Sword Art Online

Sword Art Online
chapter 38


__ADS_3

Dilantai pertama dibawah “Melihat Pemandangan Bintang Pagi” di lantai 94 Cathedral,ada dapur, walau tidak seluas dapur di lantai 10, keadaannya cukup baik dan nyaman.


Ketika Asuna membuka dua pintu besarnya, aroma manis dari madu dan keju leleh langsung menyambutnya, sampai membuat perut Ronye keroncongan.


Lantai dapur ini terbuat dari marble dengan langit langit yang berwarna putih,banyak lemari tinggi besar di tiga sisi dindingnya, terlihat berkilauan dengan banyaknya bahan-bahan makanan, botol, serta vas yang berwarna warni.Di sisi dinding lainnya ada papan dengan berbagai macam alat masak serta tungku pembakaran besar, serta meja kayu besar yang ada ditengah tengah ruang makan yang juga besar.


Ketika mereka berempat memasuki dapur, seseorang yang bertubuh ramping dibelakang meja mengangkat kepalanya.


Dia adalah wanita muda yang mengenakan baju chef putih tanpa sedikitpun noda,dan topi bundar diatas rambut pendeknya.Atau persisnya, dia terlihat ‘sangat muda’.Dia sedang duduk dikursi dan tengah mengiris dengan pisau dapur besarnya, berdiri dan melihat Ronye dan lainnya.


“Asuna-sama, saya telah memanggangnya di oven agar tetap hangat. Salad dan rotinya akan segera siap.”


“Terima kasih, Hana,maaf ya aku terlambat.”


Kata Asuna meminta maaf.Dia melangkah ke arah oven panas yang ada di dinding dapur.Itu adalah perangkat masak, dengan bantuan bara api dibawahnya dengan box yang terbuat dari batu dan bata hingga panasnya setara, disebut ‘tenpi’ dalam bahasa Dunia Manusia, untuk membedakan ‘tenpi’ lain yang artinya cahaya solus, maka lebih umum disebut ‘oven’ dalam bahasa sacred umum.


Dan tentu saja, salad dan roti juga berasal dari bahasa sacred umum, jadi kali ini Tieze tak perlu menuliskannya di buku catatan.


(e/n: Asuna dan Kirito memang telah memperkenalkan berbagai bahasa baru dari dunia nyata ke penduduk Underworld dengan sebutan ‘sacred word’, salah satunya adalah ‘oven’)


Setelah memakai sarung tangan ovennya yang tebal, dia membuka pintu oven itu dan menarik loyang besar dengan tutup diatasnya. Loyang itu beraroma keju.


Membicarakan tentang apa yang dimasak,loyang adalah wadah sederhana yang digunakan untuk memasak bahan apapun dengan adonan tepung lalu dipanggang, tetapi belum pernah terdengar ada seseorang yang memasak dengan memasukan loyang kedalam oven.Pertama


kalinya oven hanya digunakan untuk memanggang roti.


Terlihat senang, Asuna membawa loyang itu keatas meja dan pelan pelan membuka tutupnya.


“Wow, apa…apa…itu…?”


Tanya Tieze berseru, Ronye juga menegakkan lehernya.Dan yang muncul di loyang itu dengan sedikit asap, berwarna putih dan tipis…seperti selembar kertas…


“Huhu, ini adalah ‘lapisan kertas panggang’”


Kata Asuna menyebutnya dengan bangga, Ronye dan Tieze terbelalak sambil bilang.

__ADS_1


‘eeeehh???’


“A-apa…? Kertas? Kertas sungguhan? Kertas rami putih…?”


Wakil-Prime Swordsman mengangguk dengan yakin atas pertanyaan mencurigakan itu.


“Aku mendapatkannya beberapa saat terbakar selama proses pengeringan dari tanaman di Cathedral,aku coba deh.”


“Tapi,kalau dipanggang di oven,bukankah kertasnya akan langsung terbakar kan?tapi kenapa ini tidak ?”


“Memang akan terbakar jika hanya kertas biasa, aku belum mencobanya dengan perkamen,itu terlalu berharga untuk dipakai memasak,tetapi dengan kertas rami putih yang mempunyai kemampuan yang tinggi, mungkin bisa.”


Katanya sambil melepaskan lapisan kertas rami putih itu dengan jarinya.Terdengar suara ‘krek-krek’ tetapi tidak rusak.Walaupun terkena suhu tinggi di oven,Life kertas itu kelihatannya tetap utuh.


Sembari melepaskan sarung tangan ovennya, Asuna melanjutkan.


“Hidangan Dunia Manusia dari Underworld itu sederhana,tetapi telah tercatat dalam tata cara yang tegas.Kalaupun di panggang atau direbus, ‘makanan’ tidak akan menjadi ‘hidangan’ yang sia-sia dengan dipanaskan diwaktu tertentu atau lebih.Jika panasnya tidak cukup, itu akan menambah statusnya…atau jadi ‘setengah matang’ atau ‘kurang matang’ dan perutmu akan sakit jika memakannya, sebaliknya jika kau memanaskannya terlalu lama, itu akan ‘gosong’ dan akan jadi keras dan pahit.”


