
Barkat bujukan Haura yang sangat lembut, Harun dan bundanya bisa makan dalam satu meja yang sama.
Makan siang kali ini terasa sangat damai bagi Haura karena keluarganya telah lengkap, tapi berbeda dengan Harun yang melakukannya atas dasar paksaan dari sang istri. Bagaimana mungkin Harun bisa menolak istri yang sedang ngidam?
Ya walau kehamilan Haura tidak direncanakan dan bukan keinginannya Harun, bukan berarti dia harus acuh pada calon anaknnya.
Jika keinginan Harun sendiri, pria itu tidak membiarkan Haura hamil sebab trauma istrinya pernah koma beberapa hari.
"Kok diam?" Azzam meletakkan sendok dan garpunya di atas meja, menatap bunda, ayah dan omanya secara bergantian dengan wajah cemberut.
Bocah itu sangat antusias bercerita di meja makan jika ditanya. Namun, sayangnya Azzam sejak tadi menunggu ditanya oleh salah satu orang kesayangannya, tapi tidak ada yang mengeluarkan suara.
"Azzam, tidak boleh ngambek apalagi cemberut di depan yang lebih tua Nak." tegur Haura. "Memangnya Azzam mau apa?" tanyanya lembut.
"Azzam mau cerita banyak hal Bunda, tapi tidak ada yang bertanya. Kan Azzam kesal."
__ADS_1
Haura dan bunda Harun mengulum senyum, berbeda dengan Harun yang tampak menyantap makan siangnya dengan serius tanpa ada keinginan untuk menegur siapapun.
"Bagaimana sekolahnya hari ini Nak? Apa ada kegiatan baru?" tanya Haura. Sungguh wanita itu lupa akan kebiasan putranya sebab kejadian beberapa saat yang lalu.
Seketika senyuman Azzam marekah sehingga deretan gigi rapi dan putihnya terlihat dengan sempurna.
"Azzam tadi di sekolah dapat teman baru Bunda. Banyak banget!" Membentuk tangannya menjadi lingkaran besar. "Tapi temannya nangis dan pergi."
"Kok bisa?" tanya Haura lagi, sesekali menyuapi putranya agar menghabiskan makanan yang berada di piring.
Lagi dan lagi Haura dan bunda Harun tertawa mendengar penuturan Azzam. Bisa disimpulkan kalau di sekolah Azzam ada pertandingan kecil-kecilan dan seperti biasa Azzamlah pemenangnya. Mungkin teman Azzam tidak terima sehinga menangis.
Mungkin usia 6 tahun masih kecil di mata orang tua pada umunya, tapi bagi Haura putranya sudah besar. Di usia yang 6 tahun, Azzam telah berhasil melewati IQRO, bahkan dua kali dalam sebulan Azzam menyetor hafalan surah-surah pendek pada bundanya.
Satu lagi, Azzam sudah pintar membaca di saat teman-temannya masih asik bermain padahal Haura tidak pernah mengekang Azzam belajar. Hanya membiasakan sejak dini mengenal huruf dan angka.
__ADS_1
Makan siang berakhir dengan kecerewatan Azzam. Melihat itu bunda Harun engang pergi tapi raut wajah Harun yang datar membuat wanita paruh baya itu tidak enak tinggal berlama-lama.
"Bunda pergi dulu ya Nak. Sehat-sehat sama calon babynya," ucap bunda Harun. Wanita itu beralih pada Azzam yang berdiri di samping ayahnya, menunggu omanya berpamitan.
"Cucu pintarnya Oma. Oma pergi dulu ya." Mengecup pipi Azzam yang sangat mengemaskan.
"Dadah Oma. Nanti kalau Oma datang tidak boleh pergi lagi." Membalas ciuman omanya di pipi.
Bunda Harun hanya tersenyum dan menatap putranya yang bergeming, bahkan menatap saja rasanya pria itu engang.
"Harun, bunda pergi dulu ya nak. Jaga keluar kecil kamu dengan baik. Jangan buat kesalahan seperti yang bunda lakukan dulu. Maafin bunda ya karena mengecewakan dan menyakiti hatimu terlalu dalam."
"Hm."
"Mas?" Haura bersuara karena tidak suka Harun bersikap arogant pada wanita yang telah melahirkannya. Wanita yang telah mempertaruhkan hidup demi memberi kehidupan baru bagi dunia.
__ADS_1
"Hati-hati." Meraih tangan bundanya dengan terpaksa untuk bersalaman tanpa mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.