Sword Art Online

Sword Art Online
chapter 13


__ADS_3

Memanggil kembali suara Tieze yang sangat ingin bertemu dengan Eugeo-senpai, Ronye meremas tangan kanannya tanpa menyentuh air matanya yang muncul lagi.


Seorang swordsman tidak perlu memilih pedang, tetapi pedangnya lah yang akan memilih pemiliknya. Seharusnya aku membuka hatiku dan menuangkan cinta padanya, maka pedang itu akan meresponnya.


Tangan Ronye memilih yang ke-3 dari kiri—sebuah pedang dengan sarung berwarna silver hingga ujung, dengan pegangannya yang dilapisi kulit hitam yang kasar sehitam rambut Kirito, namun memancarkan kilauan. Jenis kulit baru pada pegangannya sedikit sulit dirasakan,tetapi ia pikir jika dia memegangnya dengan hati-hati, nanti akan lebih terbiasa.


Dia menarik napasnya, lalu dengan pelan mengangkat pedang itu.Berat. Perasaan yang berat karena tebalnya suatu benda yang berlawanan terpancar dari jari-jari hingga ke pergelangan tangan, siku, bahu, hingga seluruh tubuhnya.Ini bukanlah berat yang tidak enak. Seperti pedang oak platinum yang kugunakan saat masih junior dulu, seperti pedang resmi dari Dewan Serikat Dunia Manusia yang kami gunakan saat perang dulu, aku merasa aku bisa memegangnya dengan mudah suatu saat nanti jika aku menjaganya dengan cinta.


Dia memegang pegangannya dengan tangan kanannya dan merasakan inti dari pedang itu dengan memegang mata pisaunya dengan tangan kirinya. Lalu berkata.


“…pedang ini tak apa-apa kan?”


Asuna mengangguk.Wakil-Prime Swordsman Asuna mengembalikan 3 sisanya kesarungnya, menggantungnya kembali ke dinding, lalu ia berdiri di samping kiri Ronye.


“Nama untuk pedang ini harus kau sendirilah yang memutuskannya, Ronye-san, pergilah ke bagian administrasi lalu daftarkanlah di buku besar peralatan knight.”


“…baik”


Ini adalah pertama kalinya dia memiliki pedang yang harus didaftarkan resmi, sehingga dia agak sedikit bingung namun ia langsung mengangguk sebagai kewajiban pemilik. Di masa lalu ketika dewi tertinggi Administrator dengan seenaknya membuat atau menghancurkan divine object, dia memberikan itu pada seseorang atau mengambilnya kembali, tetapi sekarang semua jenis senjata dan armor di Cathedral disusun dalam sebuah buku besar.


Asuna mengangguk dan tersenyum, menatap sekilas ke arah Ronye.


“Apa yang akan kau lakukan dengan pedang lamamu setelahnya? Jika kau berharap untuk


mengembalikannya ke pasukan Dunia Manusia, aku bisa mengirimnya ke sana dengan pengirim pesan besok.”


“Oh i—iya, aku harus…”


Pedang standar, yang selalu berada di pinggang kirinya, yang dimiliki Ronye—huruf sacred “P” menandai bahwa dia adalah pemiliknya jika dia membuka jendela Stacia—tetapi di peraturan militer dari Dewan Serikat Dunia Manusia, itu hanya pinjaman. Ketika kami memperbarui senjata kami dan yang lama menjadi kelebihan,maka kami harus mengembalikannya ke pasukan.


Kedua pegangan dan sarungnya terbuat dari kulit coklat gelap, dan dibuat tanpa dekorasi apapun, pedang yang masih tajam dengan prioritas 25 yang terbuat dari besi crois special dari selatan. Itu bukan berarti ini adalah produksi yang murah, dan karena Ronye dengan hati-hati merawatnya, masih banyak life nya yang tersisa.


Sebenarnya, itu sudah harus ditukar ke pedang standar knight setahun lalu saat dia mulai menjadi Integrity Knight magang, tetapi saat itu ia terus menundanya karena sibuk, jadi Ronye maupun Tieze masih memegang pedang mereka yang sebelumnya dan terus memakainya.


Bagaimanapun, jika pedang baru yang diberikan Wakil-Prime Swordsman adalah jalannya, pada akhirnya ia harus melepaskannya—mau bagaimapaun.


".................."


