
Masih dalam suasana hati yang buruk, Kirito menatap sekilas ke arah 2 pengawal yang terbaring di lantai. Dia mengangkat tangan kanannya dan menciptakan element seperti 0sebelumnya.Tetapi kali ini dia tidak mengeluarkan kriogenik, melainkan cahaya putih berkilauan. Cahaya itu melayang ke arah 2 penjaga itu.
Cahaya yang hangat itu menyelubungi mereka, cairan hitam yang menempel pada lantai dan tubuh mereka lenyap. Kedua penjaga itu pun menggerakkan tubuhnya dan menarik napas berat. Dan ia langsung menundukkan kepalanya didepan Scheta dan Issukan.
“Komandan, kami tidak bisa melakukan kewajiban kami, kami tak pantas dimaafkan!”
“Kita harus menjaga sisanya selama mereka masih menculik Lisetta dengan hidup kami—”
Issukan menjawab kata-kata kedua penjaga itu dengan memegang kuat bahu mereka.
“Itu tidak akan mengembalikan Lisetta! Lebih baik pinjamkan kekuatanmu padaku untuk menyelamatkan putriku!”
Walaupun hatinya terasa hancur, Issukan mengatakannya dengan suara yang mengagetkan,kedua penjaga itu meluruskan kembali tubuhnya.
“Pertama, kita harus mengetahuinya seperti apa wujud Dark Art Master yang merusak itu. Apakah kau melihat wajahnya? Atau mendengar suaranya?”
“Itu…”
Yang menjawab pertama adalah pengawal bernama Guido.
“Dia mengenakan tudung hitam yang menutupi wajahnya hingga tidak kelihatan…suaranya mirip seperti lelaki atau perempuan kami tidak mendengarnya dengan jelas…”
“Begitu…”
Saat Issukan menggigit bibirnya, Kirito membuka mulutnya.
“Berapa lama saat Dark Art Master itu terbang keluar jendela hingga kami datang kesini?”
Gaiol si penjaga bertubuh besar menjawabnya.
“Tiga…ah tidak…sepertinya dua menit…”
“dua menit?”
Kirito menatap langit malam diluar dengan bingung, Scheta juga mengerenyitkan alisnya, bergumam.
“Anak buahnya terluka dan dia lenyap dalam waktu 2 menit?”
Menurut beberapa penelitian di perpustakaan besar, kecepatan terbang minions hampir menyerupai orang berlari, yaitu sekitar 500 mel, itu kelihatannya mustahil untuk lenyap dalam waktu 2 menit, tetapi jika musuh adalah seorang Dark Art Master tingkat tinggi, mungkin ia menggunakan teknik tersembunyi tertentu. Jika Kirito dan Scheta tidak berhasil menemukannya, Ronye pun sama.
Merasa tidak membantu, Ronye menghampiri tempat tidur sang bayi.Tempat tidur itu berbentuk box, yang tentu saja kosong, terkecuali hanya ada dot cantik,boneka beruang dan naga berbulu di belakangnya. Ronye merasakan hatinya bagai pecah berkeping-keping.
Ia mengelakkan pandangannya sesaat.
Namun tiba-tiba ia melihat sesuatu yang aneh jatuh dari boneka naga dan ia hendak mengambilnya.Itu seperti gulungan perkamen berbentuk bulat yang terikat dengan tali merah. Tentu saja itu bukanlah mainan bayi.
“Disini…di tempat tidurnya…ada…”
Saat mengatakannya, Ronye hendak mengambilnya, tetapi Issukan lebih dulu menghampirinya seperti kilatan cahaya.
Dia memotong tali yang terlihat kuat dengan jarinya dan membukanya. Mata kiri Issukan terbuka lebar, menahan erangan di bagian tenggorokannya, ia sangat terkejut dan jatuh terduduk ke tempat tidur.
__ADS_1
Dari tangannya, Scheta melihat isi dari perkamen itu, ekspresi terkejut juga muncul dari wajahnya, dengan pelan ia menggigit bibirnya, dan memberikan perkamen itu pada Kirito.Ronye yang berdiri disamping Kirito, mengarahkan pandangannya pada tulisan hitam perkamen itu.
[Saat matahari terbenam di hari ke 21 bulan ke-2, lakukan eksekusi pembunuhan Prime Swordsman Dewan Serikat Dunia Manusia di stadium besar secara public dengan tangan komandan pasukan kegelapan, dan kirimkan kepalanya ke Dunia Manusia. Jika tidak, kepala bayi polos ini yang akan kukirimkan ke kastil Obsidia.]
