Sword Art Online

Sword Art Online
Chapter 19


__ADS_3

Tidak terdengar nada permusuhan dari suaranya,sehingga Ronye menurunkan sedikit kewaspadaannya, di sisi lain, Kirito mengangguk dengan wajah yang tidak senang—dengan suara yang terdengar seperti orang yang sedang lapar—mungkin itu bukan ekting—dan menjawab.


“Uh benar.Aku datang untuk mencari pekerjaan bersama adikku dari Faldera,tetapi kami nyasar kesini.”


“Huh, Faldera itu besar ya, kakekku masih ada disana.”


Mendengar kata-kata dari raksasa itu, Ronye mulai khawatir jika pembicaraannya berubah menjadi mengingat kenangan di kota yang bahkan hanya tahu namanya saja, namun untungnya itu tidak terjadi. Petarung tangan kosong itu menepuk bahu Kirito dengan tangannya yang besar dan tebal dengan sarung tangan kulit itu dan mengatakannya dengan ramah.


“Yah, ayo kutraktir, orang asing.”


“A-aku tidak…kurasa aku akan pergi ke—”


Menyesal dengan apa yang ia lakukan, Kirito mencoba menolak, tetapi petarung tangan kosong itu mendorong punggungnya menuju ke tengah kerumunan, Kirito hanya mengikutinya dengan malas, diikuti Ronye.


Ada tempat paling kecil diantara ke-6 rumah yang ditunjukan petarung tangan kosong itu. satu-satunya yang bisa dikatakan adalah pemilik toko yang sedang mengaduk dan membumbui kuali besar, dengan wajahnya yang tersembunyi dengan rambut didahinya. Dia manusia. kain tipis yang menggantung di atap rumahnya itu tertulis ‘rebusan Obsidia’ dengan tulisan kecil dan miring, yang ternyata itu adalah nama makanan.


“Ini adalah tempat terbaik disini, yah, walaupun gak ada temanku yang setuju!”


Petarung tangan kosong itu tertawa dan Kirito mencoba masuk kedalamnya dengan wajah yang agak takut.


“Ah…itu, paman, aku punya firasat buruk…”


“Semuanya berkata begitu pada awalnya, tetapi aku menantangmu untuk mencobanya dan jangan menganggap dirimu bodoh.Hey pak, beri aku 3 porsi.”


Dia mengeluarkan 3 tembaga dari kantung yang ada di pinggangnya dan menjatuhkannya hingga berbunyi ‘cling’ di papan hitam yang panjang didepannya. Jika nilai dari koin itu sama dengan di Dunia Manusia, ‘rebusan Obsidia’ misterius itu seharga 10 shear, terlalu murah untuk harga makanan di pasar seperti itu.


Penjaga toko itu tidak menjawab dan langsung menyiapkan 3 mangkuk kayu dan sendok di atas meja, menuangkan sesuatu yang bersuara ‘dobobo’ dari isi panci dengan sendok panjangnya. Tanpa berkata apapun, dia mengambil koin itu dan kembali mengaduk.


Terlihat terbiasa atau tidak saat mabuk, petarung tangan kosong itu mengambil mangkuk satu persatu tanpa memperhatikan si pemilik toko yang kelihatan terganggu dan diberikannya pada Kirito dan Ronye.Tidak ada pilihan untuk menolaknya karena sudah terlanjur, mereka menjawab “terima kasih banyak” bersamaan.


Ada sesuatu didalam mangkuk sup yang berwarna coklat kental itu. Kelihatannya berbagai macam bahan yang ada didalamnya, tetapi melihat warnanya yang tidak transparan itu, apa yang direbus didalamnya tidak bisa dilihat.Ronye dan Kirito duduk di meja yang kosong karena didorong oleh petarung tangan kosong itu dengan mangkuknya, dan bersiap.


Ronye menyendokkan sup yang lebih mirip seperti stew yang sudah dibiarkan selama 3 hari, dan memasukkannnya ke mulutnya, pedas! Itu yang pertama ia rasakan, tetapi ia merasakan rasa asam, lalu bercampur dengan rasa yang terlalu pahit, dan diakhiri dengan rasa manis.


“…K-Kirito-senpai…rasa aneh apa ini…?”


Saat Ronye bertanya dengan suara yang agak keras,Kirito yang terlihat tenang memakannya bergumam sambil mengaduk sup itu dengan sendok kayunya.


“Tidak apa-apa, seperti inilah rasa ‘rebusan’ nya, rasa yang enak dan menjijikkan, atau rasa yang buruk namun diperhalus…”


“Oh…apakah senpai pernah mencoba ini sebelumnya?”


