Sword Art Online

Sword Art Online
chapter 35


__ADS_3

di sisi lain,Kirito dan Eugeo pernah bekerja sama dengan Dewi Tertinggi lainnya,Cardinal yang juga sama seperti Dewi Tertinggi Administrator.Dialah yang menyembuhkan Fanatio ketika terluka saat bertarung melawan Kirito,dan dia kehilangan Lifenya setelah bertarung melawan Administrator.


Lalu, masalah semakin menyebar menjadi interpretansi legal mengenai apa yang ‘gereja Axiom’ gambarkan dalam Taboo Index itu untuk siapa…di masa lalu, ketika ada keraguan muncul dalam teks Taboo Index, bisa bertanya pada Dewi Tertinggi atau pemimpin Elder.


Tetapi mereka berdua sudah tidak ada lagi. Dan Integrity Knight tidak diberikan hak untuk membuat interpretansi sendiri dari Taboo Index.Dengan kata lain, seperti yang Kirito sendiri katakan, gelar sebagai Prime Swordsman Dewan Serikat Dunia Manusia,di Dunia Manusia—dan di gereja Axiom tidak begitu memberi arti.


“—mengenai penyelidikan pria jubah hitam itu kita serahkan saja pada kepada Scheta dan komandan


Issukan.”


Sambil melipatkan kedua telapak tangannya di meja, Fanatio berkata.


“Tidak mungkin bagi kita menangkap orang itu, apakah dia dari guild pembunuh Dark Territory atau guild dark art master. Dan juga tidak ada gunanya kalaupun ada caranya daripada mengirim mata-mata ke Obsidia. Kurasa.”


“Menurutku itu lebih baik, aku khawatir mereka akan ditangkap musuh dan melawan kita.Kalau kau mengirimnya…”


Itu terlihat seperti orang-orang yang ada di meja bundar ingin berkata ‘aku yang akan pergi’dari tampangnya dan mengangguk bersamaan.


“Yah kurasa itu sudah cukup. Jadi—apa, menunggu laporan dari Dark Territory terkait pembunuhan Yazen-san? Yang itu artinya—kita gak bisa melepaskan goblin gunung Oroi dan tetap menahannya di Cathedral?”


Kata Kirito berkata dengan nada bicara yang tenang, lalu Wakil-Prime Swordsman Asuna


yang duduk disampingnya mulai bicara. Mungkin karena dia melihat Kirito sangat sabar menghadapi kekesalan Nergius.


“Aku telah bersikap ramah pada Oroi, dan sering membawanya melihat-lihat Cathedral setiap hari, dia memang tidak komentar mengenai kebebasan yang terbatas itu,tetapi dia terlihat sedikit ‘homesick’, uh…bagaimana ya menjelaskannya…”


Asuna melirik sejenak ke arah Kirito,tetapi kelihatannya dia tidak cocok menjadi penerjemah kalimat Dunia Manusia dari yang Asuna katakan tadi.


“…Um jadi itu situasi seperti dimana kau merasakan nostalgia dan merindukan keluarga dan teman-temanmu?”


Knight dan kepala bagian bertanya pada Asuna, saling berbalik satu sama lain.


“Um…aku bisa mengerti perasaan itu, tetapi kita semua disini tidak punya keluarga dan


rumah kita di Cathedral ini…bagaimana mengucapkannya dengan kata-kata ya…”


Ronye dan Tieze saling memandang saat mendengar suara parau Dusolbert.Walaupun perjalanan mereka tidak panjang, mereka terkadang selalu merasa rindu dengan asrama Akademi Master Pedang jadi mereka juga tahu rasanya. Tieze menepuknya, dan berseru di balkon.


“Yah, menurutku itu adalah ‘Penyakit Kangen Rumah!’”


