
Makan siang bersama di lantai paling atas rumah sakit khusus petinggi sedang terjadi. Dua pasang manusia tersebut duduk saling berhadapan dengan suasana hati yang tentu saja berbeda-beda.
Haura dan Harun menikmati makan siang dengan hati gembira, saling suap menyuap satu sama lain. Awalnya Haura menolak karena ada orang lain di dalam ruangan tersebut, tapi Harun memaksa dan mengancam tidak ingin makan, itulah mengapa Haura pasrah begitu saja.
Sementara di sisi lain, dua hati dengan perasaan berbeda duduk bersampingan tanpa adanya tegur sapa satu sama lain. Dua hati tersebut tidak lain Diana dan Ezra yang menyantap makan siang dalan diam.
Keduanya sedang memikirkan kata-kata untuk membicarakan lamaran yang akan terjadi beberapa hari lagi. Yang awalnya ingin membatalkan perjodohan, mereka malah terjebak dalam sandiwara sendiri.
"Aku kira kamu bakal keterusan pakai hijabnya," celetuk Harun dengan mulut penuh makanan, membuatnya mendapat tepukan di pundak dari sang istri.
"Jangan bicara kalau lagi makan, Mas. Nanti kesedak," tegurnya.
"Maaf Bunda, tapi aku penasaran," bisik Harun yang hanya bisa didengar oleh Haura saja.
Diana yang ditanya hanya diam saja, larut dalam lamunan yang entah akan berakhir kapan. Berbeda dengan Ezra yang langsung menyahuti perkataan sahabatnya.
"Tidak ada yang instan di dunia ini kecuali mie instan, itupun harus dimasak," celetuk Ezra. "Perubahan butuh waktu, apalagi dalam menutup aurat yang membutuhkan istiqomah seumur hidup," lanjutnya.
__ADS_1
Diana, Haura dan Harun lantas menatap Ezra yang tampak sangat serius. Ketiga orang itu tidak percaya Ezra menyahuti perkataan Harun yang sebenarnya tidak berfaedah.
"Sudah cocok ini mah jadi suami idaman." Cengir Harun menepuk pundak Ezra, sementara lirikannya tertuju pada Diana.
"Kami bakal nikah dalam waktu dekat, berarti aku tidak salah pilih dong," sahut Diana tanpa dosa.
"Kalian akan menikah?" Haura terkejut, tapi ada rasa bahagia di hatinya sebab Diana tidak mengambil jalan haram bernama pacaran untuk mengenal satu sama lain.
"Cuma nikah kontrak untuk membatalkan perjodohan. Lagian kita sama-sama diutungkan dalam pernikahan ini. Satu tahun paling lama usia pernikahan kita nantinya. celetuk Ezra tanpa sadar sehingga mendapatkan tatapan mematikan dari Harun.
Sementara Haura membuka mulutnya karena terkejut mengetahui alasan gadis yang sudah dia anggap adik menikah dengan sahabat suaminya.
"Hm."
"Apa kalian yakin?" Salah satu alis Haura terangkat, rasanya dia sangat keberatan untuk ide gila dua manusia di hadapannya.
"Diana?"
__ADS_1
"Aku tidak punya pilihan lain kak. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku kenal."
Haura menghela nafas panjang sebelum kembali bicara. Sementara Harun dan Ezra sejak tadi saling melempar tatapan seolah bicara lewat pancaran mata masing-masing.
"Bukannya mau ikut campur dalam hubungan dan tentang rencana kalian. Tapi, sebagai teman aku cuma mau mengingatkan ...." Haura menjeda kalimatnya, menatap Harun seolah meminta izin.
Wanita berbadan dua itu tersenyum ketika mendapat persetujuan dari Harun, terlebih saat suaminya mengenggam tangannya cukup erat.
"Pernikahan adalah hal yang sangat sakral, semua perempuan menginginkan hanya menikah satu kali selama hidupnya. Meskipun berpisah, setidaknya maut yang memisahkan, bukan karena perjanjian konyol atau orang ketiga dalam rumah tangganya. Bahkan Allah sangat membenci yang namanya perceraian."
Haura meraih tangan Diana karena tidak ingin gadis yang selama ini membantunya salah dalam melangkah, terlebih usia Diana masih sangatlah muda.
"Pikirkan lagi baik-baik Diana, kamu juga Ezra. Jika kalian ingin menikah, maka menikalah dengan niat baik, bukan saling menguntungkan satu sama lain. Rumah tangga bisa dibangun tanpa cinta, bukti nyatanya aku dan mas Harun, tapi alhamdulillah kita baik-baik saja sekarang."
"Tapi semua keputusannya ada di tangan kalian, aku hanya mengingatkan saja."
Haura melepaskan genggaman tangannya pada Diana yang bergeming. Wanita berbadan dua itu mulai membereskan bekal yang ada di atas meja dan bersiap untuk pulang.
__ADS_1
"Mas antar sampai rumah!"
"Sopir pribadi mas ada di bawah, aku pulang sama dia saja. Baik-baik di rumah sakit Mas. Dan tolong yakinkan Ezra lagi, aku tidak mau Diana kenapa-napa, terlebih sepertinya dia menyukai Ezra!" pinta Haura yang kini sedang berada di depan pintu sementara Diana dan Ezra ada di dalam ruangan istirahat.