
"Istriku belum meninggal, dia masih hidup." Harun terus saja menangis histeris membuat perawat yang mulai lelah berdiri segera menyingkir karena merasa heran melihat pemilik rumah sakit yang tingkahnya sangat aneh. Apa karena sekarang sudah malam sehingga Harun ke surupan?
Dua perawat pria itu menganggukkan kepalanya pada dokter Ezra yang baru saja datang.
"Haura belum mati," celetuk Ezra.
"Kau benar istriku tidak mungkin pergi, istriku hanya tidur."
"Lalu kenapa kau menangis?" Salah satu alis Ezra terangkat, pria itu sekuat tenaga menahan agar tawanya tidak meledak di lorong rumah sakit yang sangat dekat dengan kamar mayat. Takut kalau saja para mayat tersebut ikut tertawa.
"Mereka ingin membawa istriku pergi."
"Kau sudah melihat wajahnya?"
Harun mengeleng, pria itu mengangkat kepalanya menatap Ezra yang sejak tadi bersedekap dada. Karena takut akan kehilangan, Harun sampai lupa untuk memeriksa siapa yang berada di atas brangkar.
Dengan pergerakan perlan Harun menyibak kain hijau yang menutupi tubuh mungil tersebut. Terkejut bukan main melihat kalau mayat itu bukan istrinya melainkan nenek-nenek yang telah cukup umur dan mungkin sudah bau tanah.
"E-ezra, dimana Humairahku?" Menatap Ezra yang menahan tawa.
"Makanya sebelum nangis teliti dulu, malukan sekarang?" ejek Ezra.
__ADS_1
Pria itu meninggalkan lorong rumah sakit diikuti oleh Harun yang mengekor layaknya anak kecil. Membuka pintu ruangan super VVIP karena menjadi pemilik rumah sakit.
Di dalam sana seorang wanita tengah memejamkan matanya. Sudah tidak banyak alat-alat medis yang melekat di tubuh Haura sebab telah melewati masa kritis akibat mendengar tangisan kencang Azzam yang berada di ruang intensif siang tadi.
Hanya ada selang oksigen yang membantu wanita itu bernafas juga selang infus di tangan.
Harun melangkah mendekati istrinya, sementara Ezra telah pergi karena memang sudah tidak mempunyai jadwal di rumah sakit.
"S-sayang?" panggil Harun duduk di sisi brangkar. Mengenggam tangan istrinya yang terasa sangat dingin, membuat wanita itu lantas membukanya matanya yang terlihat sayu, melempar senyum meski terasa sangat sulit.
"Ma-mas Harun?" Bulir-bulir bening terus saja berjatuhan di pelupuk mata Haura yang telah sadar sejak tadi, hanya saja belum bisa mengerakkan seluruh tubuhnya.
Hati wanita itu terasa sangat sakit melihat penampilan suaminya yang tidak terawat padahal baru ditinggal beberapa hari.
"Ma-maaf."
Harun mengelengkan kepalanya, mengusap air matanya kasar. "Mas yang salah karena lebih mentingin pekerjaan, Sayang. Kamu udah liat putra kita? Dia sangat tampan di mirip denganku. Mas memberinya nama Azzam."
"Makasih, Mas."
"Sama-sama Sayang."
__ADS_1
"Ma-makasih sudah mau menyelamatkan putra kita," lirih Haura meski sulit rasanya untuk dia bicara. Namun, dia ingin mengatakan banyak hal pada suaminya.
"Berhentilah bicara Haura, istirahatlah!"
Haura mengelengkan kepalanya. "C-cium aku!" pinta Haura.
"Ra?"
"Mas, aku mohon!"
Harun mengambil nafas dalam-dalam karena sesak di dadanya. Bangkit hanya untuk mengecup kening Haura cukup lama.
"Cepat sembuh Sayang, Azzam membutuhkan kamu," bisiknya.
"Makasih Mas sudah mempertahankan putra kita."
"Tidak Ra, mas egois karena hanya memikirkanmu. Mas-mas bukan ayah yang baik untuk Azzam."
"Mas adalah suami dan ayah yang baik untukku juga Azzam." Lagi-lagi Haura tersenyum meski rasanya bernafas saja sangat sulit.
"Aku lelah mas, boleh aku tidur sekarang?"
__ADS_1
"Tentu tidurlah dengan nyenyak, tapi jangan lupa bangun besok."
Haura hanya tersenyum, perlahan-lahan memejamkan matanya.