Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 42 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Harun, pria itu menundukkan kepalanya sopan ketika wanita paruh baya yang baru saja bertanya menghampirinya.


Wajah wanita itu terlihat sedikit sangar membuat Harun sedikit kikuk, takut kalau saja diusir sebelum bertemu istrinya.


Jujur saja saat ini Harun sangat merindukan Haura, jika tidak bisa memeluk, setidaknya dia harus melihat wajah cantik Haura meski sebentar saja.


"Kau mencari siapa?" Kalimat itu kembali terlontar dari wanita paruh baya yang ternyata pemilik kontrakan.


"Saya mencari Haura, apa dia ada bu? Saya suaminya," sahut Harun terus terang sehingga pria itu mendapatkan tatapan menyelidik dari ibu kontrakan.


Wanita berbadan gembul itu memperhatikan penampilan Harun dari atas sampai bawah sambil mengelengkan kepalanya.


"Ternyata suami Haura orang kaya ya? Tapi kok tega nelentarin istri yang sedang hamil di rumah yang sangat kecil seperti ini? bahkan bekerja keras untuk membiayai dirinya sendiri padahal sedang hamil." Wanita gembul itu menyindir Harun.


Entah kenapa, tapi pemilik kontrakan seperti merasakan penderitaan Haura selama tinggal di rumahnya. Wanita sebaik Haura harus ditelantarkan padahal suaminya sangat kaya raya. Itulah yang dapat ibu kontrakan simpulkan melihat penampilan Harun yang sangat mahal.


"Semoga anak gadis saya tidak bertemu pria sepertimu!" Menutup kembali pagar tanpa mempersilahkan Harun masuk lebih dulu. "Tunggu di sini, saya akan panggilkan!"


"Tunggu, bu!" Harun mencegah ibu kontrakan tersebut untuk menemui Haura, pria itu takut kalau saja Haura malah menolak kedatangannya.


"Apa saya boleh menemuinya sendiri? Saya janji tidak akan lama. Saya mohon ...." Mengatupkan kedua tangannya, merendahkan diri pada orang lain hanya untuk bertemu Haura yang entah sedang apa di dalam rumahnya.

__ADS_1


Ibu kontrakan tersebut menghela nafas, meski begitu tetap saja memberikan izin agar Harun masuk.


"Cuma sampai jam 5 sore!"


Harun mengangguk antusias, mengekori ibu kontrakan menuju rumah minimalis yang ternyata cukup jauh dari pagar, bahkan sedikit sepi tanpa penghuni karena berada paling belakang.


Pria itu tidak bisa membayangkan bagaimana menyeramkannya jika malam hari, terlebih Haura tinggal sendirian.


Langkah Harun berhenti tepat di depan pintu bertulisnya.


Menerima pesanan donat dan pisang roll.


"Nak Haura, ada yang ingin bertemu!" panggil ibu kontrakan sambil mengetuk pintu, membuat Haura yang sedang membuat adonan donat bangkit dari duduknya untuk membubukakan pintu.


"Apa benar dia suami kamu Nak?"


"Iy-iya bu." Menganggukkan kepala.


"Kalau begitu ibu tinggal dulu ya, waktunya cuma sampai jam 5 sore!" Ibu kontrakan kembali mengingatkan sebelum meninggalkan Haura dan Harun yang diam membisu di tempat masing-masing.


Haura meremas tangannya yang memerah karena percikan minyak panas dan itu semua tidak luput dari perhatian Harun yang sejak tadi memandangi istrinya yang sedang menunduk.

__ADS_1


Harun melangkah semakin dekat, hendak meraih tangan Haura tapi wanita itu mundur satu langkah sambil menyembunyikan tangannya.


"Haura, tangan kamu terluka." Menatap Haura dengan raut wajah khawatirnya, terlebih saat mengingat pembicaraanya dengan Ezra saat di mobil tadi.


Di mana kondisi Haura sedang tidak baik-baik saja. Anemia bukanlah hal yang harus disepelekan terlebih jika sedang hamil.


"Aku baik-baik saja, Mas Harun kenapa kesini? Bukannya sebentar lagi akan menikah?"


Harun tidak menjawab, pria itu hanya terus memandangi wajah pucat Haura dengan perasaan berkecamuk.


"Aku merindukan istriku, apa itu salah?"


"Pergilah Mas, jangan memberiku harapan lagi."


"Apa ada yang salah kalau seorang suami merindukan istrinya?"


Haura mengelengkan kepalanya sebagai jawaban, tangan wanita itu saling meremas satu sama lain di belakang tubuhnya sambil bersandar pada daun pintu tanpa mempersilahkan Harun masuk.


"Kapan Mas Harun akan menceraikan aku?"


"Haura!" Suara Harun naik satu oktaf, hingga tanpa sadar Haura mendongakkan kepalanya. Tatapan mereka terkunci satu sama lain, seakan sedang bertukar luka lewat pancaran mata yang telah mempu menjelaskan rasa sakit yang selama ini keduanya pendam karena kesalahpahaman.

__ADS_1


Harun semakin mendekat, tanpa meminta izin langsung mendekap tubuh yang semakin hari terlihat kurus tersebut.


"Maaf, karena membuatmu kecewa. Seharusnya aku tidak membuatmu menderita seperti ini. Aku memang bukan suami yang baik, tapi bukan berarti perpisahan adalah jalan satu-satunya untuk masalah kita Haura. An-anak kita ...." Harun tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, hanya air mata yang terus saja mengalir membasahi hijab yang Haura kenakan.


__ADS_2