Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 69 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Diana, gadis cantik itu bergerak gelisah layaknya setrika yang melicinkan baju di balkon kamarnya. Jarum jam hampir menunjukkan angka 8 malam, tapi Ezra tidak kunjung datang padahal sudah berjanji ingin menjadi pacar pura-puranya.


"Awas saja kalau dokter Ezra bohong, aku bakal datang kerumahnya dan mengaku hamil pada orang tuanya," gumam Diana yang kali ini tidak akan memaafkan Ezra kalau saja tidak jadi datang.


Gadis yang telah berdanda cantik itu sudah memberitahukan bundanya bahwa malam ini akan memperkenalkan pacar yang selalu dia bangga-banggakan.


"Diana, sudah waktunya makan malam Nak!" Teriakan itu mulai terdengar dari balik pintu disertai ketukan sebanyak tiga kali.


"Iya Bunda!" sahut Diana membuka pintu dengan senyuman untuk menutupi rasa gelisahnya.


Jika malam ini gagal maka dia benar-benar akan dinikahkan dalam waktu dua minggu tanpa adanya resepsi.


"Pacar kamu sudah dimana? Bunda masak banyak hari ini untuk menyambut kedatangannya," ucap bunda Diana.


"Se-sebentar lagi dia datang Bunda. Ayo kita menunggunya sambil makan malam saja." Diana lantas menarik tangan bundanya menuju ruang makan, di sana sudah ada sang ayah yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Ayah sangat sibuk dan harus pergi, kira-kira pacarmu datang jam berapa?" tanya ayah Diana tanpa mengalihkan perhatiannya dari layal ponsel.


"Sebentar lagi ayah, kita tunggu aja dulu. Dia kayaknya sibuk."

__ADS_1


"Ayah juga sibuk," celetuk pria paruh baya itu sambil melirik arloji di pergelangan tangannya. "Sepuluh menit kalau pacar kamu tidak datang, maka ayah akan pergi."


Diana menghela nafas panjang, duduk saling berhadapan dengan bundanya yang sesekali melirik. Wanita paruh baya itu sedang memotong buah untuk suaminya.


Makan malam tidak akan dimulai jika Ezra tidak datang, itulah yang dikatakan Bunda Diana pada orang rumah.


Sepuluh menit begitu cepat berlalu dan tanda-tanda kedatangan Ezra belum juga ada, membuat ayah Diana lantas berdiri dan mengecup kening istrinya cukup lama.


"Ayah pergi dulu, bicaralah dan wakili ayah untuk meneliti pacar Diana. Pilihanmu tidak mungkin salah."


"Iya Mas, hati-hati. Kalau pulang telat dari waktu yang disebutkan kabari ya!" Bunda Diana tersenyum, mengantar kepergian suaminya hingga di depan pintu.


Diana mengikuti langkah orang tuanya dengan perasaan lega. Sebenarnya gadis itu sangat bersyukur karena ayahnya pergi, dengan begitu kebohongan akan bejalan dengan lancar.


"Hati-hati Ayah!" teriak Diana sambil melambaikan tangannya.


Tepat saat mobil ayahnya menghilang dari pandangan, mobil putih memasuki lingkungan rumah Diana dan berhenti tepat di hadapan dua perempuan berbeda generasi.


Wajah yang tadinya ditekuk berubah menjadi senyuman ketika tahu siapa pemilik mobil tersebut. Berjalan mendekat menunggu Ezra turun dari mobil.

__ADS_1


"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Bunda dan ayah sudah menunggumu sejak tadi." Mengambil kesempatan dalam kesempitan, Diana langsung memeluk lengan Ezra yang baru saja turun dari mobil.


Menyengir tanpa dosa meski tahu Ezra sangatlah risih. Bodah amat, pikir Diana.


"Jadi dia pacar kamu?" tanya bunda Diana dengan alis terangkat kerena terkejut bukan main.


Diana mengangguk antusias, sementara Ezra berjalan mendekati wanita paruh baya itu. Mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan bunda Diana sangat sopan.


"Saya Ezra, tante. Pacarnya Diana. Maaf karena telah membuat Tante dan om menunggu," ucap Ezra dengan senyumnya.


Senyuman yang mampu menghipnotis sosok mungil yang sejak tadi menempel di lengan Ezra.


"Tidak sama sekali, ayo masuk dulu Nak! Bunda sengaja masak banyak untuk menyambutmu." Dengan senyum riangnya Bunda Diana menyambut kedatangan calon menantunya.


Awalnya wanita paruh baya itu terkejut mengetahui kalau putrinya juga calon menatunya mempunyai hubungan spesial. Bunda Diana tidak pernah bertemu Ezra secara langsung, jadi pria itu tidak bisa mengenalinya.


Bunda Diana hanya mengenal Ezra lewat cerita suaminya juga sebuah foto yang terlihat sangat tampan. Siapa yang menyangka aslinya lebih tampan.


Ketika bunda Diana menghilang dari pandangan, Ezra langsung menepis tangan Diana cepat.

__ADS_1


"Ingat kita cuma pura-pura demi keuntungan masing-masing!" peringatan Ezra.


"Aku tahu, aku hanya berusaha mendalami peran biar tidak gagal. Kalau kaku mereka akan curiga!"


__ADS_2