Kirito menggeleng.

__ADS_1


“Oh enggak, enggak juga, ada toko yang menjual makanan yang sama dikotaku dulu. Pemiliknya juga mirip dengan pemilik toko ini, tetapi tetap saja…’rebusan’ yang kutahu itu sesuatu yang sulit dimakan karena campuran rasa pedas, asam, pahit, dan manis yang aneh.Tetapi rebusan Obsidia ini bisa membuat rasanya menjadi lebih lembut dan…”


“Oh, sepertinya kau sudah merasakannya ya nak?!” Petarung tangan kosong yang sudah menyisakan sekitar 30% lagi isi supnya menepuk punggung Kirito.


“Katanya, sejak ibu kota Obsidia diciptakan, orang itu terus menambahkan bahan-bahannya dan merebusnya selama lebih dari 200 tahun setiap harinya. Kurasa ini bukanlah masakan dari Dunia Manusia, hahaha!”


“I…iya benar….” Kirito mengangguk pelan, dan tiba-tiba Ronye berseru.


“Du-dua ratus tahun…!? Bagaimana bisa memasak sampai selama itu? bukankah sup dan stew juga akan rusak dalam waktu 5 hari di tengah musim dingin…”


“Seperti itulah rasanya bung”


Si petarung tangan kosong menunjukkan hubungannya yang dekat dengan si pemilik toko, ia dengan bangga menepuk dada berotornya.


“Dia ini tidak melangkah sedikitpun dari tempatnya, dia terus menjaga apinya agar tidak mati. Jika kau terus melakukannya secara konstan, isinya tidak akan kehabisan life. Biasanya aku makan 3x disini…menurutku tak hanya di Dark Territory saja masakan ini bisa dibuat,tetapi di seluruh Underworld.”


“Uh, setiap hari itu…”


Ronye memandangi mejanya dengan penuh pertanyaan. Pemilik toko yang tidak ramah itu tetap mengaduk kuali dengan wajah yang tertunduk, wajahnya tidak bisa dilihat lagi.


“…jadi apakah lifenya membeku jika dia terus hidup selama 200 tahun?”


Mendengar pertanyaan Ronye, petarung tangan kosong itu selesai duluan, melihat mangkuknya dengan serius lalu menggelengkan kepalanya.


“Tidak mungkin, aku mendengar rumor hanya Dewi Tertinggi di Dunia Manusialah yang bisa melakukannya. Kurasa posisinya terus digantikan dari generasi ke generasi.”


Ronye mengangguk dan menyendokkan lagi sup itu dan dengan takut-takut memasukkannya ke mulutnya.Mungkin ini adalah daging burung yang diberi rasa terlalu garing ketika digigit dengan kaya rasa. Dan juga rasa yang bercampur ini, jika kau diminta untuk mencobanya lagi—tidak mau mau lagi deh.Kirito yang telah duluan mengosongkan mangkuknya lebih cepat dari Ronye, menghela napasnya puas.


“Haha…memang buruk sih…tetapi tidak berlebihan…”


Kirito berdiri lalu membungkuk dihadapan si petarung tangan kosong yang duduk berlawanan dengannya.


“Terima kasih banyak atas makanannya, paman.Pasti Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini.”


“Tidak apa apa kok”


Si petarung tangan kosong yang sudah duluan menyelesaikan makannya itu mengangguk dengan senyuman.


“Kalau kau sudah menemukan pekerjaan yang cocok disini, datanglah setiap hari kemari untuk memakan rebusan Obsidia sebanyak yang kau mau, berikan juga satu untukku ya…kalau tentang pekerjaan…”


Menepuk wajahnya dengan telapak tangan tebalnya, dia tetap tersenyum.


“…mungkin akan sedikit sulit menemukan pekerjaan untuk kakak beradik seperti kalian di Obsidia sekarang, nak.”

__ADS_1


“Oh…benarkah? Kehidupan di jalanan itu sepertinya baik-baik saja…”


“Memang sih pada kelihatannya, tetapi itu karena jumlah penduduk yang bertambah…aku tidak yakin itu akan berlangsung lama…”


Dia menjawabnya dengan helaan napas yang mirip seperti goblin yang lewat didekatnya. Kirito kelihatan setuju dengan apa yang dikatakannya itu, lalu tiba-tiba ia berdehem sambil menghela napasnya. Petarung tangan kosong itu lalu melanjutkan penjelasannya.


