
“Ah…reaksinya bikin kaget saja…”
Ronye,Tieze dan Asuna tersenyum bersamaan, melirik Prime Swordsman yang menaruh kedua tangannya di belakang kepala sambil menghela napas.Setelah pertemuan panjang berakhir, Ronye mengembalikan Berchie pada Fanatio dan bermaksud pergi duluan ke ruang makan besar di lantai 10 untuk makan siang,namun Asuna menghentikannya ketika hendak buru-buru menaiki tangga.
Bagaimana kalau makan siang bersama?Dan tidak ada alasan untuk menolaknya jika diajak, mereka berdua pun menyanggupinya (Ronye dan Tieze), jadi, Wakil-Prime Swordsman mengajak mereka ke
lantai 90 Central Cathedral ‘Melihat Pemandangan Bintang Pagi’.
Hanya pilar yang menyangga ke-4 sisi atapnya, bagian terbaiknya di lantai ini adalah kebun bunga yang cantik dengan saluran air yang jernih, bisa saja lantai ini menjadi puncak dari Cathedral.Tangga menuju lantai 90 ditutup dengan pintu yang tidak dapat dirusak buatan Asuna dengan kemampuan divinenya, tak hanya Integrity Knight, Prime Swordsman Kirito saja takkan bisa merusaknya.
Ada meja putih di sudut kebunnya, dan Kirito yang muncul 3 menit setelah ke-3 lainnya
terlihat sedikit merasa tidak nyaman saat duduk di kursinya. “reaksinya itu”, yah tentu saja,dia berseru dengan keras saat mendengar nama Selka Schuberg.Begitu juga dengan Ronye dan Tieze saat mendengar nama Frenica, mereka ber-3 adalah teman saat masih tahun pertama di Akademi Master pedang, jadinya tidak aneh kalau mereka
kaget.
Tapi kalau Kirito…situasinya rumit.
Ronye dan temannya pernah dengar cerita bagaimana Kirito dan Eugeo pergi dari desa Rulid di bagian utara dan menjelajahi berbagai lingkungan hingga akhirnya menjadi siswa di Akademi Master Pedang, tetapi kisah itu tidak diungkap di Cathedral.Alasannya karena tujuan Kirito dan partnernya ke Centoria adalah untuk menjemput knight emas Alice Synthesis Thirty yang lahir dari desa Rulid, yang telah menjadi legenda dari
gereja Axiom.
Saat ini banyak knight yang masih percaya legenda Dewi Tertinggi bahwa Integrity Knight adalah tangan kanan yang dipanggil dari dunia dewa, sehingga informasi yang berkaitan dengan ‘tempat lahir Integrity Knight’ harus tetap dirahasiakan. Ditambah lagi, Dusolbert Synthesis Seven selama masa pelayanannya saat itu terlibat dalam Dewan Serikat Dunia Manusia, membawa Alice kecil dari desa Rulid karena melanggar Taboo Index, dia juga tak memiliki ingatan apapun saat itu.
Dusolbert sendiri kelihatannya menyadari kebenaran dari 'Synthesis Ritual’, tetapi melihat para knight muda, dia takkan menceritakannya dengan bebas.Dan ketika Kirito menjelaskan alasan kenapa dia kaget dengan nama Selka Schuberg saat pertemuan tadi adalah “karena dia pernah menolongku waktu aku nyasar”, itu tidak terlihat meyakinkan, Fanatio dan yang lainnya juga tidak terlihat begitu tertarik.
Asuna tersenyum dan berkata untuk memberikan kenyamanan pada Kirito yang terus menaruh kepalanya di atas meja.
“Yah, mau bagaimana lagi, Kirito-kun, saat Selka-san sampai di Central Cathedral nanti,
semuanya akan tahu kalau kau mengenalnya.”
“Iya aku tahu…aku mau bersiap-siap sebelum semua orang pada nanya padaku…”
“Kalau mau siap-siap, buat saja kesan dengan Selka-san seidentik mungkin. Menurutku
begitu…”
“Uh…boleh juga sih…”
Kirito mengangguk tanpa mengangkat wajahnya, dan ekspresi Tieze terlihat ragu-ragu.
"Um...... Kirito-senpai."
“Kenapa, Tieze?”
