
Issukan dan Scheta berdiri di tengah tengahnya.Dari jauh, terlihat minions hitam melebarkan sayapnya.Dan di singgasana itu, ada seseorang dibalik bayangan.
Bayangan itu seperti mengenakan tudung, tetapi pakaiannya terlihat samar seperti asap dan sosoknya tak bisa terlihat jelas. Kurus dan tinggi, di tangan kanannya ada belati dengan bisa berwarna ungu,dan jari-jarinya mengetuk-ngetuk bayi yang tak lain adalah Lisetta di tangan kirinya.
Suara tangisan Lisetta sangat lemah. Ia pasti kedinginan setelah lebih dari 2 jam ditempat seperti ini, lifenya pasti berkurang drastic, aku harus segera menolongnya, tetapi aku tak bisa bergerak disituasi seperti ini. Rasa kemarahan juga terasa di balik punggung Scheta dan Issukan.
Penculik berjubah hitam itu mengalihkan pandangannya pada Ronye dan Kirito di balik kegelapan tudungnya—atau itu kelihatannya. Lalu suara aneh terdengar, seperti makhluk buruk rupa yang berbicara dengan bahasa manusia.
“Jadi Prime Swordsman Dunia Manusia yang menghancurkan rantai tersegelnya?Ternyata orang ini lebih merepotkan daripada kedudukannya…”
Dari suaranya, usia dan rasnya tak bisa ditebak. Hanya ada sesuatu yang bisa terasa.
“Kau *******(sensor)! Kau bukan Dark Art Master!”
Mendengar teriakan Issukan, penculik itu tertawa dengan suara aneh.
“Bukankah beberapa diantara mereka adalah pendeta Dunia Manusia? Kalau begitu, tidak bisakah seorang laki-laki seperti itu jadi Dark Art Master saja?”
“…tidak, itu senjata beracun…bangsat kau! Dasar kotoran dari kelompok pembunuh!”
“Pedang atau apalah itu…adakah yang bisa menggunakan pedang? Tidak? Mungkin aku adalah petarung tangan kosong yang kau buang dari tim…?”
Lagi, penculik itu tertawa mengejek, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Kirito.
“Pembicaraannya selesai, walau eksekusi tidak didepan public,kau masih bisa mengirim kepala dari Prime Swordsman itu ke Dunia Manusia. Wahai ksatria pendukung,tanganmu sangat lihai dalam menebas, cepat penggal kepala Prime Swordsman itu sekarang atau anakmu tidak akan selamat!”
Tangan abu-abunya muncul dari balik jubah memegang belati beracun mendekati wajah Lisetta.Punggung Issukan maupun Scheta hanya diam membatu.
__ADS_1
—Namun saat itu—
Kinn! Suara yang tajam terdengar, dan belati beracun itu terlempar jauh, seluruh tubuh Lisetta terselubungi cahaya putih. Si penculik itu hampir menjatuhkan Lisetta namun dengan cepat menangkapnya lagi.
Lisetta terdiam.Tetapi disamping Ronye, tangan kanan Kirito mengarah lurus ke singgasana si penculik itu dan mengeluarkan cahaya dengan warna yang sama. Dia pun melindungi Lisetta dengan pelindung Incarnation.
“Scheta! Issukan!”
Kirito berteriak dengan suara yang begitu menyakitkan.
“Takkan kubiarkan! Lisetta…!”
"O~oyo!!"
Seluruh tubuh Issukan terselubungi cahaya api yang bergetar.Disaat yang sama,si penculik itu mengucapkan kata-kata aneh,dan minionsnya bergerak.
Namun erangan si minions kalah dengan suara teriakan Issukan.
"U-ra-ra-ra-ra────!!"
Dengan cepat Issukan meninju perut minions itu dengan kepalan berapi hingga seluruh tubuhnya membengkak—Seperti tas kulit yang terisi penuh dengan cairan, minions itu meledak hingga darah hitam muncrat kemana-mana, dan tubuh Issukan terkena racun darah hitam beracun itu.Tiba-tiba setelahnya bayangan ramping melesat dibelakang Issukan, Scheta yang menghindari racun dari darah hitam itu dengan cepat mengarah ke singgasana seperti titik abu.
