Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 70 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Langit yang cerah karena sinar bulan dan bintang yang menemani semakin membuat hati Diana malam ini berbunga-bunga.


Sejak tadi senyuman gadis berusia 20 tahun itu tidak pudar karena bisa makan malam bersama pria yang akhir-akhir ini bisa menarik perhatiannya.


Terlebih sikap Ezra yang sangat manis padanya di depan sang bunda yang sering kali bertanya di sela-sela makan yang terjadi. Seperti saat ini, bunda Diana menatap Ezra dengan senyuman.


Membuat Ezra dan Diana mengira rencana mereka telah berhasil untuk membatalkan sebuah perjodohan.


"Jadi sekarang kamu kerja apa, Ezra? Dan usiamu berapa?" tanya bunda Diana pura-pura tidak tahu kalau pacar Diana adalah pria yang akan gadis itu nikahi nantinya.


"Saya dokter Obgyn tante, usia saya 30 tahun."


Bunda Diana mengangguk-anggukkan kepalanya seakan mengerti, melirik putrinya yang masih saja memasang senyum manis.


"Sudah om-om ternyata," gumam wanita paruh baya itu. "Bukannya kamu tidak suka om-om, Nak? Kok pacaran sama Ezra? Kenapa tidak menerima perjodohan saja? Usianya juga 30 tahun tidak jauh beda."


Diana mendelik mendengar ucapan bundanya yang sangat menyebalkan. Gadis itu mengembungkan pipinya sambil mengeleng. Lantas kembali memeluk lengan Ezra, bahkan bersandar di pundak pria itu.


"Pokoknya aku tidak mau dijodohin Bunda, aku sudah punya pacar!"


"Kapan kalian akan menikah?"


"It-itu ak-aku ...." Tiba-tiba Diana berubah menjadi gugup, terlebih Ezra hanya diam saja sambil menyantap makan malam yang terasa cocok di lidahnya.


"Sayang, bunda nanya kapan kita akan menikah?" tanya Diana mengoyang-goyangkan lengan Ezra agar berhenti mengunyah.


Sepertinya berhasil, melihat pria itu menatap bunda Diana dengan raut wajah serius setelah meletakkan garpu juga sendok.

__ADS_1


"Saya akan menikahi Diana secepatnya."


"Kapan waktu tepatnya Nak? Kami ingin menjodohkan Diana dengan orang yang lebih mapan darimu, kalau dalam waktu satu minggu kamu tidak datang melamar, maka sebaiknya akhiri hubungan kalian!"


"Bunda!"


"Saya akan datang secepatnya bersama orang tua saya," ucap Ezra meyakinkan yang mampu membuat jantung Diana tidak aman dalam waktu hitungan detik.


Gadis cantik itu menganga, berharap apa yang dikatakan Ezra malam ini benar-benar serius.


"Sayang, makasih untuk undangan makan malamnya. Lain kali aku datang lagi," ucap Ezra mengelus pipi Diana yang telah memerah sejak tadi, membuat wanita paruh baya dihadapan mereka bersorak dalam hati.


Akhirnya tanpa membujuk satu sama lain, mereka akan menikah atas dasar cinta.


***


Harun dengan setia mengelus rambut istrinya yang tidak beraturan, sementara pemiliknya tengah memejamkan mata, menikmati perlakuan Harun yang terasa sangat nyaman.


"Besok pagi mas akan merapikan rambutmu," gumam Harun menempelkan bibirnya di kening Haura.


"Mas tidak marah?"


"Untuk apa Humairahku? Itu semua diluar kendalimu. Mungkin efek stres dan hormon ibu hamil yang tidak stabil."


"Aku jelek dengan rambut pendek?" Mendongak menatap Harun, membuat bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain.


Tidak ingin membuang kesempatan yang ada, Harun lantas mengecupnya beberapa kali dengan senyuman lebar.

__ADS_1


"Bahkan istriku jauh lebih cantik dengan rambut pendek. Lebih cantik lagi karena hanya mas yang bisa melihatnya." Menjawil hidung Haura yang tengah mengulum senyum.


Menerima satu sama lain dan memutuskan untuk menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, membuat keduanya tidak lagi canggung dalam berinteraksi atau bermanja satu sama lain.


"Setiap harinya mas Harun semakin pandai bicara. Apa ini tandanya anak kita cewek?"


"Heh, bukannya dokter bilang cowok?"


"Bisa jadikan salah."


"Hm baiklah, terserah istri cantik mas sajalah." Pasrah Harun.


Pria itu merosotkan tubuhnya dan membawa Haura berbaring dengan nyaman dalam pelukan dibalik selimut tebal. Hujan gerimis di luar sana semakin menambah suasana romantis antara keduanya tercipta.


Keduanya baru saja istirahat setelah pulang dari kontrakan Haura untuk berpamitan dan mengambil barang-barang yang diperlukan. Bahkan Harun sengaja membawa banyak bingkisan sebagai tanda terimakasih pada ibu kontrakan sebab bersedia memberikan tempat tinggal untuk istrinya.


Harun semakin merapatkan tubuh bagian atasnya, tapi tidak sampai menempel pada perut Haura karena takut calon bayi mereka terhimpit.


"Humairahku yang cantik, apa boleh aku menjenguk abang? Kata pak ustad kita masih sah sebagai suami istri meski tidak melangsungkan akad karena kembali sebelum masa ida berakhir."


"Haura aku ingin rujuk padamu, menjadikanmu istriku kembali," bisik Harun sebelum mendaratkan bibirnya di kening Haura cukup lama.


Dalam islam rujuk antara suami istri setelah talak 1 atau 2 selama dalam masa idah tidak memerlukan Akad kembali. Hanya dengan kata rujuk saja maka keduanya kembali menjadi sepasang suami istri.


...****************...


Jika ada kesalahan dalam penjabaran mohon dibenarkan🙏

__ADS_1


Otor sayang Readers bucin. Absen dulu kuy!


__ADS_2