
Suhu tubuh yang sangat tinggi disertai sakit kepala juga perut membuat Harun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengacaukan tempat tidurnya sendiri. Berputar seperti jarum jam hanya untuk mencari posisi yang terasa nyaman.
Pria itu kini tidur telentang dengan kepala menjuntai ke lantai, di mana apa yang dia lihat semua terbalik. Terutama kaki seorang wanita yang terbungkus kaos kaki di tutupi gamis yang mendekat padanya.
Atensi Harun memperhatikan sosok tersebut, senyum hambar terbit di wajah pucatnya.
"Bisa-bisanya aku bermimpi padahal tidak tidur," gumam Harun. Mungkin ini adalah efek demam yang dia rasakan.
Suara Haura semakin jelas terdengar di telinganya, berbarengan dengan punggung tangan yang menyentuh kening.
"Demam mas Harun sangat tinggi tapi tidak mau minum obat atau kerumah sakit. Sebenarnya apa yang mas Harun inginkan?" Omel Haura. Wanita itu akan berubah cerewet jika menyangkut kesehatan Harun.
"Kamu benar Haura? Atau hanya bayangannya? Aku tahu, aku sangat merindukannya, tapi tidak dengan hadir seperti ini. Aku mau dia sekarang, merawatku dan tidak akan meninggalkanku lagi. Tinggal bersama dan bahagia," gumam Harun setengah sadar karena demam tinggi.
Haura yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang hanya bisa menghela nafas panjang. Duduk di pinggir tempat tidur lalu mengangkat kepala suaminya agar tidur di pahanya.
"Jangan sakit, aku tidak suka," lirih Haura mengusap air mata yang terus saja mengalir di pelupuk mata suaminya.
"Nyaman banget, rasanya nyata."
__ADS_1
"Mas Harun, aku Haura bukan bayangannya. Sekarang makan dulu ya, setelah itu minum obat," pinta Haura penuh kelembutan.
Namun, tidak ada sahutan apapun lagi dari pria yang berada di pangkuannya. "Mas Harun?" panggilnya sekali lagi, tapi hasilnya tetap saja.
Harun telah terkulai lemas dengan mata terpejam, pertanda tidak sadarkan diri karena demam yang sangat tinggi. Pembawaan Haura yang tenang tidak membuat wanita itu panik meski sangat khawatir. Dengan sigap Haura meraih ponselnya untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Edelweis.
Sambil menunggu, dia mengoleskan minyak kayu putih di hidung dan dada Harun agar sadar secepatnya.
"Harusnya mas menghubungiku kalau sakit, bukan malah mengurung diri seperti ini. Maaf karena egois dan tidak memperhatikan kondisi mas Harun. Kalau mas sakit, siapa yang bakal manja aku nantinya?" Air mata Haura jatuh perlahan-lahan mengenai pipi Harun yang masih saja memejamkan mata.
Wanita itu meraih tangan suaminya untuk dia kecup. "Aku janji bakal selalu ada buat mas Harun, aku-aku akan kembali demi anak kita. Tapi tolong setelah melahirkan nanti jangan pisahkan aku dengannya."
Sudah setengah jam setelah kepergian dokter usai memeriksakan kondisi Harun, tapi pria itu tidak kunjung bangun. Selang infus menemani pria itu di dalam kamar, juga Haura yang setia berada di samping suaminya.
Asam lambung, ya penyebab demam yang di derita Harun karena asam lambungnya naik. Itu semua karena Harun sering kali telat makan.
Mual dan muntah sudah pria itu alami sejak semalam sehingga mengundang sakit kepala berujung demam.
"Mas Harun tidak pantas jadi dokter. Kesehatan sendiri saja terganggu seperti ini," gumam Haura memainkan jari-jemari Harun.
__ADS_1
Wajah wanita berbadan dua itu terlihat lebih fresh dan bercahaya setelah melaksakan sholat Zuhur beberapa menit yang lalu. Haura juga telah memasak sesuatu untuk suaminya yang tidak kunjung bangun.
"Mas Harun," panggil Haura entah yang keberapa.
Namun, kali ini tubuh Harun merespon. Kelopak mata pria itu bergerak lalu terbuka secara perlahan. Senyuman langsung menghiasi wajahnya ketika melihat bidadari tengah duduk di sisi ranjang.
"Haura?"
Haura menganggukkan kepalanya. "Kepala mas masih sakit?"
"Jauh lebih baik."
"Syukurlah, aku sangat khawatir tadi." Haura menghela nafas lega. Hendak berdiri untuk mengambil air minum, tapi tangannya ditarik oleh Harun.
"Jangan pergi lagi, kamu sudah pulang ke tempat yang tepat," lirihnya masih terasa lemah, terlebih tidak ada makanan yang mengisi perutnya.
"Aku tidak kemana-mana Mas, hanya mengambil air minum juga bubur. Kata dokter, mas Harun harus makan sebelum minum obat."
"Tinggil di sini?"
__ADS_1
"Kenapa mas Harun membahas hal yang tidak perlu padahal sedang sakit?"