
Harun, pria itu duduk termenung di sisi ranjang sambil menatap keluar jendela, dimana langit terlihat sangat gelap tanpa ada bintang ataupun bulan yang menyinari, mungkin saja malam ini akan ada hujan membasahi bumi yang terasa sangat panas saat siang hari.
Pria itu menghela nafas panjang beberapa kali ketika kembali mengingat pembicaraanya dengan bunda Elena di ruang tamu yang membahas tentang Vivian.
Elena meminta Harun untuk menikahi Vivian demi menutupi aib dan trauma dari gadis itu. Namun, Harun belum menjawab apapun karena hatinya masih milik Haura meski ada keraguan tentang perselingkuhan.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Mengusap wajahnya kasar karena bingung sendiri. Terlebih sampai sekarang orang yang dia suruh untuk memeriksa CCTV belum ada kabar. Mungkin terkendala pada pemilik hotel yang datanya tidak ingin digeledah oleh siapapun.
Tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya Harun membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar berwarna putih. Pria itu sejak tadi belum menyentuh ponselnya yang berada di saku celana sebab sangat khawatir akan kondisi adiknya.
Vivian sekarang berada di dalam kamar dan tidak ingin bicara dengan siapapun selain Harun.
Harun melirik jam dindin ketika suara adzan dari kejauhan terdengar. Pria yang tiba-tiba tubuhnya merasa lelah tersebut, lantas bangun dan masuk ke kamar mandi. Menunaikan kewajiban tepat waktu tanpa Haura sudah Harun lakukan meski masih saja bolong di waktu subuh. Entah ketiduran atau malas bangun.
Biasanya Harun akan menjadi iman seseorang, tapi hari ini tidak lagi. Makmumnya telah pergi, karena diusir olehnya.
Usai menunaikan ibadah, Harun melangkah menuku nakas masih dengan sarun, baju kokoh juga peci di kepalanya. Mengambil benda pipih untuk memeriksa sesuatu. Mata pria itu membulat sempurna melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Haura.
Tanpa menunggu lama, Harun menghubunginya dan dijawab dengan cepat oleh Haura di seberang telpon.
"Kenapa menelponku tadi? Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Harun.
"Maaf mas, aku salah pencet saat akan menghubungi seseorang. Lain kali tidak akan aku ulangi."
"Kau baik-baik saja? Suaramu terdengar ...."
__ADS_1
"Aku baik-baik saja seperti biasa, tidak perlu memperdulikanku lagi. Sudah dulu ya mas, aku belum sholat isya."
Tut
Harun menghela nafas panjang mendengar sambungan terputus begitu saja. Seperti ada yang hilang di hati Harun ketika Haura tidak lagi membutuhkan apalagi meminta balik padanya.
"Kenapa setiap hari hatiku dilemahkan olehnya? Padahal jelas-jalas dia telah menyelingkuhiku," gumamnya tidak mengerti.
Pria itu lantas berdiri ketika mendengar suara ketukan, menghampiri pintu lalu membukanya.
"Kenapa Bunda?" tanya Harun menatap Elena yang berdiri di ambang pintu.
"Vivian mengamuk dan terus menangis di kamarnya Nak, apa kau bisa membantu menenangkan?"
***
Sama dengan Harun, Haura menatap ponselnya dengan perasaan kosong setelah berhasil memutuskan telpon. Sebenarnya Haura sangat merindukan Harun, hanya saja dia tidak ingin mengemis lagi untuk kembali.
Memaksakan cinta seseorang hanya akan menyakiti hati di kemudian hari, dan Haura tidak siap untuk terluka. Terlebih dalam pernikahannya dia terlalu banyak berharap Harun akan membalas cintanya.
Wanita itu mengelus perutnya yang membuncit meski belum terlalu kentara.
"Terimakasih Sayang, sudah membuat bunda bertahan dan melewati rasa sakit. Bunda tidak sendiri sekarang, ada kamu bersama bunda."
Haura bangkit dari duduknya untuk masuk ke kamar mandi, tapi urung ketika suara ketukan pintu terdengar. Dengan langkah pelan, Haura membukanya. Dia tersenyum melihat pemilik kontrakan berdiri.
__ADS_1
"Bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada. Itu ada orang di depan mau ketemu kamu, pakai jas dokter. Ibu tidak menyuruhnya masuk, karena kawasan ini khusus perempuan."
"Terimakasih bu sudah repot-repot memanggil saya." Haura menunduk sopan, wanita yang menggunakan gamis rumahan dan jilbab pendek tersebut mengikuti langkah ibu kontrakan hingga di depan pagar lingkungan kontrakan.
"Ezra?"
Yang di panggil langsung membalik tubuhnya sambil tersenyum. Ezralah orang yang ingin menemui Haura.
"Ada kepentingan apa?" tanya Haura tapi tatapannya tertuju pada sepatu pentofel pria tersebut.
Bukannya menjawab, Ezra malah memberikan kresek warna putih berisi dus makanan.
"Bunda aku bagi-bagi makanan."
"Terimakasih." Mengambil keresek tersebut.
"Jangan lupa obatnya diminum, aku pergi dulu." Masuk ke mobil tanpa menoleh lagi, sebenarnya Ezra berbohong tentang bagi-bagi makanan.
Pria itu membelinya sendiri karena yakin Haura tidak mungkin membeli daging sapi untuk makanan sehari-hari.
Haura sedang mengalami Anemia, jika tidak dicegah atau diobati, itu akan memperburuk kandungan. Kelahiran cacat, lahir prematur bisa terjadi nantinya.
__ADS_1