
“Ayo pergi”
Kata Issukan dengan berani, melangkahi tangga, diikuti Scheta, Kirito, dan Ronye.
Walaupun hanya tersisa satu lantai lagi, entah kenapa rasanya berjalan ke lantai 50 terasa lebih panjang dan lambat kebanding dari lantai pertama ke lantai 40. Setelahnya mereka melihat 2 pintu berwarna hitam didepannya. Seperti yang dikatakan, ada rantai besar yang besarnya sekitar 10 senti menghalangi bagian kiri dan kanan pintu. Rantai itu mengikat kuat,tidak menggantung diudara.
Dengan pelan Issukan mendekati pintu besar itu dan menyentuh rantai berwarna abu dengan tangan kanannya, lalu ia berseru ‘dingin!’ dan menarik tangannya kembali. Namun ia memegang kembali rantai itu dengan kuat, mencoba menariknya dengan seluruh tenaga, tetapi rantai itu tetap tidak bergerak, hanya terdengar suara deritan metal.
“Aku memang tidak bisa membukanya…”
Dia menyentuh pintu hitam dengan tangan kanannya didekat rantai itu. lalu menempelkan telinga kanannya di pintu.
“Aku tak dengar apapun…tetapi jika Lisa ada di kastil ini, dia pasti ada disana…”
Issukan mundur beberapa langkah lalu menurunkan sedikit pinggangnya, menyiapkan kuda kuda.Cahaya api muncul dari kepalan tangan kanannya, udara dingin disekitarnya terasa bergetar,Ronye memundurkan sedikit langkahnya.Saat dia akan menghancurkan segel itu dengan tangan kosong, Kirito maju selangkah didepannya.Berjalan begitu saja tanpa terkena dorongan apapun, dia mengepalkan tangan kirinya.
“Biar aku saja yang melakukannya, Issukan.”
“Tidak. Aku saja”
“Kami membutuhkan kekuatanmu saat melawan minions dan para penculik itu, aku lebih baik dalam hal ini.”
Mendengar kata-kata Kirito yang terlihat tenang, Issukan menarik napas dalamnya, lalu mundur.
“Seperti biasa, kuserahkan ini padamu.Aku mengerti, lakukanlah.”
Dengan senyum pahit, Issukan kembali berdiri di sisi istrinya.Kirito berdiri didepan rantai besar ditempatnya, dengan hati-hati mencoba menggerakkan rantai itu dengan tangan kanannya, setelah mengulanginya beberapa kali, dia menyentuh satu titik ditengah rantai itu beberapa kali dengan jarinya.
“Ini terlalu kecil untuk dilihat dengan mata biasa. Tetapi itu adalah sebuah goresan, benar kan Scheta-san?”
Kirito bertanya tanpa menoleh, dan Integrity Knight ke-12 itu mengangguk.
“Ya, aku sudah pernah bilang, saat aku masih punya Black Lily Sword, aku menggoresnya.”
“Kurasa memang begitu, goresan ini, aku akan mengarahkannya kesini.”
Kirito mengangguk dan mundur beberapa langkah, lalu menarik pedang dari pinggangnya.Melihat pedang itu ditarik dengan suara tajam yang jelas, Issukan dan Scheta sedikit menahan napasnya.
__ADS_1
Divine object ‘Night Sky Sword’ bukan terbuat dari besi, ataupun material jet hitam. Itu lebih terlihat seperti batu dari kastil Obsidian, tetapi mata pedangnya memiliki berat yang luar biasa, berasal dari batang pohon raksasa Gigas Cedar di hutan kekaisaran Norlangarth.
Master Sadore yang menjadi kepala permesinan Central Cathedral lah yang memoles batang pohon Gigas Cedar itu menjadi sebuah pedang sepanjang waktu disertai dengan polesan 6 batu terbaik. Dengan pedang itulah Kirito mengalahkan Integrity Knight, menghabisi Chudelkin dan Dewi Tertinggi Administrator dan menebas Pemimpin Vector Dark Territory.
Pedang itu adalah pedang legenda yang menyelamatkan dunia.Tetapi mungkin saja, tidak peduli seberapa tinggi prioritas suatu pedang, belum ada yang bisa merusak rantai itu.
Sehingga tidak aneh kalau nama rantai itu disebut ‘Benda yang tidak bisa dirusak’ seperti bagian dinding Central Cathedral dan Dinding Abadi di ibukota Centoria yang terbagi menjadi 4. Dengan kekuatan sekelas dewi seperti Asuna yang dapat menggeser Cathedral pun mungkin masih tidak bisa menghancurkannya.Bukanlah swords skill atau prioritas pedang yang dapat merusak rantai itu, tetapi kemampuan ajaib menciptakan ‘Bagian dari dunia’—kekuatan Incarnation.
Kirito meluruskan tangan kirinya dan menarik Night Sky Sword ke belakang bahunya. Lalu kedua kakinya menapak lantai dan menyiapkan kuda-kuda, menarik napas dalam, memegang erat pedangnya.Tubuh Kirito diselimuti cahaya merah. Putaran angin seperti tornado berhembus dari kakinya, Ronye yang hampir terdorong kekuatan angin itu berusaha bertahan dengan kakinya.
