
Usai makan malam bersama, Diana tidak langsung pulang. Gadis itu dicegah oleh kedua orang tua Ezra agar tinggal lebih lama lagi membuat Diana mau tidak mau harus tinggal meski jantungnya sudah tidak berdetak dengan normal.
Terlebih malam ini sikap Ezra sangatlah manis. Diana berharap sikap itu selamanya akan tetap ada bukan hanya di depan para orang tua.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya ayah Ezra setelah lama bercanda satu sama lain.
Karena tidak ingin menganggu momen, ayah Ezra sepakat tidak akan mengatakan yang sejujurnya bahwa keduanya dijodohkan, biarkan saja takdir mengalir sesuai yang telah ditetukan oleh author.
"Sudah hampir satu tahun Yah, dan kita berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Jadi batalkanlah perjodohan tersebut. Ezra hanya ingin menikah dengan Diana saja." Melirik Diana yang tersipu malu.
"Syukurlah kalau sudah ada rencana untuk menikah, setidaknya mengurangi dosa yang bertambah setiap harinya," sindir sang ayah membuat Ezra dan Diana sedikit tertampar karena pernah pacaran dulu.
"Diana?"
"Iya, om?" sahut Diana cepat.
"Kapan waktu siapnya keluarga kamu? Om tidak ingin berlama-lama lagi."
Diana terdiam, gadis itu malah melirik Ezra karena takut salah bicara.
"Jawab Sayang!" pinta Ezra.
"It-itu saya." Diana menelan salivanya kasar, selain salah tingkah gadis itu mulai kegerahan karena tidak terbiasa dengan gamis. Meski Ac terasa sejuk, tetap saja Diana ingin melempar penutup di kepalanya. "Orang tua saya cuma ngasih waktu satu minggu om, kalau saya dan pak dokter tidak menikah, maka saya juga akan dijodohkan."
__ADS_1
"Kalau begitu bukannya kita harus segerakan? Katakan pada pada orang tuamu kami akan datang 3 hari lagi!" Antusias bunda Ezra, membuat senyuman Diana mengembang sempurna.
Berbeda dengan Ezra yang raut wajahnya tiba-tiba masam. Pria itu tidak siap untuk menikah saat ini, terlebih keraguan dihatinya masihlah ada.
***
Rumah sakit.
Senyuman Harun terus saja mengembang sambil menyusuri lorong rumah sakit yang akan membawanya menuju lift. Pria itu akan menjemput istrinya yang akan datang membawakan makan siang tanpa diminta.
Pria itu tidak sengaja berpapasan dengan Ezra yang juga hendak menuju lift.
"Kau mau kemana?" tanya Ezra menyapa lebih dulu.
"Jemput pacar pura-pura."
"Masih berlanjut?"
"Hm." Ezra berguman membuat Harun mengulum senyum. Mendengar cerita istrinya tentang Diana, membuat pria itu ingin mempersatukan keduanya.
"Dia cantik dan ceria, kenapa tidak berusaha membuka hati?"
"Haura cantik dan penyayang, apa aku harusnya merebutnya darimu?" Ezra senyum meremahkan, tapi tidak dengan Harun yang wajahnya telah memerah karena kesal dengan jawaban sahabatnya yang berada diluar nalar.
__ADS_1
"Mau mati?" Mengulung lengan baju.
"Memangnya kalau mau, kamu mau cabut nyawa aku? Di dalam lift ini? Di rumah sakit?" Bukannya takut, Ezra malah menentang.
Keduanya saling melempar tatapan maut, tangan Harun dengan cepat menarik kerah jas dokter Ezra bertepatan lift terbuka lebar, di mana di dalamnya ada dua perempuan cantik.
"Mas Harun kenapa narik kerah kemeja Ezra?" tanya Haura yang terkejut disuguhkan hal tidak sedap dipandang mata.
Lantas saja Harun melepas cengkramannya dan tersenyum pada Haura. "Sa-sayang, mas kira kamu belum datang. Ayo! Mas sangat lapar." Menarik tangan Haura tanpa menyapa Diana yang kebetulan bertemu Haura di lobi rumah sakit.
"Ezra, Diana, apa kalian mau makan bersama? Kebetulan aku bawa makanan lumayan banyak," ucap Haura menyepatkan untuk menyapa sahabat suaminya.
"Mereka tidak lapar," sahut Harun.
"Kebetulan aku belum makan siang, ayo!" Tanpa sadar Ezra meraih tangan Diana, mengikuti langkah Haura dan Harun.
Sementara Diana terpaku mendapati sikap Ezra yang tidak lagi sejutek dulu.
"Apa dia mulai menerimaku?" batin Diana bertanya-tanya.
"Maaf karena menjadikanmu pelampiasan atas rasa rindu yang tidak kunjung mereda," batin Ezra melirik Diana yang pasrah mengikuti langkahnya.
"Sebentar lagi aku akan menikah dengannya, semoga semuanya baik-baik saja."
__ADS_1
"Aku harus membicarakan tentang pernikahan di atas kertas yang akan terjadi nantinya pada Diana."