
Walaupun ratusan penjaga telah menghabiskan hari mencari di seluruh tempat, jejak si penculik itu tidak dapat ditemukan.Dia telah melompat dari ketinggian 500 mel. Dan itu kelihatannya dia takkan punya kesempatan untuk menyelamatkan diri, tetapi Issukan,Scheta,dan Kirito yakin bahwa insiden ini belum berakhir.Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore semenjak penggerebekkan didalam kastil berakhir.
Mereka pun bertemu lagi di kamar anak dengan jendela yang sudah diperbaiki.Di lengan Scheta, Lisetta dengan tenang meminum susunya seakan-akan dia telah lupa tentang insiden yang menimpanya. Dokter di kastil yang merupakan pendeta tingkat tinggi bersama Scheta, telah memastikan dampak dari racun dan Dark Art, untungnya tidak ada masalah.
Di sisi lain, bukan berarti tidak ada yang bisa ditemukan tentang si penculik itu. Caranya membuka jendela di lantai 50 yang bahkan tak bisa dilakukan oleh siapapun kecuali Pemimpin Vector masih menjadi misteri.
“…Ini mungkin tak ada hubungannya, tapi…”
Kata Ronye, menghirup aroma yang mirip seperti aroma apel dari teh yang ia minum, yang tak ada di Dunia Manusia.
“Saat orang itu mencoba membuka jendela, ada permata merah besar muncul dari dadanya.”
“Permata merah…?”
Gumam Kirito, memiringkan sedikit kepalanya bersamaan dengan Scheta. Kelihatannya mereka tidak menyadarinya.Issukan, yang tengah mengunyah potongan pie buah, mengerenyitkan alisnya dan bergumam.
“Permata merah…apa kau masih ingat seperti apa warnanya, Ronye-jochan?”
Ronye menjawab, mengingat bahwa ini adalah pertama kalinya petarung tangan kosong itu memanggil namanya.
“Umm…itu tidak terlalu terang…terlihat seperti merah gelap, merah darah, atau warna matahari terbenam.”
“Merah darah…neraka darah…”
“Hey Issukan, jangan bercanda pake kata neraka darah segala dong!”
Kata Kirito menempelkan telapak tangannya di pipi.
“Aku gak bercanda tahu.”
Dengan ekspresi yang bingung,Issukan pun menjelaskan.
“Pemimpin Vector punya batu seperti itu di mahkotanya saat dia turun sebelum Perang Dunia Asing. Permata yang ia pakai seperti itu, aku masih ingat sedikit.”
“Mahkota Pemimpin Vector…gak mungkin ah. Orang itu berada ribuan kilometer jauhnya ke selatan dari tempat ini, dia dibunuh Bercoulli di bebatuan dan langsung tewas. Saat dia hidup lagi, dia gak pake mahkota seperti itu, pasti semuanya hilang di bebatuan itu.”
“Kau tidak melihatnya?”
Di kalimat Issukan, Kirito hanya mengangguk.
“Yah…”
Saat itu Kirito masih tidak sadarkan diri, hanya Integrity Knight Alice dan Bercoulli yang melihat Pemimpin Vector saat itu, tetapi dia tak lama berada di Underworld.Alice membawa tubuh Bercoulli dengan naga hampir menuju ‘Altar Ujung Dunia’, dan setelahnya Kirito menjemputnya kembali ke Dunia Manusia. Tempat peristirahatan terakhirnya di bangun di tengah-tengah kebun bunga yang berada di sepanjang selatan bagian Central Cathedral.
“…Memang, tidak ada yang tahu dimana Bercouli bertempur melawan Pemimpin Vector saat itu,sulit untuk mengetahui,dan mengidentifikasinya.”
__ADS_1
Mengatakan itu dengan ekspresi wajah kalut, Kirito mengalihkan pandangannya ke jendela.
“Tetapi jika kekuatan permata itu adalah untuk membuka dan menutup jendela lantai 50, ada kemungkinan kalau itu terhubung dengan Pemimpin Vector seperti kata Issukan.Yah mungkin ada yang tahu cara menggunakannya…dan yang masih jadi pertanyaannya adalah siapa orang itu…kelompok pembunuh apa yang kau maksud waktu itu?”