“Hooch ini dibuat oleh suku goblin yang belum lama ini menetap di dekat kota. Rasanya enak, dan karena ini murah, penjualannya juga bagus. Kedai minum di kota telah jatuh dan penjaganya sepertinya terlibat. Sebelum perang, para prajurit menyerang desa goblin dan membunuh mereka semua, tetapi sekarang sudah ada Perjanjian Perdamaian Kelima Kubu…”


“Apakah selama setengah-manusia pindah ke Obsidia, manusia akan merampok demi pekerjaan?”


“Itu bukanlah kesalahan mereka, angka dari manusia terus bertambah…itulah mengapa kau bisa melihatnya nak.”


Sambil menjawab pertanyaan Kirito, petarung tangan kosong itu mengangkat bahunya, melihat ke langit malam.


“Jika kau datang dari Faldera aku tidak perlu memberitahumu…tanah ini hanya berisi pembunuhan dimana-mana di Dark World ini. Manusia dan setengah manusia selalu menderita kelaparan dan kehausan. Walaupun perang besar mengakhiri ‘era besi dan darah’ yang dimulai dengan pertarungan suku asli disini…”


Ronye dan Kirito yang tidak mengetahui banyak sejarah Dark Territory hanya mengangguk dalam diam. Petarung tangan kosong itu meminum kembali minumannya dan melanjutkan bicaranya.


“…nenek moyang kami telah bekerja keras menyelamatkan Dark Territory ini karena ada legenda yang kami percayai. Suatu hari nanti gerbang Dunia Manusia akan terbuka dan kami akan pindah ke tanah luas yang dijanjikannya.”


Saat mendengarnya, Ronye merasakan tubuhnya jadi tegang, namun si petarung tangan kosong itu tidak terlihat memeperhatikannya.


“Tak ada satupun adik laki-laki dan perempuanku yang selamat saat itu, tetapi Pemimpin Vektor mengembalikannya sedikit lebih dari setahun yang lalu, itu adalah kesenangan ketika aku menyerang Dunia Manusia. akhirnya seperti yang dilegendakan itu tiba, kami pikir…--tetapi Integrity Knight Dunia Manusia, ada rumor yang mengatakan kalau mereka lebih buruk dari monster…selain itu tiba-tiba pasukan dari dunia lain muncul. Aku tidak mengerti apa-apa, tetapi Pemimpin Vector telah dibawa oleh beberapa swordsman dari Dunia Manusia dan perang pun berakhir…”


Ketika Ronye mendengar kata ‘beberapa swordsman’, ia melirik ke arah Kirito yang telah berkeringat dingin dengan wajah yang kalut lebih daripada saat ia merasakan rebusan Obsidia. Petarung tangan kosong yang kelihatan tidak mengetahui identitas sebenarnya dari pemuda yang duduk didepannya itu membuka mulutnya dan membanting sendoknya di meja.


“…jika perang berlanjut seperti yang dikatakan rumor, ada kemungkinan Dewa Dark Territory akan lenyap. Jadi tidak ada protes mengenai perdamaian dengan Dunia Manusia, tetapi suatu kebenaran juga bahwa tidak ada harapan untuk mendapatkan lahan yang luas…itulah kenapa goblin, ork, dan para pemuda terbang ke Obsidia…menurut mereka itu tidak apa-apa, mereka bilang mereka dapat menemukan kehidupan yang lebih baik. Tidak peduli seberapa banyaknya ketidak sabaran itu, pekerjaan sangat terbatas. Mungkin jika kau adalah manusia, kau akan menjadi prajurit. Tetapi kalian berdua kelihatan lemah jadi…”


Melihat petarung tangan kosong yang mulai terkantuk karena mabuk, Kirito pun memikirkannya lagi dan membungkukkan badannya.


“Terima kasih atas segalanya paman, rebusan Obdisianya…enak. Suatu hari aku akan mentraktirmu.”


“Oh…semoga beruntung ya kalian berdua…”


Akhirnya mereka pun pergi dengan hati-hati tanpa membangunkan petarung tangan kosong yang sudah tidur itu.


Melihat disekitar alun-alun kota, itu kelihatannya sekelompok goblin dan ork sudah pergi,dan hanya beberapa kelompok petarung tangan kosong saja yang tersisa. Beberapa toko juga mulai tutup, dan hanya pemilik toko rebusan Obsidia itu saja yang terlihat masih mengaduk.Itu kelihatannya jika terus berada disana, pembicaraannya akan terus-terusan.


“…yah, apakah kita akan mencari penginapan?”


Kirito menguap lebar, bergumam dengan suara yang ragu.


“Tetapi bagaimana cara membayarnya?”

__ADS_1


“Yah, kita bisa mengaturnya”


Kirito tertawa dan mulai berjalan di sebelah timur pintu keluar, dan tentu saja Ronye tak bisa mengacuhkannya.


__ADS_2