
Haura, wanita berbadan dua itu mulai mengerjapkan matanya ketika merasa sudah lama terlelap. Haura sangat terkejut ketika melihat jam yang sudah menunjukkan angka 8 pagi, baru kali ini dia bangun sangat pagi.
Wanita itu buru-buru turun dari ranjang, mengambil hijabnya yang tergeletak di atas sofa. Berjalan secara perlahan keluar kamar untuk mencari Harun yang entah pergi kemana.
Harusnya dia tidak tidur setelah sholat subuh. Ada rasa bersalah karena tidak bisa menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Haura?" sapa Harun ketika Haura mendaratkan kakinya di dapur.
"Ma-mas Harun masak? Harusnya mas bangunkan aku, bukan malah seperti ini. Tadi malam suhu tubuh mas naik lagi," ucap Haura dengan rasa bersalahnya.
Harun mengulum senyum, menghampiri Haura lalu mengecup kening wanita itu sebentar. Memperbaiki hijab yang sedikit miring, mungkin karena Haura memasangnya sedikit buru-buru.
"Duduklah, sarapannya hampir siap. Tidak ada yang salah suami menyiapkan sarapan untuk istrinya, bukankah itu sudah kewajiban?" Menuntun Haura agar duduk di kursi meja pantri.
"Mas Harun tahu?" Mengerjapkan matanya perlahan, menatap wajah teduh Harun yang rambutnya setengah basah.
"Hm, kodratnya perempuan hanya melayani suami, melahirkan dan menyusui. Urusan rumah tangga adalah kewajiban seorang suami." Mengelus kepala Haura penuh kasih sayang.
Karena ingin berubah dan mau menjadi suami yang baik untuk Haura, Harun rela membuang-buang waktunya membeli beberapa buku tentang rumah tangga dan kewajiban seorang suami untuk istrinya.
Pipi Haura lagi-lagi memerah, menghindari tatapan cinta Harun yang membuatnya salah tingkah.
"Ma-mas Harun yang memindahkan aku tadi?"
"Siapa lagi?" Harun menaikkan alisnya. Pria itu memang memindahkan Haura ke tempat tidur karena istrinya terlelap di atas sajadah setelah sholat subuh.
__ADS_1
Membiarkan Haura tidur hingga siang hari karena tidak tega membangunkannya.
"Harusnya mas Harun membangunkan aku, bukan malah ...."
"Diamlah Humairahku." Kali ini Harun mengecup pipi Haura yang memerah seperti kepiting rebus.
Harun meninggalkan Haura yang duduk di meja pantri, mondar-mandir di hadapan istrinya untuk menyiapkan sarapan. Benar-benar Harun menjadikan Haura ratu di rumahnya.
"Sarapannya sudah siap Bunda!" seru Harun dengan senyuman hangatnya. Duduk di hadapan Haura setelah menyiapkan dua piring roti bakar isi daging dengan lelehan mayones.
"Makasih Mas."
"Tidak ada ucapan terimakasih untuk suami istri."
"Boleh mas bertanya sesuatu?" tanya Harun.
Haura lantas menganggukkan kepalanya. "Kenapa Mas?"
"Rambut kamu kenapa?"
"Ra-rambut?" Haura seketika langsung gugup, bahkan engang menatap manik suaminya lagi.
Harun mengangguk, meraih tangan Haura yang tampak gemetar. "Semalam kamu yang mengatakan kita akan memulai rumah tangga dengan sebuah kejujuran. Sekarang, katakan apa yang membuatmu merusak rambut indahmu, Haura? Kamu bukan tipe wanita yang merusak keindahan dari ciptaan Allah."
"Ak-aku bosan dengan rambut panjang."
__ADS_1
"Self harm?"
"Maaf," lirih Haura.
Harun tersenyum meski hatinya kembali merasakan sakit. "Tidak apa-apa, tapi jangan lagi ya? Kalau ada masalah atau kegelisahan di dalam hati, datang ke mas dan ceritakan semuanya. Melukai diri sendiri bukan solusi yang pas."
"Ak-aku tidak sadar melakukannya setiap kali merasa gelisah dan tertekan."
"Sudah, mas hanya bertanya bukan mau marah. Besok, mas akan membantumu untuk merapikannya." Harun membelai pipi Haura.
Berusaha menenangkan agar Haura merasa nyaman selalu berada di sampingnya. "Mau ikut kerumah sakit?"
"Ak-aku mau ke kontrakan dulu mas."
"Ke kontrakannya nanti malam saja. Temani suamimu ini bekerja, oke?" Harun mengedipkan matanya untuk mencairkan suasana.
Sementara Haura masih saja bergeming. Harusnya memang dia tidak melampiaskan rasa gelisah dengan merusak sesuatu yang ada pada dirinya.
"Sampai kapan istriku yang cantik ini berdiam diri, hm? Ayo kita bersiap bersama."
Menarik tangan Haura setelah memastikan istrinya telah selesai sarapan. Mengenggam tangan Haura cukup erat dan sesekali mengecupnya sambil berjalan menuju kamar.
Kali ini Harun tidak akan membuat istrinya terluka lagi. Sudah cukup membuat luka tanpa sengaja dengan sikapnya yang dulu.
"Hadiah terindah yang pernah aku dapatkan adalah menikah dengan Hauraku," batin Harun melirik istrinya yang masih saja menunduk.
__ADS_1