Sword Art Online

Sword Art Online
Chapter 14


__ADS_3

Ketika mereka berdua keluar dari tempat penyimpanan senjata, bersamaan dengan cahaya yang mulai meredup, bel pukul 7 telah berdentang.


Setelah menulis jam keluar di jurnal, Asuna berkata ia akan pergi ke bagian umum di lantai dua jadi ia menuruni tangga utama. Tinggalah Ronye seorang diri menatap langit malam yang dinaungi oleh cahaya ungu di jendela besar didepan tempat penyimpanan senjata itu, ia menghela napas berat.


Dulu waktu di Akademi Master Pedang, tempat dimana ia belajar selama setengah tahun, ada aturan dimana makan malam harus selesai pukul 7, dan jika ada yang terlambat tanpa alasan yang jelas, maka mereka akan ketinggalan makan malam. Tentu saja tidak ada peraturan seperti itu di Central Cathedral, hingga jam 9 lewat pun tak masalah untuk mengambil makanan hangat selama ruang makan besar di lantai 10 masih terbuka, selain itu cemilan selalu tersedia di dapur besar di sebelah ruang makan.


Hari ini, dia berlarian naik dan turun tangga, sehingga ia menjadi lebih cepat lapar karena banyaknya kegiatan, namun kali ini ia tak merasa ingin makan, jadinya Ronye memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Biasanya dia menaiki elevator otomatis ke lantai 22 Cathedral, ke kamarnya, namun hari itu dia memilih menaiki tangga utama untuk merasakan beratnya pedang barunya itu secepat mungkin.


Kirito dan Eugeo yang melarikan diri dari penjara bawah tanah di Cathedral ini sekitar 2 tahun lalu, dengan melewati tangga-tangga hingga 50 lantai saat melawan Integrity Knight.Tidak ada tanda bekas pertarungan disitu, kecuali perasaan dari kedua orang yang sedang dikejar-kejar ketika itu, dan mencoba seperti yang mereka lakukan,Ronye melangkahkan kakinya hingga sampai di lantai 22 dengan sedikit ngos-ngosan.


Ruangan pribadi disebelah kanan di koridor, sebuah ruangan berbagi dengan Tieze karena status mereka yang masih magang, namun sahabatnya itu tidak ada dikamarnya, mungkin Tieze sedang makan malam. Ronye pun masuk kekamarnya.Kebetulan sekali, ruang tamu dengan 2 tempat tidur ini sama dengan bentuk ruangan asrama Elite Swordsman Kirito dan Eugeo dulu, tetapi disini lebih besar. Kamarnya di rumah orang tuanya dimana dia menghabiskan masa kecilnya hingga memasuki Akademi Master Pedang memiliki besar yang sama, sehingga Ronye merasa terlalu resah karena ukurannya sejak awal, namun pada akhirnya ia memilih untuk menyusun kembali furniture yang ia sukai dan mengubah posisinya berulang kali, hingga ia nyaman.


Melihat kedalamnya, dinding dibaliknya adalah jendela besar yang mengarah ke timur Centoria, tempat tidur dengan sprei di sebelah kiri dan ada meja kecil di sebelah kanannya.Dan dinding di sisi lainnya dari jendela ada perangkat cahaya yang sama seperti di tempat penyimpanan senjata tadi. Dia memasuki kamarnya, menyimpan pedang dari pinggangnya dan menyenderkannya dinding, sarung pedangnya yang berwarna hitam sangat cocok dengan interior furniture dikamarnya yang kebanyakan berwarna coklat gelap “Aku akan memikirkannya dengan hati-hati, dan memberikan nama yang cocok untukmu.”


Dia berbisik pada pedangnya, melepaskan armornya yang berwarna abu terang dan ia taruh pada tempatnya disebelah kanan pedangnya. Lalu ia merebahkan tubuhnya secepat cahaya ke tempat tidur, tetapi ia harus menahannya kali ini. Ia harus segera bersiap-siap untuk perjalanan panjang besok Ia mempelajarinya dari Kirito, tas atau tempat untuk menyimpan barang-barang seorang knight setidaknya cukup berukuran medium saja, sehingga Ronye harus memilih barang barangnya seperlunya.


Untuk seorang gadis yang berumur 17 tahun sepertinya ini pasti ingin membawa banyak baju, tetapi sebagai pengawal Kirito dan ini bukan hanya sebuah perjalanan biasa, dia lebih memprioritaskan untuk membawa obat-obatan dan media sacred art.

__ADS_1


Pertama-tama, dia mengecek dan apakah ada yang harus ditambah lagi ke bagian pengisian, tetapi sebelum itu—


“…oh ya, mandi, ayo mandi dulu”


Sambil bergumam ia mengganti pakaian dalamnya dan meninggalkan ruangan.


Kamar mandi umum berlokasi disetiap lantai dari lantai 20 hingga 30 Cathedral, sehingga biasanya Ronye dan Tieze mandi disana. Tetapi kali ini…sebelum meninggalkan Cathedral untuk waktu yang lama, dia lebih memilih untuk pergi “kesana”. Tempat itu.


Ronye berjalan di sepanjang koridor menuju elevator di sebelah utara. Meluruskan tuas control dan menandai lantai 90 di atas dan menekan tombol, element aerial yang berada


didalam sebuah lempengan ditengah elevator itu pun menerima perintahnya, dan mulai naik mengantar Ronye.