Tiba-tiba cahaya merah itu menyelimuti pedang yang ia pegang di tangan kanannya dan membuat pancaran cahaya menyilaukan. Suara aneh menambah kekuatannya, dan menjadi seperti suara ledakan api dari teriakan naga, udaranya bergetar, dan lantai Obsidia serta dindingnya juga ikut bergetar.
“Su…sulit dipercaya…”
Gumam Issukan terkagum.
“Ini adalah…Incarnation Kirito…"
Scheta menambahkan dengan nada terkejut.
"OOOOOO~!!"
Kirito menapak lantai dengan teriakan singkat.Pedang di tangan kanannya pun menembakkan cahaya yang lurus dan menimbulkan suara bising,sehingga menimbulkan retakan di bagian kanan dan kiri dinding.
Jarak menuju rantainya adalah 5 mel. Jelas. Dan walaupun sudah diperluas dengan pedang itu sendiri, cahaya merah itu membentuk seperti tombak yang kuat, menembus tengah-tengah rantai yang tersegel.Setelahnya suaranya hilang, cahaya hilang, anginnya juga hilang, Kirito kembali ke mode normalnya.
Dalam keheningan, rantai yang tersegel itu tanpa suara, terjatuh, terbelah menjadi 2. Pintu raksasanya bergetar—seperti hidup, dan suara deritan keras terdengar.Kirito pun menjatuhkan kedua lututnya ke lantai dan Ronye buru-buru berlari menghampirinya.
“Senpai!”
Ronye memegang tangan kiri kirito dan membantunya berdiri. Scheta dan Issukan juga berlari menghampirinya.
“Hey, kau baik-baik saja Kirito?”
Kirito mengangkat tangan kirinya dan menjawab.
“Ah…aku akan segera baik-baik saja, tetapi pintunya, cepatlah…jika sistem—ah maksudku jika dunia ini menemukan sesuatu yang tidak biasa seperti ini, mungkin rantainya akan kembali ke bentuk semula…”
__ADS_1
“Ya!”
Scheta mengangguk lalu berlari ke pintu besar itu dan kedua tangannya mendorong batu obsidian yang menakutkan. Ggogo, pintunya bergetar dan bergerak dari dalam.
“Terbuka.”
Kirito menyahutnya ketika Scheta menoleh padanya dengan suara parau.
“Kalian berdua cepatlah! Jika penculiknya ada didalam, mereka pasti akan tahu kalau pintunya terbuka, aku akan menyusul!”
"Oooo...oh~!"
Issukan mengangguk dan menendang pintu besar didepannya dengan kakinya. Ada lorong gelap didalamnya yang sangat berbeda dari yang lainnya, udara dingin langsung terasa menusuk kulit.
Tetapi kedua orang tua dari Lisetta ini melompat ke lorong itu tanpa ragu. Beberapa detik setelahnya mereka pun hilang. Kirito meluruskan kembali tubuhnya dan menatap Ronye.
“Ayo kita pergi juga.”
Menyembunyikan perasaan cemas karena Kirito yang terlalu memaksakan diri, Ronye mengangguk.
“…Ya!”
Sebenarnya Ronye sempat memikirkan setidaknya ada penjaga di tangga bawah sebelum masuk ke lorong gelap itu, tetapi seperti yang tadi Kirito katakan, situasi ini diburu waktu.Selain itu jika musuh adalah Dark Art Master tingkat tinggi, akan membahayakan dan penjaga yang bukan swordsman atau pengguna Dark Art tidak dapat membantu.
Apa bisa ia lakukan saat ini adalah setidaknya ia sudah membawa obat-obatan di tas pinggangnya. Ia membukanya dan memberikannya pada Kirito. Kirito meminum -cairan rasa pahitasam- itu dengan muka berkerut, setelahnya ia mengucapkan terima kasih. Kemudian Kirito melewati pintu itu bersama Ronye dan masuk ke lorong gelap.
Rasanya seperti melewati selaput transparan. Uap panas air yang ada disana tidak berfungsi,seluruh tubuh mereka hanya merasakan udara dingin hingga muncul napas putih, tetapi setelahnya mereka mendengar suara yang membuat Ronye melupakan rasa dingin dan ketakutannya.
Suara itu tak lain dan tak bukan adalah suara tangisan bayi.
“…….!”
Mereka saling memandang dan mulai berlari.
Terdapat belokan disebelah kiri jalan mereka, setelah berbelok mereka melihat pintu kedua disisinya. Suara tangisan itu berasal dari balik pintu itu,Itu adalah ruangan yang besar.
Terdapat karpet berwarna merah gelap di lantainya. Jejeran minions jelek terdapat di kedua sisinya. Didindingnya ada lentera biji yang warnanya pucat dan didepannya, ditengah tengahnya tepatnya, ada kursi raksasa. Itu pasti adalah singgasana dari Pemimpin Vector.
__ADS_1