
Setelah menunggu cukup lama akhirnya sang dokter keluar dari ruangan tersebut dengan beberapa suster yang tadi membantu nya
"Dokter bagaimana keadaan Ale" tanya Lesya yang terlihat khawatir
"Begini nona karena benturan pada kepalanya yang cukup keras dan umur tuan Ale yang masih begitu muda membuat ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi dan dengan berat hati saya mengatakan bahwa hari ini pukul 4 Sore tuan Ale telah tiada" ucap dokter tersebut yang pergi meninggalkan tempat tersebut
bagaimana kan tersambar petir tubuh Lesya luruh begitu saja tanpa aba aba
"Ale tidak, tidak mungkin Ale pergi " ucap Lesya menggeleng kan kepala nya
"Lesya" ucap Vian lirih
"Minggir saya mau bertemu dengan putra saya" ucap Lesya mendorong tubuh Vian
Lesya berlari masuk kedalam di susul dengan Vian, Yohan, Nathan dan Syamita
"Bangun ale, jangan pergi ninggalin mommy, bangun yukk kita main sama sama" ucap Lesya halus
"Lesya Ale sudah tidak ada" jelas Vian yang berada di samping Lesya
"Hiks Hiks Ale tidak mungkin pergi hiks" ucap Lesya menangis
"Lesya berhenti lah menangis karena semuanya tidak akan mengembalikan apa pun yang sudah terjadi" ucap Yohan, Lesya yang mendengar itu menatap tajam Yohan
__ADS_1
"B-bagaimana bisa Anda tetap tenang haaa, padahal disini jelas jelas anda kehilangan nyawa putra Anda sendiri" ucap Lesya dengan sorot mata tajam
"Lantas saya harus seperti apa haaa, MENANGIS SEPERTI DIRIMU IYA " Bentak Yohan
Vian yang melihat Lesya di bentak tidak terima begitu saja
"Tuan jaga nada bicara Anda" ucap Vian dingin
"Bawa dia pergi dari sini" ucap Yohan
"Saya tidak akan pergi karena Ale juga putra ku, Anda" ucap Lesya menunjuk Yohan "Saya pasti kan Anda akan membayar semuanya melebihi apapun" ucap Lesya tajam
"Jangan pernah mengancam keluarga saya karena keluarga saya bukan orang yang bisa di ajak untuk bermain main" ucap Syamita sombong
"Sudah cukup, Yohan tetap biarkan Lesya disini sampai jasad Ale di kuburkan, dan berhenti lah berdebat hanya karena hal hal yang tidak penting, tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain karena ini Semua adalah takdir Tuhan" ucap Nathan
Jasad Ale langsung di kebumikan pada sore itu juga dan sekuat tenaga Lesya mencoba menahan air matanya, Vian laki laki itu tau bahwa Lesya sedang menahan air matanya dan langsung menggenggam tangan Lesya, dan Lesya langsung menggenggam erat tangan Vian
[Host sistem turut berduka cita dan maaf kan sistem host karena tidak bisa membantu host dalam hal ini]
Lesya yang mendengar ucapan sistem menarik nafasnya untuk menetralkan nafasnya
"Lesya mari pergi pemakaman nya sudah selesai" lirih Vian, Lesya mengangguk untuk mengiyakan ucapan Vian
__ADS_1
Saat sudah di mobil Lesya hanya terdiam tidak ada senyum yang terukir di wajahnya lagi
[Host apa host marah kepada sistem]
"Tidak aku tidak marah"
[Host jangan berlarut larut dalam kesedihan]
"Iya akan ku coba, apa kamu bisa memberikan ku misi"
[Tidak bisa host karena sistem tidak bisa membiarkan nyawa host dalam bahaya]
"Itu tidak akan terjadi, kumohon sistem"
[Baiklah host sistem akan memberikan host misi namun tidak sekarang tapi besok]
"Baiklah terimakasih sistem"
[Sama sama host]
"Tuan kita akan kemana" tanya Fai
"Kita langsung pergi ke bandara" ucap Vian
__ADS_1
"Baik tuan" balas Fai
Lesya masih terdiam bahkan ketika di pesawat pun ia tidak banyak bicara kecuali Vian yang mengajaknya berbicara