
Kirito dan Ronye meminjam kamar mandi pribadi milik Scheta dan Issukan untuk membersihkan warna wajah dan kotoran karena perjalanan jauh, yang berada di ruang tamu di lantai yang sama.Itu kelihatannya kedua tamu mendadak itu diketahui oleh seluruh isi kastil sebagai pengirim pesan dari Dunia Manusia.
Karena Kirito menyembunyikan identitasnya sebagai Prime Swordsman, para penjaga yang melihat pakaiannya yang memiliki warna lebih terang terlihat curiga, bukan hal yang normal sebagai seorang pengirim pesan, tetapi mereka merubah sikapnya setelah melihat pedang yang menggantung di pinggang mereka berdua. Di Dark Territory, senjata atau divine object terlihat sangat jarang ada jika dibandingkan di Dunia Manusia.
Mereka pun beristirahat sejenak di 2 ruangan, lalu makan siang dengan Issukan dan Scheta. Sorenya mereka diantar dengan kuda untuk melihat markas Dark Knight dan tempat pelatihan kelompok petarung tangan kosong di pusat kota. Kirito kelihatannya ingin membuat permainan dengan asisten kepala petarung tangan kosong yang dipanggil si raksasa bertangan satu, tetapi “karena kami menyamar!” membuatnya semangatnya terhalangi.
Setelah itu, mereka melihat pasar dan stadium besar, tetapi tentu saja jalan-jalan ini bukan hanya untuk bersenang-senang. Kirito dan Issukan menggunakan setiap kesempatan ini untuk membicarakan tentang insiden dan Ronye terus mempertahankan perannya sebagai pengawal.Karena ia juga bersama Scheta, Integrity Knight senior yang dipanggil ‘si pendiam’, tidak ada kesempatan bagi Ronye untuk melakukan sesuatu jika ada serangan, tetapi—Ia terlambat menyadarinya. Saat Scheta mengendarai Yoiyobi, dia tak membawa pedang di pinggangnya.
Saat merasakan benturan di kereta kuda menuju kastil, Ronye mendekatkan tubuhnya pada Scheta dan bertanya.
“Scheta-sama, pedangmu yang hilang itu, apakah tidak bisa di…?”
Knight itu mengangguk dan menyipitkan kedua matanya ketika mengingat kembali masa lalu.
“Bagiku, ‘Black Lily Sword’ adalah pedang pertama dan terakhir yang kucintai.”
"............"
Ronye tidak bisa membayangkan bagaimana jika seorang Integrity Knight kehilangan divine objectnya.Scheta tersenyum simpul dan menyentuh jari-jari Ronye yang tak bisa berkata kata.
“Aku bukan lagi ‘si pendiam’, tetapi hanya seorang ‘knight tak bersenjata’.Namun aku bersyukur dengan apa yang kualami…terkadang jika aku mengingat pedang Black Lily-ku itu, aku merasakan kesepian.”
“Jadi itu…”
–orang ini benar-benar tak bisa kuraih dan kupahami bagiku.Belum lagi dia merasa terjatuh kedalam jurang mengenai perbedaan antara dirinya yang seorang knight magang dengan Scheta si knight senior, dan disaat itu, Scheta tiba-tiba menanyakan hal yang mengejutkan.
“Apa pedang itu diberikan untukmu?”
“I-iya, tetapi aku belum memberikan nama untuknya.”
Scheta hanya mengangguk.
“Begitu ya, koneksimu dengan pedang ini masih sangat lemah, tetapi ini pedang yang bagus.Berhati-hatilah, walaupun perang sudah berakhir, pertarungan antar knight tidak akan pernah berakhir.”
__ADS_1
“Baik!”
Saat Ronye menjawabnya dengan jelas, Kirito dan Issukan yang duduk didepan terlihat kaget.Kereta kuda telah melewati kota dan kembali ke kastil Obsidia lewat jalan yang normal dengan melewati gerbang dan jembatan.
Kastil Obsidia berukuran 500 mel dan memiliki 50 lantai yang hanya sedikit berbeda dari Central Cathedral, tidak ada elevator otomatis didalamnya. Dengan kata lain hanya ada tangga jika ingin mencapai lantai tertinggi, yang juga untuk melakukan tindakan pencegahan dari perampok.
Menuju lantai 49 ruangan Issukan, 4 orang itu terus menaiki tangga tanpa henti. Issukan dan Scheta serta Kirito tidak kelihatan capek, tetapi lain dengan Ronye, ia sudah terdengar ngos ngosan. Setelah tiba, Ronye benar-benar menyadari kalau ia kurang latihan.
Ronye yang masih ngos-ngosan itu berterima kasih pada mereka bertiga yang menunggunya,lalu ia melihat masih ada tangga besar disana, lalu memiringkan kepalanya.
“Hmm Scheta-sama, ada apa diatas sana?”
Itu bukanlah kewajibannya menjawab, sehingga sang komandan yang menjawab.
“Lantai 50 adalah singgasana. Aku masuk kesana hanya sekali dua kali sih.”
“Oh…apakah itu singgasana untuk pemimpin?”
Sekarang Kirito yang bertanya, Issukan mengangguk, berkerenyit.
“Kenapa gak kau ambil saja?”
Issukan sedikit melompat dan melebarkan kedua tangannya didepan Kirito yang ingin tahu.
