
Jika Harun dan Haura sedang berusaha untuk meyakinkan hati masing-masing untuk kembali. Maka berbeda dengan gadis yang kini duduk di sebuah ruangan yang sering kali dikunjungi oleh pasien berbadan dua.
Gadis itu adalah Diana, menopang dagunya dengan tangan yang berada di agas meja kerja Ezra. Memperhatikan ruangan yang tampak rapi. Aroma obat-obatan tidak terlalu menyengat sebab dikalahkan oleh aroma Ezra yang membuat seseorang bisa saja jatuh cinta dan selalu ingin bertemu.
Itu menurut Diana, ingat menurut Diana saja!
Gadis itu tersenyum melihat Ezra duduk di seberang meja dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan.
"Jadi apa keluhan anda?" tanya Ezra masih tidak mengenali gadis di hadapannya. Pria itu terlalu sibuk jika harus mengingat semua orang yang dia temui.
Diana yang ditanya masih saja membeku dan terus senyum-senyum sendiri, membuat Ezra menghela nafas panjang. Pria itu tidak heran jika menemukan pasien muda yang sedang hamil, tapi kali ini pasiennya sedikit aneh.
"Anda sakit?" Mengecek subu tubuh Diana dengan menempelkan punggung tangan dikening gadis itu.
Diana tersadar dari lamunannya, menyengir tanpa dosa.
"Sudah tahu sejak kapan kalau sedang hamil? Dan suaminya mana?"
"Saya tidak tahu."
__ADS_1
"Apanya?" Bingung Ezra.
"Saya belum menikah dokter, dan saya juga tidak hamil."
"Lalu?" Kening Ezra semakin mengkerut, pria itu sebenarnya ingin pulang kerumah karena tidak ada jadwal lagi di rumah sakit, tapi karena kehadiran Diana dia harus membuang waktunya.
Bagi seorang dokter, kesehatan pasien adalah yang utama dan sekarang Ezra sedang menjalankan kewajibannya dengan membiarkan Diana masuk keruangan.
"Maaf karena berbohong dokter. Aku sangat ingin bertemu, tapi dokter tidak pernah mau menjawab panggilan dariku." Diana mengulurkan tangannya masih dengan senyuman. "Nama aku Diana, kurir pribadi kak Haura. Kurahap pak dokter tidak lupa padaku."
Bukannya meraih uluran tangan Diana, Ezra malah terdiam. Berusaha mengingat gadis yang ada di hadapannya, sehingga pikirannya langsung tertuju pada kejadian pagi hari dimana dia bertemu gadis aneh yang mempertanyakan statusnya.
"Oh, ada urusan apa ingin bertemu?"
"Kenapa bertanya? Jika tidak penting silahkan pergi! Saya tidak punya waktu meladeni gadis kecil seperti ...."
"Kalau belum punya, apa pak dokter mau jadi pacar aku?" tanya Diana tanpa basa-basi sedikitpun, membuat Ezra tentu saja terkejut.
Mata pria itu hampir saja melompat dari tempatnya mendengar kalimat dari gadis yang sangat cantik sayangnya aneh.
__ADS_1
"Keluar dari ruangan saya!" Usir Ezra berdiri dari duduknya, menunjuk pintu yang sejak tadi terbuka lebar.
Diana mengeleng, sudah kepalang ada di rumah sakit. Gadis itu harus mendapatkan hati Ezra agar mau menjadi pacar pura-puranya untuk diajak kerumah, memperkenalkan pada orang tuanya sebagai pacar agar perjodohan batal.
"Jawab dulu!" Bersedekap dada.
"Saya akan menikah sebentar lagi, jadi silahkan pergi!"
"Menikah? Apa pak dokter mencintai calon istrinya? Apa dia lebih cantik dari aku? Pak dokter, aku meminta bapak untuk menjadi pacar karena banyak pertimbangam." Diana terus saja melangkah, mengikuti Ezra yang terus berjalan setelah berhasil keluar dari ruangannya.
"Pak dokter!" pekik Diana. "Aku tidak sembarang jatuh cinta pada seorang pria, aku hanya jatuh cinta pada pria yang benar-benar tampan. Biasku adalah Cha Eun woo! Manusia paling tampan dimuka bumi ini!"
Teriakan itu berhasil menghentikan langkah Ezra yang hampir berbelok di koridor rumah sakit menuju sebuah ruangan lain. Pri itu berbalik untuk menatap Diana yang berada kurang lebih 10 meter darinya.
"Kalau begitu pacaranlah dengan Caunumu itu, jangan sama saya!"
Diana mengembungkan pipinya, hentakan kaki mulai terdengar, untung saja lantai tempatnya berada sedikit sepi akan pengunjung.
"Kalau bisa aku sudah menikahinya sejak dulu pak dokter! Dasar jual mahal!"
__ADS_1
Diana berlari menghampiri bahkan melewati Ezra. Mendahului pria itu memasuki lift lalu buru-buru menutupnya agar Ezra tidak bisa masuk.
"Menyebalkan! Harga diriku sungguh terinjak-injak. Awas saja kalau sampai dia jatuh cinta, aku akan membalasnya dengan jual mahal pula! Pak dokter gila!" Terus mengerutu di dalam lift seorang diri.