Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 54 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Karena keadaan terpaksa, akhirnya Haura membiarkan suaminya masuk ke rumah dengan catatan pintu kontrkan tidak di tutup. Sebenarnya tidak masalah jika Haura dan Harun berduan saja bahkan jika melakukan hal lebih karena keduanya sepasang suami istri di mata hukum maupun agama.


Hanya saja Haura tidak ingin para tetanggangnya salah paham dengan apa yang terjadi.


Wanita berbadan dua yang terlihat sehat dan wajahnya sudah tidak terlalu pucat, terus saja mondar-mandir dapur-ruang tamu yang hanya dihalangi orden yang telah Haura jahit sendiri.


Sementara Harun duduk sila di atas karpet memperhatikan istrinya yang tampak sibuk tanpa ingin menegur. Takut kalau saja tiba-tiba diusir.


"Sarapan dulu Mas." Meletakkan beberapa piring di hadapan Harun. Pria itu sering kali sarapan dengan menu yang berat-berat, jadi Haura menyiapkan makanan untuk suaminya.


Harun tadi mengeluh sakit perut sebab belum sarapan.


"Aku cuma bisa masak ini." Menunjuk ikan teri kering yang ditumis kecap bersama tempe dan tahu. Tidak lupa Haura menyiapkan sayur bening.


Wanita itu sebenarnya juga belum sarapan.


"Apapun masakannya pasti terasa lezat kalau kamu yang masak," puji Harun. Pria itu meletakkan ponselnya lalu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.


Makan sangat lahap menggunakan tangan kanan, begitupun dengan Haura. Entah kenapa selera makan wanita berbadan dua itu membaik melihat betapa antusiasnya Harun memakan masakannya.


"Mau nambah?" tanya Haura.


Harun lantas menganggukkan kepalanya, memberikan piring pada Haura, membuat wanita itu tersenyum. Entahlah, tapi selama menikah ini pertama kalinya Haura melihat Harun memakan hidangan sesederhana sekarang.


"Kak Haura!"


Pergerakan Haura yang hendak menuangkan air minum untuk Harun berhenti, menatap gadis cantik dengan senyum cerianya yang berdiri di ambang pintu.


"Ayo makan dulu," panggil Haura mengeser duduknya.

__ADS_1


Diana yang di panggil ikut duduk di samping Haura, memperhatikan Harun yang tengah menunduk menikmati makanan.


Tatapan Diana tertuju pada hidangan yang ada di depannya. Sangat asing dan dia tidak pernah melihatnya ada di rumah.


"Ini apa kak, kok kayak paku berkarat?"


Uhuk


Harun tersedak mendengar pertanyaan Diana. Pria itu segera mengambil air minum. Sementara Haura malah tersenyum menanggapi pertanyaan Diana.


"Kamu tidak pernah makan ikan teri?"


Diana mengeleng.


"Ini ikan teri kering tumis kecap, cobain deh, pasti ketagihan."


"Mas!"


"Kamu masak buat mas, kenapa malah nawarin ke orang lain?" tanya Harun dengan wajah datarnya.


"Aku juga tidak lapar, dari pria pelit. Menyebalkan seperti sahabatnya!" omel Diana langsung berdiri, masuk ke area dapur untuk mengambil pesanan yang telah selesai.


Melihat tingkah Diana dan Harun membuat Haura sedikit bingung. Wanita itu menatap suaminya. "Jangan bersikap kayak tadi sama tamu mas, tidak baik." Setelahnya beranjak dan menyusul Diana.


"Maafin mas Harun ya, sikapnya memang seperti itu."


"Tidak masalah kak, lagipula aku tidak baperan. Aku tahu kok kak Harun kayak gitu bukan karena pelit." Menyengir tanpa dosa. "Aku duluan." Pamit Diana sambil menenteng kresek keluar dari rumah tanpa menyapa Harun lebih dulu.


Gadis itu kembali lagi dan duduk di hadapan sahabat pria yang menarik perhatiannya. Mengambil piring lalu mengisi dengan nasi.

__ADS_1


Sebenarnya Diana hendak pergi, tapi urung ketika teringat tadi ditawari makan dan telah lancang bertanya tentang lauk yang disediakan Haura. Tidak ingin Haura tersingung, akhirnya Diana memilih untuk makan meski sedikit saja.


"Katanya tidak mau," celetuk Harun.


"Bukan urusan pak Dokter, orang lapar juga."


"Hm baiklah." Pria itu berdiri. Membawa langkahnya memasuki dapur dan mendapati istrinya sedang membersihkan kompor.


"Apa kamu tidak lelah bergerak terus, Ra?" tanya Harun membuat Haura menoleh.


"Ma-mas Harun kenapa masuk? Aku sudah bilang jangan melewati ...."


"Aku mau cuci tangan karena bau ikannya sangat menyengat."


"Di sana!" Menunjuk kamar mandi yang pintunya hanya terpasang horden saja.


"Apa kamu nyaman tinggal di rumah seperti ini? Rumahnya sangat ...."


"Kalau mas tidak suka maka jangan berkunjung lagi. Aku tidak mampu menyewa kontrakan yang lebih mewah dari ini."


"Mak-maksud mas bukan seperti itu Ra. Mas hanya ...."


"Aku berusaha menerima mas kembali, tapi kenapa mas selalu mempertanyakan hal-hal seperti ini? Apa rumah dan makanan orang sepertiku membuat mas terganggu?"


"Haura, bukan seperti itu. Maaf kalau aku salah bicara."


Haura menundukkan kepalanya, wanita itu juga tidak tahu kenapa dia sangat perasa seperti ini. Tapi dari Diana yang mempertanyakan hidangan yang dia buat, dari tatapan Harun yang seakan tidak suka rumah yang dia tempati membuat hatinya sedikit sakit. Padahal dulu dia tidak seperasa ini.


"Bukan mas yang salah, tapi aku karena terlalu perasa."

__ADS_1


__ADS_2