Semuanya yang ada di aula pertemuan melihat ke atas, lebih tepatnya ke arah Ronye, dan mengangguk.Saat dia buru-buru merespon,Berchie terkejut karena suara keras Ronye dan mulai menggeliat,dan saat Tieze sedikit menggoyang-goyangkannya, dia kembali tidur sambil bergumam.


“Terima kasih Ronye-san, penyakit kangen rumah boleh juga.”


Setelah melambai ke arah Ronye di balkon, Asuna melanjutkan.


“Jadi, Oroi-san sedang dibawah penyakit kangen rumah, jadi aku ingin memutuskan akan melepaskannya dalam 2-3 hari lagi. Kuharap kasusnya akan selesai setelah itu.”


“Dalam waktu 3 hari, apakah itu tidak akan sulit? Perlu waktu 2 minggu mau seburu buru apapun untuk mendapat balasan dari Obsidia.”


Kirito meneruskan kalimat Fanatio.


“Serta, lama waktu penyelidikian ‘increm’ akan bertambah.Jangan hanya menunggu laporan dari Scheta,tetapi kita juga harus mengecek penyelidikan disana.”

__ADS_1


“Walaupun begitu, belati yang membunuh pak tua Yazen hilang kan?Dan juga gak ada saksi


dalam insiden itu, jadi gak ada motif untuk si korban dibunuh.Jadi ya begitu.”


Nada Entokia sangat jelas, namun arti dari kalimatnya agak berat, semuanya kembali terdiam.Beberapa detik setelahnya, seorang yang terus diam hingga sekarang seperti Asuna,mengangkat tangannya.


Seorang gadis yang mengenakan jubah putih rapi, rambut coklatnya dikepang. Namanya Ayuha Furia,gadis yang terpilih dalam usia mudanya sebagai Kepala Departemen bagian Sacred Art gereja Axiom.


Bagian sacred art dulunya dikenal sebagai ‘tim biarawan/ti’, badan pengawas gereja di seluruh Dunia Manusia. Disana selalu ada kantor cabang ditengah-tengah kota dan desa,dengan pelatih sacred art yang disebut ‘brother’ atau ‘sister’ dalam bahasa sacred, yang terdengar hebat daripada kepala desa atau walikota setempat.Dan peringkat tertinggi akan menggunakan sacred power untuk melatih yang rendah.


Faktanya, saat 4 pendeta senior yang mengawasi para biarawan/ti,yang keadaannya pasti untuk melatih kemampuan seorang bangsawan senior atau lebih tinggi lagi, dimana mereka diminta oleh Bercoulli untuk ikut serta dalam wilayah pertahanan di Gerbang Besar Timur,namun mereka berempat menolaknya.


Sekitar 300 orang biarawan/ti yang berpartisipasi dalam pasukan pertahanan Dunia Manusia hanyalah berkemampuan rendah—atau setengahnya—dalam sacred art, yang hanya ada 100 level tertinggi sacred art yang bagus dalam penyerangan, dan itu kelihatannya hampir semua pendeta biarawan/ti mencoba sebisa mungkin untuk tidak meninggalkan Cathedral.


Secepatnya setelah Perang Dunia Asing dan Dewan Serikat Dunia Manusia dibentuk


kembali, telah diketahui bahwa ke-4 pendeta senior telah berkumpul di ruang pribadi, dan


mereka terusir dari Central Cathedral. Sistem biarawan/ti juga telah disusun kembali oleh


divisi sacred art dan Ayuha Furia, bangsawan kelas 5 yang terpilih sebagai kepala.


Ayuha tak hanya bergabung dalam pertarungan di Gerbang Besar Timur,tetapi juga di pasukan pertahanan dan bertarung untuk terakhir kalinya sebagai pemimpin pendeta.Ronye yang berada di unit yang sama, mengingat keberadaannya untuk memberikan Teknik penyembuhan dengan jubah putihnya yang menjadi merah karena luka dan darah.


