Sword Art Online

Sword Art Online
chapter 32


__ADS_3

“Takkan kumaaf—!”


Kata-kata itu keluar begitu saja dari tenggorokannya, dan dia merasa punggungnya terbentur.Dia menarik selimut yang menutupi wajahnya karena terasa gelap, dan dia pun menyadari dia berada di kamarnya.Hanya saja dia jatuh dari tempat tidur.


Diluar jendela sana masih gelap.Dia menggenggam selimutnya lagi dan naik ke atas kasurnya.Ini sudah hampir dipenghujung Februari, dan udaranya sudah semakin menghangat,tapi masih terasa dingin sebelum fajar tiba.Aku harap Central Cathedral memiliki fasilitas mesin penghangat air seperti di Obsidia di Dark Territory,pikirnya… kemudian ia memegang erat selimutnya dan menghela napas singkat.


Tidak biasanya Ronye punya masalah dengan tidur—atau mungkin itu karena dia bermimpi jatuh kedalam lubang.Dia ingin melupakannya secepat mungkin, tetapi mimpi itu masih terbayang dibenaknya.


Setelah Perang Dunia Asing berakhir, mereka kembali ke ibukota di pertengahan bulan November tahun ke 380 kalender Dunia Manusia. Di bulan Desember, Dewan Serikat Dunia Manusia terbentuk dan di bulan Februari tahun 381 Pemberontakan 4 Kekaisaran pecah, sekitar sudah setahun lamanya saat Ronye bersama dengan Tieze mengacungkan pedang didepan kaisar utara, Krueger Norlangarth.


Mungkin karena mimpi itu, dan mengapa seseorang mendapat mimpi di tempat yang


sama…tetapi walaupun dia sudah mencoba untuk tidur lagi, kelopak matanya tidak berat juga. Dia berbaring selama 3 menit hingga lonceng diluar berdentang tanda pukul 5 pagi, dia pun bangun dan duduk.


Dia menaruh kedua kakinya ke lantai, menyimpan pakaiannya dan meraih lampu meja.Memutarkan sekrup yang ada ditengah lampu itu, hingga membiarkan air mengisi gelas yang membuat apinya menyala di wadah paling bawah,dan potongan seukuran telur yang berisi biji ore menyala dengan sendirinya dan mengeluarkan cahaya berwarna kuning pucat.


Sebelum kembali ke rumah dari Dark Territory 2 hari yang lalu, Kirito membawa lebih dari

__ADS_1


10 biji ore, yang hanya ada di Obsidia ke dalam penyimpanan terpisah di mesin naga, sebagai oleh-oleh. Ronye dan Tieze juga mendapatkannya, dan mereka dengan cepat memakainya,karena untuk menyalakannya cukup dengan air, dan sangat mudah juga memadamkannya—tinggal mengubah posisi lampunya ke bawah untuk mengembalikan air disisinya, selain itu lebih murah jika dibandingkan dengan lampu minyak atau lampu yang di gunakan di Cathedral dengan elemen cahaya, biji ore bahkan tidak perlu mengeluarkan elemen.


Tentu saja, biji ore—atau penduduk lokal menyebutnya batu bercahaya—tidak akan terus terbakar, kalau terus menyala, apinya akan habis dalam 4 hari. Dengan kata lain, walaupun Ronye dan Tieze serta yang lainnya bisa menggunakannya, hanya akan habis dalam sebulan saja, tetapi Kirito sepertinya ingin mengimpor batu bercahaya dalam jumlah banyak dari Dark Territory.


Karena menyala begitu saja, maka akan membutuhkan banyak air, skill tertentu dibutuhkan untuk membawanya dari jarak yang jauh, tetapi jika keadaannya stabil, suasana malam di Centoria akan lebih terang, seperti di Obsidia walau situasinya masih sulit untuk menemukan pekerjaan, itu juga akan sedikit membantu.Walau begitu, situasi di Dark Territory bukan hanya mengenai biji ore saja.