Prime Swordsman Kirito akhirnya mengangkat kepalanya dan memandang Tieze.Teman Ronye yang berambut merah itu terlihat ragu-ragu, lalu berkata sesuatu yang mengejutkan.
“Aku pikir lebih baik untuk tidak menyembunyikan kebenarannya lagi…kalau Integrity Knight sebenarnya lahir di Dunia Manusia juga sama seperti yang lainnya."
“T-tunggu sebentar Tieze…”
Ronye buru-buru menghentikan kalimat sahabatnya. ‘Synthesis Ritual’ yang dialami Integrity Knight sebelumnya adalah rahasia terbesar di Dewan Serikat Dunia Manusia, dan itulah kenapa tidak baik jika seorang magang membicarakan hal seperti itu.Tetapi Kirito mengangkat tangannya menghentikan Ronye, ia tersenyum dan memandang Tieze lagi.
“Yah, aku juga pada dasarnya setuju sih, banyak alasan yang bisa menjelaskan kalau cerita itu gak masuk akal. Diantara knight tertua, Fanatio-san dan Dusolbert-san, dan mungkin juga Scheta-san sudah mengetahui kebenarannya, dan suatu saat…ah tidak, secepatnya, aku rasa aku akan menjelaskan kebenarannya pada semua Integrity Knight….bagaimanapun……”
Kirito menahan kata-katanya sejenak, dia melihat Ronye dan Tieze dengan tatapan khawatir.
“…maaf jika aku jadi mengingat hal yang buruk…tapi kalian masih ingat kan kejadian
__ADS_1
dengan Raios Antinous…?”
Seketika saat mendengar namanya, Ronye dan Tieze diam membatu.Raios Antinous adalah Elite Swordsman-in-training saat mereka berdua masih valetnya Kirito dan Eugeo.Dia mengancam valetnya,Frenica dengan kejam, dan saat Ronye dan Tieze melabraknya karena kejadian itu, dia hampir saja memperkosa mereka berdua, dengan
membawa-bawa hak istimewanya sebagai bangsawan dengan ‘keputusan bangsawan’.
Kirito dan Eugeo masuk ke ruangan itu disaat mencekam dan menyelamatkan mereka berdua,tetapi lengan Raios patah karena tebasan pedang Kirito, dan mati dengan cara yang aneh,membuat mereka berdua gemetaran jikalau mengingat kejadian itu.Dia tidak kehilangan Life walaupun telah berlumuran darah. Malah, dia berteriak dengan suara yang tak bisa dibayangkan sebagai seorang manusia, lalu dia terjatuh ke lantai sebagaimana jiwanya hilang lalu tewas.
Dan selanjutnya di Perang Dunia Asing, Ronye dan satu orang lainnya juga telah menyaksikan banyak nyawa orang-orang dan setengah-manusia yang lenyap, tetapi belum pernah melihat kematian seperti itu.Saat mereka berdua mulai ketakutan, Kirito dan Asuna yang duduk bersebrangan didepannya sedikit memajukan tubuhnya, lalu menarik tangan Ronye dan Tieze ke atas meja dan
menggenggamnya.
Kehangatan dari tangan manusia yang berasal dari dunia yang disebut Dunia Nyata lebih hangat dari siapapun, dan perasaan dingin Ronye langsung menghilang begitu saja.Terima kasih,dia tak mengatakannya, hanya mengangguk, begitu juga dengan Kirito dan Asuna yang juga mengangguk sembari tersenyum, dan kembali duduk ditempatnya.Setelah menghela napas dalam, Ronye bertanya lagi.
“…apakah ada hubungannya Elite Swordsman in-training Antinous dan Synthesis Ritual?”
Kirito langsung menggeleng.
“Gak ada hubungannya sih. Tapi orang-orang yang hidup di Underworld juga bisa menjadi
seperti Raios saat pikirannya terlalu ekstrim.”
“Eh…”
Ronye dan Tieze membelalakkan matanya, tetapi Kirito langsung melambai-lambaikan kedua tangannya cepat.
“Gak perlu takut, kalian akan baik-baik saja karena fenomena seperti itu hanya akan terjadi pada orang yang terikat dengan ideologi yang sangat keras.”
“Ideologi…yang keras?”
