pandangannya ke pemandangan didepannya, dan seketika ia lupa apa yang ia khawatirkan beberapa detik yang lalu.
“Wow, ini menakjubkan!”
Dia bisa melihat seluruh kota Obsidia dengan kedua matanya. Yang ramai dengan suasana kota di satu tempat, sangat berbeda dengan Centoria yang terpisah dalam 4 bagian yang sama di satu lingkaran, tetapi apa yang ia lihat adalah hampir semuanya bercahaya dengan kekuatan life.
“Hey, area kota itu, bukankah itu terbentuk oleh beberapa dinding…a-ah, apakah itu stadium? Itu besar sekali senpai!”
Ronye yang keheranan itu mendengar suara Scheta dari belakang.
“Banyak sekali tempat disini yang harus dilihat, jadi aku menyarankan untuk melihatnya jika ada waktu.”
Setelah melihat ke arah Ronye, ia berbalik dan menunjuk Kirito.
“Kau datang dengan menyamar, apa terjadi sesuatu di Centoria?”
“Begitulah”
Mengangguk, Kirito meluruskan punggungnnya.
“Aku ingin membicarakan hal yang penting denganmu dan komandan Dark World, Issukan.”
Ini pasti kamar pribadi Scheta-sama, sedikit mengejutkan dia memiliki selera seperti ini…pikir Ronye, tetapi dia menyadari kalau ternyata kamar ini bukanlah miliknya.Ada tempat tidur kecil berukuran panjang 1 mel di sisi lain dekat perapian itu, dan Scheta berjalan kesana, dia terlihat lebih cerah dengan senyumannya.
Scheta memberi isyarat pada Kirito dan Ronye yang berdiri di pintu masuk. Mereka mendekat dan melihat ke tempat tidur itu, dimana ada bayi yang mengenakan pakaian putih sedang tidur.
Sudah 3 bulan semenjak kelahirannya, rambutnya berwarna merah gelap. Kedua tangannya memegang kepalanya yang kecil itu.
Aku mendengar rumor kalau bayi itu adalah putri dari Integrity Knight Scheta dan petarung tangan kosong Issukan.Dia pasti perempuan…memikirkannya, Ronye bertanya langsung pada ibunya dengan sedikit berbisik.
“…siapa namanya?”
"Lisetta."
Scheta menjawabnya dengan senang, melirik sekilas ke arah Kirito.
“Kami memilih namanya atas saran Swordsman hijau Leafa.”
“Eh gitu ya? Aku gak tahu…”
Gumam Kirito sambil tersenyum melihat bayi yang tertidur itu.Tiba-tiba ada suara yang memecah keheningan, suara pintu terbuka dan dengan lembut terdengar seperti:
__ADS_1
“Lisa-chan, waktunya minum susu…”
Yang masuk itu adalah seorang pemuda yang membawa nampan dengan kedua tangannya. Ada ikat kepala berwarna silver terikat dikepalanya dengan rambut merahnya yang agak keriting, walaupun ini musim dingin, dia hanya mengenakan kaus rami tipis. Dan dibawahnya ia mengenakan celana dan sandal, tubuhnya yang berotot dan bekas luka yang tidak terhitung hingga bahunya. Satu matanya hilang, mata kanannya. Ia terlihat seperti seorang prajurit kuat.
Tetapi di sisi lain, ia tersenyum lepas di wajah mudanya, sangat mirip dengan Kirito ketika ia sangat senang memakan pie madu. Ronye sedikit membuka mulutnya melihatnya.Lalu setelahnya pria bermata satu itu menyadari kehadiran Ronye dan Kirito yang berdiri di samping tempat tidur, senyumnya langsung hilang. Alis tebalnya menekuk, dan pandangannya berubah jadi terkejut.
Sebelum dia hendak berkata sesuatu, Kirito langsung mengangkat tangan dan ia pun menyapanya.
“Hey Issukan, sudah lama ya!”
Lalu komandan pasukan kegelapan dan pemimpin petarung tangan kosong itu membuka lebar mata kirinya seolah hampir keluar.
“I-i-itu kau Ki-Ki-Kirito? Apa yang terjadi dengan warna wajahmu—ah tidak, kenapa kau ada disini? Jadwal pertemuan berikutnya kan bulan Maret depan!”
“Yah, ada urusan mendadak, maaf mengganggu.”
“Ya gak apa-apa sih, tapi tidak, tunggu-tunggu sebentar.”
Alis Issukan menekuk lagi karena heran. Scheta mengambil nampan yang ada ditangan suaminya.Tidak bereaksi,petarung tangan kosong itu menundukkan kepalanya.
“Kirito…apa kau…apa kau dengar yang tadi kukatakan…?”
“Yang tadi…? Um tentang susu itu? Heeehh, Issukan sekarang benar-benar jadi seorang ayah ya! Hahaha!”
“Hahaha. Karena kau sudah mendengarnya kau tidak akan pulang dengan selamat, dengan pukulan ini akan kuhancurkan ingatanmu yang barusan dari kepalamu!”
(WTF Issukan cuma malu aja Kirito mendengar itu XD)
Issukan mengepalkan tangan kanannya, muncul api semi-transparan dari kepalannya.
“W-waa s-se-se-senpai…!”
Kirito menahan Ronye yang belum tahu apa yang harus dilakukan seorang pengawal disaat seperti ini, dengan tangan kanannaya.
“Ayo sini!”
"U~ra-ra-ra…!!"
Dengan seruannya, Issukan menapak lantai, membuat warna merah di udara, dan pukulannya yang cepat itu hampir tidak terlihat oleh kedua mata Ronye,dan mengarah ke telapak tangan Kirito.
Terdengar suara ledakan dan getaran sampai ke tirai-tirai. Itu benar-benar kekuatan yang cukup besar, tetapi Kirito tetap berdiri ditempatnya dan mengubah sedikit posisinya, memegang kepalan tangan Issukan dengan satu telapak tangannya.
Pemimpin petarung tangan kosong dan Prime Swordsman Dunia Manusia itu terdiam sejenak dengan posisi Kirito masih menahan kepalan tangan Issukan, hingga setelahnya dia mengangkat wajahnya dan tertawa.
“Menurutku kau jadi lemah, Kirito.”
__ADS_1
“Dalam mimpimu, Issukan.”
Disisi lain mereka berdua yang tersenyum, Scheta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih memegang nampan. Ronye menoleh ke arah tempat tidur Lisetta apakah dia bangun, tetapi putri dari knight terkuat dan petarung tangan kosong terkuat di Dark Territory itu tetap tertidur dengan tenangnya tanpa terlihat terganggu.