“I-iya…”


“Satu masalahnya adalah rasa dari hidangan itu yang akan menjadi sangat enak saat berubah dari ‘dimasak’ menjadi matang, iya kan? Kalau terlalu lama dimasak terus terusan, aromanya nanti hilang, hidangannya jadi keras dan rasanya jadi hilang juga.Dan dalam hal merebus,ada cara untuk menyempurnakan rasanya dengan terus mengubah panas apinya dari tinggi ke rendah sambil menambahkan bumbu-bumbu dan bahannya,tetapi itu membutuhkan banyak waktu.”


“I-iya…”


Sambil mengangguk, Ronye mengingat rasa aneh dan misterius dari ‘rebusan Obsidia’ yang dia makan di ibu kota Obsidia waktu itu,dengan segera ia bertanya.


“…tetapi apa hubungannya menggunakan kertas dalam memasak?”


“Pertama,aku ingin mencoba untuk memperlihatkannya saat bahan-bahannya matang, tetapi Hana menghentikanku…”


Ketika Asuna mengalihkan pandangannya, wanita bertopi putih didekatnya berkata tanpa merubah ekspresinya.


“Itu adalah jebakan bagi para pemula dan yang sudah ahli dari dulu hingga sekarang.Tidak mustahil dengan kemampuan chef seperti apapun untuk memperlihatkan rasa pada saat yang sempurna dalam ratusan tahun.Dulu sekali,pernah ada seseorang dengan skill yang tak tertandingi, seorang chef yang disebut jenius dan hanya dilahirkan sekali dalam seratus tahun diundang ke kastil dan memasak untuk kaisar Norlangarth Dalam appetizer dan supnya sangat enak, namun di hidangan utamanya,yakni steak sapi tanduk merah besar yang langsung diangkat dari pemanggang sesaat lebih cepat dari waktu yang sebenarnya.Ketika kaisar memakannya, ia menderita sakit perut dan dengan kekuasaan kebangsawanan nya,dia memotong tangan koki itu.”


Saat Ronye dan Tieze berdiri terdiam,Asuna mencoba melenyapkan bayangan kesedihan dan berkata.

__ADS_1


“…Jadi aku memutuskan untuk menyerah melihat saat-saat memanggang dan membiarkannya saja.Tetapi saat kuminta Hana kalau ada cara untuk dapat menahan aromanya walaupun dimasak seharian,dan dia bilang padaku kalau menaruhnya di loyang dan menutupnya lalu memanggang nya dalam oven, itu akan menjadi berbeda”


“Heeeh…aku juga sudah belajar banyak mengenai hidangan, tetapi belum pernah dengar resep seperti itu.Kau benar benar chef hebat pilihan Dewi Tertinggi ya…”


Ketika Tieze memperlihatkan rasa kagumnya,wanita yang dipanggil Hana itu menggerakkan bahunya.


“Itu hanya masa lalu yah, kau perlu perangkat dengan prioritas tinggi yang takkan rusak


walaupun dipanaskan dalam oven.Dan pemanggang di Cathedral ini tidak sempurna,daripada keluar begitu saja,air yang terakumulasi dalam mangkuk daging dan hidangannya akan setengah berair dan rasanya jadi juicy.”


“Jadi pertamanya aku mencoba dengan membungkusnya secara tradisional,aku pun membungkus adonan bahannya lalu menaruhnya dalam mangkuk dan memanggangnya.Namun rasa dan aromanya hilang dari bahan itu…tidak apa sih saat nanti dimakan, tetap rasanya tidak enak.Jadi, untuk mengawetkan aroma dari makanan yang dibungkus itu agar tidak hilang, aku


mempertimbangkan cara dengan menggunakan sesuatu yang bisa menahan panas,dan aku mendapat kertas rami putih ini.”


“Heeh…jadi itu sebabnya disebut ‘Lapisan Kertas Panggang?’”


Ronye bergumam sambil memandangi isi dari wadah itu.


“Jadi, sudah saatnya membuka bungkusnya kan?”


Itu adalah suara dari Prime Swordsman yang sejak tadi diam dengan nada yang tidak karuan. Yah sebenarnya dia menahan lapar, tetapi kelihatannya batasnya sudah tiba.Asuna terkekeh dan segera membuka kertas yang sudah hangus dengan jari lentiknya.


“Sebenarnya hari ini adalah hari pertama mencobanya, jadi kalau gagal, kalian hanya bisa makan salad dan roti untuk makan siang, maaf ya?”


Seruan itu tak hanya berasal dari Kirito,tetapi juga dari Tieze.Tentu saja Ronye juga merasa begitu.


Sambil memperhatikan tangan Asuna,dia memohon pada dewi bumi Terraria.Kertas itu pun dibuka dari sisi ke sisi, terbuka dari kiri ke kanan, Ronye merasakan aroma yang memenuhi ruangan.


Bahan utamanya adalah potongan ikan putih, jamur, sayuran, dan tumbuh-tumbuhan, dengan keju leleh diatasnya.Bisa dipahami dari pandangan pertama kalau panasnya sangat tepat,tetapi tidak seperti di wadah pemanggang, itu tidak terlihat terbakar. Itu kelihatannya aromanya masih bertahan.


“Terlihat enak kan?”


Asuna mengiyakan kata-kata Hana.


“Ya, ayo kita nikmati selagi panas, Kirito-kun, bantu aku mengambil 5 piring.”

__ADS_1


__ADS_2