“……….!!”
Hanya dengan suara yang membelah udara, dia membuat pedang samar-samar dengan tangan kanannya.
Tangan kanan dimana si penculik itu memegang belati beracun terbelah dari bahu hingga jatuh ke lantai. Dan tanpa ragu, Scheta juga memotong tangan kiri orang itu yang memegang Lisetta.Namun—Sesuatu yang kecil muncul dibalik tudung hitam itu, terlihat dimulutnya. Sebuah Jarum yang terbang.
__ADS_1
Dengan cepat Scheta menarik tangan kirinya untuk menghentikan jarum itu,tetapi secara tiba-tiba tubuhnya pun jatuh ke tanah.
Si penculik berjubah hitam itu memegang Lisetta yang dilindungi oleh cahaya,dia berlari ke sisi kiri singgasana dan mencoba menyelinapTetapi hanya ada dinding disana. Tak ada jalan untuk kabur.
"Tidak akan kubiarkan."
Bagai badai yang mengelilingi kepalanya saat itu, Ronye menarik pedangnya dan berlari.Di sisi lain, penculik itu sibuk menggaruk dinding dibalik jubah hitamnya, didadanya sebuah permata besar mengeluarkan cahaya merah.
Cahaya itu menyinari seluruh bagian dinding, dinding yang terpisahkan dengan dinding Obdisia bergema…suara dentuman batu, itu dia, batu yang saling bergesekan.Penculik yang membawa Lisetta mencoba melarikan diri keluar jendela yang harusnya tidak ada.
Jarak antara si penculiknya sekitar 10 mel. Dengan kekuatan kakinya, tidak ada pilihan bagi Ronye untuk meraihnya dengan sekali lompatan.Aku akan menangkapnya, aku akan menangkapnya!
"Yaaaaa────!!
Ronye menapak lantai, mengerahkan seluruh kekuatannya.kemudian Tangan kanannya mengacungkan pedang, saat pedang dan lengannya bergerak lurus dengan posisi yang tepat, mata pedangnya mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan.Tubuh Ronye seperti didorong cepat oleh tangan yang tidak terlihat. Melintas di udara seperti ia bisa meraih jarak 10 mel dalam satu langkah.
Teknik kecepatan tinggi di Aincrad style ‘Sonic Leap’ Gerakan pedang rahasia, Kirito mengatakannya dengan bahasa sacred seperti ‘melompat dengan kecepatan suara’, lalu menebas lengan kiri si pencuri dari tubuhnya.
Pelindung yang dibuat Kirito menghilang, dan Lisetta terlempar ke udara.Si penculik yang sudah kehilangan kedua tangannya itu tidak menghentikan langkahnya hingga bercucuran darah, melarikan diri ke jendela.
Sebenarnya masih ada kesempatan untuk menendang si penculik itu hingga jatuh dengan sword skill lainnya, tetapi Ronye memilih berhenti untuk menangkap Lisetta.Si penculik itu melompat ke jendela,sosoknya menghilang dalam cahaya pagi.
Di saat yang sama, Ronye menangkap tubuh Lisetta dengan tangan kirinya kemudian memeluknya didadanya. Dia membungkukkan badannya, menaruh pedangnya di lantai dan menenangkan sang bayi yang menangis dengan kedua tangannya.
“Lisa-chan, jangan takut…sudah tidak apa-apa sekarang…”
Berbisik dengan lembut dan mengelus pipinya, hingga tangisan sang bayi sedikit mereda dan tangan kecilnya itu menyentuh lengan Ronye. Di sisi kirinya, suara jendela tertutup terdengar kembali.
__ADS_1
Hingga seseorang menyentuh punggungnya, Ronye pun tetap memeluk erat sang bayi itu.