Kirito menanyakannya dan menoleh pada Issukan yang menjawab dengan acuh sambil meminum secangkir teh.
“Hidup mereka hanya ada untuk membunuh…dengan racun…salah satu dari mantan ke-10 klan di Dark Territory, pemimpin mereka, Fuza ditembak oleh serangan pemberontakan jendral kegelapan Shuster dan tewas. Itulah kenapa kelompok mereka melemah, dan mereka juga tidak tergabung dalam Konfrensi ke-5 Kubu. Aku hampir lupa dengan keberadaan mereka, tetapi…aku gak percaya kalau si ******* itu dari kelompok pembunuh, dan bahkan dia mengendalikan minions…”
“Kami akan menginvestigasinya bersama dengan para Dark Art Master yang hilang itu.”
Scheta mengangguk.
“Ya, kami juga akan mendiskusikan ini dengan para knight dan kelompok komersil. Aku tidak akan membiarkan kekacauan seperti ini terjadi lagi di Obsidia.”
Kirito menambahkannya pada Issukan.
“Di saat seperti ini, apakah harus meminta kerja sama dari kelompok Dark Art Master? kami semua masih ingat perbuatan DIL, dan jelas kalau Dark Art Master tidak bisa membantu,tetapi ini lebih baik bagi mereka untuk melindungi kastil sebisa mungkin. Hanya penjaga yang tak bisa dipercaya untuk melawannya.”
“Kurasa itu akan terbayarkan.”
Dengan senyum pahit, Issukan mengangkat bahu dan menjawab.
“Tapi yah, pasti ada jalan. Ditambah lagi ada pertengkaran diantara manusia disekitar Obsidia, masalah pembagian daerah setengah-manusia, dan masalah seperti…—Kirito, sampai berapa lama kau akan ada disini?”
Saat ini Issukan yang memiringkan kepalanya dan Kirito meluruskan punggungnya.
“Oh ya benar…tetapi kau lihat…aku…masih belum cukup untuk berterima kasih karena sudah menyelamatkan Lisetta, dan disini juga masih banyak makanan untuk dimakan…”
Melihat Issukan memajukan bibirnya seperti anak kecil, Kirito tersenyum dengan ekspresi wajah yang sedikit sendu,seperti bernostalgia.
“…eh kenapa?”
“Enggak ada…cara bicara Issukan mirip seperti teman lamaku. Yah, pertemuan selanjutnya adalah bulan depan kan? di saat itu tiba, aku akan membawa banyak orang.”
“Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan makan malam terakhir, seperti setumpuk ular meh atau mungkin belut hidup…yah kali ini aku yang akan menjaganya baik-baik, aku takkan melupakan semua kebaikan ini dalam hidupku.”
Kirito dan Issukan saling mengepalkan tangan, melihat itu, Lisetta dengan senangnya tertawa “kya kya” di lengan Scheta.
Kirito dan Ronye yang sudah tidur selama beberapa jam diruangannya dan selesai makan,mereka berangkat dari kastil Obsidia pukul 8 malam.Kali ini tidak perlu lagi melumuri wajah dengan krim gelap, ataupun terbang dengan Incarnation, Scheta pun mengantarkan mereka menuju mesin naga dengan naganya Yoiyobi.
Dia terlihat kaget saat melihat mesin naga itu, tetapi setelahnya dia menyadari kemungkinan dari adanya naga yang terbuat dari baja. Dia bilang jika diproduksi banyak, pasti perjalanan dari Dunia Manusia ke Dark Territory menjadi lebih mudah dan menyenangkan, Scheta pun kembali ke kastil Obsidia, tempat dimana sekarang itu adalah rumahnya dan sebagai pemenuhan kewajibannya. Kirito dan Ronye pun memasuki mesin naga dan terbang ke langit menuju arah timur.
Saat penerbangannya stabil, Kirito menghela napas panjangnya, dan berkata.
“Oh iya, ‘Sonic Leap’ yang kau gunakan saat menyelamatkan Lisetta dari penculik itu keren banget lo, sejak kapan kau semakin bagus menguasainya?”
__ADS_1
“I-itu…hanya…aku secara tidak sadar hanya…”
Mengangkat bahunya hingga lehernya tertutupi, dia menyentuh sarung pedang silver yang berada di celah kursi dan dinding.