Memegang pedang barunya dengan tangan kanannya, dia masih memegang gagang pedang standar yang ada di sebelah kirinya. Asuna mengangguk dan berkata.


“Aku mengerti perasaan itu, aku juga tidak ingin melepaskan pedang kesukaan pertamaku, sampai-sampai aku membuat Kirito-kun terganggu.”


"Eh…?"


Terkejut, ia memandangi wajah sang Wakil Prime Swordsman itu.

__ADS_1


“Asuna-sama,......apakah itu tentang dunia nyata?”


“Ya tidak juga. Dulu sekali Kirito-kun dan aku bertarung bersama di dunia yang bukan dunia nyata ataupun Underworld. Lebih tepatnya…Kirito-kun mengajariku bagaimana cara bertarung saat aku belum banyak tahu apapun."


“Jadi walaupun Asuna-sama yang sekuat dewi ini…pernah seperti itu…”


“Benar, aku bukanlah dewi, tetapi sama sepertimu Ronye-san, seorang gadis biasa.”


Melihat wajah tersenyum Asuna, yang terlihat lebih cantik dari seorang manusia sekalipun, Ronye menyipitkan kelopak matanya sesaat dan bertanya.


“Em…Asuna-sama, jadi bagaimana caramu melepas pedang pertamamu?”


Asuna memandang telapak tangan kanannya merasakan kerinduan dari seperti apa rasa pedang lamanya, ia mengangkat tangannya dan menjawab.


“Aku mengikuti saran Kirito-kun, aku lelehkan pedangnya menjadi potongan metal, bentuknya masih asli, dan aku membuat pedang baru dari itu. Dengan cara itu, dia bilang, jiwa dari pedang itu akan tersalurkan…orang itu terlalu sentimental kalau soal pedang."


“Hehehe…itu Kirito-senpai sekali.”


Mereka berdua tertawa, namun tiba-tiba Asuna bergumam.


“Tetapi kisah ini tidak membantu disaat sekarang, Ronye-san…aku tak bisa melelehkan pedang pasukan Dunia Manusia, dan lagipula, sudah ada pedang baru di tempat pertama…”


“Aku bisa memutuskannya setelah mendengar ceritamu. Pedang ini akan kukembalikan ke pasukan Dunia Manusia.”


Dia menaruh pedang barunya dimeja, melepaskan pedang standar bersama degan sarungnya dari ikat pinggangnya dan memberikannya pada Asuna.


memilikinya…”


“Tidak apa-apa, aku tahu pedang ini sudah berjuang bersamaku lama sekali, kurasa seseorang yang lain akan membutuhkannya.”


“Aku mengerti, kalau begitu aku akan mengembalikannya ke markas pasukan Dunia Manusia dengan pengirim pesan besok.”


Setelah menerima pedang standar Ronye dengan gesture penuh hormat, Asuna menggantungnya di pinggang kanannya. Pedang standar pasukan Dunia Manusia bisa dikatakan sangat terang, jika dikombinasikan dengan pedang ‘Radiant Light’ di pinggang kirinya, itu pasti jadi berat, tetapi ia menyusunnya berlawanan sehingga tidak memberi kesan berat di semua sarung kulit hitam yang dihiasi dengan perak yang ia taruh disana.


Ronye menundukkan kepalanya untuk menjepitkan kembali ikat pinggangnya saat ia menaruh pedang barunya. Sambil merasakan berat yang baru di tubuhnya, Asuna tiba-tiba meluruskan punggungnya dan memandang lurus ke arah Ronye.


“…Ronye-san, mengenai Kirito-kun, terima kasih ya.”


“Ah…ya!”


Dia menjawab dengan spontan, tetapi mengingat situasinya, Ronye kembali memberikan salam hormat seorang knight.


“Integrity Knight magang Ronye Arabel akan melindungi Prime Swordsman dengan nyawaku!”


Setelah Ronye menjawab dengan benar, Asuna tersenyum.

__ADS_1


“Jangan terlalu memaksakan diri, yang penting kalian berdua kembali dengan selamat, jika kau melihat Kirito-kun berlari, kejarlah sebaik mungkin.”


Merasakan suatu emosi yang bergetar dari kata-katanya, Ronye bertanya dengan ragu.


“Er…sebenarnya…apakah Asuna-sama juga ingin menemaninya?."


“Sedikit sih.”


