
"Sayang, mas mau dipeluk!" Manja Harun menarik-narik ujung gamis istrinya yang sedang menikmati ceramah di Tv.
Pria itu baru saja pulang dari rumah sakit bebeberapa jam yang lalu dan ingin dimanja oleh istrinya.
Haura melirik suaminya sebentar dengan senyuman. "Mau peluk atau tidur di pangkuan?" tanyanya.
"Tidur di pangkuan saja Bunda." Harun lantas membaringkan tubuhnya di pangkuan Haura. Rambut sedikit basah pria itu membuatnya semakin tampan.
"Beberapa bulan lagi kamu lahiran, Ra. Rencananya kapan mau belanja perlengkapan Abang?" Menatap wajah teduh Haura dari bawah.
"Nanti ya pas tujuh bulanannya Mas, sekalian aku mau berkunjung ke panti. Mas mau kan?"
"Tentu Sayang, realisasikan semua keinginanmu dan kuras ATM yang mas punya." Harun mengelum senyum, mendaratkan kecupan bertubi-tubi di perut buncit istrinya.
"Ke kamar yuk! Mas pengen dipeluk sambil baring-baring. Pengen dimanja karena lelah." Bujuk Harun.
Haura hanya menanggapi dengan kekehan kecil. Wanita itu menunduk dan mengecup bibir suaminya sebanyak dua kali.
"Masuklah dulu Mas, aku lagi nunggu seseorang."
"Siapa? Cewek-cowok?" Menatap penuh selidik.
"Diana, dia mau kerumah Ezra katanya, tapi minta di dandani sama aku. Nanti pas ...." Belum selesai bicara, suara bel rumah telah berbunyi beberapa kali.
__ADS_1
Merasa yakin itu adalah Diana, Harun akhirnya bangkit dari pangkuan Haura. Istrinya selalu melarang untuk bermesraan di depan orang lain, karena mengumbar kemesraan bukanlah hal yang diperbolehkan, apalagi jika terlalu berlebihan.
"Temuilah tamu kamu, mas ke kamar dulu."
Haura mengangguk, berjalan pelan menuju pintu utama. Senyuman wanita berperut buncit itu mengembang melihat Diana berdiri kikuk di depan pintu.
"Ayo masuk dulu!" Menarik tangan Diana antusias.
"Ish aku tidak menyangka rumah kak Haura semewah ini. Hampir sama dengan rumah orang tuaku." Terus berjalan mengikuti langkah Haura menuju kamar di lantai dasar.
"Orang tua?"
"Orang tua teman maksud aku, kak." Cengirnya masih tidak ingin mengakui identitas yang sebenarnya.
"Kak Haura sudah menunggu sejak tadi?"
"Hm, aku tahu kamu suka sama dokter Ezra. Semoga hubungan kalian lancar sampai di jenjang pernikahan. Aku juga senang kamu mau berubah," ucap Haura.
Wanita berbadan dua itu tidak menyangka Diana ingin berkunjung ke rumahnya untuk belajar memakai hijab dan gamis. Entah apa yang membuat Diana ingin berubah secara tiba-tiba, intinya Haura suka hal tersebut.
"Aku punya beberapa gamis, kamu tinggal pilih yang mana saja. Belum dipakai kok."
"Tidak usah kak, aku bawa kok." Menunjuk paper bag di tangannya. Awalnya Diana ingin datang apa adanya kerumah orang tua Ezra. Tapi urung karena tidak ingin kehilangan pria seperti Ezra yang sabarnya seluas samudra.
__ADS_1
Jika pria lain, mungkin tidak ingin lagi berteman dengan Diana sakin menyebalkannya, tapi Ezra tetap bertahan meski jutek.
"Kamu yang beli?" Meneliti gamis yang baru saja dikeluarkan oleh Diana. Haura sedikit terpana dengan gamisnya yang bisa dikatakan cukup mahal. Terlebih sangat cocok dan manis jika dipakai oleh Diana.
"Dokter Ezra."
"Benarkah? Ah manis sekali."
Haura tersenyum lebar, terbesit dalam hatinya mengingingkan hal demikian. Di mana Harun membelikannya gamis, tidak perlu yang mahal. Haura hanya ingin merasakan sebuah perhatian dalam dirinya.
"Kak Haura?"
"Ah ya aku sampai bengong. Sekarang kamu ganti baju dulu, nanti aku make up in tipis-tipis."
Diana mengangguk, lantas berjalan menuju kamar mandi mengganti baju. Memandangi tubuhnya pada pantulan cermin.
Untuk pertama kalinya Diana memakai sesuatu yang menutupi seluruh tubuhnya. Biasanya hanya memakai celana atau rok di atas lutut, belum lagi kaos kedodoran menyertai.
"Manis sekali?" gumam Diana. "Apa dokter Ezra memilihnya pakai hati? Atau hanya kebetulan membeli warna favoritku?" Gadis itu bermonolog dalam hati. Tiba-tiba pipinya bersemu merah, ada rasa bahagia memikirkan Ezra benar-benar membelikan ini dengan sepenuh hati.
"Kalau dengan berubah aku bisa mendapatkan hatinya, maka aku akan melakukannya."
Mungkin keputusan Diana salah sebab ingin berubah karena mengingingkan sesuatu, bukan benar-benar karena Allah. Namun, di sisi lain ini adalah langkah awal yang baik untuk memulai jalan hidup yang benar.
__ADS_1