Kirito masih mencoba untuk memecahkan masalah kesuburan daerah itu dan cahaya matahari yang masih kurang untuk lahan pertanian disana, itu kelihatannya dia masih belum mencapai titik terangnya.Dengan keadaan itu, Kirito berharap banyak pada sisi lain ‘Dinding Ujung Dunia’ yang mengelilingi seluruh wilayah Underworld, tetapi masih ada masalah lainnya. Akankah mesin naga dapat meraih tebing tiada ujung yang tak pernah terjamah itu…? Dan jika bisa,apakah akan ada lahan baru yang menyebar dibalik dinding itu, atau hanya ‘kekosongan’ belaka?


“Tetap saja…”


Setelah memikirkannya, dengan segera Ronye menghentikannya segera dan bergerak.Dia mengambil pedang panjang dengan sarung hitam yang berdiri di samping meja.Kemudian dia mengambil kotak kayu dari laci dan mengembalikannya ke meja.


Life dari pedang itu sendiri juga telah pulih karena terus berada didalam sarungnya selama 2 hari,namun noda dan goresannya tidak hilang.


Dia menaruh pedangnya diatas meja, lalu membuka kotak kayu. Pertama dia membersihkan kotorannya dengan memoles mata pedangnya menggunakan kain katun. Lalu ia menuangkan sedikit minyak poles pada sarung kulit ‘Bulu Rusa Berwarna Silver dari Kekaisaran Selatan’dan mulai memoles pedangnya.


Selama di Akademi Master Pedang, Eugeo dan Kirito juga sering membicarakan bagaimana cara merawat pedang sambil memegangi Night Sky Sword dan Blue Rose Swordnya. Ronye seringkali memperhatikan mereka saat itu.Dia masih bisa merasakannya saat dirinya dan Tieze masih menjadi valet melayani mereka yang merupakan saat-saat paling menyenangkan selama 17 tahun hidupnya.

__ADS_1


Setelah Perang Dunia Asing kemudian disusul Pemberontakan 4 Kekaisaran berakhir, kedamaian kembali menghampiri Cathedral. Tentunya ini melegakan, walaupun latihan sword skill, sacred art,dan incarnation itu sulit, aku berharap hari-hari seperti ini akan terus ada selamanya.


Namun setiap kali aku memperhatikan wajah Tieze atau sekilas wajah Kirito-senpai, Eugeo-senpai tetap tidak akan kembali…dan aku sadar seberapa penting keberadaannya. Kirito-senpai dan Eugeo-senpai,Ronye dan Tieze. Seberapa banyak momen berharga yang telah kita habiskan bersama, bila dibandingkan? Itu sudah lenyap, tidak akan pernah kembali.………Tidak.


Mungkin, perasaan ini bukan hanya karena Eugeo-senpai saja….Seperti rasa cinta Tieze yang tidak tersampaikan, perasaan Ronye sendiri juga takkan pernah terbalaskan, dan ini terus saja membuatnya kepikiran…


"Ah……"


Tanpa sengaja mata pedangnya menggores ibu jarinya. Saat dia menaruh pedangnya dan


melihat jarinya, terasa sedikit sakit, tetesan darah muncul dari bekasnya.Ronye pun menurunkan tangan kirinya dan membuat elemen cahaya. Dia memasukan ibu jarinya yang terluka ke dalam mulutnya. Sudah tidak berdarah lagi, tetapi perlu waktu agar lukanya hilang. Mungkin ini peringatan untukku agar jangan banyak berpikir saat memegang pedang.


Dia mengakhiri memoles pedangnya dengan kain berminyak, menyelesaikannya dengan kain lembut untuk menghilangkan sisa nodanya dan mengembalikkan ke sarungnya. Mulai sekarang, sedikit demi sedikit dia harus menuangkan cinta pada pedang barunya yang diberi nama ‘Moonlight Sword’.Jika dia bisa menggunakan pedang itu sepenuhnya, tentunya dia akan lebih memahami perasaan ini.


Dia bangkit dan menaruh pedangnya ke tempat penyimpanan di sisi laci, melepaskan syal tidurnya dan pakaian tidurnya juga. Saat itu tiba-tiba dia sedikit menggigil hingga ia pun bersin.


Sejenak ia pun berpikir.dan akhirnya dia menggumam

__ADS_1


"Kenapa seseorang bisa bersin? Nanti akan kutanyakan pada Kirito-senpai lain kali"


Ronye cepat-cepat membuka lemarinya dimana pakaian knightnya tersimpan.


__ADS_2