Itu hanya jawaban candaan, jelas sekali bahwa arti dibaliknya sangat berbeda. Wakil-Prime Swordsman menggeleng pendek dan berkata sebelum Ronye membuka mulutnya untuk menjawab.


“Sebenarnya aku dan Kirito-kun tidak bisa meninggalkan Centoria bersamaan. Masih banyak keputusan yang harus diambil setiap harinya, dan mantan bangsawan senior merasa tidak puas dengan Dewan Serikat Dunia Manusia yang tidak akan hilang begitu saja ini”


“…maafkah aku, itu pasti agak…”


Dengan cepat Ronye menundukkan kepalanya, Asuna mengedipkan matanya dan tersenyum padanya.


“Tidak perlu minta maaf Ronye-san, memangnya kenapa?”


“Itu…aku juga datang dari keluarga bangsawan dan aku tak pernah mendengar adanya keraguan dalam system kebangsawanan dari Dunia Manusia hingga aku bertemu Kirito senpai… ”


“Tetapi ayah dari Ronye-san dan Tieze-san adalah orang penting yang bekerja sebagai eksekutif, benar kan? Seluruhnya berbeda dari bangsawan besar yang menikmati hari-harinya dari hasil kerja keras orang-orang di daerah kekuasaannya.”


"............"


Tiba-tiba Ronye terdiam, tetap menundukan kepalanya.


Dulunya kastil adalah tempat yang menjulang tinggi di atas bukit tak jauh dari Central Cathedral, mantan administrasi kastil dan penjaga masih beroperasi saat itu, jadi ayahnya bekerja sebagai pemimpin pleton penjaga sebelum adanya perang.Tetapi Konoe knight yang sebelumnya ada untuk penjagaan kastil telah bubar, fungsi kantor penjaga juga telah dipindahkan ke pasukan Dunia Manusia yang dipimpin oleh jendral Solterina Selurute.


Di masa depan nanti itu kelihatannya semua dari 4 pleton yang tersisa di 4 kekaisaran akan disatukan ke pasukan pertahanan dan jumlah dari pasukan itu sendiri akan berkurang.Itu alami semenjak Dark World lenyap, tetapi ini harusnya terjadi, Ronye tidak yakin apakah ayahnya masih berada di posisinya.


Jika dia diminta untuk menyusun kembali pleton atau dipindahkan ke bagian kantor administrasi, ayahnya masih bisa melanjutkan kewajibannya. Jika kami kehilangan jumlah penghasilan dari tenaga kerja oleh Private Estate Liberation Act dan dia akan bekerja sebagai eksekutif di pasukan Dunia Manusia, itu masih akan berbeda dari bangsawan besar yang mencoba untuk tidak memberikan mereka bayaran…


Tetapi jika ini adalah jalan ayahnya, dan mungkin bagi Ronye sendiri, masih merasakan didalam hatinya. Persepsi bahwa mereka adalah keluarga bangsawan dan berbeda dari orang biasa. Selama itu pemikiran yang terlewati dari generasi ke generasi tidak akan menghilang, diantara Ronye dan orang-orang dari keluarga Arabel tetap sama seperti bangsawan senior lainnya.


“Asuna-sama, sebaiknya…”


Ronye menghentikan kata-katanya.


Tidak hanya tingkat kebangsawanan, itu akan lebih baik untuk melenyapkan system kebangsawanan itu sendiri.Dia berpikir begitu, tetapi itu bukan hal baik untuk dikatakan sembari bertujuan menjadi Integrity Knight terbaik. Dan harapannya untuk menjadi knight juga tak bisa dibuang begitu saja. Menjadi salah satu knight terhormat, memiliki armor berwarna silver, juga naga, dan dia juga ingin melayani Kirito selama sisa hidupnya, karena hanya itulah impian Ronye.


Asuna memiringkan kepalanya menunggu Ronye melanjutkan kata-katanya. Dan Ronye menjawabnya setelah menggelengkan kepalanya.


“Tidak, bukan apa-apa…tetapi uh, jika mungkin, bisakah Asuna-sama memberikan pedang yang sama seperti ini pada Tieze? Karena dia juga akan terus menggunakannya di pasukan Dunia Manusia…”


“Ya, aku akan menemui Tieze-san.”

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih banyak!”


Jika Tieze juga membuat kesimpulan yang sama…pikirnya, Ronye menelan kata-katanya yang tak bisa ia ucapkan.


__ADS_2