Sekitar 10 detik lamanya, elevator pun semakin pelan dan kuncinya pun terbuka. Ronye membuka pintunya.Ketika ia keluar dari sana, ada 2 tempat yang terbagi di kanan dan kiri didepannya, sebelum ia berbelok, ada kain putih bersih yang menggantung dilangit-langitnya dengan tulisan aneh“ゆ”


Kain putih itu ditandai oleh Prime Swordsman Kirito, dan itu kelihatannya dia yang menulisnya sendiri, tetapi tak ada yang tahu apa maksudnya. Mereka bilang, hanya Wakil Prime-Asuna yang tahu, tetapi mereka hanya diam dan tertawa dengan ekspresi terkejut.Mengangkat sedikit kepalanya sambil berjalan kesana, dia mengangkat kain bertuliskan "ゆ" itu dibawahnya yang terpotong lalu hilang. Kain menggantung lainnya dengan desain yang sama juga muncul di kiri dan kanannya.Kain biru di kanan bertuliskan “pria” dengan tulisan putih, dan kain merah muda di kiri bertuliskan “wanita”


Misteri dari tanda itu tidak begitu bisa dimengerti—misteri dibalik arti dari “ゆ”—jadi, dia memilih kain dengan tulisan “wanita”. Koridor itu jadi berbelok ke kanan hingga menjadi ruangan yang sedikit lebih lebar.


Ruangan dengan sekat papan yang besar sebagai penghalang itu tidak kosong, ada 3 pendeta wanita yang hanya mengenakan kimono tipis duduk di kursi dinding sedang mengeringkan rambutnya. Ketika mereka menyadari kehadiran Ronye, mereka buru -buru bangkit dan memberikan salam.

__ADS_1


“Selamat malam, knight-sama” “halo selamat malam knight-sama” “selamat malam”


Ronye membalas salam itu dengan semestinya, dan buru-buru pergi ke ruangan dibaliknya.


Ketika dia sampai di tempat gantinya, dia agak tercekat. Dia memang bukan knight magang yang baru datang kemarin atau 2 hari yang lalu, tetapi dia masih belum terbiasa mendapat penghormatan seperti itu dari orang yang lebih tua atau yang bergender sama. Dia tak bisa membalas dan bertindak dengan baik seperti komandan knight Fanatio yang memberikan perintah pada seorang knight.


Setelah melepas bajunya dan memasukan baju gantinya ke dalam keranjang, Ronye melepas handuk putihnya dan membuka pintu kaca dibaliknya.Uap putih mulai masuk kedalamnya sehingga ia cepat-cepat melangkah dan menutup pintu dibelakangnya.Uap yang menyebar memperlihatkan pemandangan yang tak bisa ia tahan walaupun sudah dilihat berulang kali.


Sebuah tempat luas yang mengambil hampir seluruh bagian di lantai 90 Cathedral. Lantai maupun pilarnya terbuat dari marbel putih yang bersih, bagian dinding utara dan timurnya juga ditutupi dinding kaca raksasa, sehingga pemandangan malam di ibukota Centoria bisa terlihat. Walaupun tempat ini tidak semewah di kastil, hal yang mengejutkan adalah jumlah air panas yang sangat besar mengisi semua permukaan lantai membentuk pola tangga.


Panjangnya dari utara ke selatan adalah sekitar 40 mel, lebarnya mencapai 25 mel. Lebarnya dikelilingi sebuah pembatas berukuran 2 mel, dan kedalamannya dari lantai ke tengah-tengah kolam adalah sekitar satu mel, perhitungan sederhana dari besar mata air panas ini sama dengan 874 mel kubik, dan dikonvert menjadi “lil" yang merupakan sebutan penghitungan benda cair, jadi hasil keseluruhannya berjumlah 874000 lil. Selain itu sebelah barat dari dinding marbelnya adalah—satu-satunya yang ditandai dengan kain bertulisan ‘pria’ disana, struktur yang simetris, sehingga jumlah total volume air panasnya 2x lipat.


Tempat ini adalah tempat mandi untuk umum, Kirito menyebutnya "fasilitas paling luar biasa di Central Cathedral"


Sebelum Perang Dunia Asing dulu, hanya 30 Integrity Knight yang boleh menggunakannya, tidak ada dinding penengah, dan itu kelihatannya hanya sering dipakai oleh satu orang untuk berendam. Bagaimanapun, setelah perkumpulan disusun kembali, tempat ini dibuka untuk semua pendeta di Cathedral dan para staff, dan di saat yang sama juga untuk pria dan wanita di pisahkan.


Sekitar 20 orang sedang mandi disana, tetapi tidak ada kesan kalau bathub ini seperti sebuah danau kecil yang penuh. Ronye berjalan ke sudut selatan dimana hanya ada beberapa orang disana, dengan pelan mencelupkan tumitnya kedalam air. Pertamanya ia merasakan panas hingga ia pun masuk dan duduk di tangga marbel di kolam itu.Berendam di air panas hingga sampai ke lehernya, ia merasakan perasaan rileks yang begitu dalam di kepalanya yang tak bisa ia rasakan di bathub biasa di kamar mandi umum, ia menghembuskan napasnya pelan.


"Huu............"

__ADS_1


“Kamar mandi raksasa itu lebih enak kan?”


“Benar-benar…”


__ADS_2