“Ya, waktu Life Raios dipertaruhkan untuk melanggar Taboo Index,bagi Raios yang kelihatannya sangat berharga diri tinggi, Lifenya memiliki prioritas diatas segalanya. Tetapi di saat yang sama,hukum Taboo Index adalah absolut yang gak bisa dilanggar mau bagaimanapun.Untuk melanggar Taboo Index atau untuk mematuhinya dan mati…keduanya dipilih bersamaan,sampai jiwa Raios pun hilang.”
“Selain itu ada kisah yang kudengar dari Fanatio-san, yaitu di pertarungan pertahanan di Gerbang Besar Timur saat mantan pemimpin raksasa kehilangan pikirannya dan berteriak sama seperti Raios. Raksasa itu cenderung yakin kalau mereka adalah yang terkuat diantara seluruh ras…kupikir alasan klise itu tentang menghancurkan, dan dia jadi marah.Masalahnya…mungkin bagi beberapa Integrity Knight, percaya kalau mereka dipanggil dari dunia dewa menjadi pondasi jiwa mereka dan sama pentingnya.”
Bagi Ronye yang sudah menyaksikan kemampuan dan kegagahan para Integrity Knight setiap harinya, kalimat Kirito yang agak khawatir itu rasanya membingungkan.
Tentunya, fakta tentang ‘Synthesis Ritual’ itu bohong—fakta bahwa Dewi Tertinggi Administratorlah yang memperdaya semua Integrity Knight, akan mengagetkan mereka
berdua.
Tetapi ketidaktakutan seorang knight tergantung dalam diri mereka sendiri, mereka bisa menahannya. Tidak seperti Raios,mereka tidak akan kehilangan jiwanya.Atau itu hanya harapan? Walaupun sudah menjadi knight magang, Ronye tetap memberikan rasa hormat dan kekagumannya pada Integrity Knight yang memberi tahu tentang incarnation, dan mengajari sword skill serta sacred art dalam pelajaran dasar.Dia ingin
menjadi keberadaan yang sebenarnya tanpa menyakiti apapun—inilah yang dirasakannya,
tetapi apakah ini benar adanya?
Ronye yang merasa depresi, mendengar suara bergetar Asuna.
“Hey, Kirito-kun, aku ingin tahu…Taboo Index itu hukum absolut untuk orang-orang Dunia
Manusia kan? Jadi jika ada yang mencoba melanggarnya, maka jiwa mereka akan hilang?”
“Tidak, tidak juga. Biasanya ‘segel mata kanan’ akan aktif sebelum jiwanya hilang, dan mereka takkan bisa berontak…alasan kenapa segel itu tidak aktif pada Raios adalah dia tak mencoba untuk berontak tetapi percaya diri dengan apa yang dia lakukan.Kupikir karena itulah dia terjatuh kedalam ‘loop’ (lubang) diantara memilih 2 pilihan, dia harus melindungi Taboo Index atau Lifenya.”
“Senpai, apa itu loop?”
Tieze yang menyelanya, dan Kirito menjawabnya dengan agak malu-malu.
“Umm, walaupun sudah terencana dengan baik, terkadang…uh…sacred word muncul begitu saja yah... Loop itu seperti cincin, sesuatu yang berbentuk, yang artinya ‘gak akan ada ujungnya’ atau ‘berulang-ulang’…um…penjelasanku cukup bagus kan?”
__ADS_1
Kirito melirik Asuna yang tersenyum dan mengangguk.
“Yah, aku harap aku bisa membuat banyak buku catatan sebisaku…”
Ronye mengangguk dalam saat mendengar kalimat Asuna.Kirito terbang mengelilingi Dunia Manusia untuk mencari material membuat kertas yang bisa dikombinasikan dengan kemampuan kertas asli dari kulit dan kertas biasa.
Dia menemukan rami berwarna putih, tanaman yang juga berwarna putih tumbuh di kawasan gunung berbatu di bagian barat laut kekaisaran utara.Lalu dia memotong daun dan batangnya dan merebusnya.
Ketika siap lalu menuangkannya di lembaran tipis dan merekatkannya di bidang tipis, dan sebelum Lifenya berkurang,Kirito mengeringkannya dengan thermal dan aerial element untuk mengubah statusnya dari ‘piringan’ berkemampuan rendah menjadi ‘kain’ berkemampuan tinggi,lalu menggulungnya dengan alat penggulung beberapa kali hingga halus—itulah caranya membuat kertas putih.
