Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 52 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Sepuluh menit lagi sebelum jarum jam menunjukkan angka 5 sore, tapi Harun tidak kunjung pergi dari kontrakan istrinya. Duduk di teras ditemani segelas kopi, sementara Haura sendiri sedang mengerjakan pesanan dari pelanggang, tidak banyak hanya beberapa dus saja.


"Apa aku harus melanggarnya? Tidak-tidak, Haura bisa saja marah padaku," gumam Harun. Terus menekan keinginannya yang ingin menyusul Haura masuk ke rumah, padahal wanita itu sudah berpesan agar Harun tidak masuk jika hanya sendirian saja.


Senyuman pria itu mengembang ketika Haura keluar dari rumah membawa satu kotak persegi berisi 6 buah donat.


"Hampir jam 5 sore, sebaiknya mas pulang. Aku takut ibu kontrakan marah," ucap Haura, dia menyerahkan kotak yang ada di tangannya pada Harun. "Buat sarapan besok, tidak basi kok selama disimpan di dalam kulkas."


"Kamu benar-benar tidak mau pulang?" Menatap istrinya dengan wajah senduh setelah menerima kotak donat. Langkah Harun terasa sangat berat jika harus meninggalkan kontrakan tanpa membawa Haura bersamanya.


"Aku akan mengabari mas Harun jika sudah siap untuk pulang. Aku janji akan baik-baik saja sampai waktunya tiba."


Harun menghela nafas panjang, pria itu lantas mengecup kening Haura cukup lama. "Cepatlah berubah pikiran, mas sangat tersiksa tanpamu di rumah. Jam 9 besok, aku akan datang untuk menjemputmu."


"Kemana?"


"Ke sebuah tempat." Harun hanya tersenyum tanpa ingin memberitahukan tujuan yang sebenarnya.


Meski begitu Haura tetap menganggukkan kepalanya. "Hati-hati dijalan mas, jangan lupa sholat magrib dan isya."


"Jangan lupa ingatkan." Membentuk tangannya seperti telpon genggam sambil berjalan mundur. Tingkah Harun layaknya anak remaja yang sedang jatuh cinta, tidak ingin berpisah hanya sebentar saja.

__ADS_1


Hal itu malah membuat jantung Haura terus tidak bisa berdetak normal setiap detiknya. Wanita itu menutup pintu kontrakan setelah tubuh suaminya menghilang di balik dinding kontrakan


Memenangi jantungnya yang kembali berdisko sangat hebat. Sebenarnya Haura ingin kembali dan memperbaiki rumah tangga yang telah retak, hanya saja Haura ragu akan cinta Harun padanya.


Sikap Harun tiba-tiba baik dan romantis setelah tahu dia hamil. Haura sangat takut kalau saja Harun ingin kembali hanya karena anak di kandungannya, bukan karena rasa cinta yang bersemi seperti apa yang dia rasakan.


"Maaf mas, aku masih meragukanmu. Tapi aku akan berusaha untuk menerimamu kembali meski luka itu sering kali muncul dan mengores luka yang susah untuk mengering dalam waktu dekat," gumam Haura.


***


Kediaman Edelweis


Hauran melempar tubuhnya ke atas ranjang setelah melaksanakan sholat magrib. Hari ini hatinya sedikit berbunga-bunga sebab menghabiskan banyak waktu bersama istrinya.


"Rasanya rindu ini tidak ingin memudar begitu saja, Ra. Aku merindukan semua sikapmu yang selalu memanjakan diriku," gumam Harun.


Pria itu terus saja menatap wajah cantik Haura yang ada di bingkai foto sehingga pikirannya tertuju pada donat yang diberikan Haura tadi. Lantas saja Harun turun dari ranjang dan berjalan menuju dapur.


Duduk sendirian dengan tiga buah donat yang berada di hadapannya. Tiganya lagi untuk sarapan besok.


Jangan lupa sholat

__ADS_1


Satu kalimat yang berada di kertas not tepat di bawah tutup kotak. Lagi-lagi Harun mengembangkan senyumnya. Menyantap donat yang terasa lezat. Manis dan teksturnya sangat pas di lidah.


"Jualan online?" gumam Harun menewarang jauh.


Pria itu melirik ponselnya, hendak menghubungi sang istri. Namun, panggilan lebih dulu masuk dari sahabatnya. Meski sedikit malas Harun tetap saja menjawab.


Menyandarkan benda pipih itu pada gelas karena Ezra sedang melakukan video call.


"Dasar dokter gadungan!" Maki Ezra.


"Kau tahu sejak dulu cinta-cintaku bukan menjadi dokter," sahut Harun sambil memakan donatnya, tidak menatap Ezra yang wajahnya sangat kusut di seberang telpon.


"Tapi kau sudah membuat sumpah saat itu!"


"Aku tahu Ezra, aku juga menjalankan kewajibanku sebagai dokter. Kalau kamu punya masalah dan sedang kesal, lampiaskan di atas sajadah jangan sama aku!"


Kekehan terdengar dari seberang telpon. "Kesurupan? Tumben banget ceramah." Ledek Ezra.


"Berhenti mengejekku, kau menelpon untuk apa?"


"Apa aku menerima perjodohan saja?"

__ADS_1


"Keputusan ada ditanganmu karena kamu yang akan menjalaninya sendiri. Tapi kuatkan mental dan hatimu, membangun rumah tangga tidak semudah yang kamu pikirkan, jangan membuat kesalahan sepertiku."


__ADS_2