Sword Art Online

Sword Art Online
chapter 27


__ADS_3

Kirito dan Ronye kembali ke ruangan mereka, mengganti pakaian dan mengambil pedang, lalu mulai mencari dari lantai 49.Namun mereka tidak membuka ke semua pintunya. Kirito mempunyai kemampuan yang luar biasa dimana dia mampu mencari Scheta yang berada di dalam kastil dari jarak sejauh sisi sungai tempo hari, ia bisa merasakan aura manusia dan minions dibalik pintu dan dinding itu tanpa membukanya.Hanya membutuhkan konsentrasi dari lantai ke lantai.


Hampir 2 jam lamanya mereka terus mencari dari lantai ke lantai, Kirito memperlihatkan kalung yang diberikan Issukan di lehernya setiap mereka bertemu penjaga.Akhirnya mereka tiba di lantai 3, lantai terendah di kastil dan tempat penyimpanan senjata.


Kirito menutup matanya dan berdiri tegak—lalu ia menggelengkan kepalanya.


“Mereka gak ada disini.”


Setelah menarik napas berat, lalu ia pun menyandarkan punggungnya di dinding batu. Tempat penyimpanan senjata itu sudah tak berbentuk lagi, hanya ada cahaya dari lentera biji saja yang sedikit bergerak di lorong sepi itu.Melihat wajah cemas Kirito,Ronye dengan gugup bertanya padanya.


“…Apakah itu berarti mereka sudah melarikan diri…?”


“Uh…yang itu berarti bahwa minions yang terluka itu terbang lebih dari 3 kilolu dalam 2 menit.”


“Ti-tiga kilolu…? Apakah senpai bisa merasakannya sampai sejauh itu juga…?”


“Tergantung targetnya, tetapi ini tentang ukuran dari minions itu. Jika 1.5 kilolu permenit,maka 90 kilolu per jam…aku tak habis pikir mereka bisa terbang sekencang itu.”


“Sama seperti naga…apakah ada kerja sama antara Dark Knight dan naga…?”


Saat Ronye menanyakannya lagi,kirito menggeleng lagi.


“Aku bisa merasakan ukuran naga itu jika jauhnya sekitar 10 kilolu. Tetapi naga asli tidak mungkin terbang sejauh itu dalam waktu 2 menit,lain ceritanya jika itu mesin naga…”


Kirito tiba-tiba memutuskan kata-katanya, bergumam ‘gak mungkin’, dan langsung menyangkalnya.


“Tidak…jika menggunakan mesin naga, harusnya kau bisa mendengar suaranya yang bising,bukan suara ‘dentuman batu’…--tunggu, benda apa yang menghasilkan suara dentuman batu?”


Mendengar itu Ronye berpikir keras, tetapi ia tak menemukan apa-apa.Ia mengingat kembali kehangatan Lisetta ketika minum susu di lengannya, dan suara tawanya saat makan malam. Saat Ronye menekan kedua tangannya didada, Kirito berkata padanya.


“Lisetta adalah harapan bagi dua dunia, jangan biarkan dia terbunuh.”


Mendengar Kirito berkata dengan yakin, Ronye merasakan ketetapan hati yang begitu jelas,ia menarik napasnya.Wajah Kirito yang sedang bersandar di tembok terhalangi oleh bayangan, sehingga ia tak bisa melihat wajahnya. Dengan gugup ia mendekat kearahnya dan memegang kedua bahunya.


“…tidak mungkin…itu sangat tidak mungkin jika senpai harus mengorbankan diri…”


Terdiam sejenak, Kirito membalasnya.


“Aku sudah bilang kan, jika aku mati didunia ini, aku tidak akan benar-benar mati. Jika Lisetta tidak bisa diselamatkan, maka aku—”


Ronye langsung memotong kata-kata Kirito ketika ia akan mengatakan ‘aku akan mati’ dengan seruannya.


“Tidak! Apapun alasannya aku tidak bisa…aku tidak ingin jika tak bisa bertemu dengan Kirito-senpai lagi…!”


