Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 45 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Keheningan terus saja tercipta antara Harun dan Haura di depan kontrakan padahal hampir satu jam telah duduk bersama meski ada jarak di antara keduanya.


Harun sudah kehabisan kata-kata sekarang, terlebih Haura hanya akan menyahut jika menurut wanita itu perkataanya sangat penting.


Antensi Harun yang sejak tadi memperhatikan istrinya yang tengah memainkan jari-jati tangan, beralih pada benda pipinya ketika notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


Dia tersenyum senang membaca pesan dari pengacaranya bahwa Elena dan Vivian berhasil diamankan oleh polisi.


Pria itu bangkit dari duduknya, terlebih jarum jam sudah menunjukkan angka jam 5 sore, sudah waktunya dia pergi jika tidak ingin diusir oleh ibu kontrakan.


"Mas pergi dulu ya. Mas akan kembali untuk menjemputmu setelah membereskan semua kekacauan." Harun menghampiri Haura, mengulurkan tangannya berharap wanita itu mengecupnya.


Siapa yang menyangka, Haura benar-benar mengecup punggung tangan Harun yang terulur, membuat senyuman Harun semakin merekah.


"Hati-hati di jalan Mas."


"Iya istriku."


Harun hendak semakin mendekati Haura untuk mengecup keningnya, tapi suara seorang perempuan menghentikan pria itu.


"Kak Haura!"


Harun memutar bola matanya kesal, berbalik melihat siapa yang telah menganggu kesemepatan yang tidak bisa datang untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Diana? Astagfirullah, aku belum menyelesaikan pesanan apapun." Haura menepuk keningnya karena terlalu cereboh, ini semua karena Harun yang tidak ingin pergi dan Haura tidak enak jika meninggalkannya sendirian di depan rumah.


Harun pria yang sedikit seenaknya jika melakukan sesuatu, Haura takut kalau saja pria itu tiba-tiba masuk ke kontrakan.


"Sepertinya mas mengacaukan banyak hal. Mas pamit dulu." Mengulum senyum, berjalan melewati Diana yang menatapnya dengan tatapan aneh.


Gadis itu mendekati Haura setelah Harun menghilang dari pandangannya. Menarik-narik tangan Haura yang memerah.


"Kak Haura, itu siapa? Ish tampan banget, tapi lebih tampan dokter Ezra," ucap Diana mengikuti langkah Haura memasuki rumah.


Sampai sekarang Diana belum menghubungi kontak yang diberikan Haura, karena takut kalau saja mendapatian semprotan pedas dari pria yang terlihat sedikit menyebalkan seperti Ezra.


"Kak Haura?"


Haura menghela nafas panjang, Diana tipe gadis yang tidak akan berhenti jika keinginannya belum terpenuhi.


"Oh suami, aku baru tahu kalau suami kakak orang kaya. Jasnya aja merek brand ternama dan sangat mahal."


"Kok tahu?" Kening Haura mengkerut.


"Karena ayah aku juga sering pakai dan ...." Diana mengingit bibir bawahnya ketika melihat tatapan penuh selidik dari Haura.


Bodoh banget sih kamu Diana, hampir saja ketahuan.

__ADS_1


Diana meruntuki dirinya yang selalu tidak bisa mengontrol mulutnya.


"It-itu aku sering liat iklan biar tidak terlalu kampungan kalau dapat suami kaya, kak." Cengirnya tanpa dosa.


"Benar-benar ya kamu, selalu bisa buat suasana hidup." Haura tertawa melihat wajah lucu Diana. "Tunggu di sini, aku selesaikan dulu pesananannya!" Berjalan menuju dapur.


Diana yang memang tidak bisa diam malah mengikuti Haura ke dapur dan mengumamkan beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikirannya.


"Kenapa kak Haura tidak ikut sama suami kakak? Kan sekarang kak Huara lagi hamil, pasti butuh perhatian lebih. Suami kakak juga kayaknya cinta banget deh, tatapannya tadi dalam banget. Aku jadi pengen ditatap gitu juga sama dokter Ezra." Memegang pipinya karena gemes sendiri.


Membayangkan kalau saja dia berhasil menangklukan hati om-om tampan seperti Ezra. Sekarang Diana mempunyai ide untuk membatalkan pertunangannya dengan om-om yang mungkin saja jelek dan keriput.


"Jangan melamun, nanti kesambet. Mending kamu prin struknya!"


Diana menyengir, tapi tetap sama mengambil ponsel Haura dan mengprin semua struk, tidak lupa menyiapkan kotak dengan ukuran berbeda-beda sesuai pesanan dalam struk.


Menjejer-jejerkannya, bersiap mengisi kalau saja banyak yang sudah jadi.


"Kak Haura kapan periksa kandungan? Dokternya siapa?"


"Besok, dokternya, Ezra. Kenapa?" tanya balik Haura tanpa mengalihkan tatapannya dari wajan yang penuh akan minyak mendidih.


"Jam berapa?"

__ADS_1


"10 kayaknya."


"Kebetulan aku tidak ada kerjaan. Besok aku yang antar kakak ya? Pakai mobil teman aku tenang saja!" Antusias Diana, padahal gadis itu hanya ingin bertemu Ezra.


__ADS_2