Harganya pun lebih murah daripada kertas dari kulit dengan hanya 6 cen yang juga bisa
dibuat dari kulit domba,dan kemampuannya juga cukup tinggi dan setara dengan kertas dari kulit,dan lebih nyaman dibanding kertas biasa, yang dibuat dari anyaman rumput putih vertical dan horizontal dan dipukul dengan palu.
Dan bahannya, rami putih tidak tersedia di
ibukota saat itu, dan sejak itulah padang rami putih pun dibuka untuk diproduksi, 4 pabrik
juga sudah tersedia di Centoria,dan penjualan kertas rami putih untuk masyarakat di ibukota pun dimulai, tetapi harganya masih tinggi dari kertas biasa. Ronye pun baru mengetahui
sulitnya membuat produksi yang murah bagi anak-anak di Dark Territory dan Dunia Manusia.
Bagaimanapun, bagi Kirito dan Asuna, memproduksi kertas rami putih bukanlah tujuan akhir.Mereka masih ingin membuat banyak buku dalam bahasa Dunia Manusia, matematika,dan penjelasan teknik pembelajaran.
“…jika buku catatan dimiliki setiap orang, anak-anak juga bisa belajar kapan saja…”
Kata Tieze sebelum Ronye hendak berkata begitu.
“Buku catatan untuk sacred art tingkat dasar, mereka bilang seorang pembuatnya perlu skill tinggi untuk menyalin isinya selama sebulan dalam satu buku. Tentu saja itu mahal…ayahku membeli buku catatan itu karena sacred art adalah salah satu ujian yang akan dipelajari untuk masuk ke Akademi Master Pedang, masih tidak mustahil untuk membeli salinannya dimana ada beberapa bagiannya yang hilang, itu adalah penyesalan yang mengerikan.Dan itu akan tetap jadi hartaku.”
Dan Ronye berbagi pengalaman yang sama.
Buku tingkat tinggi di Dunia Manusia disalin dengan hati-hati sesuai dengan ‘ejaan Axiom’ yang digunakan di Taboo Index, yang harganya lebih dari 1 juta shears, dan bangsawan kelas rendah takkan bisa membelinya, hanya untuk orang-orang yang mampu, sehingga disebut ‘buku salinan super cepat’, muncul seniman muda yang menyalinnya dengan beberapa bentuk huruf yang berbeda, dan harganya pun jatuh,tetapi itu masih mahal.
“Itulah sesuatu yang harus diperhatikan, kalau begitu, suatu hari nanti…”
Kirito mengatakannya sambil tersenyum, lalu terhenti dan menghela napas berat.
“…produksi besar-besaran buku catatan akan lebih keras dari kertas rami putih, tetapi yah,
kita harus tetap sabar, karena perlu waktu.”
“…Ya benar.”
Asuna mengangguk dengan senyum anehnya.
“Jadi…Kirito-kun, tak hanya sword skill kan yang dibutuhkan untuk masuk ke Akademi
Master Pedang, tetapi tes sacred art juga?”
“Oh itu, iya, aku ada di 20 besar. Seperti yang aku harapkan. Tetapi aku mempelajari sacred art dari Eugeo dengan semangat sebisaku.”
Saat mendengarnya, Tieze tersenyum dan tertawa pahit. Namun tawanya tidak seiring dengan emosinya, dan Ronye melirik sedikit kearahnya saat membuka mulutnya, tanpa kata.Asuna memberikan senyuman untuk menghiburnya, melihat langit biru lalu mengalihkan lagi pandangannya ke sebrangnya.
“Yap, kalian berdua pasti lapar, ayo kita makan, bisakah kau membantuku membawakannya?”
Tentunya Kirito langsung bangkit bersamaan dengan Ronye dan Tieze yang juga berdiri. Saat mereka berdua masih valet, Ronye selalu berkata ‘biar aku saja yang melakukannya’, namun kali ini Kirito tidak duduk dan menanti layanannya. Senpai tidak berubah ya…pikirnya saat berjalan dibelakang Asuna, lalu Tieze mengambil lagi pulpen dan buku catatannya dan berkata:
“Jadi Asuna-sama, ‘buku catatan’ itu artinya buku untuk menyimpan salinan dan rekaman kan?”
__ADS_1
Grr Ronye yang merasa tidak bisa membantu mengepalkan tangannya kesal (pada diri sendiri).