“Itu kelihatannya pedang itu yang dapat mengalirkan kekuatan padamu, aku saja belum tentu bisa melompat sampai sejauh itu.”
“Y-yah…ini memang pedang yang bagus…”
“Ya.”
Kirito mengangguk, Ronye meluruskan tubuhnya di senderan kursinya.Selama mereka terbang, dibalik kaca jendela transparan mereka dapat melihat langit malam di Dark Territory. Ada beberapa bintang yang tak bisa dibandingkan banyaknya dengan di Dunia Manusia, tetapi ada bulan sabit yang bersinar dilangit malam itu.
Dunia Manusia dan Dark Territory memang terpisah, tetapi orang-orang yang hidup didalamnya melihat bulan yang sama…
Saat memikirkannya, perasaan aneh kembali ia rasakan saat melihat tanda penginapan di ibu kota Obsidia dan saat dia mendengar nada lonceng, tetapi kali ini Ronye benar -benar mengingatnya.
“Anu…Kirito-senpai.”
“Kenapa?”
“Anu…kenapa orang-orang di Dark Territory dan Dunia Manusia menggunakan huruf dan kalimat yang sama? Walaupun sama-sama lahir di Underworld, tetapi sudah banyak pertukaran diantara kedua dunia ini, jadi gak aneh kan jika mereka menggunakan bahasa yang berbeda?”
Dia menanyakan ini tanpa terpikirkan sebelumnya, hingga dia melihat dunia dengan mata kepalanya sendiri, sehingga Ronye ingin tahu alasannya dan menanyakannya pada Kirito.Prime Swordsman yang lahir dari dunia nyata itu pun menjawab setelah hening sejenak.
“Itu karena, orang dari dunia nyata yang membuat dunia inilah yang membawa Dunia Manusia dan Dark Territory dalam perselisihan, sehingga lebih baik bagi mereka untuk memilki 2 jenis cara bicara dan bahasa yang berbeda. Jika tak bisa berkomunikasi, kita tak bisa merencanakan perdamaian. Tetapi mereka…atau sesuatu yang melebihi orang dunia nyata bermaksud untuk membuat bahasa yang umum. Aku gak tahu kenapa, tetapi itu mungkin saja karena dunia ini bisa mengatasi perselisihan dan konflik yang ada…”
Kata-kata kirito sulit dimengerti bagi Ronye. Dia tak bertanya lagi dan berpikir keras. Kirito-senpai bilang, Lunaria yang melayang di langit malam adalah sebuah bola raksasa seperti planet ini. Itulah kenapa Lunaria dapat membesar dan mengecil sesuai dengan respon cahaya Solus.
Jika orang-orang tinggal di Lunaria, mereka pasti bisa melihat bumi berbentuk sabit seperti halnya aku yang tinggal disini. Jika begitu, mungkin mereka juga menggunakan bahasa yang sama. Mungkin, seperti manusia di dunia ini, mereka hidup dengan melakukan banyak kesalahan, pertarungan, saling bertumpahan darah, apakah mereka akan bekerja keras demi dunia yang lebih baik?
Rasanya seperti bulan sabit yang ada dilangit malam adalah tempat lahirnya banyak orang,
Ronye menunjuk Lunaria dengan tangan kirinya.Menyentuh pegangan dari pedang tercintanya, Ronye berkata.
"Oh, senpai."
"Hmm……?"
“Aku memutuskan untuk memberi nama pedang ini “Moonlight Sword”, ya itu namanya.”
“Oh ya, nama yang bagus. Aku yakin pedang itu akan selalu melindungi Ronye.”
Setelah tersenyum dan menyahut “ya!” dari kata-kata Kirito, Ronye mengusap airmatanya yang jatuh dengan ujung jarinya.
Aku ingin segera menemui Tieze.Aku ingin menceritakan segalanya pada sahabatku yang terombang ambing dalam kerinduannya pada Elite Swordsman Eugeo-senpai dan lamaran pernikahan dari Renri sama, dari apa yang kupelajari di perjalanan ini.
__ADS_1
Ketika Ronye memikirkannya, Kirito menambah sedikit kecepatan sang mesin naga.Dibawah sinar rembulan yang samar, mesin naga terus melaju ke arah timur.