Walaupun kemampuannya tidak mencapai level Integrity Knight, pengetahuannya dalam sacred art dan pemakaian pedangnya berada diluar dugaan dan dia terlihat lebih serius dan bersahabat daripada yang lain.


Kalau Ronye ingin belajar sacred art, lebih baik untuk menemui Ayuha…dia selalu


Sones juga dapat menghadiri pertemuan ini, tetapi dia tak akan keluar dari perpustakaan kalau alasannya tidak jelas. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kecuali kalau aku menyadari Teknik pustakawan generasi sebelumnya yang bersatu dari ruangan ke ruangan secepat itu…dia ingin mengatakan itu, tetapi saat ini pemahamannya belum sampai.


Fanatio merespon Ayuha yang mengangkat tangannya dan berkata dengan suara yang tenang.


“Untuk hal itu, mungkin divisi sacred art dapat sedikit bekerja sama.”


“Oh apa maksudmu?”


“Baru-baru ini, aku melakukan analisis Teknik dari ‘Otomatisasi Dewan Elder’ yang digunakan Taboo Index untuk mendeteksi para pelanggar…rupanya, pria tua itu kelihatannya tak hanya bisa menemukan para pelanggar, tetapi juga kembali ke masa lalu dengan kuasanya.”


“Kembali ke masa lalu?”


Tak hanya Fanatio yang menggumamkan itu, knight lainnya dan kepala bagian terlihat kaget.Sementara itu, Kirito bertanya dengan agak terbata.


“T-tunggu tunggu…itu berarti server log—eh…kau bisa membuat kembali kejadian di masa


lalu seperti refleksi? Gak mungkin…e-enggak, tapi bukankah itu mustahil? Walaupun sistem pendeteksi pelanggar Taboo Index dan jendela terbuka di saat itu, pelanggarnya itu sendiri juga sudah ketahuan. Kalau mereka tak bisa melihat masa lalu, jadi apa mereka bisa memeriksanya apakah itu sudah selesai?—berapa banyak hari yang diperlukan untuk


mengoperasikan kembali ke masa lalu?”


“Di saat sekarang, sulit untuk kembali walau dalam satu hari, Prime-Swordsman-sama. Aku mencoba mengoperasikan mantranya, tetapi bebannya terlalu besar, batasannya juga hanya 30 menit. Aku harap aku bisa menggunakan Teknik untuk melihat masa lalu hanya saat insiden itu terjadi, tetapi kemarin dokumentasinya telah ditemukan…”


Saat Ayuha menjawabnya dengan nada kecewa, Kirito melipat kedua tangannya lagi dengan ekpsresi rumit.Wakil-Prime Swordsman Asuna bertanya lagi hal yang membuatnya tertarik pada Ayuha.


“Ayuha-san, tadi kau menyebut tentang ‘beban operasinya terlalu besar’, apa maksudnya

__ADS_1


itu?”


“Ya...sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata…jadi rasanya seperti besarnya suara dan cahaya yang akan mengelilingi kepalamu, itu akan sulit kalau hanya berkonsentrasi pada target diantara sekian banyaknya. Selain itu, satu orang saja untuk melakukan Teknik Refleksi Masa Lalu akan kelelahan karena batasnya…kurasa masih ada jalan untuk mencari sacred art lain yang lebih efisien, tapi butuh waktu.”


“Begitu ya…terima kasih, Ayuha-san”


Saat Asuna berterima kasih padanya, kepala dari divisi sacred art itu mengangguk dengan ekspresi malu-malu.Tak seperti Integrity Knight, guru sacred art tak bisa membekukan Lifenya. Ayuha terlihat seperti yang dibayangkan—sepertinya dia berumur sekitar 22-23 tahun, tetapi di kasus yang jarang, saat memperlihatkan raut wajahnya, dia terlihat lebih muda daripada adiknya Sones.


Atau itu karena ekspresi Sones itu sangat kaku…pikir Ronye, setelahnya suara Prime


Swordsman terdengar lagi.