“Iya iya gini ya, pintu di lantai 50 itu ditutup lagi menggunakan ‘rantai tersegel’, saat Pemimpin Vector terbunuh, rantai itu tak bisa dihancurkan, dari lantai 50, ada legenda bahwa, disana kau bisa melihat jarak dan kaki gunung serta Gerbang Besar Timur, jadi aku mencoba membukanya lagi tapi…”
Mendengar penjelasan Issukan, saat ia berkata ‘tidak bisa dihancurkan’, Scheta mengangguk dan menambahkan.
“Aku meminjam pedang dari penyimpanan dan mencobanya, tetapi tetap tidak bisa. Jika saja menggunakan Black Lily Sword mungkin bisa”
“Kurang beruntung nih”
Ronye sudah membayangkan kalau kalimat “aku akan mencobanya dengan Night Sky Swordku!” terdengar dari mulut Kirito, dengan cepat ia menggulung lengan bajunya. Namun itu kelihatannya Kirito juga membayangkan kalau Ronye akan mengatakan “gak akan bisa!”, jadi ia hanya melihat tangga itu sekali dan mengangguk
__ADS_1
(WTF apa yang mereka bayangkan itu saling bertolak belakang xD)
“Kalau gitu, turnya selesai.”
“Kuharap makan malam hari ini adalah bahan yang langka…”
“Aku juga penasaran.”
Melihat pembicaraannya berakhir, Scheta melangkah duluan.
“Aku harus memberi susu pada Lisetta, sampai bertemu lagi makan malam nanti.”
“Oh iya, aku juga mau melihatnya, seharian ini aku gak melihat wajah imutnya.”
Kirito melambai pada sepasang orang tua itu, sejenak ia melihat tangga besar didepannya menuju ke lantai 50 lagi. Ronye menggeleng kepalanya pelan, dan berkata dengan senyum pahit.
Aku mengerti…apa kita juga mau kembali ke kamar?”
Ada 5 orang yang sedang makan malam bersama: Issukan, Scheta, Kirito, Ronye, serta sang bayi kecil Lisetta. Walaupun hanya berlima, suasananya terasa hangat dan santai seperti saat makan malam bersama keluarga di Centoria utara.
Itu kelihatannya kalau Issukan ‘agak sedikit merasa aneh’ dengan rasa dari jenis makanan yang ia lihat seperti ‘air rebusan kadal dalam tusuk daging’ atau ‘jamur bakar yang dibungkus dengan kacang tepung’, dibandingkan dengan Kirito yang dengan semangat dan beraninya mencobanya, sehingga suara tawa lucu Lisetta yang terdengar ‘kya-kya~’ saat melihat Kirito berbicara. Melihat putri kesayangannya itu, Scheta dan Issukan tersenyum senang.
Setelah selesai makan sambil merasakan ‘suara bayi dan keluarga, semuanya begitu menyenangkan’, dan mandi, Ronye kembalil ke ruangannya.Kamar mandinya lebih kecil bila dibandingkan dengan kamar mandi umum di Central Cathedral, tetapi yang menjadi pembandingnya adalah lokasinya berada di lantai atas kastil besar dengan tinggi 500 mel, air hangat yang segar ada disana seperti keajaiban.
Walaupun disana tidak menggunakan sacred art seperti di Cathedral, dia penasaran bagaimana caranya air panas sebesar itu bisa ada disana, air panas yang mengalir dari atas dan salurannya bisa digunakan untuk masak, mandi, dan memanaskan setelah gunung itu menjadi kastil.
Mengingat kembali saat tidur di hotel murah kemarin malam, ruangan yang ia tempati sekarang terasa hangat, tempat tidurnya lembut dan Ronye yang mengantuk itu berganti pakaian sebelum suara bel pukul 9 berbunyi. Aku akan kembali ke Dunia Manusia besok pagi, sehingga lebih baik untuk cepat tidur, walaupun momen yang tak terlupakan ini akan segera berakhir, dia pun berbaring dan menatap dinding di sebelah utara.
Dibalik dinding ini pasti Kirito-senpai juga sedang bersiap untuk tidur, atau malah dia sudah tidur? Kami sudah banyak mengobrol selama lebih dari 40 jam di ibukota, tetapi aku merasa aku masih belum melakukan hal yang penting untuknya.
Tentu saja, apa yang paling penting itu adalah misi sebagai pengawal, aku mengajukan diri untuk menemaninya bukan untuk mengobrol, tetapi walau begitu—Ronye bangun lagi dari tempat tidurnya karena terdorong keinginan untuk mengetuk pintu disebelah kamarnya.
Tetapi Ronye sangat tahu kalau Kirito mempunyai orang yang ia cintai, namanya adalah Asuna. Mereka berdua berasal dari dunia yang sama, dunia nyata. Dia secantik Dewi Stacia,sangat bersahabat tanpa mendiskriminasi siapapun, lebih kuat dari siapapun jika beradu pedang. Saat Perang Dunia Asing, Ronye hanya merasakan ketakutan hebat dibalik kereta kuda, namun Asuna, walaupun terluka parah, ia melindungi Kirito dengan darah dan keringatnya. Tidak ada alasan baginya bersaing dengan orang sekuat dia.
__ADS_1
Jangan sampai perasaan ini kau ucapkan, jangan sampai.