Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 71 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Duduk di sofa sambil menikmati sentuhan Harun di rambutnya, itulah yang Haura lakukan saat ini. Wanita berbadan dua itu bersedia Harun merapikan rambutnya agar lebih sedap dipandang mata.


Sesekali senyuman Haura terbit ketika candaan Harun terdengar jelas di telinganya. Tidak pernah Haura merasakan bahagia sebesar ini dalam pernikahannya.


Ternyata benar kata pepatah, setelah gelap terbitlah terang. Setelah badai akan ada kebahagiaan. Dibalik masalah ada hikmah yang bisa dipetik. Intinya rasa sabarlah yang harus kita perbesar sebagai manusia, karena kita tidak tahu di mana titik kebahagian itu berada.


Kebahagiaan dan kesuksesan tidak akan bermakna tanpa adanya kesedihan juga kegagalan yang menyeratai.


"Kan cantik," puji Harun telah berhasil merapikan rambut istrinya menjadi sejajar satu sama lain.


Pria itu mengusap pundak Haura yang di kenai beberapa helai rambut yang mungkin saja akan membuat wanita itu gatal nantinya.


"Sekarang mandilah Ra! Aku bakal nunggu kamu dibawah," bisik Harun.


Haura lantas memutar lehernya untuk menatap Harun yang berdiri di belakang sofa.


"Mas saja dulu, aku mau nyiappin sarapan. Sebentar lagi mas harus berangkat kerja." Buru-buru berdiri dan mencegab Harun melakukan sesuatu yang harusnya dia kerjakan.


Salah satu alis Harun naik sambil mengulum senyum, pria itu teringat akan momen indah semalam. Di mana dia berhasil menjenguk calon bayinya.


"Tidak lelah, Ra?"

__ADS_1


"Tidak, aku sehat kok mas. Lagian yang sering mual cuma mas." Haura melepas handuk yang berada di pundaknya lalu membawa ke keranjang kotor. Mendorong tubuh kekar Harun agar segera masuk ke kamar mandi. Setelahnya menyiapkan setelan kemeja dan segala keperluan Harun untuk hari ini di rumah sakit sebelum menyiapkan sarapan.


Sejak kembali ke kediaman Edelweis Haura tidak pernah lagi merasakan sedih, terlebih Harun sangat memanjakan dirinya.


"Bu Haura mau masak apa? Biar saya saja," ucap bibi lantas menghampiri Haura saat melihatnya berada di dapur.


"Hanya roti bakar Bi. Bibi kerjakan yang lain saja! Lagian tangan saya sudah sembuh." Memperlihatkan tangannya yang mulai mengelupas setelah dibawa ke klik kecantikan oleh Harun.


Sebenarnya Haura menolak, hanya saja Harun adalah pria pemaksa.


***


Pria berusia 30 tahun itu sedang duduk di meja makan bersama orang tuanya yang masih saja membahas tentang perjodohan. Ayah Ezra baru saja pulang dari perjalanan bisnis semalam.


"Dua minggu lagi jadi siap-siaplah!" ucap ayah Ezra tak terbantahkan.


"Apa harus Ayah mengatur hidupku? Aku berhak memilih pasangan sendiri!"


"Kalau begitu bawa perempuan pilihanmu ke hadapan ayah dan bunda. Ingat yang latar belakang dan pendidikannya baik, karena seorang perempuan akan menjadi sekolah pertama untuk anaknya nanti!"


"Aku akan membawanya tapi tidak sekarang," sahut Ezra. Selera makan pria itu tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


Pikiran Ezra tertuju pada Diana yang juga sedang berusaha membatalkan perjodohan dari orang tuanya.


"Apa tidak salah jika aku menikah dengan Diana saja? Setidaknya aku bisa membuat perjanjian pernikahan dengan gadis itu," batin Ezra bermonolog.


"Nak!"


"Iya Bunda?" Menatap bundanya dengan tatapan teduh.


"Kalau kamu memang punya pilihan sendiri, maka bawalah dia kemari! Perkenalkan pada ayah dan bunda agar kami bisa mempertimbangkannya. Kebahagian kamu adalah yang utama dirumah ini." Meraih tangan Ezra yang mengepal karena kesal.


"Dan kenalkan juga padaku!" Teriakan gadis berusia 20 tahun mengema di anak tangga, membuat ketiga manusia yang berada di meja makan lantas menoleh.


Gadis yang baru saja berteriak bernama Azalea, adik dari seorang Ezra yang kuliah di Kairo. Hijab panjang sampai dada menyerai gamis gadis cantik tersenyum. Mendapat jatah libur selama 2 minggu membuat Azalea langsung mengambil penerbangan menuju negara kelahirannya.


Jika Ezra sekolah di sekolah pada umumnya, maka Azalea sejak duduk di bangku SMP sudah masuk pesantren.


"Kenapa tidak memberitahu kakak kalau kau sudah pulang?" tanya Ezra dengan wajah terkejutnya.


"Sebenarnya mau ngabarin, tapi kebetulan bertemu ayah di bandara jadi ya sudah pulang sama ayah." Azalea duduk di samping Ezra.


"Bawa dia kerumah sebelum aku kembali ke Mesir!"

__ADS_1


__ADS_2