Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 56 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Tidak ada kunjungan selain ke lapas bertemu Elena dan Vivian. Harun segera mengantar istrinya pulang ke kontrakan tanpa banyak mengatakan sesuatu yang bisa memicu pertengkaran untuk keduanya.


Sebelum membuka pintu mobil, Harun mencegah istrinya untuk turun. Mengenggam tangan Haura yang masih terasa kasar tersebut.


Mungkin menjauh adalah pilihan untuk keduanya mengobati luka Haura yang entah kapan akan mengering. Namun, menjauh dalam artinya bukan benar-benar meninggalkan, hanya saja Harun akan melakukan sesuatu yang lebih bermaksa dibandingkan terus-terusan mengikuti Haura kemana-mana.


Jika terus melakukannya, yang ada pekerjaanya Harun dan Haura tidak ada yang beres.


"Mungkin beberapa hari ini aku tidak akan sering berkunjung. Bukan karena menyerah, tapi memberimu waktu untuk menyembuhkan luka yang telah aku ciptakan terlalu dalam."


Haura menunduk, ada rasa sedih mendengar penuturan suaminya.


Apa aku ada salah bicara sama mas Harun?


Batin Haura bertanya-tanya.


"Kabari mas kalau kamu mau pulang kerumah, mas akan memjemputmu dengan senang hati."


"Iya," lirin Haura tanpa ingin menatap Harun.


Sementara pria itu tidak kunjung melepaskan genggaman tangannya, padahal Haura sudah bersiap untuk turun.


"Jaga kesehatan, jangan lupa sarapan di pagi hari. Meski sesibuk apapun harus ...."


Cup


Haura membeku, tubuhnya terasa sangat dingin ketika sebuah kecupan di pipi mendarat begitu saja tanpa izin. Siapa lagi pelakunya jika bukan Harun.


"Ke-kenapa mas Harun menciumku? Aku sudah bilang tidak ada kontak ...."

__ADS_1


"Siapa yang akan melarang seorang suami mencium istrinya? Kamu paham agama, tentu tahu dosa jika tidak patuh pada suami." Menjawil hidung Haura tanpa rasa bersalah sama sekali.


Pria itu menunduk lalu mengecup perut Haura yang sudah membuncit karena telah memasuki bulan ke 4.


"Sehat-sehat Sayang, jaga bunda selama ayah tidak ada di sisinya. Jangan rewel karena ayah tidak akan ada setiap saat, soalnya bunda kamu keras kepala."


"Ak-aku turun." Dengan tubuh panas dingin karena tingakah Harun yang diluar espektasinya, Haura buru-buru turun dari mobil tanpa mengecup punggung tangan suaminya.


Pipi yang merah merona alami membuat Harun ingin memeluk istrinya dan mengurung di dalam kamar. Lama pria itu memandang sebelum benar-benar meninggalkan lingkungan kontrakan.


Sama halnya dengan Haura, jantung Harun sebenarnya juga panas dingin dengan tingkahnya sendiri. Jujur saja memerlukan keberanian besar untuk melakukan hal aneh tadi.


Untung saja Haura tidak menaparnya karena lancang.


Jarak kontrakan dan rumah sakit yang tidak terlalu jauh membuat Harun sampai dengan cepat ke tempat tujuan. Laju mobil pria itu memelan ketika melewati ruko dua lantai tak berpenghuni tidak jauh dari rumah sakit. Jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


"Sepertinya cocok untuk Haura," gumam Harun, membanting setir kemudi memasuki lingkungan rumah sakit. Berhenti di depan lobi, lalu masuk begitu saja, sementara mobilnya diambil oleh satpam yang sedang berjaga.


Tunjuan Harun tentu saja ruangannya, mengerjakan hal-hal yang selama beberapa hari ini dia tinggalkan.


Pria itu belum memeriksa laporan bulanan dari direktur rumah sakit Edelweis, padahal telah diserahkan beberapa minggu yang lalu.


"Sudah bosan bucinnya?"


Harun merotasikan matanya jengah melihat kedatangan Ezra seperti setan.


"Bukan urusan kamu," sahut Harun fokus pada layar laptopnya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan hubungan kalian? Ah ya, mulai minggu depan bukan aku lagi yang menjadi dokter Haura, semuanya ku serahkan pada dokter wanita karena sekarang suaminya siap membayar biaya yang lumayan menguras dompet," ucap Ezra seolah mengejek.

__ADS_1


"Harun!" panggil Ezra ketika kalimat panjangnya tidak dibubris sama sekali. Sahabatnya sedang dalam mode serius. Pria itu mengintip layar laptop yang tengah menampilkan garis kurva yang terus naik.


"Pebisnis merangkak jadi dokter."


"Bukan urusan kamu!"


"Bikin irisin kimi. Sudah seperti perempuan saja! Lebih baik aku pergi ...."


"Tunggu!" Cegah Harun.


"Ogah!"


"Dih ngambek."


"Bukan urusan kamu!" Kini Ezra membalik ucapan Harun.


"Sudahlah, kau memang tidak bisa diandalkan! Sana pergi dan jangan kembali lagi! Lama-lama aku akan memecatmu di rumah sakit ...."


"Katakan apa yang kau inginkan?" tanya Ezra cepat, kembali duduk di hadapan Harun agar berubah pikiran. Ezra sudah nyaman di rumah sakit ini, dan tidak ingin beradaptasi dengan orang baru di rumah sakit lain.


"Cari tahu tentang ruko kosong di dekat indoapril."


"Jalan ...."


"Hm."


"Buat apa?" Ezra menaikkan alisnya.


"Buat mutilasi kamu!"

__ADS_1


__ADS_2