Ronye menekan wajahnya di dada Kirito. Kalung silver yang ada didada Kirito mengetuk kepalanya, tetapi rasa sakit itu tak bisa dibandingkan dengan rasa sakit didadanya.


“Bagiku, tujuan hidupku adalah untuk mengikuti dan melayani senpai. Aku sudah memutuskan untuk terus berada disisimu. Aku tak ingin lebih…tetapi jika senpai harus mengorbankan diri, maka aku juga akan melakukannya! Aku akan dieksekusi bersamamu juga!”


Ronye mengatakan itu bagai menyandera dirinya, tetapi itu memang apa yang ia pikirkan,tanpa persetujuan apapun.

__ADS_1


".......Ronye..."


Memanggil namanya dengan suara yang parau, Kirito memegang kedua bahu Ronye.


Ia bisa mengerti perasaan itu, sebenarnya Kirito bisa saja menahan Ronye atau membuatnya tidur selama 2-3 hari—sampai semuanya berakhir. Tetapi itu sia-sia saja. Jika Kirito dieksekusi saat dia bangun, dia pasti akan mengikutinya.Tangan kanan Kirito mengelus rambut Ronye pelan, ia berbisik.


“…terima kasih, Ronye. Aku tidak akan menyerah, aku pasti akan menyelamatkan Lisetta…dan kemudian kita, kita akan kembali ke Cathedral, rumah kita.”


Saat Ronye mendengarnya, air mata mengalir dari kedua matanya. Ia mengangguk dan berusaha menjawab dalam tangisnya.


“B-baik…baik…”


Tak bisa berkata-kata lagi, Ronye hanya terus memeluk erat tubuh kirito.Dan Kirito mengelus rambut mantan valetnya di Akademi Master Pedang itu hingga ia merasa tenang.


Begitu cepat, bel pukul 6 telah berdentang dan mereka pergi ke aula di lantai satu, untuk bertemu dengan Scheta dan Issukan yang kembali dari markas kelompok Dark Art Master Mereka datang bersama dan menceritakan semuanya, tetapi sayangnya mustahil untuk mendapatkan informasi mengenai si penculik itu begitu saja.


“Anggota Dark Art Master yang tidak melakukan apa-apa tiba-tiba hilang saat Perang Dunia Asing, tetapi dia tak melakukan pengendalian minions. Aku bertanya pada mereka, mereka tidak bisa menanggulangi ‘Hukum Terkuat’”


Scheta menambahkan dengan ekspresi wajah depresi.


“Ada satu hal lagi…sekitar sebulan lalu, itu kelihatannya tempat pembuatan tanah liat diatur oleh mereka, banyak tanah lihat kualitas terbaik menghilang.”


“Berapa banyak itu tepatnya?”


Saat Kirito menanyakannya,issukan pun menjawab dengan wajah tidak enak.


“Sekitar seukuran 3 minions. Mereka membawanya tanpa melaporkan pada Konfrensi ke-5 Kubu…yah, kami sudah pernah mendengar ini sebelumnya, kami tak bisa menduga terjadi hal seperti ini…”


Issukan bertanya pada Kirito yang bergumam.


“Aku sudah menerima laporan dari para penjaga, bagaimana denganmu?”


“Buruk…aku sudah mencari ke seluruh kastil dari lantai teratas sampai terbawah, tetapi tidak ada sedikitpun jejak minions itu ataupun Lisetta. Jika ada ruangan rahasia yang tidak kau ketahui juga…itu sama saja…mereka tidak akan bisa menghindari deteksiku sekalipun mereka bersembunyi diluar tempat ini.”


“Kalau begitu berarti mereka sudah melarikan diri ke tempat yang jauh…”


Issukan mengacak rambutnya. Istrinya menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat.Di aula yang sunyi, suara pintu besar kastil yang tertutup terdengar bising.


Tak hanya suara pintu, tetapi suara engsel berderit yang berasal dari ukiran Obdisia, suara yang berasal dari mineral kuat saat saling bergesekan itu sangat unik. Suaranya mirip seperti suara petir dari jauh, dan Ronye teringat sesuatu karenanya.