“……I-ini………”
Ronye menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Hari ini adalah hari ke 21, dan sudah lebih dari 14 jam sejak matahari terbenam, lewat dari batas waktu eksekusi itu.
Ronye berpikir Issukan dan Scheta tidak mungkin melakukan hal semacam itu.Tetapi ia juga paham kalau nyawa putri mereka adalah bayarannya. Apa yang lebih penting bagi mereka berdua sekarang selain putri kesayangannya?
Dengan pelan tangan kiri Ronye menyentuh pinggang kirinya, tetapi tidak ada pedang disana,sama halnya dengan Kirito.Jika saja mereka membawa pedang…jika saja masih ada kesempatan bagi Issukan untuk mengancam si penculik itu, lalu apa? Bertarung dengan mereka? Dan jika Ronye dan Kirito melarikan diri, Lisetta akan mati.
Tentu saja aku tak bisa mengabaikan keselamatan Lisetta. Dan aku juga tak bisa melaksakan kewajibanku sebagai pengawal Kirito-senpai dengan baik. Tidak mungkin. Ronye merasakan airmatanya jatuh karena konflik yang tak pernah terbayangkan seperti ini sebelumnya. Dia mencoba melihat wajah Kirito yang masih memegang perkamen itu, tetapi ia tak bisa menggerakkan lehernya.
“Apakah itu…Yang Mulia…”
Salah satu dari mereka berkata dengan nada khawatir. Mereka juga tentunya khawatir dengan isi dari perkamen itu, namun Issukan menatap mereka dan menunjuk pintu dengan tangan kanannya.
“Guido, Gaiol, pergilah ke aula dan jangan biarkan siapapun masuk”
“Baik…”
Menyanggupi perintah dari komandan pasukan kegelapan Dark Territory, kedua penjaga itu berlari menuju pintu. Tiba-tiba Gaiol berhenti dan menoleh.
“Ada…satu hal lagi…”
Ketika 4 orang didepannya menoleh padanya, penjaga itu terus menundukkan leher pendeknya “Ini tidak seberapa…tetapi saat Dark Art Master dan minionsnya pergi dari jendela, saya mendengar suara yang aneh.”
Mendengar pertanyaan Scheta, Gaiol menjawabnya dengan membuka dan menutup mulutnya beberapa kali untuk mencoba menirukannya.
“Suara seperti dentuman batu, griigriiii”
“Dentuman batu…?”
Itu kelihatannya Issukan yang sudah hapal semua bagian kastil ini tak menemukan dari mana suara itu berasal. Gaiol memberi salam hormat lagi dan menutup pintunya.Kamar tidur yang terdengar suram itu, Kirito membuka mulutnya.
“…maaf Issukan, Scheta-san, ini salahku hingga Lisetta diculik…”
“Apa yang kau katakan? Jangan menyalahkan diri sendiri…”
Ia menyangkal kata-kata Kirito, masih dengan keadaan syok hingga kakinya rasanya sulit untuk berdiri.
“Masalahnya adalah tak hanya Lisa saja, aku juga pusing. Minions itu, minions dari Dark Art Master harusnya takkan bisa terbang setinggi ini. Hanya naga dan Dark Knight yang bisa terbang sampai sini. Tetapi mereka tetap dilarang terbang kemanapun selain belakang kastil.Sehingga aku yakin takkan ada bahaya yang datang dari balik jendela…”
Kedua tangannya meremas lututnya sambil menggeram. Scheta menghampiri suaminya dan menyentuh lembut tangannya.
“Walau begitu, aku sudah terlibat dalam situasi ini.”
Kirito mengatakannya lagi dengan perkamen yang masih ia pegang di tangannya.
“Ronye menyadari bahwa pembunuhan di Dunia Manusia adalah jebakan untukku agar pergi ke Obsidia. Tetapi aku memutuskan untuk pergi ke Obsidia hari itu, tak ada satupun persekongkolan denganku. Orang yang menculik Lisetta itu, mereka pasti memiliki suatu kelompok antara Dunia Manusia dan Dark Territory, dengan kata lain mereka memiliki hubungan yang cepat lebih dari kecepatan mesin naga.”
__ADS_1
“Mesin naga? Kau menggunakan itu untuk pergi dari Centoria ke Obsidia dalam satu hari?”