“–kepala Furia, aku ingin kau terus melanjutkan analisis dari Refleksi Masa Lalu itu, dan aku juga ingin memintamu utuk memperpanjang masanya dalam batasan yang masuk akal.Demi rasa peduli pada Oroi, aku ingin berkomunikasi dengan rekannya yang tinggal di penginapan Centoria selatan, dengan mengundang mereka ke Cathedral. Aku akan bicara dengan chef,untuk mempersiapkan makanan seperti di kampung halaman mereka sebisa mungkin.”


Para peserta di aula pertemuan juga Ronye dan Tieze perlahan mulai terbiasa dengan sacred word yang terkadang muncul dari mulut Kirito dan Asuna. ‘Peduli’, sesuatu yang berhubungan dengan seseorang, seperti melihat atau menyediakan kebutuhan orang itu,tentunya itu lebih cepat untuk mengekspresikannya daripada dengan 2 suku kata.


“Untuk tugas itu, bisakah menyerahkannya pada kami…”


Seorang pria berumur 40 tahunan dengan kacamata kotak dimatanya yang posisinya sebagai kepala manajemen bahan baku mengajukan diri, tetapi Kirito langsung menggelengkan kepalanya.


“Tidak, ini karena aku pernah makan dengan mereka dalam beberapa kesempatan…akan


membutuhkan waktu untuk mempelajari goresan yang sama.”


Sang kepala mungkin belum pernah meninggalkan Dunia Manusia, jadi tidak ada pilihan untuk menyetujui saran itu.Makanan yang biasa dikonsumsi goblin gunung seperti gandum yang agak kering baru saja tumbuh di kaki gunung, dan pohon-pohon kacang serta rumput liar di hutan,biasanya iwanezumi dan yoroimas bisa ditangkap di gunung jika ada pesta makan besar.


Sulit untuk membuat yang seperti itu di Centoria, tetapi tak ada pilihan selain mempercayai kemampuan chefnya.Dengan kalimat terakhir Kirito dan kesimpulan dari topiknya, Ayuha mengangkat tangannya


lagi.


“Selanjutnya aku akan melaporkan tentang penambahan anggota divisi sacred art”


“Jadi kau sudah memilih ya, ayo lanjutkan.”


Ketika Fanatio mendukungnya,Ayuha membungkuk dan mengambil secarik kertas rami putih.


“Sejauh ini, jumlah total anggota divisi sacred art adalah 352 orang termasuk yang masih


magang. Jumlahnya masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah 500 orang anggota sebelum Perang Dunia Asing. Untuk melanjutkan ‘Rencana Ekspansi Tim Pendeta’, kita perlu menambah jumlah anggotanya. Kami sudah menerima 30 orang pendeta magang dalam bulan Februari ini…”


“Tunggu tunggu.”


Orang yang menyela pembicaraan adalah Entokia yang sedang memakan cake dan secangkir teh di meja. Ronye dan Tieze melihat apa yang dimakan Entokia dan sangat tahu apa itu, kue yang sangat manis dan eksotis bernama macaron,karena mereka berdua pernah membantu Wakil-Prime Swordsman Asuna saat membuatnya di dapur,dan kelihatannya Entokia sangat


menyukainya.


Knight berambut pendek itu menaruh separuh lagi macaron berwarna pink pucat dengan jus hayamomo di meja dan melanjutkan.


“Gak ada protes mengenai penambahan jumlah pemagang, tapi bukannya butuh waktu untuk memenuhi semuanya? Kalau gitu, mungkin kau perlu melakukan pertimbangan dan memanggil kembali orang-orang yang meninggalkan Cathedral? Mereka secepatnya akan berpikir dengan kepala dingin.”


Kata-kata Entokia tak membuat orang-orang di meja bundar terguncang, tetapi Ronye dan


Tieze saling bertukar pandang.

__ADS_1


__ADS_2