Ketika percobaan penerbangan dengan mesin naga versi 1 di Central Cathedral. Untuk mencegah mesin naga bertubrukan dengan puncak Cathedral, Asuna-sama menggunakan kemampuan Dewi Stacianya dan menggeser puncak Cathedral dari lantai 95 dan menaikkannya. Potongan-potongan lantai marble yang saling bergesekkan itu menimbulkan suara gesekan, seperti dentuman batu.


“…Itu dia! Scheta-sama…”


Ronye berdiri didepan Scheta dan langsung mengucapkannya.


“Ada pintu raksasa yang terbuat dari Obsidia disini bukan? Didekat kamar Scheta-sama dan Issukan-sama?”


“Pintu Obsidia…? Tidak…hampir semua pintu disini terbuat dari kayu dan bingkai jendelanya terbuat dari besi.”

__ADS_1


“Kalau begitu apakah ada mekanisme tertentu seperti menggesekkan batu?”


Kirito ikut menambahkan saat mendengarnya.


“Suara dentuman batu itu terdengar oleh para penjaga…jika ada sesuatu seperti pintu rahasia di luar dinding kastil ini, itu mungkin saja…tapi…”


“Jika memang pintu rahasia, harusnya mereka tak bisa menghindari penciumanmu kan Kirito?”


Issukan mengerang sambil mengepalkan tangannya.


“…dan juga, aku tak pernah dengar ada hal seperti itu didekat kamar kami, kalaupun ada, takkan ada yang bisa menggunakannya, kecuali dengan terbang.”


“…pintu rahasia…mungkinkah?”


Kirito bergumam sambil mengalihkan pandangannya ke langit-langit.


“Issukan, kau sendiri kan yang bilang, di puncak lantai 49, ada lantai teratas yang sebenarnya.”


Komandan pasukan gelapan dan istrinya menarik napas bersamaan.


“…La…lantai 50!? Tetapi disana tersegel, rantainya saja tak bisa dibuka!”


“Bagaimana dengan diluarnya? Apakah ada jendela atau sejenisnya?”


“T-tidak kurasa…”


Issukan mengalihkan pandangannya dengan ekspresi canggung.


“…Saat Pemimpin Vector datang dan 10 klan Dark Territory berkumpul, aku melihat ada jendela didekat singgasananya. Tetapi sekarang kalau dilihat dari luar, hanya ada batu dari lantai 49. Tidak ada jendela…”


“Begitu ya.”


Kirito menyahutnya dengan yakin.


“Saat Pemimpin Vector tewas dan rantai segelnya melonggar, dari luar dinding bebatuan itu menutup jendelanya. Ruangannya menjadi terpisah. Suara dentuman batu yang didengar para penjaga itu pasti suara bebatuan yang berjatuhan lagi.”


“Tetapi disaat seperti ini….”


Issukan yang memiliki warna kulit agak kemerahan tiba-tiba berubah pucat, meneruskan kalimatnya dengan setengah berbisik.


“Hanya Pemimpin Vector yang bisa menghancurkan segel di lantai 50…itu berarti dia yang menculik Lisa………”


Wajah Issukan telah diselimuti kekhawatiran, dia menggeretakkan giginya.Scheta memecah keheningan dengan suaranya.


“Ayo ke lantai 50."


Dengan segera Kirito juga mengangguk.


“Ya…kita bisa menemukan sesuatu jika bisa membuka pintunya.”

__ADS_1


Issukan mengangguk untuk mengusir kekhawatirannya.Mereka ber-4 pun menaiki tangga lagi menuju lantai teratas kastil tanpa henti. Dalam situasi menegangkan seperti ini, Ronye mampu bertahan saat menaiki tangga tanpa kehabisan napas.


Dia berhenti di lantai 49 dan melihat tangga selanjutnya. Udara dingin terasa ketika menaiki tangga itu. Apakah suhu air panas dari pemandian kastil ini tidak sampai ke puncak?


__ADS_2