Kirito mengangguk.
“Ya, aku akan memberi tahu detilnya nanti, tetapi sekarang adalah tentang Lisetta…”
Kirito melanjutkan kata-katanya sambil melihat isi perkamennya lagi.
“Mungkin tujuan mereka adalah membuat Dunia Manusia dan Dark Territory berseteru lagi, Jika kau mengabaikannya, mereka akan membawa-bawa ancaman itu. Aku akan menyelamatkan Lisetta, tetapi…jika aku gagal maka aku harus—”
“Hentikan!”
Issukan langsung memotong kata-kata Kirito saat akan berkata ‘dieksekusi’Ronye tahu jika Kirito dan Asuna datang dari dunia nyata ke Underworld.Mereka terbaring dalam sesuatu yang bernama ‘STL’ di dunia nyata, dan mereka bilang hanya jiwa mereka yang berpindah ke Underworld. Jika mereka kehilangan life di Underworld, mereka tidak akan mati, tetapi jiwa mereka akan kembali ke dunia nyata.
Kirito-senpai pasti sedang memikirkannya. Jika mereka kembali kedunia nyata, ada kemungkinan mereka takkan kembali ke Underworld lagi—mereka berdualah yang mengatakan itu. Bagi Ronye itu sama saja dengan kematian Kirito. Sama dengan kehilangan saat-saat bersama orang yang ditemui Kirito. Dunia manusia…tidak, seluruh Underworld masih membutuhkannya.
Dia tak bisa menahan semua ketakutan dan pemikiran yang berputar seperti badai ini dalam kata-kata, tetapi Ronye hanya menggenggam lipatan baju hitam milik Prime Swordsman disampingnya itu.Melihat itu Scheta menarik napasnya pelan. Dia paham kalau Ronye merasa ketakutan, dan ia mencoba mengatakan sesuatu dengan suara pelan.
“Pertama, aku akan pergi ke kelompok Dark Art Master di sebelah utara untuk mendapatkan informasi, satu-satunya yang bisa merusak ruangan ini pastilah minions yang tidak termasuk dalam kelompok mereka, tetapi jika minions itu dimanfaatkan, aku mungkin dapat menemukan buktinya.”
“Aku mengerti…kalau begitu aku akan pergi denganmu. Jika Scheta kesana sendirian, para Dark Art Master itu mungkin mencoba menipunya.”
Issukan berdiri dari tempatnya dan mengambil ikat kepala silvernya yang ada diatas meja dan mengenakannya. Begitu juga dengan Scheta yang mengganti piyamanya, Ronye yang melihatnya ia pun langsung mengalihkan pandangannya.Mendengarkan Kirito sambil berjalan kearah jendela yang rusak, ia sedikit menggerakan bibirnya, memikirkan sesuatu.
“Apakah ada kemungkinan kalau Dark Art Master dan minions yang menculik Lisetta kembali kesini dengan melewati lantai yang lain?”
Issukan menjawabnya dengan nada gusar.
“Saat ini semua jendela terkunci, jika ada yang merusak dari luar, para penjaga pasti melihatnya. Tetapi…jika ada orang asing di kastil ini, sangat mungkin untuk membuka jendela dari dalam…”
Scheta mengangguk dan sedikit menambahkan.
“Seluruh penjaga sedang mencari di seluruh kastil ini.”
“Apakah aku dan Ronye bisa membantu?”
Saat Kirito bertanya, Issukan mengangguk tanpa ragu.
“Aku memohon padamu, aku memerlukan kekuatanmu saat minions itu kembali. Ini ambillah.”
Dia membuka laci kecil meja, mengambil kalung silver dan memberikannya. Saat Kirito menerimanya dengan satu tangan, Issukan mengangkat jempolnya ke ikat kepala silvernya.
“Ini sebagai saksi dari asisten komandan pasukan kegelapan, perlihatkan saja benda itu dan katakan namaku, maka pintunya akan terbuka.”
“Baiklah, terima kasih.”
Saat Kirito memegang kalung itu dan melihat kepingan silver yang ada dilehernya, Issukan menghampirinya dan memegang erat kedua bahu sang Prime Swordsman.
“—aku mengandalkanmu”
Dengan kalimat pendek itu, Issukan pun pergi bersama Scheta. Saat pintu terbuka dan tertutup, selama menunggu, bel jam 4 pagi telah berbunyi dengan tenang.
__ADS_1
makasi semua yg udh mw bca sampai sini.